Membahas Soal Pernikahan

2205 Words
Bab 17 Membahas Soal Pernikahan Dua wanita berbeda usia yang cukup jauh itu kini turun dari mobil. Mereka kini berada di parkiran tempat praktik bidan. Tidak jadi pergi ke bidan di gang atas rumah mereka, Mama Kayla akhirnya mengajak Divi –putrinya—untuk memeriksakan kandungannya di tempat praktik bidan yang berada di Bogor. Mereka mencarinya secara acak dan bertempat agak jauh dari rumah. Akhirnya mereka pun sampai di sebuah tempat praktik bidan bernama Anggi Rania. Tempat praktik bidan ini pun sudah lumayan penuh padahal ia datang pukul 09.00 pagi di hari minggu. Masuk ke dalam tempat praktik, Mama Kayla pun mendaftarkan anaknya pada bagian respsionis yang berada di depan. “Buku KIA—nya dibawa, Bu?” tanya Teteh berbaju merah dengan kerudung putihnya itu. Mama Kayla pun segera menggelengkan kepalanya. “Belum punya, Teh. Baru mau cek kehamilan.” Teteh berbaju merah menganggukkan kepalanya. “Sekalian dari sini saja ya untuk buku kehamilannya?” “Oh iya.” “Namanya siapa ya, Bu?” “Diviana Anindya Ayleen.” “Usia?” “27 tahun.” “Alamat?” “Alamat di Kompleks Permata Raya nomer R7.” “Ini nomer antriannya ya, Bu. Nanti dipanggil lagi,” kata Teteh berbaju merah itu. “Jadi totalnya 75 ribu, Bu.” Mama Kayla menganggukkan kepalanya. Ia mengeluarkan uang dari dalam dompetnya lalu membayar sejumlah yang diminta padanya. Setelah melakukan pendaftaran, Mama Kayla pun kembali duduk sambil memegang nomer antrian di samping Divi. “Tadi Mama udah daftar, sekalian nanti dikasih buku buat ibu hamil, Div.” “Emang ibu hamil ada bukunya ya, Ma?” “Itu kamu lihat aja! Yang lain pada bawa buku pink kan? Itu buku buat cek up kehamilan. Data—data kamu nanti ditaruh di situ. Jadi perkembangan kandungan kamu akan terkontrol selalu.” Divi menganggukkan kepalanya. Ternyata ini buku yang sering dilihatnya di grup f*******: ibu hamil. Menunggu beberapa saat, Divi pun memutuskan untuk berkirim pesan dengan Jayden. [ Jay, aku lagi periksa kandungan sama Mamaku. ] –Divi. Jayden yang sedang online pun segera membalas pesan dari kekasihnya. [ Oh ya? Terus hasilnya gimana? ] –Jayden. Divi terkekeh karena Jayden langsung ingin tahu hasil pemeriksaannya. Ia pun segera menulis jawaban dari pertanyaan sang pacar. [ Belum. Aku baru daftar dan antriannya lumayan banyak. [ Jay, habis ini aku mau ketemu kamu bisa? Mama ngasih pesan buat kamu nih! ] –Divi. Divi memutuskan untuk tidak menjelaskannya di pesan karena ia ingin mengatakannya langsung pada Jayden. [ Hal penting ya? Nggak bisa kasih tahu aku sekarang aja? ] –Jayden. Divi menghela napasnya lalu mengetikkan pesannya. [ Nanti aja, aku mau ketemu sama kamu biar jelas. ] – Divi. [ Ya udah. Kita ketemu di luar aja ya? Gimana kalau di restoran Nusa Dua habis kamu selesai periksa? Nanti kalau kamu udah selesai, kamu chat aku aja. Nanti aku langsung on the way ke Restoran dari rumah. ] –Jayden. Divi berpikir sejenak lalu memutuskan bertanya pada ibunya. “Ma, kira—kira lama nggak ya sampai selesai?” Mama Kayla mengedikkan bahunya. “Mama juga kurang tahu,” balasnya. “Kenapa? Kamu mau apa?” “Habis dari sini aku mau ketemuan sama Jayden. Mau ngobrolin yang Mama pesanin tadi, supaya orang tuanya datang langsung ke rumah.” “Oh gitu,” balas Mama Kayla. “Hmm ... paling satu jam—an kita bisa selesai. Sekitaran itu.” Divi menganggukkan kepalanya. “Kamu mau ketemuan di mana sama Jayden?” tanya Mama Kayla. “Kita janjian di restoran Nusa Dua, Ma,” balas Divi. “Nanti aku antar Mama pulang dulu, baru aku ketemuan sama Jayden.” “Nggak usah,” kata Mama Kayla cepat. “Nanti Mama pulang sendiri aja pakai ojol. Kamu langsung on the way aja sendiri ketemuan sama Jayden.” Divi segera menggeleng cepat. “Gimana kalau Mama aja yang naik mobil, nanti aku yang pakai ojol? Lagian kan aku mau ketemuan sama Jayden. Jadi nanti pasti Jayden antar aku pulang, Ma.” Mama Kayla berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya. “Ya udah kalau kamu maunya begitu.” Divi pun menganggukkan kepalanya. Setelahnya ia mengirim pesan balasan yang tertunda pada kekasihnya, Jayden. [ Jay, mungkin aku selesai sekitar 1,5 jam lagi. Nanti kalau bener—benar udah selesai dan lagi on the way ke resto, aku hubungi kamu ya? ] –Divi. Namun tak ada balasan dari Jayden. Divi juga tahu bahwa kekasihnya itu sudah offline. *** Masuk ke dalam ruang pemeriksaan, Divi membiarkan mamanya yang berbicara pada bidan. Ini juga kali kedua Divi merasakan seseorang menyentuh perutnya. Sungguh tak menyangka, karena di tahun ini ia akan menjadi seorang ibu. Saat menjalani pemeriksaan standar pada ibu hamil, Divi pun mulai bertanya—tanya. Apakah ia bisa menjadi ibu yang baik untuk anaknya kelak? Apakah ia bisa menjadi ibu yang penyayang untuk calon anaknya nanti? Mendadak perasaan asing itu menjalari hati Divi. Ia pun takut dan khawatir, jika ia tak bisa menjadi seperti ibu—ibu lain yang mampu menjaga dan merawat anaknya dengan baik. “Div?” suara Mama Kayla terdengar. “Kenapa diam aja? Itu Bu Bidan tanyain kamu ada keluhan apa?” Divi pun menoleh. Menatap ibunya sejenak lalu menatap bu bidan sambil tersenyum. “Nggak ada, Bu. Cuma masih mual muntah aja, Bu, kalau pagi.” “Oh kalau itu wajar, Mbak, nanti juga membaik kalau usia kandungannya masuk trisemester kedua.” Divi menganggukkan kepalanya. Ia sudah tahu akan hal itu karena pernah membacanya di internet. “Berarti nanti periksa lagi bulan depan ya, Bu, Mbak.” Setelah selesai menulis di buku pink milik Divi, Bu Bidan Anggi pun menyerahkan kembali buku yang kini menjadi milik Divi pada pasiennya. Mereka mengucapkan terima kasih kemudian kembali ke luar dari ruang pemeriksaan. Mama Kayla dan Divi pun duduk sebentar di kursi yang ada di luar. “Berarti sekarang sudah masuk 16 minggu. Kayaknya lebih baik kalau kamu sama Jayden menjadwalkan pernikahan kalian lebih cepat ke KUA.” “Iya, Ma,” balas Divi sambil menganggukkan kepalanya. “Nanti aku sama Jayden nikahnya gimana, Ma? Menurut Mama?” “Kalau menurut Mama, mending kamu dan Jayden menikah di KUA saja. Dihadiri oleh keluarga dan kerabat sudah cukup.” “Tapi, Ma—“ “Tapi apa, Div?” “Bukannya Mama mau menyelenggarakan pesta pernikahan yang meriah ya?” “Mama udah nggak mau. Toh kamu udah hamil. Mama merasa malu misal menyelenggarakan pesta pernikahan yang berlebihan. Nanti kalau banyak yang bergunjing gimana? Memang kamu siap dengar perkataan mereka soal kamu yang udah hamil baru menikah dengan Jayden?” Divi menghela napasnya. “Ya udah, Ma. Kalau menurut Mama lebih baik aku menikah di KUA, ya udah.” Divi sejujurnya kecewa karena tentu saja ada rasa ingin seperti kawan—kawannya yang lain ketika mengadakan pesta pernikahan. Namun, di sisi lain, Divi juga bersyukur karena dengan tidak mengadakan pesta pernikahan seperti teman—temannya itu berarti ia tidak perlu berdiri sepanjang hari untuk menunggu para undangan yang datang di acara pernikahannya. “Kamu mau kita mengadakan acara pernikahan kayak biasanya di rumah atu di gedung, Div?” Divi menoleh dan segera menggelengkan kepalanya. “Ah nggak perlu deh, Ma. Lagian kan keluarga kita jauh—jauh, kata Mama juga kan aku sama Jayden harus segera menikah. Mending di KUA aja. Nggak papa?” Mama Kayla mendesah pelan. “Kamu yakin nggak papa?” “Iya, Ma.” “Ya ubahas udah kalau gitu kamu juga dengan Jayden. Ilang juga pada Jayden kalau lebih baik kalian segera menetapkan waktu pernikahan kalian di KUA nanti. Kita harus cepat karena kandungan kamu akan cepat membesar nantinya, Div.” “Iya, Ma.” Divi menganggukkan kepalanya. Setelah keduanya selesai mengobrol, Mama Kayla pun pulang ke rumahnya menggunakan mobil sedangkan Divi menggunakan ojek online yang sudah dipesannya lewat aplikasi. Keduanya pun pergi dengan rute yang berbeda. *** Jayden sampai lebih dulu ke restoran Nusa Dua dan sudah memesankan makanan untuknya dan Divi. Sambil menunggu Divi, Jayden membaca buku komik yang dibawanya dari rumah. Beberapa kali, Jayden meminum teh manis yang ada di atas mejanya. Ia ingin makan lebih dulu, tapi Divi belum juga sampai ke restoran. Divi akhirnya sampai dan melewati pintu restoran tempatnya dan Jayden berjanji temu. Ia berdiri diam sejenak untuk mencari keberadaan Jayden yang katanya sudah sampai di resto. Melihat keberadaan Jayden, Divi pun segera menghampirinya. Ia duduk dengan wajah menunduk karena sedang membaca buku komik. Menarik kursi yang ada di hadapan Jayden, setelahnya Divi pun duduk tanpa menyapa terlebih dahulu. Menyadari keberadaan seseorang di depannya, Jayden pun segera menutup buku komik yang sejak tadi dibacanya. Ia menaruhnya di belakang punggungnya lalu tersenyum ke arah Divi. “Kamu udah pesan makanan, Jay?” tanya Divi sambil memperhatikan makanan dan minuman yang sudah ada di atas meja. “Iya, Sayang,” kata Jayden. “Maaf ya, aku juga udah pesanin makanan buat kamu. Aku lapar soalnya.” “Kamu lapar, Jay?” tanya Divi. “Kalau lapar kenapa nggak makan dulu aja?” Jayden menggeleng pelan. “Nggak papa. Aku sengaja nungguin kamu, biar kita bisa makan bersama.” Divi tersenyum mendengar penuturan Jayden. “Sebentar deh, aku mau cuci tangan dulu ya,” kata Divi sambil kembali bangkit berdiri. Ia menuju wastafel yang ada di belakang ruang restoran lalu mencuci tangannya. Kembali ke meja makan, Jayden dan Divi pun mulai menikmati makanan mereka. “Kamu udah sarapan belum, Jay?” tanya Divi. Dari melihat kekasihnya makan, ia merasa Jayden sedang kelaparan. “Belum,” balas Jayden. “Makanya aku ajak ke sini. Sekalian aku makan dulu. Nggak papa kan?” Divi menganggukkan kepalanya. “Ya nggak papa lah.” “Kamu udah sarapan?” tanya Jayden. “Udah, tadi aku makan roti panggang.” Jayden terdiam sejenak sambil menikmati makanannya. Ia memesan ayam kalasan dengan sop buntutnya. Rasanya enak, apalagi ketika makan di kala sedang sangat lapar. Setelah menuntaskan rasa lapar di perutnya, Jayden pun pergi untuk mencuci tangannya. Sementara itu, Divi masih menikmati makanannya dengan pelan. “Div, jadi kamu mau membahas soal apa?” tanya Jayden sambil melihat ke arah Divi yang masih menikmati makanannya. Divi mendadak berhenti makan. Ia meniggalkan meja makan dan mencuci tangannya di wastafel. Setelah tangannya bersih, ia kembali ke meja makan. Meja makan sudah dalam kondisi bersih setelah para pelayan restoran mengambil piring kotor yang ada di atas meja. “Aku pesankan pisang goreng dan puding. Kamu mau tambah pesanan lain atau udah cukup?” tanya Jayden setelah Divi kembali duduk di kursinya. “Udah cukup deh, Jay,” Divi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Kamu yakin?” tanya Jayden lagi. Ia meyerahkan daftar menu pada Divi. “Coba kamu lihat—lihat! Barang kali kamu mau pesan yang lain.” Divi mengambil daftar menu yang ada di atas meja, di hadapannya. Setelahnya ia mengkibasnya satu persatu halaman. Mencari menu desert yang sekiranya bisa ia nikmati. Namun setelah mencari—cari, Divi kembali menutup buku menunya. “Nanti aja deh, Jay. Aku lagian masih kenyang karena makan tadi.” Jayden menganggukkan kepalanya. “Ya udah kalau gitu.” Mereka diam sejenak sambil menikmati teh manis yang masih tersisa di dalam gelas besar di hadapan mereka. Setelah pesanan camilan mereka sampai di meja, Divi pun mulai bersiap untuk mengatakan keperluannya. “Jay?” “Hmm?” “Mama bilang, nanti kamu kalau bisa melamar juga secara resmi bersama kedua orang tua kamu ke rumahku. Apa bisa?” Jayden diam sejenak. Ia sudah membayangkan hal ini terjadi hingga membuatnya tidak terlalu kaget. Menunggu sambil memakan pudingnya, Divi pun mulai harap—harap cemas pada jawaban Jayden. Divi tahu sedikit jika bagi Jayden hidupnya sudah mandiri. “Kalau begitu paling minggu depan aku bisa ke rumah kamu.” “Kamu mau bawa siapa, Jay?” tanya Divi penasaran. Jayden diam sejenak lalu menjawab, “Nanti aku bawa Papaku. Lagian aku juga udah bilang ke Papa kalau aku akan menikah sebentar lagi.” Divi mendesah lega. Ternyata hubungan Jayden dan ayahnya masih jelas ada. Mungkin selama ini ia hanya kurang tahu soal keluarga Jayden karena yang diketahuinya Jayden sudah hidup mandiri tanpa campur tangan kedua orang tuanya yang memang tinggal terpisah. “Nggak masalah soal itu.” “Terus, Jay! Mama minta kita untuk menikah di KUA. Apa kamu nggak papa semisal kita menikah tanpa resepsi?” tanya Divi lagi. Jayden segera menganggukkan kepalanya. “Tentu aja nggak papa. Aku serahkan semua keputusan pernikahan kita nanti ke kamu dan Mama kamu.” Giliran Divi yang menganggukkan kepalanya. Setelahnya mereka menikmati cemilan mereka masing—masing, hingga Jayden membuka suaranya kembali. “Div, untuk mahar nanti kamu mau apa?” Divi sama sekali tak memikirkan soal mahar. Ia jadi bingung harus menjawab apa. “Aku nggak tahu, Jay. Memang umumnya apa dan bagaimana?” Jayden berdehem sebentar. “Aku sempat searching di internet kalau biasa mas kawin atau mahar biasanya berbentuk emas perhiasan atau uang tunai. Tapi seperti yang kamu tahu juga, Div, kerjaanku sebagai karyawan arsitektur nggak terlalu besar. Tapi aku akan coba menyanggupi jika memang aku sanggup.” “Mungkin lebih baik soal mahar dibahas nanti saat bersama kedua orang tua kita, Jay.” “Kamu maunya begitu?” Divi menganggukkan kepalanya. “Oke, kalau gitu. Kita bahas ini di acara lamaran bersama ayahku.”[] *** bersambung >>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD