Bab 16
Perbedaan Pendapat
Jayden akhirnya bisa menghirup udara segar lagi setelah selesai melakukan obrolan dengan kedua orang tua Divi mengenai keinginannya untuk menikah dengan putri semata wayang mereka.
Divi melirik ke arah Jayden saat mendengar kekasihnya itu menghela napas dengan berat. “Kamu pasti gugup.”
Jayden tersenyum tipis. “Maaf ya, aku udah ngecewain mama kamu.”
Alis Divi berkerut. Pasti Jayden sedang memikirkan ucapan ibunya yang tidak senang dengan berita kehamilannya saat ini. “Bukan kamu yang udah ngecewain mamaku, Jay, tapi aku ... aku sendiri emang sering beda pikiran sama Mama.”
Jayden mendengarkan dengan baik.
“Dan aku sama sekali nggak ngerasa menyesal karena sudah hamil sekarang. Mungkin awalnya aku kaget, tapi sekarang aku terbiasa. Sekarang aku cuma bisa berharap, semoga kita bisa segera menikah dan bahagia bersama.”
Menganggukkan kepalanya, Jayden setuju. Setidaknya hal itulah yang harus melakukan sekarang. Menikah dan bahagia bersama.
Jayden dan Divi pun berhenti di depan mobil laki—laki itu. Laki—laki itu memunggungi Divi sejenak seolah hendak membuka pintu mobil lalu kembali menghadap ke arah Divi dengan sebuah cincin yang sudah berada di tangannya.
Melihat kotak beludru berwarna merah yang berada di tangan kekasihnya, Divi nyaris tak bisa menahan senyum lebarnya. Hingga tangannya mencoba menutup mulutnya yang menganga beberapa saat. “Ya ampun, Jay....”
“Aku tahu ini terlambat,” kata Jayden memulai lamarannya secara langsung pada Divi. “tapi aku ingin melakukannya. Aku ingin melamarmu untuk diriku sendiri. Apa kamu mau menerimaku, Div? Aku yang banyak kekurangannya ini, apakah kamu mau menerimaku menjadi pendamping hidupmu?”
Air mata Divi nyaris turun saking bahagianya saat ia mendengar kalimat romantis dari mulut Jayden. Ia tidak menyangka sama sekali jika Jayden bisa melakukan ini.
“Div?”
Divi tersadar dari lamunannya dan segera menganggukkan kepalanya. “Iya, Jay. Aku mau, aku mau,” katanya penuh haru.
Jayden tersenyum mendengar jawaban Divi. Ia mengambil cincin yang ada di kotak lalu mengambil tangan kanan Divi.
Tak lama kemudian, Jayden pun menyematkan cincin bertahta permata kecil itu di jari manis kekasih yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya. Setelahnya Jayden menarik tubuh Divi dan memeluknya dengan erat. “Makasih ya, Sayang. Makasih udah mau terima aku dan sabar menghadapiku yang kadang menjengkelkan.”
Divi terkekeh pelan. Ia balas memeluk Jayden dan berdehem. “Makasih juga karena sudah menepati janji kamu untuk menikahiku, Jay. Aku harap, kita bisa menjadi sepasang suami istri yang rukun dan langgeng sampai maut memisahkan kita.”
Dalam kebahagiaannya, Jayden mendadak berhenti tersenyum. Ia memikirkan perkataan Divi soal sampai maut memisahkan mereka. Apakah mereka bisa menjadi pasangan yang langgeng jika sekarang saja ia mempunyai rahasia yang disembunyikannya dari Divi?
Tentang kesalahannya yang tergoda dengan wanita lain di tempat kerja.
Jayden segera menggelengkan kepala kala mengingat soal Sabrina. Tidak! Ini bukan waktu yang tepat untuk mengkhawatirkan soal Sabrina. Toh saat itu Sabrina mabuk, ia juga takkan ingat sama sekali dengan apa yang terjadi antara mereka.
“Jay....”
Jayden tersadar dari pikirannya lalu melepaskan pelukannya dari Divi.
Mendongakkan kepalanya, Divi nampak tersenyum begitu cerah saat melihat kekasihnya. Setelahnya ia memperhatikan cincin yang baru saja terpasang di cari manisnya. Menunjukkannya pada Jayden dan bertanya. “Cantik kan cincinnya?”
Jayden menganggukkan kepalanya. “Tentu saja cantik. Seperti yang memakainya,” balas Jayden penuh gombalan. “Dan lagi, aku sendiri yang memilih cincinnya ... jadi pasti cantik kan?”
“Kamu milih sendiri cincin ini, Jay?”
“Hmm ... aku bahkan punya cincin pasangannya.” Jayden memberitahu bahwa cincin yang dikenakan oleh kekasihnya memiliki couple ring.
“Mana? Kamu juga pake dong!”
Jayden terkekeh pelan. “Nanti aku pakai. Sekarang cincinnya tertinggal di rumah,” kata Jayden jujur.
Divi mendesah pelan. “Yaaah....” suaranya terdengar kecewa.
“Ya udah, kalau gitu aku pamit pulang dulu ya? Kamu juga, barangkali kamu mau ngobrol dengan kedua orang tua kamu sekarang?”
Divi diam beberapa saat. Ia sedang mengkhawatirkan obrolannya nanti dengan sang ibu. Bagaimana pun juga Divi sadar benar dari obrolan mereka sesaat bahwa sang ibu tak begitu senang dengan kondisinya saat ini.
“Div ... kamu nggak papa?” tanya Jayden sambil menyentuh kedua pundaknya.
Mengerjapkan matanya sambil mengulum senyum, Divi pun menganggukkan kepala. “Nggak papa kok. Ya udah gih! Katanya mau pulang! hati—hati ya di jalan?”
Jayden menatap Divi sejenak karena bisa menebak bahwa kekasihnya itu khawatir dengan kedua orang tuanya setelah kembali ke dalam rumah nanti. Ia meremas pundak kekasihnya dengan lembut lalu memeluknya lagi. “Kamu pasti kuat! Aku mengenal kamu. Aku percaya dengan kekuatan Divi!”
Divi mendesah berat lalu menganggukkan kepalanya. Ia melepaskan pelukannya dari Jayden dan membiarkan laki—laki itu memasuki mobilnya. Tak lama kemudian, mobil yang ditumpangi Jayden pun meninggalkan kawasan rumahnya.
***
Seperti yang ditakutkan Divi sejak berada di luar rumah, saat ia masuk, sang ayah menyuruhnya untuk duduk di ruang tamu kembali. Mereka duduk di sofa ruang tamu dengan wajah yang masing—masing terlihat begitu serius.
“Sejak kapan kamu tahu kalau kamu sedang hamil, Div?” tanya Mama Kayla memulai obrolan.
“Aku mulai tahu sejak ke rumah sakit, Ma,” balas Divi akhirnya setelah beberapa saat terdiam. Ia akhirnya memutuskan untuk jujur pada ibunya.
“Jadi selama itu kalian menyembunyikan kehamilan kamu dari Mama dan Papa?” tanya Mama Kayla lagi, terdengar begitu kecewa karena sang anak sudah menyembunyikan kehamilannya. “Apa jangan—jangan kamu sering mual muntah saat pagi sebenarnya karena morning sickness?”
Divi menundukkan kepalanya dan lantas menganggukkan kepala dengan perlahan. Mama Kayla mendesah berat. Anaknya sudah menjadi pembohong ulung. “Seharusnya kamu kasih tahu Mama atau Papa. Kenapa kamu menyimpannya seorang diri?”
“Maaf, Ma—“
“Udahlah, Ma. Yang penting kan sekarang Divi dan Jayden sudah jujur tentang kondisi mereka. Papa yakin, ini nggak mudah untuk Divi. Divi bahkan harus menyembunyikan kehamilannya bahkan dari kita kedua orang tuanya.”
“Papaaa—“ Divi sangat terharu setelah mendengar penuturan ayahnya. Papa memang yang terbaik, bahkan disaat seperti ini, Papa tetap membelaku.
“Div, omongan Papa benar kan?” tanya Papa sambil menoleh dengan serius.
Divi yang mendapat pertanyaan pun segera menganggukkan kepalanya. “Iya, Pa, Ma. Jujur aku sendiri masih kaget setelah satu kalau aku hamil. Seperti yang Papa bilang juga, aku dan Jayden udah dewasa dan kita melakukannya karena suka sama suka.”
“Ini semua gara—gara Papa. Seharusnya Papa marah kalau tahu anak perempuan Papa satu—satunya ini hamil di luar nikah. Tapi kenapa Papa malah bersikap biasa aja? Lihat kan! Divi bahkan nggak merasa menyesal karena sudah melakukan tindakan tercela seperti ini. Ini semua karena Papa yang menormalisasikan hubungan intim di luar pernikahan yang sah.”
“Ma, sudahlah! Divi tahu dan mengerti sendiri tentang kehidupan yang dijalaninya. Kita juga dulu pernah muda—“
“Mama waktu muda menjaga diri Mama baik—baik. Tapi coba lihat, Divi! Dia sampai hamil di luar nikah!” marah Mama Kayla sambil menatap Divi dengan tajam.
Perkataan Mama Kayla yang terus menerus membahas soal norma dan kehamilannya yang di luar nikah pun tentu saja perlahan mengganggu pikiran Divi.
Perlahan Divi mulai merasa menyesal karena tidak bisa menjaga dirinya untuk tetap menjadi perawan sebelum menikah dengan belahan jiwanya. Yang dilakukannya justru sebaliknya, ia akhirnya mengendorkan pertahanannya dan menyerahkan kesuciaannya atas dasar cinta pada Jayden, kekasih yang dicintainya.
Divi tak tahan lagi dengan kemarahan Mamanya. Ia bangkit dari sofa lalu meninggalkan ruang tamu. Ia bahkan tak peduli kala ibunya memanggilnya dan mengatakan padanya bahwa pembicaraan mereka belum selesai. Divi benar-benar tak peduli. Yang diinginkannya saat ini hanya satu, mengurung dirinya di dalam kamar.
***
Keesokan paginya, Mama Kayla yang masih agak kesal dengan kehamilan Divi pun dengan sengaja tidak membangunkan bahkan tidak menyuruhnya untuk sarapan bersama.
Papa Dwika yang tahu kemarahan sang istri pun hanya bisa diam. Ia sudah mencoba bicara baik—baik pada Kayla, tapi ucapannya hanya dianggap sebagai angin lalu. Bahkan yang lebih ekstrem, bahwa sang istri justru mengajaknya berdebat sepanjang malam.
Akhirnya Papa Dwika yang sudah lelah pun tak banyak bicara. Ia membiarkan istrinya menikmati kemarahannya. Papa Dwika pun sudah sangat hapal dengan perilaku istrinya.
Kayla hanya akan marah sebentar. Sekalinya marah ia akan bersikap defensif pada semua orang. Namun, jika mood nya membaik, ia akan menjadi bidadari di dalam rumahnya lagi.
Papa Dwika bangkit dari kursi makan yang didudukinya lalu berjalan menuju kamar Divi. Ia mengetuk pintu kamarnya dengan pelan hingga sang anak membukakan pintu beberapa saat kemudian.
“Papa—“
“Sarapan yuk?”
Divi melihat ke arah ibunya yang sudah duduk di kursi makan sambil menikmati secangkir teh hangat di pagi hari. “Mama masih marah nggak, Pa, ke aku?”
Papa Dwika segera menggelengkan kepalanya. “Nggak kok, Div. Mama kamu kan orangnya berhati malaikat,” kata Papa Dwika berbohong. Ia melakukan itu agar Divi mau duduk di kursi makan dan menikmati sarapan bersamanya dan ibunya.
Mendesah pelan, Divi pun ke luar dari kamar. Ia berjalan bersama ayahnya menuju meja makan, lalu duduk di kursi makan mereka masing—masing.
Baru saja duduk dan hendak mengambil roti panggang buatan ibunya, Divi merasakan hawa ibunya tidak membaik. Bahkan wajahnya masih menunjukkan kekesalan.
Detik selanjutnya, Divi pun sadar bahwa ia sudah dibohongi oleh sang ayah. Karena nyatanya, sang ibu masih marah padanya.
Divi menatap ayahnya dan memberikan kekesalan dalam hatinya. Namun sang ayah tak peduli dan lebih memilih untuk mengoles selai nanas handmade itu dengan serius.
Papa nyebelin banget sih, pikir Divi kesal.
Divi membuka tutup selai cokelat kacang yang ada ditangannya lalu mulai mengoleskannya pada permukaan datar roti panggang miliknya. Ia mengoles hingga terasa cukup lalu memakannya dalam diam.
Suasana meja makan terasa sangat mencekam hingga akhirnya sang ibu mulai berbicara. “Hari ini kita ke bidan Nurmala di gang atas ya.”
“Eh?”
“Mama mau tahu kondisi kandungan kamu,” kata Mama Kayla membuat semua orang di meja makan menatapnya dengan serius. “Kamu bilang semalam, kamu masih cukup terkejut dengan kondisi kamu yang sedang hamil. Kamu pasti belum memeriksakan diri kamu dengan lebih menyeleruhkan soal kandungan kamu ini.”
Divi terdiam. “Ma—“
“Udah, Div! Kamu turutin aja perkataan Mama kamu. Jangan membantah lagi, Div.”
Divi mendesah pelan dan akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran ibunya. Namun sebentar saja, ia mengingat sesuatu. “Apa nggak lebih baik kalau kita periksa agak jauh dari rumah, Ma? Nanti kalau dekat dari rumah, bisa—bisa berita kalau aku hamil di luar nikah bakal terdengar. Apa Mama nggak papa?”
Mama Kayla diam sejenak lalu menyesap teh hangat yang ada di di dalam cangkir yang dipegangnya. “Mama sepertinya harus mulai menebalkan muka Mama karena kehamilan kamu,” kata Mama Kayla akhirnya. “Kamu sama Papa kamu mungkin menganggapnya sebagai hal biasa. Namun tidak dengan Mama, karena Mama juga yang lebih sering berinteraksi dengan masyarakat.”
Papa dan Divi langsung terdiam. Setelahnya mereka mendengarkan ceramah dari Mama Kayla dengan penuh khidmat di pagi hari.
“Jadi kita ke bidan di gang atas, Ma?” tanya Divi.
“Hmm ... nggak jadi deh,” kata Mama Kayla. “Nanti Mama cari praktik lain yang buka hari minggu.”
Divi menganggukkan kepalanya. “Ya udah terserah Mama deh.”
Mama Kayla kali ini yang menghela napasnya dengan berat. “Pa, Papa hari ini jangan pakai mobil ya! Mama sama Divi mau pakai,” pesan Mama sambil menatap Papa.
Papa segera menganggukkan kepalanya. “Nanti Papa gowes aja, Ma.”
“Oh Papa mau gowes? Ya udah kalau gitu. Syukurlah.”
Mereka pun kembali menikmati sarapan pagi mereka, hingga sang ibu kembali menanyakan persoalan Divi dan Jayden.
“Div, kamu kenal orang tua Jayden?” tanya Mama Kayla membuat Divi terdiam beberapa saat.
Menyadari perubahan ekspresi yang dimiliki Divi menjadi lebih terdiam, Mama Kayla pun bertanya karena penasaran. “Aku belum pernah ketemu sama orang tua Jayden, Ma.”
“Kamu tahu tentang orang tuanya? Gimana kondisi keluarganya?”
“Setahuku orang tua Jayden udah lama bercerai, Ma. Setelahnya, kedua orang tua Jayden menikah lagi. Jayden selama ini tinggal sendiri dan nggak terlalu suka membahas soal orang tuanya ke aku.”
“Jadi Jayden anak broken home?”
“Bisa dibilang begitu....”
“Kamu tahu, kenapa kedua orang tua Jayden berpisah?”
Divi terdiam sejenak sejenak. “Kata Jayden sih karena nggak cocok, Ma. Aku juga kurang tahu karena memang Jayden nggak terlalu terbuka soal perpisahan kedua orang tuanya. Jayden juga bilang, perpisahan kedua orang tuanya sejak dia kecil. Jadi dia tidak begitu ingat.”
“Kasihan juga, Jayden! Terus dia dirawat oleh siapa setelah kedua orang tuanya bercerai, Div?”
“Jayden tinggal sama neneknya. Tapi sekarang neneknya udah meninggal, Ma, dan Jayden tinggal sendirian selama ini.”
Mama Kayla banyak terdiam setelah mendengar cerita Divi soal orang tua kekasihnya. “Jayden pasti kesulitan karena tidak tinggal bersama dengan kedua orang tuanya yang utuh.”
“Jayden selalu jadi orang yang optimis, Ma,” balas Divi membuat Mama Kayla menganggukkan kepalanya.
“Papa juga tahu kalau pacar kamu itu orang yang kuat. Tiap kali mengobrol dengan Papa, Jayden nggak suka mengeluhkan sesuatu. Dia hanya membicarakan projeknya saja dan mengatakan kalau sibuk dengan pekerjaannya. Papa makin salut pada Jayden.”
Sementara sang ayah menyanjung Jayden, Mama justru khawatir dengan latar belakang laki—laki yang akan menjadi suami anaknya. Namun segera saja, Mama Kayla menggelengkan kepalanya.
“Nanti kamu kasih tahu Jayden ya, Div.”
“Apa, Ma?”
“Mama mau orang tua Jayden juga ke mari untuk melamar kamu secara resmi. Meskipun kamu sudah hamil dan akan tetap menikah dengan Jayden. Mama tetap ingin menjalin silaturahmi dengan orang tua Jayden selaku calon besan Mama dan Papa kamu nanti.”
Divi berpikir beberapa saat. Ia tidak yakin dengan keinginan ibunya. Namun akhirnya Divi tetap menganggukkan kepalanya. Ia setuju dengan keinginan Mama Kayla. “Nanti aku kasih tahu Jayden, Ma.”
“Oke. Bagus kalau gitu.”[]
***
bersambung >>>