Kedatangan Tamu

2152 Words
Bab 6 Kedatangan Tamu Dalam perjalanan pulang menuju rumah Divi, Jayden tak terlalu banyak bicara. Hanya Divi yang sesekali mengatakan sesuatu dan Jayden sekedar merespon dengan tertawa atau mengangguk dan menggelengkan kepalanya. Sesampainya di dekat rumah Divi, Jayden pun memutuskan untuk tidak ikut turun. Ia hanya mengantarkan dan Divi yang menyadarinya segera berpamitan. “Jay, aku pulang dulu ya. Makasih untuk makan malam dan udah diantar pulang.” Jayden menganggukkan kepalanya sambil mengulum senyumnya. “Sorry ya, aku nggak harus mampir kan buat nyapa Tante kamu?” tanya Jayden membuat Divi segera menggelengkan kepalanya. “Mending nggak usah juga kok,” balas Divi sambil tertawa garing. “Ya udah, kalau gitu aku turun ya. Bye....” Divi memegang tasnya dengan erat lalu turun dari mobil Jayden. Setelahnya, Jayden memutar balik mobilnya dan Divi terus memperhatikan mobil itu hingga akhirnya meninggalkan kompleks rumahnya. Akhirnya setelah kepergian mobil Jayden, Divi pun menghela napasnya dengan berat. Di dalam rumah ada sosok yang sangat dituakan di keluarga ayahnya, keluarga Tante Rindi. Divi melepaskan sepatu yang dipakainya lalu berjalan. Ia membuka pintu depan rumahnya tapi menemukan rumah dalam kondisi sepi. “Divi, kamu udah pulang?” tanya wanita paruh baya itu retoris. Mamanya menatap Divi yang baru saja masuk ke dalam rumah. “Loh, Ma, kok sepi banget. Katanya ada Tante Rindi sama keluarganya.” “Oh ... Tante Rindi sama keluarganya udah pulang. Tadi Papa kamu pergi nganter mereka ke stasiun.” “Loh kok gitu?” “Kok gitu gimana sih?” tanya Mama Karla yang memiliki nama lengkap Karla Winoto itu. Wajah Mama Karla terlihat bingung dengan pertanyaan yang diajukan oleh sang anak. “Habis tadi Papa bilang aku disuruh cepat pulang karena ada Tante Rindi dan keluarganya. Eh sekarang, pas aku pulang malah Tante Rindi dan keluarganya malah nggak ada. Gimana sih, Ma?” “Kamu ini banyak protes!” kata Mama Karla lalu meninggalkan Divi sambil membawa nampan berisi gelas dan piring kotor yang ada di atas meja, di ruang tamu, bekas para tamu yang tadi datang ke rumah. Divi mendesah lalu meninggalkan ruang tamu. Ia pergi ke kamarnya dan masuk ke dalamnya. “Padahal aku udah bela—belain ninggalin Jayden demi menghormati keluarga Tante Rindi. Ini malah mereka udah pergi,” gerutu Divi sambil menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. “Duh!” keluh Divi lagi saat baru saja tubuhnya mencium ranjang, perutnya justru terasa sakit. Divi mengusap perutnya dengan lembut menggunakan gaya memutar, tapi tetap saja perutnya keram. Divi mengaduh di dalam kamarnya dan tidak beranjak di atas ranjangnya. Setelah rasa sakitnya lebih baik, Divi pun bangkit dari tempatnya berbaring. Ia memainkan ponselnya dan tak menemukan pesan dari kekasihnya. Apa Jayden masih di perjalanan ya? tanya Divi dalam hati. Setelahnya ia mengirim pesan pada Jayden. [ Jay, kalau udah sampai rumah, kabari aku ya. ] tulisnya dalam pesan singkat. Divi mendesah pelan lalu menjatuhkan ponselnya di samping tubuhnya. Tak lama berada dalam posisi berbaring, Divi mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar. “Diviiiii,” panggil Mama sambil membuka pintu kamar putrinya. Divi segera beralih posisi menjadi duduk bersila. “Kenapa, Ma?” tanya Divi. “Makan malam dulu,” kata Mama Kayla pada sang putri. “Masih ada ayam bakar. Gih di makan dulu. Sengaja Mama sisain buat kamu makan malam.” “Aku udah makan, Ma.” Mama Kayla menghela napasnya. “Kamu udah makan?” ulangnya. “Ya udahlah kalau gitu,” katanya sambil kembali menutup pintu kamar putrinya. Divi kembali membaringkan tubuhnya lalu menggerayangi kasur untuk menemukan ponsel miliknya. Saat ia mengecek ponselnya, Divi sama sekali tak menemukan pesan balasan atau panggilan dari Jayden. Sepertinya Jayden masih di jalan, pikir Divi. Ia memejamkan matanya dan tanpa sadar rasa kantuk menyergap. Divi pun terlelap padahal jam masih menunjukkan pukul 20.00 malam. *** Jayden melihat pesan dari Divi dari barisan kecil di layar atas ponselnya, lalu menyembunyikannya. Ia tidak ada keinginan untuk membalas pesan dari Divi. Apalagi bunyi pesan dari kekasihnya itu sangat kekanak—kanakan. Ke luar dari mobil, Jayden pun berjalan memasuki mini market. Ia berjalan menuju rak shampo dan segera mengambil sebotol shampo yang biasa dipakainya. Tak lupa, Jayden juga mengambil sabun cair untuk persediannya jika sabun miliknya habis secara tiba—tiba. Terakhir, tak lupa Jayden mengambil sikat gigi baru untuknya. Divi juga kadang berada di rumahnya, jadi ia harus menyiapkan sikat gigi untuknya. Jayden baru saja menaruh belanjaannya di atas konter meja saat ia mendengar seseorang menyapanya. “Kak Aiden?” suara seseorang mengganggu Jayden karena memanggilnya dengan panggilan kecil. Saat Jayden menoleh. Ia melihat dua orang perempuan muda sedang berdiri saling berdekatan. “Lilina?” Lilina tersenyum. Adik tiri Jayden satu ayah beda ibu itu terlihat senang melihat abangnya. “Kak Aiden lagi ada di sekitar sini?” “Hmm,” dehem Jayden. Ia merasa canggung dengan Lilina. Bukan karena mereka beda ibu, tapi mereka memang tidak pernah tinggal bersama atau berinteraksi seperti keluarga. Hal itu membuat Jayden canggung padanya. “Kamu mau beli apa? Biar sekalian aku yang bayar.” Lilina segera menggelengkan kepalanya. “Nggak usah, Kak. Lagian ini belanjaan temanku. Jadi dia yang bayar,” bohong Lilina. Jayden mengambil keranjang belanjaan yang dipegang adiknya secara spontan lalu menaruhnya di atas konter meja kasir. “Sekalian ini ya, Mbak....” Lilina menatap belanjaannya bersama temannya itu dalam diam. “Kak Aiden, mending aku—“ Lilina terdiam saat melihat kakaknya mengeluarkan dompet. Tak tunggu waktu lama, Jayden sudah menyerahkan kartu kredit miliknya pada kasir mini market. “Kak Aiden, berada di sekitar sini ... gimana kalau mampir dulu ke rumah? Papa pasti senang kalau Kak Aiden berkunjung.” Jayden tidak menjawab karena sedang menekan pin pada mesin EDM. Setelah selesai, Jayden pun menoleh ke belakang. “Lain kali saja ya. Aku juga lagi sibuk. Salam aja untuk Papa dan Mama kamu,” kata Jayden. Ia menerima kembali kartu kreditnya dan membawa belanjaannya dengan tangan kosong lalu tersenyum pada Lilina. “Kantong belanjaan kamu mana tuh?” Lilina segera menyerahkan kantong belanjaannya pada kasir. “Kakak pulang duluan ya?” Setelahnya Jayden pun meninggalkan Lilina dan temannya yang masih berada di depan kasir. Jayden mendorong pintu mini market menggunakan bahunya lalu masuk ke dalam mobilnya lagi. Di dalam mobil, Jayden menghela napasnya sambil menyalakan mobil. Ia tidak menyangka melihat adik sambungnya lagi. Jarang sekali baginya untuk melihat keluarga baru ayah dan ibunya. Jayden mendengus sambil melajukan mobilnya. Memang nasibnya tragis, menjadi orang tersisih dari kedua orang tuanya yang kini memiliki kehidupan barunya masing—masing. *** Keesokannya, Jayden terbangun karena hari sudah cukup siang. Semalam ia tertidur lumayan larut karena melanjutkan pekerjaan kantornya di rumah. Setelah selesai pukul 02.00 pagi, Jayden pun memejam matanya di atas ranjangnya dengan nyaman. Baru saja bangkit dari ranjangnya, Jayden mendengar pintu rumahnya berbunyi. Sambil berjalan ke luar dari kamar menuju pintu depan rumahnya, Jayden bertanya—tanya siapa yang bertamu ke rumahnya. Apa Divi? pikirnya langsung, karena yang selama ini yang mengunjungi rumahnya hanya kekasih—kekasihnya, dan kekasihnya saat ini adalah Divi. Jadi kemungkinan besar yang bertamu di pagi minggu ini adalah Divi. Saat membukakan pintu depan rumahnya, Jayden cukup kaget karena yang berada di balik pintu depan rumahnya bukanlah wanita yang kini berhubungan asmara dengannya, melainkan seorang laki—laki paruh baya. Laki—laki itu tidak sendirian melainkan bersama seorang gadis yang ditemuinya semalam di mini market. “Jayden—“ Papa tersenyum canggung saat melihat anaknya yang sudah bertambah dewasa itu berdiri di depannya. “Papa—“ Papa segera menunjukkan plastik berukuran sedang ke hadapan Jayden. “Jayden, Papa bawakan makanan kesukaan kamu. Mama Nia sengaja masakan karena semalam adik kamu bilang, kalau ketemu sama kamu di mini market. Iya kan, Li?” Lilina yang berada di samping Papanya mengangguk singkat. Gadis berusia 16 tahun itu bisa melihat bahwa kakaknya tidak terlalu senang dengan keberadaannya dan sang ayah di rumahnya. Rasanya Lilina ingin segera pulang dari sana. Setelah tersadar dari keterkejutannya, Jayden pun segera menerima plastik yang dibawakan oleh sang ayah. Ia tersenyum canggung lalu membuka mulutnya untuk bicara. “Makasih, Pa.” Jayden segera membuka pintu depan rumahnya lebih lebar. Setelahnya ia pun mempersilakan masuk pada dua tamunya. “Ayo silakan masuk!” Papa Jayden dan Lilina itu pun segera tersenyum. Ia memasuki rumah yang dulu pernah ditinggalinya bersama Jayden dan mantan istrinya, Denis. “Li, kenapa diam aja? Ayo masuk!” kata Papa Julian sambil melambaikan tangannya di depan mata Lilina. Lilina mengangguk lalu mengikuti ayahnya masuk ke dalam rumah sang kakak. “Wah rumah Kakak rapi dan bersih banget ya, Pa,” kata Lilina tanpa sadar, memuji ruang tamu yang mereka singgahi. Jayden tersenyum tipis mendengar pujian sang adik. “Duduk, Li!” kata Jayden saat melihat adiknya masih saja berdiri. Lilina menganggukkan kepalanya. Ia duduk di samping sang ayah yang sudah lebih dulu duduk di atas sofa ruang tamu. “Sebentar ya, aku ambilin minum dulu!” kata Jayden seolah tak ingin berlama—lama di satu ruangan dengan ayah dan adiknya. “Nggak perlu repot—repot, Jay,” kata Papa tapi sama sekali tak digubris oleh sang anak. Jayden masuk ke dalam. Ia berjalan menuju dapur dan terdiam sejenak saat menaruh oleh—oleh yang dibawa oleh ayah dan adiknya. Ngapain sih Papa ke sini segala? Pikir Jayden tidak terlalu senang dengan keberadaan keluarga yang seperti orang asing baginya itu. Setelah terdiam beberapa saat, Jayden pun menyiapkan cemilan dan minuman berupa air putih dingin untuk ayah dan adiknya. “Kamu sebenarnya nggak perlu repot—repot, Jay,” kata Papa lagi berbasa-basi pada anaknya. “Nggak papa kok, Pa. Lagian kalau sama tamu kan emang harus disuguhin minum.” Papa Julian terdiam beberapa saat. Ternyata bagi anak sulungnya, ia adalah tamu yang bertamu ke kediamannya. “Diminum, Pa,” kata Jayden mempersilakan ayahnya. Sedangkan Lilina sudah meminumnya lebih dulu. Papa Julian tersenyum lalu meminum air putih yang disuguhkan oleh anak laki—laki itu. “Lili bilang kemarin kamu ada di sekitar rumah. Kenapa nggak mampir sekalian, Jay?” tanya Papa sambil menaruh kembali gelas minumnya. “Udah malam, Pa. Dan lagi aku lagi sibuk ngerjain tugas kantor.” “Oh,” Papa Jayden menganggukkan kepalanya. “Kamu masih bekerja di kantor yang lama?” tanya Papa Jayden ingin mengetahui kehidupan yang dijalani putranya. “Masih, Pa,” balas Jayden jujur. “Tapi sekarang aku lagi di mutasi ke kantor pusat di Jakarta.” Papa Julian mengangguk—anggukkan kepalanya. “Kamu pindah ke sana permanen? Terus rumah ini bagaimana?” Jayden menggeleng pelan. “Nggak kok, Pa. Aku di mutasi ke Jakarta cuma sementara waktu. Tapi semisal pekerjaanku bagus, ada kemungkinan juga untuk lanjut kerja di sana.” “Dan soal rumah ini, aku selalu pulang setiap weekend. Toh Jakarta—Bogor nggak terlalu jauh.” “Kamu pasti capek karena harus bolak balik dan tinggal sendirian.” Jayden tak mengatakan apa—apa. Papa Julian meminum air putihnya lalu melanjutkan obrolan. “Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal bersama Papa dan Mama Nia.” Jayden terkekeh pelan. Senyumnya yang miring menandakan bahwa ia sangat tidak menyukai perihal yang dibahas oleh sang ayah. “Aku selama ini tinggal sendirian dan aku baik—baik saja.” Papa Julian mendesah pelan. Anak laki—lakinya yang keras kepala. Tak aneh jika ia mengingat kembali apa yang sudah dilalui oleh Jayden. Jayden kecil harus merasakan perpisahan kedua orang tuanya. Ketika sang ayah sibuk melepaskan diri dari jerat sang ibu yang gila, tanpa sadar ayahnya juga ikut melepaskan diri dari tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. “Papa ke sini kayaknya habis olahraga ya?” tanya Jayden. Gadis remaja yang sejak tadi main ponselnya pun menoleh. Ia ingin membenarkan apa yang dikatakan oleh kakaknya yang tampan. “Iya, tadi kita habis olahraga. Lari pagi, pulang—pulang disuruh Mama Nia untuk nganterin makanan ke kamu.” “Oh,” Jayden beroh—ria. “Lain kali nggak perlu kirim makanan lagi ya?” Wajah Lilina mendadak sedih. Ia tidak menyangka jika sang kakak terus terang menolak pemberian ibunya. “Pa, aku ada janji nih sama temanku. Kita pulang yuk?” ajak Lilina. Papa Julian menolehkan kepalanya. “Kamu mau pulang?” Lilina menganggukkan kepalanya. Ia sudah bosan berada di sana, apalagi kakaknya tidak mengajaknya bicara sama sekali. Jayden segera bangkit berdiri. Seolah senang kala ayah dan adiknya pulang. Papa Julian dan Lilina ikut berdiri dan mereka pun meninggalkan rumah. Jayden mengantarkan keduanya hingga di teras lalu kembali masuk ke dalam rumah. Membereskan bekas suguhannya pada dua tamu yang baru saja berkunjung, setelahnya Jayden pun pergi mandi. Di dalam kamar mandi, ia berlama—lama di sana. Pertemuannya dengan sang ayah membuat Jayden merasa frustrasi. Ia masih menyimpan dendam pada ayahnya. Ayah yang dulu meninggalkannya bersama sang ibu. Dan setelahnya, sang ibu pun meninggalkannya pada sang nenek. Jayden mengusap wajahnya yang basah karena air shower yang turun. Hatinya penuh sesak, bayangan masa lalunya hinggap seolah ia baru saja diputarkan film lawas hitam putih yang tidak menyenangkan.[] *** bersambung >>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD