Keluarga

2287 Words
Bab 7 Keluarga #Flashback On# Anak laki—laki itu terdiam di belakang pintu kamarnya. Meskipun berada di dalam kamar, ia masih bisa mendengar suara amukan dari sang ibu. Jayden kecil tak mengerti. Kenapa ayah dan ibunya bisa bertengkar seperti itu? Yang dirinya tahu, ayahnya terus menerus menasihati sang ibu, tapi sang ibu sama sekali tak ingin menggubrisnya. “Mama Papa....” suara kecilnya terdengar begitu rapuh. Jayden menangis, tapi tak ada satu orang pun yang berada di rumah itu yang peduli. Bahkan setelahnya, Jayden mendengar bunyi barang pecah yang sangat keras. Jayden makin ketakutan. Ia makin memeluk lututnya. Berada di belakang pintu, Jayden hanya bisa berharap semoga semua keributan itu segera berakhir. #Flasback Off# *** Jayden mengecek ponselnya setelah mandi dan tak menemukan panggilan atau pesan dari Divi. Merasa penasaran karena kekasihnya tidak memberi kabar, Jayden pun segera menghubunginya. Namun sampai nada sambungan berakhir, Jayden tak mendapati suara sang kekasih yang menyapanya. Mendesah pelan, Jayden pun kembali mencoba menghubungi Divi. Ia khawatir jika Divi marah, apalagi semalam ia secara sengaja mengabaikan pesan dari kekasihnya itu. Jayden terus mencoba menghubungi Divi, tapi lagi—lagi tak ada balasan. Mungkin tebakannya benar, Divi pasti sedang marah padanya hinga tak mengangkat panggilannya. Menghela napasnya, Jayden bersungut dalam hati. Sepertinya Divi dan wanita lain yang pernah dikencaninya sama saja. Pada akhirnya Divi juga akan gila kabar. Akhirnya Jayden pun berhenti mencoba untuk menghubungi Divi. Ia memasukkan ponselnya di saku celana lalu ke luar dari kamar setelah selesai menyisiri rambutnya yang setengah basah. Jayden menuju meja makan dan mengambil sendok. Ia mengeluarkan wadah bekal transparan dari dalam plastik yang dibawakan oleh ayah dan adik tirinya. Setelah mengeluarkan empat wadah dari dalamnya, Jayden pun membuka semua tutupnya. Ia mencicipi makanan Tante Nia –istri Papanya itu—lalu mengangguk—anggukkan kepalanya. Masakan Tante Nia enak semua. Dari sayur lodeh, telur balado, ayam sambal kecap, dan ikan kakap. Semua makanannya enak dan menyenangkan lidahnya. Mengambil nasi dari rice cooker, Jayden pun setelahnya sarapan dengan apa yang ada. Jayden memang canggung pada keluarga baru ayahnya, tapi bukan berarti Jayden sangat membencinya. Ia hanya ingin menjaga jarak dari keluarga ayah atau ibunya. Ia melakukan itu karena tidak ingin menjadi beban. Seperti kata ibunya dulu sebelum meninggalkannya bersama sang nenek. “Kamu itu cuma beban buat Mama. Makanya lebih baik kamu tinggal sama nenek kamu. Kalau nenek kamu nggak mau ngurus kamu, Mama nggak segan—segan akan bawa kamu ke panti asuhan atau Mama buang kamu di jalanan.” Suara Ibu muda itu terdengar begitu lantang. Membuat Jayden yang sejak tadi diam dan berada di belakang punggung neneknya menangis. “Denis, kamu sangat keterlaluan. Ibu macam apa yang bisa—bisanya bicara seperti itu pada anaknya.” “Aku nggak peduli lagi sama dia, Bu. Gara—gara dia ... hidupku berakhir kayak gini. Dia ada udah cukup buat hidup aku sengsara. Sekarang terserah Ibu, kalau Ibu mau ngurus Jayden, terserah. Kalau Ibu nggak mau, Ibu bisa bawa dia ke panti asuhan atau buang dia di jalanan. Aku udah nggak mau lagi peduli sama dia. Dia tuh pembawa sial dalam hidupku.” Setelah mengatakan kata—kata menyakitkan itu. Ibu muda satu anak itu meninggalkan Jayden bersama ibunya. Ia membawa tasnya dan minggat dari rumah. Dan setelah 10 tahun, barulah Jayden mengetahui keberadaannya. Sang ibu kini sudah menikah lagi dengan seorang pengacara dan kini tinggal di Jakarta bersama keluarga barunya. Jayden menghela napasnya. Ingatan soal keluarga membuatnya sakit hati. Ia menghentikan makan dan buru—buru menutup wadah makanan di depannya lagi. Tak sanggup lagi ia melanjutkan makan sementara dadanya penuh sesak kala mengingat kehidupan di masa lalunya. *** Akhir minggu yang tidak menyenangkan. Divi kira ia bisa bersama Jayden sepanjang weekend tapi nyatanya ia malah terkubur di dalam kamar. Ia berulang kali ke luar masuk kamar mandi karena rasa mual yang dirasakannya sejak shubuh hari. “Div, kamu masih mual?” tanya Mama Karla pada putrinya. Divi berdiri dengan menyandarkan lengannya di tembok dapur. Ia menatap ibunya dan menganggukkan kepalanya. “Kita periksa aja gimana?” tanya Mama Karla memberi opsi. Khawatir juga karena sejak tadi anak perempuannya mual muntah sejak tadi. “Nggak perlu, Ma. Kayaknya aku kurang makan jadi maag—ku kambuh deh.” “Ckck,” decak Mama Karla. “Kamu tuh, Div, udah tahu punya penyakit lambung, makan suka sembarangan, kerjaan juga. Kamu kalau udah mendekati deadline kerjaan pasti kan gini. Makan yang benar, Div.” “Iya, Ma. Aku udah makan bener kok,” balas Divi. Ia mulai berpikir. Apa karena deadline kerjaannya yang kemarin ya, ia jadi mual muntah begini? “Huft...” Divi menghela napasnya lalu berjalan menghampiri meja makan. Ia mengambil air putih di gelas lalu meminumnya. Tak berselang lama, Divi kembali berlari menuju kamar mandi yang berada di samping dapur. Ia muntah lagi. “Ma, Divi kenapa?” tanya Papa Dwika pada istrinya. Ia baru saja ke luar dari kamarnya sambil membawa tablet kerjanya. “Kedengarannya muntah—muntah gitu. Lambungnya kumat?” “Hmm ... kayaknya,” balas Mama Kayla. “Udah ditanyain mau periksa nggak, tapi bilangnya nggak mau.” “Ya udah kalau gitu suruh minum obat lambungnya aja. Kalau masih mual muntah ya kita paksa aja buat periksa.” Setelah membuat keputusan, Papa Dwika pun meninggalkan dapur. Ia berjalan menuju teras depan rumah. Duduk di kursi yang berada di teras lalu membuka portal koran online melalui tablet kerjanya. Tak lupa, kacamata baca sudah bertengger di kedua daun telinganya. *** Divi masuk ke dalam kamarnya dengan kaki lemasnya. Ia membaringkan tubuhnya dengan posisi tengkurap lalu terdiam beberapa saat. Setelah tubuhnya beristirahat untuk beberapa saat. Divi mulai mengingat ponselnya. Ia melihat ke beberapa arah dan menemukan ponselnya di samping bantal. Divi meraihnya dan mengecek. Tak disangka ia mendapat miss call dari Jayden yang cukup banyak. Divi menghela napasnya dan segera menghubungi Jayden balik. Namun, ia mengurungkan niatnya saat ia melihat pintu kamarnya di ketuk. Divi mendadak duduk di kasurnya lalu menatap sang ibu yang baru saja masuk ke dalam kamarnya sambil membawa gelas berisi air putih. “Ini, minum obat dulu, Div.” Mama Kayla duduk di ranjang. Ia menaruh gelas yang dipegangnya di atas nakas di samping ranjang lalu membuka botol kecil obat lambung yang biasa Divi konsumsi kala sakit lambungnya menyerang. Divi menerima obat yang diberikan ibunya lalu menerima juga gelas berisi air putih itu. Ia menegak obatnya bersama dengan air putih lalu menghabiskan separuh air yang ada di dalam gelas. Setelah selesai, Mama Kayla kembali membawa gelas dan obatnya dari kamar Divi. Sementara perempuan yang sudah cukup dewasa itu terdiam beberapa saat. Baru setelah bosan, Divi mengambil ponselnya lagi untuk menghubungi Jayden. Namun, saat ia hendak menghubungi Jayden, Jayden justru menghubunginya. Tepat sekali! pikir Divi. “Halo,” sapa Divi ramah. “Div, kamu ke mana aja? Kok aku telepon nggak diangkat—angkat?” tanya Jayden terdengar posesif. “Sorry, Jay. Aku habis mual muntah nih di kamar mandi, jadi nggak sempat pegang hape.” “Kamu mual muntah? Sekarang gimana keadaan kamu?” tanya Jayden. “Kamu udah minum obat?” “Udah kok, aku udah minum obat. Kamu tenang aja.” “Oh ya udah kalau gitu,” balas Jayden. “Sekarang kamu lagi ngapain, Div?” “Aku lagi tiduran aja nih, lagi di kamar.” “Kamu lemas ya?” “Hmm....” deham Divi jujur. “Oh ya udah deh kalau gitu. Semoga cepet membaik ya, Sayang.” “Eh—“ Tut tut!! Panggilan dimatikan begitu saja oleh Jayden. Divi cemberut dengan sikap Jayden tapi untuk menghubunginya lagi tentu saja tidak akan dilakukannya. Ia kesal pada Jayden karena menutup panggilannya begitu saja. Padahal kan ia sedang sakit. Sama sekali tidak perhatian, pikir Divi. Ia bersungut kesal dalam hatinya. *** Kondisi lemas Divi bertambah saat ia merasa kesal dengan sikap Jayden. Namun perasaan kesal itu berubah menjadi keterkejutan saat sang ibu memberitahunya bahwa Jayden berkunjung ke rumah sambil membawa buah—buahan yang dibelinya dalam perjalanan ke rumah mereka. Divi buru—buru berjalan ke luar dari kamar bersama mamanya dan menemukan seseorang yang namanya selalu disebut dalam hatinya itu tengah duduk di ruang tamu bersama sang ayah. “Jay, kamu kok nggak bilang sih mau ke sini?” tanya Divi sambil duduk di samping Jayden. Papa Dwika dan Mama Kayla terlihat gemas. Pasalnya sang anak langsung menghampiri kekasihnya setelah mereka bertemu. “Kamu bilang, lagi sakit kan? Makanya aku langsung ke sini.” “Bukannya kamu lagi sibuk ngerjain tugas kantor?” tanya Divi lagi. “Tugas kantor mah selalu ada. Mau dikerjain cepat atau lambat tetap aja ada. Makanya aku ke sini dulu, cek kondisi kamu dulu kayak gini. Di telepon kamu kedengaran lemas banget.” “Masa sih?” Divi melihat ke arah ayah dan ibunya yang duduk berdampingan. Menatap ke arahnya dan Jayden dengan bibir terkulum. “Mama sama Papa apa—apaan sih ngelihatin aku sama Jayden segitunya?” Papa Dwika pun terkekeh pelan. “Papa lagi nginget gimana pas dulu, Mama sama Papa kamu muda. Kita juga seromantis kamu dan Jayden tahu....” “Papa—“ Mama Kayla terlihat malu—malu. Jayden yang melihat kedua orang tua Divi tersenyum. Ia senang kala melihat kedua orang tua Divi yang kelihatan begitu harmonis. Hal yang tidak dilihatnya di kedua orang tua kandungnya. “Ma, masuk aja yuk! Nanti kita jadi obat nyamuk buat pasangan muda ini!” ajak Papa. Jayden segera menggelengkan kepalanya. “Nggak perlu, Om. Saya cuma sebentar kok. Soalnya saya masih harus menyelesaikan tugas saya di rumah.” “Kamu kan baru nyampe, Jay?” protes Divi. Jayden tersenyum dengan wajah memohonnya. “Aku kan udah bilang, kalau aku ke sini cuma mau ngecek kondisi kamu aja. Kondisi kamu kelihatannya udah mendingan, jadi aku udah lega.” “Perhatian banget ya si Jayden,” gumam Mama Kayla. “Tuh Papa juga harusnya kayak gitu. Perhatian. Jangan cuma bagian ngasih perintah aja!” ketus Mama Kayla sambil menatap suaminya dengan sebal. “Ya udah kalau gitu, Tante, Om. Saya permisi pulang,” kata Jayden sambil bangkit berdiri. Divi mengikuti di sampingnya dan keluarga kecil itu mengantarkan Jayden hingga ke depan teras. Jayden memakai kembali sendalnya lalu berjalan ke luar dari gerbang rumah Divi. Ia menuju mobil miliknya kemudian masuk ke dalamnya. Tak menunggu lama, Divi melihat mobil Jayden meninggalkan rumahnya. “Udah, Div, jangan dilihatin terus!” kata Papa menggoda sang anak. Divi membuang mukanya sambil berjalan kembali menuju kamarnya. “Div, tunggu sebentar. Kita ngobrol dulu yuk?” ajak Papa sambil duduk di ruang tamu. Mama Kayla sendiri sedang berjalan mengambil pisau di dapur untuk mengupas apel yang dibawakan oleh kekasih anaknya barusan. “Ngobrol apa sih, Pa? Aku kan mau istirahat,” balas Divi. Namun langkah kakinya tetap berjalan kembali menghampiri sang ayah. Divi duduk di sofa. “Div, Jayden bekerja sebagai arsitektur sudah cukup mapan kan?” Divi mengerutkan kening. Ia merasa aneh mendengar pertanyaan yang diberikan oleh sang ayah. Meskipun begitu, ia tetap menjawabnya dengan santai. “Iya, Pa. Jayden kerja sejak lulus kuliah. Dia magang terus jadi pegawai tetap. Sekarang aja dia lagi dimutasi ke kantor pusatnya di Jakarta. Berarti kan prospek kerja Jayden sudah cukup baik dan mapan?” Papa Dwika mengangguk—anggukkan kepalanya setuju. “Kalau gitu, apa kamu dan Jayden ada kemungkinan untuk segera menikah?” “Menikah, Pa?” Divi terdiam sejenak. Meskipun ia dan Jayden sudah berpacaran dengan cukup dewasa, tapi soal menikah, ia dan Jayden hanya pernah membahasnya sesekali. Seolah—olah tak ada yang spesial dari pembahasan mengenai pernikahan. Apalagi sekarang Jayden sedang dimutasi di Jakarta. Sementara otak Divi traveling, Papa Dwika yang tak sabar mendengar jawaban putrinya pun mengetuk meja di depannya. “Kok malah bengong sih, Div?” Bukan Papanya yang bertanya melainkan Mama Kayla yang bertanya. Mama Kayla sudah membawa pisau dapur dan bersiap mengupas apel. Divi menatap ibunya sejenak lalu menghela napasnya. “Aku sama Jayden kan lagi LDR, Ma, Pa. Boro—boro mikirin pernikahan. Mikirin bisa ketemu setiap minggu sekali aja kadang berat banget.” “Ya ampun, Div. Kamu ini sama Jayden cuma LDR—an Bogor—Jakarta. Bukan Bogor—Kalimantan yang memakan perjalanan udara,” gumam Mama Kayla tak habis pikir. “Tapi emang kerjaan Jayden tuh lumayan memakan waktu banget, Ma. Tuh sekarang aja dia buru—buru pulang karena harus ngerjain tugas kantornya yang dibawa pulang. Aku aja cukup kaget saat tahu Jayden ke sini, karena aku tahu dia sibuk banget kalau di kantor.” Papa Dwika mengangguk—anggukkan kepalanya. Meskipun ia bukan seorang arsitektur, tapi pekerjaannya sebagai kepala bagian devisi pemasaran di perusahaan berbasis internasional itu cukup berat. Apalagi saat ia masih menjadi bawahan, kerjaan seolah tak ada habisnya. Baru sekarang saat ia sudah menjadi kepala bagian, pekerjaannya cukup ringan. “Papa percaya gimana sibuknya Jayden,” kata Papa tiba—tiba. “Lagian perempuan jaman sekarang nggak harus nikah cepat. Papa setuju kalau kamu sama Jayden nggak buru—buru menikah hanya karena umur.” “Loh, Papa....” Mama Kayla berhenti mengusap apel dan menatap suaminya dengan kesal. Padahal ia sudah mewanti—wanti suaminya agar mau mendesak anaknya untuk segera menikah, tapi tetap saja seperti ini. Suaminya benar—benar tidak ingin segera punya cucu, pikir Mama Kayla. “Udahlah, Ma. Ini kan hidupnya Divi. Ya terserah Divi aja mau gimana,” gumam Papa Dwika. Divi tersenyum penuh kemenangan. Ayahnya memang yang terbaik. “Ya udah kalau gitu, aku pergi ke kamar dulu ya, Ma, Pa.” “Hmm—“ balas Papa. “Kamu mau apelnya nggak, Div?” “Nggak usah, Ma. Aku nggak mau makan apa—apa.” Setelah mengatakan itu, Divi pun meninggalkan ruang tamu. Ia kembali ke kamarnya dan berbaring dengan nyaman di atas ranjang.[] *** bersambung >>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD