Memeriksakan Diri

2458 Words
Bab 8 Memeriksakan Diri Keseharian Jayden sebagai seorang arsitektur di sebuah perusahaan arsitektur bertaraf internasional kembali ketika hari kembali senin. Ia melihat meja kerjanya dengan pandangan kosong beberapa saat lalu mengambil gelas kopi miliknya yang berada di atas meja. Sejenak ia tenang. Namun ketenangannya hanya berjalan sebentar, seseorang tiba—tiba saja menyentuh pundaknya. Jayden bersungut dalam hatinya. Ia mengambil tisu yang ada di atas mejanya lalu mengusap sudut bibirnya yang ketumpahan kopi karena seseorang menyentuh pundaknya secara mengejutkan. “Eh maaf, kaget ya?” tanya Sabrina lalu menundukkan badannya untuk melihat ke arah komputer Jayden yang sudah menyala tapi masih berada di halaman muka. “Kenapa sih?” tanya Jayden balik saat melihat Sabrina memperhatikan dengan serius ke arah layar komputernya. “Itu pacar lo, Jay?” tanya Sabrina sambil menunjuk ke arah layar. Wallpaper komputer Jayden memperlihatkan foto Jayden dan Divi. “Hmm,” balas Jayden pendek. “Kenapa sih?” sungut Jayden. “Pagi—pagi udah kepo,” lanjutnya bergumam membuat wajah Sabrina berubah ketus karena kesal. “Kayaknya dibanding lo, gue lebih cantik kan?” kata Sabrina dengan penuh percaya dirinya. Jayden hendak protes, tapi gadis itu segera melenggang meninggalkan meja kerjanya. Sabrina pergi ke luar dan sepertinya memasuki lift dan meninggalkan lantai 103. Sepeninggalan Sabrina, Jayden pun memperhatikan foto wallpapernya sejenak. Ia mendadak teringat bahwa belum mengirimi pesan pada Divi. Masih merasa punya kesempatan, Jayden pun mengambil ponsel dan mengirimkan pesan singkat pada kekasihnya itu. [ Div, senin pagi! Semangat ya. Aku juga udah di Jakarta nih. ] Terkirim. Jayden mengembalikan ponselnya di atas meja lagi lalu memulai pekerjaannya hari ini. *** Divi berjalan dengan lemas ke luar dari kantor redaksi. Padahal baru saja ia masuk ke kantor, jam 08.00 pagi bahkan Divi sudah sampai di meja kerjanya. Namun setengah jam berselang, Divi akhirnya memutuskan untuk izin pulang karena mual—mual yang dideritanya terasa makin menyiksa. Baru setengah saja, Divi sudah bolak balik kamar mandi sekitar 13 kali. Hana –teman kerjanya—bahkan merasa iba padanya. Akhirnya setelah dibujuk oleh Hana, Divi pun mau untuk pulang dan mengambil cutinya karena sakit. Divi bersyukur, karena sesampainya di halaman depan kantor redaksi, taksi online yang dipesankan oleh Hana sudah sampai dan tengah menunggunya. Menghampiri taksi online, Divi pun memasuki pintu depan. Ia duduk di depan dengan kepala terkulai. Sang supir yang mengantarkan Divi pun tidak banyak bertanya. Ia bisa melihat bagaimana penumpangnya sedang dalam kondisi yang tidak terlalu baik. Bahkan tujuan mereka sekarang saja adalah untuk pergi ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Divi pun ke luar dari dalam taksi online. Ia kemudian harus berjalan beberapa saat hingga akhirnya sampai ke lobi rumah sakit. Divi mendaftarkan dirinya di UGD karena sudah mengalami mual muntah terus menerus selama beberapa hari. Ia sudah memikirkan bahwa penyakit lambungnya pasti kumat. Mendapatkan pelayanan dari perawat dan dokter, Divi pun segera berpindah ke atas ranjang rumah sakit. Ia membaringkan tubuhnya sejenak dan tak lama kemudian ia mendapatkan infus. Tanpa sadar, Divi pun terlelap sejenak. Perasaan mual dan muntah yang dirasakannya pun mendadak membaik. Saat tersadar, Divi melihat sekitarnya. Di samping kanan dan kirinya terdapat dokter dengan pakaian khasnya yang berwarna putih serta seorang perawat yang membawa serta catatannya. Divi mendapatkan beberapa pertanyaan standar seperti biasa. Ia sudah menganggapnya biasa karena terkena tifus adalah kejadian yang biasa terjadi dalam hidupnya. Keluar masuk rumah sakit karena penyakit lambung adalah hal yang sudah lumrah terjadi dalam hidupnya selama ini. “Dok, saya nggak perlu dirawat kan?” tanya Divi mendadak. Ia sudah bosan berada di rumah sakit. “Tunggu hasil tes darah dulu ya, Bu,” kata sang dokter. Setelahnya Divi melihat sang dokter mulai menyiapkan alat untuk mengambil sampel darahnya. Divi yang menahan rasa sakitnya sejenak akhirnya lega karena dokter sudah selesai mengambil darahnya. Menarik jarum suntik dari dalam tubuhnya lalu meninggalkan Divi kembali. Kembali termenung, Divi pun melihat sekitarnya. Tak menyangka juga bahwa ia sempat tertidur begitu nyenyak sesampainya di atas ranjang rumah sakit. Mengingat kelakuannya yang pelor yaitu sekali nempel molor, Divi pun terkekeh dan merasa malu sendiri. Sambil menunggu, Divi mengambil ponsel dari dalam tas yang dibawanya. Ia mengecek ponselnya dan merasa senang karena mendapati pesan dari kekasihnya, Jayden. Tersenyum tipis, Divi pun membaca pesan dari Jayden yang memberikannya salam semangat pagi untuk hari ini. Tak menunda, Divi pun segera membalas pesan dari kekasihnya. Tangannya yang lihai pun segera mengetik sesuatu. [ Makasih, Jay. Iya, aku semangat kok. Kamu juga pasti semangat ya untuk bekerja. ] Terkirim. Divi masih tersenyum kemudian membuka pesan chat dari Hana. [ Gimana kata dokter? Lo baik—baik aja kan, Div? ] –Hana. Divi pun segera membalas pesan dari rekan kerjanya di kantor itu. [ Iya, Han. Gue udah mendingan kok. Ini lagi di infus. ] –Divi. [ Jadi bener lambung lo kambuh? ] –Hana. [ Feeling gue sih gitu. Kan biasanya juga kan gitu. Apalagi lo tahu sendiri kan kemarin habis deadline kerjaan gue selesai, gue diburu buat ngerevisi. /cih kesel/ ] –Divi. [ Ya makanya, elo juga kalau ada kerjaan cepet dikerjain. Mikirin pacaran mulu sih. Udah lah kalau nggak kuat LDR mending pikir—pikir lagi. Gue nggak maksud buat ngomong buruk sih ya. Tapi gue cuma ngasih tahu lo fakta lapangan kalau orang pacaran LDR tuh rawan banget. Misal dua—duanya setia, oke. Tapi kan kita nggak bisa juga jaga pikiran kita tetap lempeng dan percaya. Kayak elo aja sekarang. Jiwa dan pikiran lo tuh nggak tenang selama LDR—an. ] –Hana. Divi mendesah pelan setelah membaca pesan dari Hana. Teman sekantornya yang lebih muda darinya itu bisa dibilang lebih ekspert soal hubungan, makanya ia bisa bicara blak—blakan padanya. Tak kunjung membalas pesan Hana, Divi pun kembali mendapat pesan darinya. [ Tapi semua tergantung lo, Div. Kalau lo merasa sanggup ya teruskan. Tapi jangan sampai mengorbankan diri lo sendiri. Kecuali kalau lo mau resign dari kantor. Gue dengar dari bu bos, kinerja lo menurun drastir akhir—akhir ini. Tapi kayaknya lo nggak akan dapat surat peringatan karena elo kan emang lagi sakit sekarang. Cuma next project, maybe lo bisa dapat SP. ] –Hana. Divi mendesah berat setelah mendapat kabar mengejutkan dari Hana. Apakah karena LDR pekerjaannya jadi bermasalah begini? Tak ingin membuat Hana menunggu, Divi pun membalas pesan temannya yang jujur sekali itu. [ Oke, Han. Thank you. Nanti gue pikirin deh. Gue istirahat dulu ya. ] –Divi. [ Oke. Jangan terlalu dipikirin juga ya kata gue tadi. Nanti pulang dari kerjaan, gue mampir ke rumah lo. ] –Hana. Divi tersenyum lalu kembali membalas. [ Oke. Nanti gue kabarin kalau gue ada di rumah atau nggak. Semoga aja gue nggak disuruh dirawat di rumah sakit sama dokter. ] –Divi. [ Siiip, oke. Kabarin aja ya. ] –Hana. Setelahnya Divi pun membuang waktunya dengan kembali mencoba memejamkan mata. Tidak seperti awal sampai di UGD dan bisa tertidur, yang Divi lakukan kali ini hanyalah memejamkan matanya dan berpura—pura tertidur sambil menunggu dokter atau perawat menghampirinya di ranjang rumah sakit. *** Divi berjalan dengan langkah gontai setelah ke luar dari rumah sakit. Ia nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya dari dua orang dokter yang berbeda. Dokter jaga UGD dan dokter kandungan. Divi divonis sedang mengandung. Usia kandungannya sudah memasuki minggu ke-13. Duduk di salah satu kursi taman yang ada di bagian halaman rumah sakit, Divi pun termenung. Ia mengambil kembali hasil pemeriksaan darah miliknya. Tertulis di sana bahwa ia positif hamil. Kembali Divi melihat pada foto USG 4D yang dilakukannya tadi. Dokter bilang memang benar bahwa ia sedang hamil dan usia kandunganya memasuki minggu ke-13. Kepala Divi rasanya pening. Kenapa bisa ia tiba—tiba hamil? Tidak, bukan tiba—tiba. Divi seharusnya sadar dengan hubungan asmara antara dirinya dan Jayden bisa membuatnya hamil. Apalagi Jayden dan Divi beberapa kali selalu berhubungan badan selayaknya pasangan bebas pada umumnya. Divi ingin menangis, tapi ia tidak bisa menangis. Bagaimana pun juga anak yang berada dalam kandungannya adalah buah hatinya bersama laki—laki yang sangat dicintainya, Jayden. Menyentuh perutnya dengan pelan, Divi masih merasa canggung dan aneh. Apakah benar ia sedang mengandung saat ini? Apakah benar dalam perutnya sedang bersemayam calon anaknya dan Jayden? Divi menghela napas dengan berat lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia sangat frustrasi. Ia bahagia sekaligus khawatir. Bagaimana jika Jayden tidak percaya bahwa ia mengandung anaknya? Menggelengkan kepalanya dengan kuat, Divi tidak ingin memikirkannya. Satu yang pasti, apapun yang terjadi Divi harus segera memberitahu berita entah baik atau buruk ini pada Jayden. Namun, satu yang pasti, Divi akan mencoba menerima buah cintanya dengan Jayden. Pasti! Divi akan menerimanya sepenuh hati. *** Divi sedang berada di kamarnya saat mendapat pesan dari Hana. [ Gue udah di ruang tamu rumah lo nih. ] –Hana. Divi bangkit berdiri dan segera memakai sweater untuk menutup tubuhnya yang hanya memakai tanktop berwarna hitam. Setelahnya Divi ke luar dari kamar. “Div, ada Hana tuh di ruang tamu. Baru aja Mama mau ngasih tahu kamu,” kata Mama Kayla pada putrinya. “Iya, Ma. Aku tahu kok. Hana udah ngechat aku.” Mama Kayla mendesah pelan sambil berjalan menuju dapur. “Anak jaman sekarang, apa—apa ngechat.” Divi hanya tersenyum mendengar gumamam ibunya. Setelahnya ia pergi ke ruang tamu dan menemukan Hana duduk sendirian di sofa. Melihat buah tangan yang ada di atas meja, Divi pun bersungut. “Apa—apaan sih. Ini lo yang bawa? Harusnya nggak usah bawa apa—apa. Gue kan udah bilang kalau gue nggak papa.” Hana menarik Divi agar duduk di sampingnya. Menempel. “Jadi gimana kata dokter?” “Nggak papa kok. Gue emang lambungnya kumat. Udah dapat obat diinfus sebentar langsung enakan nih.” Hana menatap Divi dengan pandangan curiga lalu kembali bertanya. “Lo yakin?” “Kenapa sih?” balas Divi balik. Merasa aneh dengan Hana. “Lo ngarepnya gue kenapa emangnya?” Setelahnya Hana pun tertawa. “Hehe nggak kok. Ya udah, syukur alhamdulillah deh kalau lo baik—baik aja dan udah mendingan.” Divi balas tertawa. Ia menertawakan Hana yang refleks berkata alhamdulillah. Padahal sesuai yang Divi tahu, Hana seorang nasrani. “Lo lancar banget sih ngucap alhamdulillah,” gumamnya mencairkan suasana. Divi juga tidak mau jika ia membahas sakitnya. Bagaimana pun juga sakit yang dideritanya ternyata adalah karena kehamilannya. Dan ia belum siap untuk membahas soal kehamilannya dengan siapapun saat ini. Divi hanya akan membahasnya pada Jayden, dan ia sudah memikirkannya secara serius bahwa ia hanya akan membahasnya kala bertemu langsung dengan lelaki itu. “Haha iya juga sih. Ya udah kebiasaan juga. Kan teman—teman gue kebanyakan muslim.” Divi tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. “Tapi, Div, perasaan nyokap lo kok kayak mukanya chinese—chinese gitu.” “Loh kan emang nyokap gue chinese dari keturunan Opa gue.” “Muslim kan lo?” “Iya, muslim elah.” “Muslim tapi jarang sholat.” “Dih!” ketus Divi. “Elu juga nasrani tapi jarang ke gereja.” “Hey Anda! Gue tuh ke gereja terus, tiap natalan.” “Ckckck,” Divi menggeleng—geleng kan kepalanya. “Lagi ngomongin apa sih rame banget, kayak orang lagi berantem tahu nggak.” “Hehe, maaf ya, Tante,” kata Hana tidak enak hati. Mama Kayla hanya tersenyum lalu meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja. Mama Kayla memidahkan dua gelas minuman berisi jus jeruk yang baru dibuatnya dan kotak ungu taperwow miliknya serta membukakan langsung tutupnya agar mudah dinikmati oleh sang tamu. “Makasih ya, Tante. Ya ampun, Tante, seharusnya nggak usah repot—repot, Tante,” kata Hana berbasa basi. Mama Kayla tersenyum lalu duduk di single sofa. “Nggak ngerepotin kok, Hana. Tante malah senang karena kamu mau datang ke rumah buat jenguk Divi yang mulai musim sakit ya, Nak?” Divi terkekeh mendengar sang ibu menyebutnya sedang mengalami musim sakit. “Sekarang pasti cepet sembuh, Tante. Kan Divi udah periksa ke dokter.” Mama Kayla hanya tersenyum. “Giliran disuruh sama bos di kantornya aja tuh nurut buat ke dokter. Pas kemarin—kemarin udah Tante tanyain terus, terus bilang nggak mau loh padahal, Hana.” “Divi ngeyel ya, Tante,” komentar Hana. “Iya, benar. Divi tuh emang ngeyel. Semaunya sendiri. Ini tuh kayaknya karena didikan Papanya yang selalu manjain Divi.” “Apa—apaan sih, Ma, aku aduin ke Papa lo. Mama bilang gini?” Mama Kayla membuang mukanya. Dikirinya ia takut apa dengan aduan putri semata wayangnya itu. Tentu saja tidak, memang Divi nyatanya hidup bebas dan semaunya karena didikan ayahnya yang selalu membebaskannya hidup dengan pilihannya. “Coba aja sih Papa nggak banyak ikut campur soal ngedidik Divi, pasti Divi itu bisa jadi pemain film atau minimal jadi bintang iklan lah.” “Ma—aku nggak mau jadi kayak gitu. Aku kan suka denga pekerjaanku sekarang.” “Hmm ... hmm—“ Mama Kayla berdehem dengan kesal. Setelahnya ia menatap Hana yang kelihatan canggung, lalu tersenyum padanya. Setelah melihat Hana kembali tersenyum, Mama Kayla pun brtanya padanya. “Han, Tante bisa minta tolong nggak ke kamu?” “Minta tolong apa ya, Tante?” kata Hana penasaran. “Divi tuh nggak bisa capek banget karena GERD—nya. Jadi tolong diingetin ya kalau dia telat makan.” “Iya, Tante. Saya sering ingetin Divi kok. Tapi Divinya kalau udah kerja kayak besok mau kiamat. Nggak gerak, Tante, dari kursi kerjanya.” Divi cemberut mendengar perkataan Hana, sementara Mama Kayla tertawa. “Ternyata nggak di rumah sama di kantor sama aja ya,” gumam Mama Kayla. “Emang Divi di rumah juga gitu, Tante?” “Ya dulu waktu sekolah juga gitu. Paling parah pas ikut ekstrakulikuler mading sekolah. Tante ngelihatnya sampai kesel. Udah rumah berantakan, diberesin nggak boleh. Rasanya pengen banget Tante buang dan bakar semua kerjaan Divi pas dia ke kamar mandi sebentar.” Hana kembali tertawa mendengar jokes ibu kandung Divi. Namun sedang enak—enaknya mengobrol dengan ibu dan anak itu, Hana mendapat panggilan masuk di ponselnya. Ia segera mengangkatnya tanpa bergerak dari sofa. “Halo ... iya ... iya, sebentar lagi on the way ... iya, sabar.” Setelahnya panggilan ditutup. Hana bangkit berdiri lalu berkata pada Divi dan ibunya. “Tante, Divi, saya udah dipanggil suruh on the way. Izin pulang dulu ya, Tante.” “Oh iya, iya. Makasih loh, Hana, sudah datang menjenguk.” “Iya, Tante.” “Div, cepet sembuh ya. Besok izin aja. Biar bisa istirahat.” “Hmm,” kata Divi. Setelahnya mereka cipika cipiki. Hana salim pada Mama Kayla lalu setelahnya pergi ke luar dari rumah. Sepeninggalan Hana, Mama Kayla pun membereskan kembali makanan yang ada di atas meja ruang tamu. Sementara itu, Divi pergi kembali ke kamarnya. Ia kembali untuk beristirahat.[] *** bersambung >>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD