Morning Sickness

2532 Words
Bab 9 Morning Sickness Setelah mengetahui kondisinya yang mengandung, Divi pun perlahan mulai penasaran soal ibu hamil. Ia menggunakan media sosialnya untuk mengetahui persoalan kehamilan yang dialami oleh ibu hamil pada umumnya. Dari apa yang dibacanya di sebuah postingan di feed i********:, Divi tahu jika awal hamil akan jadi masa yang cukup sulit untuk para ibu hamil. Semua itu dikarenakan periode morning sickness yang biasanya dialami pada semester pertama kehamilan. Mengangguk—anggukan kepalanya, Divi mendadak bingung apakah mual muntah yang dialaminya beberapa hari kebelakangan karena lambungnya yang bermasalah atau memang hal wajar yang dialami oleh ibu hamil pada umumnya. Namun, kembali Divi mengingat perkataan dokter kandungan yang memberikannya pesan untuk tidak terlalu banyak pikiran karena kondisi kandungannya yang lemah akibat GERD yang dialaminya cukup akut. Mendesah pelan, Divi pun kembali membaca postingan lain. Kali ini membahas soal pentingnya peran suami saat ibu mengandung. Mendadak perasaan Divi berubah agak sedih. Bagaimana pun juga ia dan Jayden belum menikah? Lalu bagaimana caranya untuk Divi mendapatkan support yang harus didapatkan ibu hamil pada umumnya? Divi kembali menghela napas. Sepanjang ia membaca postingan soal ibu hamil, ia banyak menghela napas. Namun semakin membaca, ia semakin memiliki wawasan soal ibu hamil. Sebenarnya Divi pernah bahkan sesekali mendengar persoalan ibu hamil dan teman sekantornya, tapi karena saat itu ia tidak sedang hamil –tentunya—maka Divi tidak terlalu mempedulikannya. Ia hanya sekedar mendengarkan keluhan para ibu hamil tanpa mengetahui apa—apa soal ibu hamil. Sekarang saat ia sedang dalam kondisi hamil, Divi pun harus tahu berdasarkan fakta yang ada soal ibu hamil. Membaringkan tubuhnya di atas ranjang, Divi berbaring menyamping. Tubuhnya meringkuk seolah ia sendiri adalah bayi yang berada di dalam perut seorang ibu yang mengandung. Tangan Divi menyentuh perutnya dari balik tanktop yang ia pakai lalu memikirkan calon anaknya dari foto USG kehamilan yang dilihatnya beberapa kali. Sedang asyiknya beristirahat, pintu kamar Divi diketuk dari luar. Divi buru—buru menoleh dan menemukan sang ayah yang perlahan membuka pintu kamarnya. “Papa—“ “Div, kata Mama kamu, kamu udah ke rumah sakit?” “Hmm, udah, Pa.” Papa Dwika berdiri menyandar di pintu kamarnya. “Kamu sendirian atau sama teman?” “Sendirian, Pa,” balas Divi. Ia menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang hanya memakai tank top. “Berani kamu?” “Ya kan udah sering, Pa.” Papa Dwika terkekeh pelan mendengar balasan putrinya. “Saking seringnya sampai berani sendiri. Keren! Itu baru anak Papa.” Mendengar pujian untuknya, Divi pun mengulum senyumnya. Tentu saja ia senang karena mendapatkan pujian dari sang ayah. “Kamu mau makan di kamar atau di meja makan?” tanya Papa Dwika. Laki—laki paruh baya itu memang ke kamar putrinya untuk memanggil sang anak untuk makan malam bersama atas permintaan sang istri. “Mama kamu udah selesai masak.” “Oh ya udah, nanti habis mandi aku ke luar, Pa.” “Lama!” sungut Papa Dwika. “Ayo langsung makan malam dulu aja, terus baru mandi.” Setelahnya Papa beranjak dari sandarannya. “Papa tunggu di meja makan ya, Div.” “Iya, Pa,” balas Divi. Ia melihat pintu kamarnya ditutup kembali oleh sang ayah lalu ke luar dari selimut. Mengambil sweater yang tadi sempat dipakainya saat menemui Hana, Divi pun segera memakainya kembali. Ia pun ke luar dan berjalan menuju meja makan. Terlihat di depannya, sang ibu dan Papanya sedang menyiapkan makan malam bersama. Menata meja makan berukuran persegi itu dengan makanan sang ratu di rumah. Melihat Divi sudah ke luar dari kamar, Mama Kayla pun bergumam. “Div, kamu mandi belum?” “Belum, Ma. Kan dari tadi aku di kamar terus.” Mama hanya terdiam. “Mau mandi pakai air hangat? Kalau mau nanti Mama masakin air panas buat kamu mandi.” “Nggak usah lah, Ma. Toh aku nggak demam.” Mama pun menganggukkan kepalanya. “Ya udah kalau kamu nggak mau. Mama kan hanya menawarkan.” Dari nada suaranya terdengar bagaimana sang ibu sedang menahan jengkel. Memang Mama Kayla mudah sekali tersinggung. Ia mudah jengkel jika kebaikannya diabaikan di rumah ini. “Iya, Ma. Nggak usah,” balas Divi lagi. Ia duduk di kursi makan lalu melihat menu di meja makan dengan berselera. Saat semua orang sudah memiliki nasi putih di atas piring keramik mereka masing—masing, mereka pun mulai mengambil lauk yang ada di atas meja makan. Memilih yang mereka sukai dan membiarkan apa yang tak ingin dimakannya. Divi baru saja memasukkan capcay dan nasi di dalam mulutnya saat ia kembali merasa mual. Isi perutnya memberontak untuk menerima makanan. Dengan kondisi tangan di depan mulut, Divi pun segera berlari meninggalkan meja makan. Ia menuju kamar mandi dan segera menutup pintu kamar mandinya. Kembali mual muntah adalah hal yang terjadi selanjutnya di dalam kamar mandi. “Ma, tumben banget si Divi udah tebus obat tapi tetap mual muntah gitu.” “Apa jangan—jangan GERDnya makin parah ya, Pa?” tanya Mama Kayla khawatir. “Ya semoga aja nggak, Ma. Kita jangan berpikir yang buruk—buruk.” Mama Kayla menganggukkan kepalanya. Ia menyesal sudah berpikiran buruk soal putrinya. “Amit—amit jabang bayi ya, Pa,” kata Mama Kayla sambil mengetok kepalanya dan meja makan yang di depannya di genggamannya sendiri. Papa Dwika pun kembali makan. “Pa, Mama jadi pengen cepet—cepet lihat Divi punya anak.” “Kenapa, Ma?” Papa Dwika terkekeh pelan. Anaknya sakit malah ibunya ingin sang anak cepat mengandung. Aneh! “Ya barangkali aja kalau udah punya anak hidup Divi lebih baik,” kata Mama Kayla. “Mama juga nggak setuju karena Divi masih pacaran terus sama Jayden. Kapan gitu ya si Jayden ngelamar Divi buat jadi istrinya? Mama kan udah nggak muda lagi, Pa. Mama tuh pengen punya cucu dari Divi dan pasangannya.” “Tuh kan. Mama kalau ngobrol pembahasannya melebar kemana—mana.” “Tapi Divi udah cukup umur, Pa. Di Indonesia, perempuan menikah itu selesai kuliah S1. Lihat Divi! Dia bahkan udah berapa tahun sekarang?” Mama Kayla yang lupa usia anaknya mendadak bertanya. “27 tahun, Pa, usia Divi sekarang. Tahun depan usia Divi 28 tahun, mendekati 30 tahun, Pa.” “Ya udahlah, Ma. Biarin aja. Mama juga kan dulu nggak cepat—cepat nikah kan? Kenapa giliran ke anak sendiri nyuruh cepat nikah?” balas Papa Dwika. “Mama nikah umur 25 tahun. Papa lupa ya.” “Cuma beda 2 tahun kan. Kenapa harus dipermasalahkan?” balas Papa Dwika lagi yang langsung membuat wajah istrinya memerah karena menahan marah. “Ckckck ... Papa tuh emang nggak pengertian. Papa tuh bisa ngomong gitu karena Papa laki—laki. Mama tahu, pasti Divi ngerasa tertekan karena dia belum menikah juga. Belum lagi kalau saudara ada yang nanya, pasti Divi merasa tertekan, Pa.” “Itu cuma omongan kan, Ma? Kayaknya akan lebih tertekan jika Divi menikah karena terpaksa. Papa nggak mau hal itu terjadi. Papa mau Divi benar—benar ingin menikah karena ia sudah siap untuk memulai kehidupan baru bersama pasangannya nanti. Papa nggak mau, anak Papa yang paling berharga merasa tertekan karena pasangannya.” Emosi Mama Karla perlahan mereda saat mendengar akhir kata yang suaminya ucapkan. “Mama pasti nggak mau kan kalau hidup Divi penuh tekanan karena pasangannya?” Mama Kayla terdiam. Ia yakin pada Jayden, bahwa laki—laki yang sudah menjadi kekasih anaknya itu akan menjadi laki—laki yang hangat dan terbaik untuk anaknya. Sama seperti Dwika sebagai pilihan terbaik bagi Kayla muda dan memutuskan untuk menikah akhirnya. “Ma, jangan terlalu ikut campur dengan kehidupan Divi. Bagaimana pun juga Divi sudah banyak mengalah. Divi masih mau tinggal sama kita meskipun tempat kerjanya lumayan jauh. Divi nggak berminat ke luar kota, ke Jakarta misalnya, karena Divi mengeyampingkan egonya. Ia masih mau bersama kita. Kadang kita lupa, tapi itu hal yang sangat berharga, Ma. Kebersamaan kita selama ini.” Mama Kayla makin terdiam. Suaminya punya pemikiran yang jauh lebih matang dibanding dirinya dan selalu seperti itu. “Maafin Mama ya, Pa.” “Mama nggak salah apa—apa. Itu hal wajar, Ma. Papa juga sama seperti Mama. Tapi Papa lebih ingin Divi bahagia dengan pilihan terbaiknya. Yang menurut dia paling terbaik. Entah nantinya Divi akan menikah dengan siapa. Entah dengan Jayden atau laki—laki manapun, Papa harap, calon suami Divi adalah laki—laki terbaik yang bisa menjaganya.” Mama Kayla menganggukkan kepalanya. Ia merasa terharu dengan sang suami. Yang selalu tampak dewasa dan pengertian, meskipun terkadang tampak ceroboh dan bebas. Sikap ceroboh dan bebas yang banyak dituruninya pada Divi. Sementara itu, diam—diam Divi terdiam di dalam kamar mandi. Tidak seperti sebelum ke rumah sakit, Divi merasa morning sicknessnya lebih baik. Jadi, ia pun bisa mendengarkan percakapan ayah dan ibunya yang berada di meja makan Setelah mencuci tangannya untuk kali terakhir, Divi pun ke luar dari kamar mandi dan menghampiri meja makan. “Ma, aku ke kamar lagi aja ya. Aku masih nggak bisa masa sekarang,” kata Divi. “Kamu mau makan buah saja, Div? Nanti Mama buatkan jus untuk kamu.” Divi tersenyum ceria pada ibunya. “Mau, Ma,” katanya manja. Mama Kayla tersenyum menggoda. “Ya udah. Kamu balik ke kamar aja untuk istirahat. Nanti habis Mama makan, Mama buatin jus buat kamu. Nggak papa kan?” “Iya, Ma. Mama santai aja. Jangan buru—buru! Lagian perut aku masih agak mules.” Mama pun menganggukkan kepalanya. Setelahnya, Divi pun kembali ke kamarnya. Ia benar—benar suka berbaring sekarang. Dibanding dengan saat duduk atau berdiri, rasanya kepala pening. Berbeda jika ia memposisikan dirinya dengan membaringkan badan. *** Tok, tok, tok.... Suara kayu diketuk terdengar. Jayden yang sejak tadi terpekur sambil menggunakan kacamatanya pun mengerjapkan matanya beberapa saat. Ia menatap seseorang yang mengganggunya lalu berdehem pelan. “Kenapa?” tanyanya dengan kepala mendongak. “Makan yuk! Lapar—“ “Makan aja sendiri,” potong Jayden pada Sabrina. Laki—laki itu baru bertemu dengan keluarga Divi terutama kedua orang tuanya, membuatnya kembali mengingat jelas bahwa ia sedang menjalin asmara dengan wanita yang ia cintai. “Ckck! Dasar nyebelin! Ya udah, aku makan sendiri aja,” kata Sabrina lalu berjalan meninggalkan meja Jayden. Wanita itu melipat kedua tangannya di depan d**a dan berjalan dengan penuh percaya diri. Jayden berpura—pura kembali mengerjakan desainnya lagi. Namun sebentar saja, ia sudah menyandarkan kepalanya dengan berat ke sandaran kursi kerjanya. Perutnya lapar tapi ia memutuskan untuk menahan diri untuk tidak meninggalkan meja kerjanya sebelum jam kerjanya selesai. Mendadak ia mengingat Sabrina yang baru saja mengajaknya pergi untuk makan. Tanpa sengaja ia pun berdecak pelan. Pasalnya Sabrina pergi makan padahal masih jam kerja. Lagipula apa tidak ada waktu lagian kenapa tidak menunggu jam kerja selesai dan akhirnya pulang, lalu ia bisa makan dengan tenang. Jayden mengabaikan pikirannya tentang Sabrina, lalu mengambil ponsel yang berada di atas mejanya. Ia merasa aneh dengan Divi. Sejak pulang ke rumahnya sabtu kemarin karena ada bibinya yang datang ke rumah, entah mengapa Divi lebih jarang menghubunginya. Padahal sebelumnya Divi sangat aktif menghubungi kabar dan menanyakan pekerjaannya. Namun, mengapa sekarang berbeda? Apa diam—diam ada masalah dengan saudaranya yang berkunjung ke rumah sabtu lalu ya? pikir Jayden. Jayden melihat notifikasi waktu Divi di aplikasi chat yang mereka dan menemukan bahwa Divi membuka aplikasi itu baru saja. “Ckckck....” tanpa sadar Jayden berdecak. Ia tak suka sikap Divi yang cuek dan sepertinya berbeda. [ Div, lagi ngapain? Udah pulang kerja? ] –Jayden. Akhirnya laki—laki itu memutuskan untuk mengirim pesan singkat pada kekasihnya. Tak butuh lama, Divi pun membalas. Terlihat juga bahwa kekasihnya itu kini sedang online. [ Lagi minum jus melon nih. Iya, udah pulang dari tadi. ] –Divi. [ Ehm ... kamu baik—baik aja kan? ] –Jayden. Cukup lama, Jayden akhirnya mendapatkan balasan dari Divi. [ Aku baik—baik aja kok. Emang kenapa? ] –Divi. [ Nggak papa. [ Agak aneh aja soalnya kamu kayaknya ngelupain aku. Kamu nggak nelepon atau ngechat aku sama sekali. ] –Jayden. Namun setelahnya ia menyesali pesan yang sudah terkirim itu. Astaga, Jayden! Bagaimana bisa kamu merajuk seperti itu? memalukan! Pikir Jayden. [ Sorry ya, Jay. Ehm sebenarnya hari ini aku di rumah sakit. Aku izin di tempat kerja dan pergi ke rumah sakit. makanya aku nggak bisa ngehubungi kamu. Maaf ya. ] –Divi. Jayden langsung mencelos setelah membaca pesan panjang dari kekasihnya. Divi ke rumah sakit? Maksudnya Divi masuk rumah sakit gitu? Bertanya—tanya, Jayden pun segera menelepon Divi untuk menghilangkan kekhawatiran dan penasaran yang dirasakannya setelah membaca kata tempat yaitu rumah sakit. “Halo, Jay,” sapa Divi. “Div, kamu lagi di rumah sakit? Kamu baik—baik aja kan?” “Hehe iya, aku nggak papa kok,” balas Divi sambil tertawa. “Tadi udah diperiksa dan dapat obat. Aku baik—baik aja kok, Jay.” Jayden mendesah lega setelah mendengar perkataan Divi. “Kamu bilang nggak papa pas kemarin. Tapi buktinya kamu masuk rumah sakit.” “Nggak papa kok, Jay. Serius. Aku nggak papa.” Jayden kembali mendesah. “Kamu jangan buat aku khawatir dong, Div. Aku juga ngerasa bersalah ke kamu, karena aku nggak ada di samping kamu saat kamu di rumah sakit.” “Aku kan udah bilang kalau aku nggak papa, Jay.” “Tetap aja. Gimana coba pendapat Mama Papa kamu sekarang ini?” “Mama sama Papa santai aja. Malah nggak nanyain apa—apa. Papa tahu aku pergi ke rumah sakit sendiri, malah tadi Papa bilang aku keren.” “Papa kamu bilang kayak gitu?” “Hmm—“ “Apa tadi kamu bilang? Kamu ke rumah sakit sendiri? maksudnya gimana ini, Div?” Jayden mendengar kekehan di seberang telepon. “Jadi aku tadi izin dari kerjaanku. Terus aku langsung on the way ke UGD rumah sakit. Aku diperiksa kayak biasanya, istirahat, dapat obat, dan pulang. Gitu aja kok.” “Emang UGD nerima kamu?” “Aku udah gawat kok, perawatnya aja ngerasa aneh karena aku datang sendiri. Tapi nggak papa kok.” Jayden mendesah pelan. “Kamu sangat mandiri. Aku jadi merasa nggak berguna jadi pacar kamu. Apalagi kita sekarang LDR—an.” “Sst sstt sst ... udah deh, nggak usah mikir yang nggak—nggak.” “Kamu yakin nggak papa?” “Iya.” “Ehm....” “Kamu sekarang lagi di mana, Jay? Lagi ngapain?” “Aku? Aku masih di kantor. Bentar lagi jam pulang kok.” “Nggak lembur?” Jayden terkekeh pelan. “Nggak ah. Malas! Besok aja aku lanjutin. Aku mau istirahat. Lumayan capek juga karena perjalanan di tol terus langsung ke kantor.” “Oh gitu.... ya udah, kalau gitu. Ehm, Jay?” “Ya?” Jayden menunggu Divi bicara. Tapi gadis itu tetap saja diam. “Div?” “Nggak jadi deh. Nanti lagi! Aku mau ngomong sesuatu.” “Ngomong sesuatu? Apa?” Divi lagi—lagi terdiam. Tak bersuara di balik telepon. “Udah dulu ya?” Tut, tut, tut! Panggilan diakhiri begitu saja oleh Divi. Jayden nampak bingung, tapi kemudian kembali melihat rekan—rekan sekantornya yang mulai bersiap pulang karena jam kerja sudah berakhir. Ia pun akan mengakhiri pekerjaannya sekarang.[] *** bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD