Rahasia

2187 Words
Bab 10 Rahasia Divi segera memutuskan untuk pulang dan membiarkan pekerjaannya tertinggal di meja kantor saat ia mendapat kabar dari Jayden bahwa laki—laki itu sudah pulang ke rumahnya. Ia segera ingin menemuinya karena ingin memberikan kabar yang sudah ditahan di mulutnya sendiri selama seminggu terakhir pada orang yang jelas harus mengetahui keadaannya. Sesampainya di depan rumah Jayden, Divi tersenyum saat melihat laki—laki itu nampak menunggu di depan teras depan rumahnya. Divi tersenyum begitupun dengan Jayden yang langsung menghampirinya. Divi meraih tangan Jayden yang tiba—tiba terulur lalu mereka masuk ke dalam rumah bersama. “Kamu kayaknya senang banget?” tanya Jayden setelah mereka sudah sampai ke dalam rumah. “Nggak kok, biasa aja,” elak Divi sambil meletakkan tas yang dibawanya di atas sofa lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Mengikuti Jayden yang membawanya ke ruang tengah. Mereka kemudian duduk di sofa ruang tengah bersama. Duduk berdampingan sambil menyetel televisi. “Mau kuambilin minum dulu?” “Nggak usah,” tolak Divi. “Nanti aku ambil sendiri kalau haus.” Jayden mengangguk dengan singkat. Ia tersenyum pada Divi lalu menyentuh wajah gadis yang dikasihinya dengan lembut. Merasakan tangan Jayden di wajahnya membuat Divi tersenyum. “Kenapa sih? Kok ngelihatin aku kayak gitu?” “Nggak papa,” jawab Jayden merasa gugup. “Aku ngerasa kangeeenn banget sama kamu, jadi aku cek lagi muka kamu. Ternyata cantik seperti biasanya.” Mendengar pujian bernada gombal milik Jayden Divi pun secara refleks memukul lengan laki—laki itu sambil tertawa. Jayden ikut tertawa sambil dalam hatinya merasa bahwa ia sudah bersalah. Dalam lubuk hatinya, ada hal yang diam—diam disembunyikan olehnya. “Oh ya, gimana kondisi kamu? Katanya kamu masih sering mual muntah?” tanya Jayden khawatir. Ia melupakan masalahnya di Jakarta. “Iya. Tapi sekarang nggak terlalu parah kok, Jay,” balas Divi. “Paling cuma pas pagi—pagi.” “Cuma pas pagi? Emangnya mual muntah kamu punya jadwal?” “Biasanya pas aku mandi, Jay. Lagi sikat gigi terus mual muntah gitu. Padahal biasanya aku biasa aja kalau sikat gigi. Nggak mual muntah kayak sekarang,” kata Divi. Memang karena morning sickness jadi dia lebih sering mual dan muntah saat pagi hari. Saat sedang asyik—asyiknya menyelami mimpi, rasa mual itu mengganggunya. Menyebalkan memang! Namun mau bagaimana lagi. Morning sickness adalah hal lumrah yang terjadi padanya. Pada ibu hamil di trisemester awal kehamilannya. “Ya udah kalau gitu, kamu yang sabar aja ya, Sayang,” kata Jayden. Ia juga bingung mau menasihati kekasihnya seperti apa. Ia bukan dokter melainkan seorang arsitektur yang bekerja membuat desain bangunan. “Iya, Jay. Aku sabar kok. Toh nggak kayak kemarin mual muntahku parah banget.” Jayden kemudian bangkit berdiri. “Bentar, aku ambil buah dulu ya.” Divi menganggukkan kepala kemudian menunggu beberapa saat di sofa. Saat kembali, Jayden sudah membawa piring berisi mangga yang sudah matang dan sudah dikupas. “Ini kapan kamu kupas dan potong—potong, Jay?” tanya Divi sambil menyomot satu potong dadu ke dalam mulutnya menggunakan garpu. “Tadi sebelum kamu ke sini. Di jalan kan banyak yang jual mangga, jadi aku mampir. Aku ingat kamu yang lagi nggak enak badan karena lambung, jadi aku beliin buah—buah yang manis,” cerita Jayden membuat Divi tersenyum. “Gimana? Manis kan? Aku udah tanya ke orang jualnya dan udah nyoba langsung di sana.” Divi menganggukkan kepalanya. “Iya, Jay. Manis banget.” Jayden tersenyum kala Divi tersenyum. Setelahnya mereka makan mangga sambil duduk untuk menonton televisi. Obrolan mereka pun mengalir begitu saja. “Kerjaan kamu di Jakarta gimana?” Jayden diam beberapa saat. Bayangnya berubah, saat ia berada di kantor, lembur dan berdua saja dengan Sabrina. Gadis itu.... Jayden menoleh pada Divi setelah terdiam beberapa saat. Ia pun tersenyum. “Nggak ada apa—apa. Kayak biasanya aja.” Divi terdiam sejenak lalu mengangguk. “Kalau kerjaan kamu gimana? Kamu jangan sampai terlalu kelelahan ya. Ingat selalu untuk makan dengan teratur. Jangan nanti nanti nanti!” Divi terkekeh pelan. “Iya, bos besar! Aku pasti makan dengan teratur.” Jayden melingkarkan tangannya di pundak Divi lalu memeluknya. Mereka masih makan mangga yang terasa segar di lidah keduanya. “Jay....” Jayden masih menatap lurus ke depan, ke arah televisi yang menyala saat Divi memanggilnya. Tanpa Jayden sadari, Divi mulai berhenti makan, dan menggenggam kedua tangannya dengan erat. Gadis itu ingin memberi pengumuman yang mungkin akan membuat kekasihnya itu terkejut bukan main nantinya. Tak mendapati Divi mengatakan apapun setelah memanggilnya, membuat Jayden menolehkan kepalanya ke wajah Divi. “Div?” Div tergagap. Ia menoleh ke atasnya dan menemukan mata Jayden yang balas menatapnya. “Kenapa? Kamu kayak kepikiran sesuatu? Apa ada masalah?” tanya Jayden khawatir. Menghela napasnya pelan. Setelahnya Divi menundukkan kepalanya. Tingkahnya itu membuat Jayden bingung dan penasaran. “Sebenarnya ada apa, Div? Kamu jujur aja sama aku kalau ada masalah. Apa ada masalah dari keluarga kamu? Jujur aja, aku ngerasa kamu berubah sejak kamu pulang sabtu kemarin.” “Sabtu kemarin?” Divi mendadak lupa ingin memberitahu apa pada Jayden. “Aku nggak ada masalah keluarga kok lagian.” Divi menggelengkan kepalanya dengan mantap. “Oh jadi bukan karena masalah keluarga?” Divi menganggukkan kepalanya. “Emang keluargaku kenapa?” tanya balik Divi yang langsung membuat Jayden gugup. “Eng ... nggak sih. Aku kira kamu ada masalah keluarga dan menutupinya dariku. Tapi ternyata nggak ada ya? Ya udah.” Divi terdiam beberapa saat. Jayden setelahnya memakan kembali buah mangga yang ada di atas piring. Ia memakannya sambil menonton televisi. “Jay, sebenarnya aku ada masalah.” Laki—laki itu pun segera menoleh ke bawah. Melihat ke arah Divi yang kini menunduk dengan tangan mengepal satu sama lain. “Ada apa, Div?” Jayden melepaskan jalinan tangan kekasihnya lalu menggenggam salah satu tangannya. “Jay—“ Divi menatap genggaman tangan kekasihnya. Merasakan genggamannya yang kuat untuk menyalurkan kekuatannya. “Kamu bisa cerita ke aku, kalau kamu mau,” balas Jayden membuat Divi nyaman. Menoleh ke wajah Jayden, Divi kembali menghela napasnya. Rasanya lidahnya kelu untuk bicara. “Aku....” Ddrrt ddrtt .... Suara ponsel milik Jayden yang berada di atas meja di depan mereka bergetar. Jayden memang tidak mengaktifkan nada deringnya dan membiarkan getar yang terasa. Fokus Jayden pun langsung berubah. Apalagi saat ia melihat nama seseorang yang menghubunginya di ponsel. Divi pun sudah melihat nama orang yang menelepon kekasihnya. Sabrina. Perempuan itu lagi? Divi mulai curiga. Jayden tiba—tiba melepaskan genggaman tangannya. Ia mengambil ponselnya. “Div, aku terima telepon dulu ya.” Setelahnya, Jayden pun menerima panggilan sambil berlalu meninggalkan Divi. Merasa aneh dan curiga. Divi mulai mempertanyakan nama gadis yang dilihatnya beberapa kali ini. Siapa Sabrina? Siapa dia? Apa dia benar hanya rekan kerja Jayden di Jakarta? Atau mereka punya hubungan spesial lain yang tak diketahuinya? Divi merasa ulu hatinya sakit jika membayangkan kekasihnya bermain di belakangnya. Ia menggelengkan kepalanya. Aku nggak boleh cemburu tak beralasan. Masa aku langsung cemburu dan curiga sih cuma karena yang nelepon Jayden dengan nama perempuan? Divi mendesah berat lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ia memakan mangga lagi sambil menunggu Jayden selesai berteleponan dengan perempuan bersama Sabrina itu. “Cih!” Sabrina.... *** Jayden ke luar dari kamar tapi tak menemukan Diva di ruang tengah. Televisi masih dalam kondisi menyala, mangga masih sisa sedikit di atas piring, tapi tanda—tanda Divi tak didapatinya. “Diiiiivv....” panggil Jayden. Mencari keberadaan Divi. Tak lama kemudian, Jayden mendengar air closet dari arah kamar mandi. laki—laki itu pun menatap ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. “Oh di kamar mandi.” Jayden kembali duduk di sofa lalu menonton televisi. Sambil menunggu, ia memikirkan mau melakukan apa nanti malam? Apa nonton aja ya? Sudah cukup lama juga mereka tidak nonton bioskop? Mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, Jayden pun menoleh. Ia melihat Divi menghampirinya lalu duduk di sampingnya lagi. “Div, nanti malam mau nonton nggak?” ajak Jayden. “Kalau kamu udah mendingan, kita nonton ke bioskop yuk?” “Boleh,” balas Divi. “Ehm ... aku pulang dulu aja ya, aku mau mandi nih dan ganti baju.” “Baju kamu yang kemarin masih ketinggalan di rumahku.” Divi kemudian tertawa. “Bajuku yang kemarin ketinggalan lagi ya,” gumamnya. “Hmm ... mandi di sini aja. Nanti ganti baju yang kemarin. Biar nggak usah bolak balik pulang juga.” Divi ingin menolak. Apalagi ia tak memiliki pakaian dalam ganti. Itu cukup tidak membuatnya nyaman jika tak mengganti pakaian dalam. “Ehm ... mending aku pulang aja deh, Jay. Aku bisa kok pulang sendiri kalau kamu ngerasa bolak balik.” “Bukan gitu maksudku, Div,” kata Jayden. Jayden merasa bahwa Divi agak tersinggung dengan perkataannya barusan. “Ya udah, nanti sekalian kita jalan aja.” “Kamu nggak papa ketemu orang tuaku terus?” Jayden menganggukkan kepalanya. “Nggak papa lah. Lagian Papa kamu orangnya asyik. Pikirannya tentang dunia tuh sangat bebas. Kalau ngobrol sama Papa kamu, aku ngerasa kayak ngobrol sama teman. Papa kamu itu keren, Div.” Divi terkekeh pelan mendengar pujian tulus dari kekasihnya untuk sang ayah. “Ya udah kalau gitu sekarang kita pulang ke rumahku?” “Oke,” balas Jayden. “Tapi abisin dulu dong buah mangganya.” Divi tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Sejenak, mereka menikmati mangga itu lagi. Sambil makan, Divi terus memikirkan soal Sabrina. Ia ingin tahu tapi lidahnya kelu untuk bertanya. Padahal ia sudah penasaran setengah mati. *** Divi dan Jayden menikmati makan malam bersama sambil menunggu film yang sudah mereka pesan. Masih ada sekitar satu setengah jam lagi hingga film dimulai. Di depan mereka terdapat humberger dan cola. Keduanya memesan makanan siap saji dan memakannya di outlet. “Jay,” Divi memanggil kekasihnya. Sepertinya ini saat yang tepat untuk mempertanyakan soal Sabrina. “Hmm?” Dengan mulut penuh Jayden menjawab. “Sabrina itu kayaknya sering ngehubungi kamu di luar jam kerja ya?” Jayden menelan makanannya susah payah lalu menaruh humberger yang dipegangnya di atas meja. Ia meminum cola lalu menatap Divi dengan serius. “Aku bukannya udah bilang kalau dia rekan kerjaku?” “Iya, aku ingat kok. Cuma rada aneh aja soalnya dia ngehubungi kamu di luar jam kerja. Kalian dekat?” tanya Divi. Meskipun berharap bahwa kekasihnya tidak dekat dengan wanita lain di kantornya, tapi tetap saja ia ingin bertanya. “Nggak. Biasa aja kok,” balas Jayden. Namun, meskipun Jayden mengelaknya. Divi bisa melihat bahwa ada hal yang disembunyikan oleh kekasihnya. Ia bisa melihat bagaimana Jayden yang tidak mau menatap ke arahnya. Ia juga kelihatan gugup. Divi merasa khawatir. Mengapa reaksi Jayden seperti itu? Apakah ada yang Jayden sembunyikan diam—diam darinya tentang Sabrina? “Oh oke,” Divi memaksakan dirinya untuk tersenyum. Setelahnya ia menganggukkan kepalanya dengan mata yang mulai memerah. Divi merasakannya. Kecurigaannya pada Jayden terasa menyesakkan dadanya. Seolah ia tahu, bahwa yang disembunyikan oleh Jayden adalah hal yang membahayakan untuk hubungan asmara mereka. “Div,” Jayden menyentuh tangannya yang ada di atas meja lalu menggenggamnya dengan erat. “Kamu harus percaya ya sama aku?” “Iya, Jay, aku percaya kok sama kamu.” Divi tersenyum lebar meskipun matanya mulai berair. Ia mengerjapkan matanya berulang kali agar air matanya tidak turun membasahi pipinya. Jayden tersenyum lalu melepaskan lagi genggaman tangannya. Ia bersyukur karena Divi mau mempercayainya. Ia meminum cola miliknya lalu melihat ke arah jam tangan yang dipakainya. Masih ada waktu 30 menit lagi. Mereka masih bisa makan dengan santai. *** Divi berdiri dan berjalan bersama Jayden dengan pikiran yang bercabang. Ia merasa sakit hati karena Jayden seolah menyembunyikan sesuatu darinya. Namun bukankah sama saja, ia juga kini sedang menyembunyikan kehamilannya pada Jayden. Beda lah. Aku kan belum sempat bilang ke Jayden, bukan sengaja menyembunyikan. Divi membela dirinya sendiri dalam hati. Namun kemudian, pikiran lain memenuhi isi pikirannya. Mungkin itu juga yang kini Jayden rasakan. Dia dan perempuan itu emang cuma rekan kerja. Jayden nggak ngomong terlalu jauh karena nggak mau aku berpikir macam—macam. Divi menghela napasnya. Kenapa sih aku harus cemburu tak beralasan kayak gini karena telepon dari rekan kerja Jayden? Aku bahkan sudah menyutujui untuk mempercayai Jayden. Ah.... “Kenapa?” tanya Jayden saat mendengar desahan Divi. Menolehkan kepalanya ke atas untuk menatap Jayden, Divi pun langsung menggelengkan kepalanya sambil mengelak. “Ng ... nggak kok, Jay. Nggak papa. Yuk! Kita jalannya lebih cepat. Nanti filmnya udah mulai duluan lagi.” Setelahnya Divi berjalan lebih cepat. Ritmenya yang berubah membuat Jayden tertinggal beberapa langkah. Jayden segera menyusul Divi lalu menarik tangannya. Ia menggenggam tangan Divi dengan erat dan mereka berjalan bersama menuju pintu masuk bioskop. Merasa canggung karena sedang cemburu pada Jayden, Divi pun mencoba melepaskan genggam tangan kekasihnya. Namun bukannya dilepaskan, Divi makin merasa bahwa geggaman tangan Jayden makin erat. Divi melihat wajah Jayden yang sedang menatap lurus ke depan. Wajah tampan itu menampilkan senyum manis dan mereka terus melangkah. Sesampainya di depan pintu bioskop, sudah banyak orang yang mengantre untuk masuk ke ruang theater. Jayden menarik tangan Divi lagi dan mereka pun ikut berbaris di antrean. Mereka sudah membeli tiket dan siap untuk menonton film bersama. Film komedi romantis.[] *** bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD