Pengakuan

2139 Words
Bab 11 Pengakuan Jayden melihat ke arah Divi sesekali dan menemukan bahwa kekasihnya itu nampak murung. Ia terlihat kesal tapi Jayden sendiri merasa tak begitu tahu apa alasannya. Terakhir kali, mereka membahas soal Sabrina. Apa Divi cemburu dan curiga pada Sabrina ya? Jayden menatap lurus ke depan lalu menggelengkan kepalanya. Ah nggak mungkin Divi cemburu pada sesuatu yang nggak jelas, pikirnya lagi. “Div, habis ini kita cari makan yuk? Gimana kalau beli martabak sultan dulu?” “Martabak sultan?” “Iya, sekalian bawain buat orang tua kamu di rumah.” Divi yang lebih banyak diam pun kemudian menganggukkan kepalanya. Ia memaksakan dirinya untuk terus tersenyum sambil berjalan mengikuti Jayden yang berada di sampingnya, memadu jalan. Menuju kios martabak sultan, mereka harus naik mobil terlebih dulu karena tempatnya memang bukan berada di mall yang sedang mereka singgahi sekarang untuk menonton bioskop. Sekitar 12 KM akhirnya, Jayden dan Divi sampai. Mereka turun dari mobil bersamaan lalu memasuki stand kios martabak sultan yang sudah berdiri sejak 5 tahun yang lalu. “Kamu mau pesan apa?” tanya Jayden sambil melihat daftar menu yang ada. “Terserah kamu,” kata Divi lalu berjalan masuk. Ia mencari kursi dan duduk di sana. Sementara Jayden akhirnya memilih menu kesukaannya. “Bang, pesen martabak keju spesial 1 untuk dimakan di sini, sama martabak jumbo coklat pisang untuk dibungkus ya?” kata Jayden pada sang pedagang. “Oke, Bang. Di tunggu ya.” Jayden menganggukkan kepalanya lalu mencari keberadaan Divi. Ia menemukan Divi sedang duduk di kursi sambil memainkan ponselnya lalu menghampirinya. Saat sudah dekat, Divi menoleh sejenak lalu menyimpan ponselnya, mematikannya. “Tadi aku pesan martabak keju spesial buat dimakan di sini. Nggak papa kan?” tanya Jayden. Divi segera menganggukkan kepalanya. Ia kembali memaksakan dirinya untuk tersenyum pada Jayden. “Iya, nggak papa kok. Aku juga kan suka.” Jayden menarik kursi di hadapan Divi lalu duduk di atasnya. Sambil menunggu, Jayden melihat ke kanan dan kirinya yang cukup ramai. Meskipun masih memiliki space untuk pelanggan yang akan datang. “Jay, kamu ingat nggak obrolan kita saat di puncak?” tanya Divi membuat teka—tekinya. Menatap Divi beberapa saat kemudian, jantung Jayden mulai berdebar tak menentu. Apa artinya ini? Pikir Jayden. Tunggu sebentar! Saat di puncak memangnya mereka membahas hal apa? Jayden tersenyum ke arah Divi dan perlahan—lahan wajahnya menjadi canggung saat ia ingat bahwa pernah menjanjikan pernikahan padanya. Sial! Apa sekarang Divi mau membahas soal pernikahan? “Kalau kamu nggak ingat ya udah, nggak usah diingat lagi!” kata Divi seolah tahu hanya dari menatap gesture wajah dan sikap Jayden bahwa laki—laki tahu, tapi ingin bersikap tak mengingat apa—apa. Dan sekarang, Divi merasa kecewa dengan Jayden. “Emang kita bahas apa, Div? Apa soal—“ “Nggak kok! Nggak ada apa—apa,” potong Divi cepat. Jayden tahu benar bahwa sekarang Divi sudah sangat kesal dengannya. Jayden mencoba meraih tangan Divi yang ada di atas meja tapi kekasihnya itu buru—buru merajut kedua tangannya dan menggunakannya sebagai topangan dagu. Tangan Jayden rasanya kosong. Akhirnya ia mengetuk meja di depannya dengan pelan. Menunggu martabaknya datang pun terasa sangat lama sekarang karena sikap Divi yang defensif. Akhirnya setelah beberapa menit menunggu, martabak pesanan Jayden datang. Ditaruh di atas piring lebar dalam kondisi martabak yang sudah dipotong beberapa bagian. Jayden dan Divi mendapatkan sarung tangan plastik yang bisa mereka gunakan untuk makan. “Kelihatannya enak ya, Div,” kata Jayden mencoba mencairkan suasana. Ia merasa bersalah karena membuat Divi kesal. Jadi, ia akan bersabar. “Hmm....” Divi memakai sarung tangan plastiknya karena tak ingin tangannya kotor lalu mengambil satu bagian untuk dimakannya. Jayden melakukan hal yang sama dan mereka menikmati martabak sultan itu dalam diam. Di dalam mulut mereka terdapat makanan lezat yang membuat perasaan mereka jauh lebih baik. Apalagi saat di dalam bioskop, mereka banyak tertawa karena beberapa bagian film memiliki unsur lawak. Membuat perut kembali kosong. Sedang asyiknya makan martabak, Jayden dan Divi mendengar ponsel berdering. Itu ponsel Jayden. Saat laki—laki mengecek ponselnya, nampak bagaimana Jayden seolah gugup. Divi yang sedang menaruh curiga pada kekasihnya itu pun memperhatikan baik—baik, dengan lekat. Menyadari ada yang aneh, Divi terus memperhatikan. “Div, aku angkat telepon dulu ya?” kata Jayden lalu melepaskan sarung tangan plastik yang dipakainya. Setelahnya, Jayden bangkit berdiri lalu meninggalkan meja makan di makan Divi berada. Laki—laki menerima telepon di luar stand, mencari tempat yang lebih sepi untuk menerima panggilan. Sepeninggalan Jayden, mata Divi mulai berair. Ia kebingungan dan merasa sangat sedih dengan feeling perempuan yang kini dirasakannya. Ia merasa Jayden sedang menyembunyikan sesuatu. Pasti ini soal Sabrina. Memang siapa lagi yang doyan menghubungi Jayden sekarang? Divi menghela napasnya dengan mata memerah. Membayangkan kekasihnya memiliki hubungan dengan wanita lain membuatnya kekurangan oksigen untuk bernapas. Kecurigaannya dan rasa cemburunya membuatnya tak nyaman. Divi mencoba mengalihkan pikirannya. Ia mencoba mempercayai Jayden. Ia tidak boleh baper hanya karena rekan kerja Jayden yang perempuan. Di dunia pekerjaan selalu ada interaksi antara laki—laki dan perempuan dan itu adalah hal yang lumrah. Ia tidak boleh asal menuduh Jayden berselingkuh dengan wanita lain hanya karena perempuan itu menghubungi kekasihnya di luar jam kantor. Setelah meyakinkan dirinya bahwa Jayden tidak memiliki hubungan apa—apa dengan perempuan bernama Sabrina, Divi pun kembali memakan martabaknya sambil sesekali memperhatikan Jayden yang masih menerima teleponnya di luar. Dari dalam, Divi bisa melihat punggung laki—laki itu. Sesekali juga nampak Jayden membalikkan badannya untuk melihat Divi yang sedang makan seperti biasa. Setelah selesai menerima telepon, Jayden kembali duduk di hadapan Divi dengan senyum lebarnya. “Tadi bos aku. Dia minta aku revisi ulang desain lanskap yang aku kerjain.” “Oh ya? Terus gimana?” tanya Divi. Ia mendadak lega karena ternyata yang menghubungi Jayden tak lain adalah sang bos. Bukan perempuan itu. “Besok kayaknya aku harus balik ke Jakarta, Div. Kayaknya aku harus ke kantor buat ngerjain.” “Nggak bisa lewat rumah?” “Bisa sih,” kata Jayden ragu. “Tapi bos udah ngasih beberapa revisi. Jadi pasti harus dikerjain dari kantor. Catatanku ada di sana.” Divi menahan napasnya lalu menganggukkan kepala. “Ya udah kalau gitu,” katanya diakhiri dengan senyuman. Jayden mendesah pelan. “Maaf ya, karena kita LDR dan aku sibuk. Kita jarang banget bisa ketemu dan menghabiskan waktu bersama.” “Nggak papa, Jay. Kita kan udah dewasa. Kita juga tahu masing—masing gimana kesibukan di dunia pekerjaan.” Jayden mengusap kepala Divi lalu kembali memakai sarung tangannya. Ia melihat martabak yang ada di atas piring masih ada. Jadi, ia melanjutkan makan. Dalam diamnya sambil menikmati martabak sultan, Divi mulai memikirkan kehamilannya. Ia harus mengatakan pada Jayden soal kehamilannya. Ia sudah menunggu untuk bertemu langsung untuk mengatakan kehamilannya pada Jayden, tapi kini ketika bertemu, kenapa rasanya sangat sulit bagi Divi untuk membuka mulut dan memberi kabar yang entah bahagia atau duka ini pada sang kekasih. Divi ragu. Tentu saja. Bahkan saat ia tahu tentang kehamilannya, Divi tak langsung merasa bahagia. Lalu bagaimana nanti dengan Jayden? Apakah laki—laki itu bisa bahagia juga? Pasti Jayden akan shock. Divi benar—benar ragu. Bagaimana jika Jayden tidak mau bertanggung jawab pada kehamilannya saat ini? Apakah ia sanggup untuk menerima penolakkan itu? Menghela napasnya, Divi benar—benar sangat bingung dan tidak yakin dengan apa yang harus dilakukannya. Apalagi Jayden sepertinya lupa bahwa ia pernah berjanji akan menikahinya sebelum mereka melakukan hubungan intim untuk kali pertamanya. Divi mendadak merasa sangat bodoh. Bukankah laki—laki biasanya mengatakan hal itu pada wanita yang hendak ditidurinya? Laki—laki cenderung memberikan janji—janji manisnya sebelum mendapatkan tubuh wanita yang diinginkannya? Menghela napas lagi. Jayden menatap Divi yang terlihat melamun sambil menghela napasnya terus menerus. “Div, kamu kenapa? Apa kamu marah?” tanya Jayden. Pasalnya Divi sejak tadi menghela napasnya dengan berat sejak ia memberitahunya bahwa besok akan kembali ke Jakarta. Balas menatap Jayden, Divi pun menggelengkan kepalanya. “Ngg ... nggak kok. Aku nggak marah ke kamu. Ngapain juga kan aku marah,” balas Divi sambil tersenyum canggung. Giliran Jayden yang menghela napasnya. “Kamu pasti marah kan sama aku? Karena besok aku balik ke Jakarta. Padahal kamu baru aja sembuh sakit, tapi aku sama sekali nggak ada di sisi kamu untuk menemani dan menjaga kamu.” Divi langsung terbelalak. “Nggak kok, Jay. Nggak kayak gitu. Aku sama sekali nggak kepikiran seperti itu.” “Kamu nggak bisa bohongin aku, Div!” “Tapi serius, aku emang nggak kepikiran itu!” elak Divi. Ia melepaskan sarung tangan plastiknya karena martabak yang ada di depan mereka sudah habis tak bersisa. Hanya sisa topping keju yang masih bertebaran di atas piring. Jayden ikut melepaskan sarung tangannya, lalu membalas perkataan Divi. “Kalau kamu nggak kepikiran itu. Terus kamu mikirin apa?” Jayden menuntut sebuah jawaban pasti dari kekasihnya. Ia tidak ingin meninggalkan Divi dengan kemarahan yang disembunyikannya. Divi terlihat kebingungan. Matanya sama sekali tak menatap ke arah Jayden. Terus melihat ke mana—mana. Seolah ingin menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin Jayden ketahui. “Aku minta maaf sama kamu, kalau aku nggak bisa jadi kekasih kamu secara penuh. Apalagi kita LDR kayak sekarang. Tapi kalau kamu ngerasa nggak kuat lagi dengan hubungan kita yang harus berjauhan, aku nggak papa misal kamu minta kita udahan.” Deg! Divi menatap Jayden dengan perasaan tak menentu. Bagaimana bisa Jayden mengatakan putus semudah itu? Tangan Divi menyentuh perutnya. Nggak. Aku nggak boleh putus dari Jayden, Jayden harusnya nikahin aku karena aku sedang mengandung anaknya. Jayden menunggu jawaban Divi hingga akhirnya tangan gadis di depannya meraih tangannya. “Jay, jangan ngomong kayak gini! Aku nggak papa kita LDR—an. Aku bukannya nggak kuat karena kita tinggal berjauhan, tapi karena....” perkataan Divi berhenti. Ia tidak bisa membagi informasi kehamilannya saat ini pada Jayden sekarang. Apalagi beberapa orang yang berada di sekitarnya sudah mulai kepo. Mereka pasti mendengar perkataan Jayden yang seolah—olah ingin mengakhiri hubungan percintaan mereka. “Karena apa, Div?” “Kita jangan ngobrol di sini ya? Banyak orang, Jay.” Jayden mulai tersadar. Ia melihat ke sekelilingnya yang ramai. Beberapa orang nampak melirik ke arahnya dan Divi. Mendesah pelan, Jayden pun menganggukkan kepalanya. “Ya udah kita pulang yuk!” ajaknya sambil bangkit berdiri. Divi mengikuti Jayden bangkit dari kursi yang didudukinya. “Kamu ke mobil dulu aja. Aku mau bayar dulu!” Divi menganggukkan kepalanya lalu berjalan lebih dulu ke luar dari stand martabak itu. Jayden ke luar dari stand martabak sambil membawa satu plastik berisi martabak jumbo yang dibungkus dan dua air mineral botol untuknya dan Divi. Jayden melihat Divi berada di luar mobilnya. Menunggunya. Menaruh plastik yang dibawanya di atas kap mobilnya, Jayden pun membukakan tutup botol plastik yang dipegangnya. Setelah terbuka, ia menyerahkannya pada Divi. Divi menerima minuman dari kekasihnya lalu segera meminum air mineral itu. Jayden pun melakukan hal yang sama setelah selesai membuka tutup botolnya. Sambil berdiri, Jayden dan Divi melihat pemandangan lampu—lampu yang menyala dari kejauhan. Hawa di luar kini sudah mulai dingin. “Div, kamu mau jelasin ke aku sebenarnya kamu kenapa?” Divi mendesah pelan. Ia menutup kembali botol minumnya. Apa sekarang waktu yang tepat untuk memberi tahu Jayden soal kehamilannya? Di sekitarnya tidak ada orang sama sekali. “Div?” “Jay, apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Divi. Ia ingin memastikan soal Jayden yang tak memiliki perempuan idaman lain di Jakarta. Jayden diam sejenak. Laki—laki itu ... terlihat misterius. Namun setelahnya, Jayden menggelengkan kepalanya. “Nggak ada, Div,” balasnya. “Sekarang giliranku. Apa yang ada di benak kamu sekarang, sampai kamu terus menerus murung?” Divi menghela napasnya. Apa sekarang waktu yang tepat untuknya mengatakan mengenai kejujuran? Apakah ia sudah siap dengan reaksi terburuk yang akan didapatkannya dari Jayden? “Div ... tolong katakan sesuatu!” kata Jayden sambil mengambil botol minum yang dipegang Divi. Ia menaruhnya di atas kap mobil lalu menggenggam tangan Divi dengan erat. “Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku? Posisi berganti! Kini Jayden justru yang bertanya padanya. Divi menarik tangannya dari genggaman Jayden untuk menutupi wajahnya. Ia ingin menangis, tapi tak bisa dilakukannya. Jayden tak paham dengan sikap Divi. Sebenarnya ada apa? Mengapa Divi bereaksi seperti itu? Apa ada masalah serius? Jayden menarik tubuh Divi hingga masuk dalam pelukannya yang hangat. “Nggak papa, Div. Aku nggak akan maksa kamu untuk bicara kalau kamu belum siap.” Divi mencium bau parfum Jayden dan menghirupnya lebih lama. Dari sekian banyak bau yang tidak disukainya dan banyak membuatnya mual, kali ini ia merasa sangat menyukai bau milik Jayden. Merasakan rambutnya dielus dengan lembut, Divi pun makin terlena dibuatnya. Ia akhirnya meyakinkan dirinya untuk mengatakan kejujuran yang harus diketahui oleh Jayden. Divi menahan napasnya sejenak sambil melepaskan pelukan Jayden. Ia menundukkan kepalanya dan mengatakan sesuatu yang Jayden tak kira sama sekali. “Jay, aku hamil.”[] *** bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD