Bab 12
Tanggapan Jayden
“Jay, aku hamil….”
Jayden terdiam begitu pula dengan Divi. Keduanya hanya saling menatap selama beberapa saat kemudian saling membuang muka. Setelah tersadar dengan apa yang dikatakan oleh Divi, Jayden pun merasa tidak yakin untuk menjalani kehidupannya detik selanjutnya.
“Kamu bercanda kan, Div? Nggak mungkin kan kamu hamil?” tanya Jayden dengan senyum lebar di wajahnya. Gimana bisa kamu hamil di saat kita sedang LDR seperti ini? Sedang pekerjaanku berada di Jakarta, sedang aku masih belum siap untuk menerima bahwa kamu hamil anakku.
Divi terdiam di tempatnya. Ia tidak menyangka bahwa Jayden akan mengatakan hal itu. Menuduhnya bercanda sedangkan wajahnya sekarang sedang menunjukkan tanda—tanda keseriusan.
Melihat kediaman dan ekspresi wajah wanita di depannya, senyum lebar di wajah Jayden pun mendadak pudar. Berubah menjadi kediaman yang terasa suram. Laki—laki itu terdiam lalu membalikkan badannya dari menghadap Divi.
Ia butuh waktu untuk memikirkan segala sesuatunya dengan baik. Jayden terus terdiam dan Divi merasakan kekecewaan di hatinya. Hal yang ia khawatirkan salah satunya menjadi nyata bahwa Jayden tak senang dengan berita kehamilannya saat ini.
Air mata Divi mulai merebak, tapi segera ia tahan dengan mendongakkan kepalanya ke atas. Ia tidak boleh menangis sekarang. Ini bukan waktu yang tepat untuknya menangis.
Akhirnya Jayden membalikkan badannya lagi. Ia menatap Divi sejenak lalu segera menarik tubuh Divi dalam pelukannya.
Divi yang sejak tadi menahan tangisannya pun mulai tak tahan lagi. Ia menangis dalam pelukan kekasihnya yang akan menjadi ayah dari anak dalam kandungannya.
Jayden mendengar tangisan pilu di dadanya. Tangisan Divi membuat hatinya sesak. Sekarang ia sadar, bukan hanya dirinya yang terkejut dengan kehamilan Divi, tapi Divi sendiri pun sama terkejutnya dengan keadaannya saat ini.
“Nggak papa, Div. Nggak papa. Terus saja menangis kalau kamu merasa sesak. Maafin aku ya.”
Mendengar suara Jayden yang menyuruhnya menangis membuat Divi makin keras menangis. Wanita itu benar—benar ingin menangis.
Namun setelah beberapa saat kemudian, Jayden pun mulai melepaskan tubuh Divi dari pelukannya. Ia melihat wajah Divi yang memerah dan basah oleh air matanya sendiri.
“Jay,” kata Divi sambil mengusap air matanya dengan kedua punggung tangannya sendiri.
Jayden menahan tangan Divi lalu membantu kekasihnya menghapus air mata yang membuat pipinya terasa basah dan dingin. “Kita obrolin di dalam mobil ya, Div?” ajak Jayden.
Divi menganggukkan kepalanya. “Hmm—“ balasnya lalu masuk ke dalam mobil. Jayden yang membukakan pintu untuk Divi lalu menutupkannya kembali.
Laki—laki itu bukan lagi sosok remaja. Jayden tahu dan sadar kalau akibat hubungannya dengan perempuan tentu saja bisa membuatnya hamil. Apalagi Divi sangat polos. Ia tidak pernah protes padanya jika mereka berhubungan tanpa menggunakan pengaman. Tak lupa, bagaimana Jayden juga lah orang pertama yang melakukan hubungan intim dengan Divi hingga sang kekasih kehilangan keperawanannya.
Masuk ke dalam mobil, Jayden merasakan suasana mobilnya terasa canggung dan menyedihkan.
“Kamu sekarang maunya gimana, Jay?” tanya Divi to the point.
Jayden mendesah pelan lalu menghadapkan tubuhnya pada Divi. “Aku terserah kamu aja maunya gimana?” tanya balik Jayden.
Divi menghela napasnya sambil menundukkan kepala. Kenapa Jayden bertanya balik? Tanya Divi dalam hatinya. Padahal ia ingin mendengar bagaimana Jayden mau bertanggung jawab pada kehamilannya dan mereka memutuskan untuk menikah.
“Div—“
Merasakan tangannya digenggam oleh Jayden, Divi pun segera mendongak untuk menatap sang pemilik tangan yang menyentuhnya.
“Aku ingat apa yang pernah kukatakan di puncak. Aku mau menikah dengan kamu dan bertanggung jawab akan kehamilan kamu.”
Perlahan senyum terbit di wajah Divi. Jadi Jayden ingat perkataannya di puncak dan mau bertanggung jawab dengan menikahinya? Astaga ... Divi merasa sangat bahagia.
“Tapi, Div—“
Perlahan wajah Divi berubah serius saat ia mendengar Jayden mengatakan kata tapi. Apa yang akan selanjutnya kekasihnya ini akan katakan? Divi mulai penasaran.
Jayden menjeda ucapannya beberapa saat lalu menggelengkan kepalanya. Laki—laki itu justru memeluk Divi kembali. Mereka berpelukan beberapa saat lalu memulai perjalanan pulang menggunakan mobil.
Jayden akan mengantarkan Divi pulang ke rumahnya.
***
“Maaf ya, Div,” kata Jayden. Mobil mereka berhenti di depan rumah Divi.
Divi memaksakan dirinya untuk tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. “Oke, Jay. Nggak papa kok. Aku juga tahu kalau kamu pasti masih shock dengan apa yang baru saja kamu ketahui tentang kehamilanku.”
Jayden tersenyum tipis. “Kalau aku udah siap, aku akan bilang ke orang tua kamu. Aku akan melamar kamu.”
“Iya, Jay.” Divi menganggukkan kepalanya. “Ya udah kalau gitu aku turun dulu ya?”
Jayden menganggukkan kepalanya. Setelah Divi ke luar dari dalam mobilnya, tak lupa sambil membawa oleh—oleh untuk kedua orang tuanya, Jayden pun kembali putar arah.
Dalam perjalanan pulang, Jayden terus terdiam. Bagaimana bisa ia akan menjadi calon ayah sekarang? Memikirkannya saja belum pernah.
Mendadak rasa takut menjalari tubuhnya. Jayden takut ia tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk calon anaknya. Seperti sang ayah yang tak pernah bisa menjadi sosok ayah untuknya.
Jayden menggenggam dengan erat setir mobil yang dikemudikannya. Ia merasa sangat frustrasi ketika mengingat bagaimana dulu sang ayah pun tak bisa memperlakukannya dengan baik. Sang ayah yang dulu selalu bekerja dan bekerja hingga akhirnya sang ibu yang kekurangan kasih dan perhatian mencari perhatian dari laki—laki lain.
Menghela napasnya dengan berat, Jayden merasa kepalanya berputar kala mengingat masa kecilnya yang pahit. Ia mengetahui dengan jelas bagaimana hubungan kedua orang tuanya yang kandas. Menjadi anak broken home membuat hidupnya terasa pahit. Namun, ia masih bersyukur karena pernah hidup bersama sang nenek yang sangat mencintainya.
Ciiit....
Jayden menginjak pedal rem dengan kuat saat di depannya terdapat sosok yang nyaris ia tabrak. Astaga! Jayden berseru dalam hatinya. Ia bersungut karena tidak berhati—hati lalu turun dari dalam mobil.
Seorang wanita muda menatap ke arah Jayden dengan wajah menyesalnya. “Maaf, A’, saya nggak lihat—lihat! Saya kurang hati—hati,” katanya membuat Jayden menghela napas.
“Saya yang seharusnya minta maaf. Saya juga kurang fokus menyetir tadi,” balas Jayden pada wanita berambut panjang dengan sweater abu yang dipakainya. “Oh ya, kamu nggak papa?”
“Nggak papa kok, A’. Cuma agak kaget aja, tapi aku nggak papa.”
Jayden menganggukkan kepalanya. “Syukurlah kalau nggak papa,” katanya lega. “Kamu mau ke mana? Mau kuantar sekalian?” tanya Jayden menawarkan diri. Ia tak habis pikir, sudah nyaris tengah malam dan ada seorang gadis berjalan sendirian di jalan.
Wanita itu nampak ragu. Ia menatap Jayden beberapa saat untuk menilai apakah laki—laki yang nyaris menabraknya itu orang jahat atau bukan.
“Kamu khawatir ya? Saya bukan orang jahat kok. Sebentar!” Jayden tiba—tiba membuka pergi. Tangannya membuka pintu mobil lalu mengambil dompet yang ditinggalkannya di dalam. Ia mengambil kartu namanya dan kembali ke hadapan perempuan yang nyaris ditabraknya barusan.
“Ini kartu nama saya,” kata Jayden sambil menyerahkan kartu namanya yang baru.
Perempuan itu menerimanya lalu menatap Jayden lagi. “Kayaknya nggak usah, A’. Nanti merepotkan lagi!”
Jayden kembali mendapatkan penolakan meskipun sudah menyerahkan bukti identitasnya. Ia yang tak mau memaksa pun mulai menganggukkan kepalanya. Perlahan sambil tersenyum.
“Tapi kamu bener nggak papa kan? Atau saya ganti rugi saja?”
Perempuan itu segera menggelengkan kepalanya. “Nggak perlu, A’. Makasih. Kalau begitu saya permisi.” Setelahnya perempuan itu menjauhi Jayden.
Jayden mendesah pelan lalu kembali ke dalam mobilnya. Sebelum pergi, ia kembali melihat perempuan yang nyaris menabraknya berdiri di pinggir jalan. Perempuan itu kelihatan murung.
Ah, kenapa aku peduli? Jayden mulai menyalakan mobilnya. Ingat, Jay! Kamu punya masalah kamu sendiri yang jauh lebih besar. Sekarang pikirkan baik—baik!
Setelahnya Jayden pun meninggalkan perempuan yang nyaris ditabraknya di trotoar jalan. Laki—laki itu harus pulang dan segera bersiap untuk kembali ke Jakarta kembali.
***
Divi menatap ponselnya dalam diam. Ia tak mendapati pesan atau telepon dari Jayden malam ini. Bahkan hingga larut kekasihnya tak memberi kabar. Apakah Jayden langsung tertidur setelah sampai ke rumahnya?
“Jayden lagi ngapain ya? Apa sekarang Jayden mikirin masalah kehamilanku?” tanya Divi lebih pada dirinya sendiri. Ia melihat langit—langit kamarnya yang terang karena cahaya lampu lalu mengerjapkan matanya lagi.
“Apa aku harus ngasih tahu Mama Papa duluan aja ya?” tanya Divi lagi pada dirinya sendiri. “Tapi kalau aku bilang, gimana kalau Mama Papa langsung minta Jayden untuk ketemu dan minta pertanggung jawabannya untuk menikahiku.”
Divi mengambil bantal yang ada di samping kepalanya lalu menutup wajahnya. Setelahnya wanita itu terdiam. “Jayden juga butuh waktu, mending tunda dulu deh buat ngasih tahu Mama Papa,” kata Divi lagi sambil melempar bantal yang menutupi wajahnya dengan penuh emosi.
Mengubah posisinya menjadi meringkuk, Divi pun mengambil ponselnya dan menyetel lagu galau. Ia ingin menikmati kegalauannya saat ini.
***
Divi masih mengalami morning sickness ketika pagi dan itu cukup membuat ibunya protes.
“Div, kamu minum nggak sih obat kamu! Kok masih muntah—muntah aja,” protes Mama Kayla pada sang anak ketika mereka menikmati sarapan bersama.
“Aku minum kok, Ma. Emang masih proses aja, Ma. Mama mah anaknya sakit gini malah dimarahin,” protes Divi balik.
Papa Dwika yang kini tengah menikmati sarapannya pun ikut protes. “Betul tuh, Ma, kata Divi. Mama mah lucu, anak sakit dimarahin. Kasihan lah si Divi!”
“Mama tuh nggak marah—marah, Div, Pa! tapi Mama tuh tanya. Mama kan khawatir sama kamu karena kamu masih mual muntah. Mama khawatir kamu nggak minum obat kamu, jadi kamu masih mual muntah kayak tadi.”
Divi hanya terdiam sementara Papa Dwika segera berdehem. “Iya deh. Mamanya Divi emang yang paling perhatian.”
Mama Kayla menahan senyumnya. Ia kesal dengan suaminya tapi menyukai pujian yang diberikan sang suami.
“Hari ini kamu mau jalan sama Jayden lagi, Div?” tanya Mama Kayla mengubah topik pembicaraan mereka.
Divi menggelengkan kepalanya sambil menikmati nasi goreng buatan Mama. “Nggak, Ma. Jayden kayaknya udah balik ke Jakarta lagi. Tadi malam bosnya telepon dan dia harus merevisi ulang kerjaannya.”
“Emangnya nggak bisa dihandle dari rumah?” tanya Papa Dwika penasaran. Papa Dwika masih memegang tablet miliknya yang berlayar 10,2 inchi.
“Nggak bisa, Pa. Harus lewat PC kantornya. Makanya dia kayaknya harus ke kantor.”
“Oh gitu....”
“Ya udah, gimana karena Divi nggak jalan sama Jayden. Kita liburan aja ke puncak?” ajak Mama Kayla pada sang anak dan suaminya.
Mendadak Papa Dwika menaruh tablet yang dipegangnya untuk membaca berita. “Ma, Papa baru aja baca diberita, kalau puncak macet parah. Mending kita nggak ke sana!” tolaknya halus.
Divi terkekeh mendengar perkataan ayahnya. “Masa sih, Pa?”
“Beneran, Div. Masa kamu nggak tahu sih, kamu kan kerja di redaksi. Pasti kamu tahu kan isu—isu kemacetan di Bogor tiap weekend? Mending kita nggak ke sana.”
“Ah Papa! Kenapa sih malas banget ngajak keluarganya liburan?” ketus Mama Kayla. “Div, kamu kasih tahu Papa kamu tuh!”
“Gimana kalau kita main ke yang deket aja, Ma?” tanya Divi. Ia juga sepertinya akan merasa galau jika berdiam diri di rumah saat ini. Jadi lebih baik jika ia bepergian bersama keluarganya. “Ke taman aja gimana, Pa? Taman Bunga Nusantara? Sekalian di perjalanan kan kita bisa beli bunga—bungaan buat Mama berkebun.”
Papa Dwika tiba—tiba melotot ke arah anaknya. “Div, tanaman Mama kamu udah banyak di luar. Mau ditaroh di mana lagi?”
Divi terkekeh pelan. “Ya nggak tahu. Ma, emang beneran udah nggak ada space lagi buat tanaman?”
Mama Kayla langsung menggelengkan kepalanya. “Masih lah, Div. Papa tuh emang gitu, kayaknya tuh Papa nggak suka punya istri super rajin kayak Mama. Padahal kan tumbuhan yang Mama rawat kadang menghasilkan uang.”
“Emang laku, Ma?”
“Laku. Kemarin ada yang beli bunga mawar Mama, 2 pot 150 ribu. Lumayan kan?”
Papa Dwika hanya diam. Laki—laki paruh baya itu sudah mendengar cerita dari istrinya beberapa hari yang lalu soal bunga mawar yang dirawatnya dengan baik sudah dibeli oleh orang.
“Div, coba kamu tawarin ke akun media sosial kamu. Mama kayaknya mau coba berwirausaha di bidang tanaman hias juga.”
“Jangan!” kata Mama Kayla langsung protes. “Mama nggak mau. Yang kemarin Mama jual kan soalnya udah diminta terus menerus sama Bu Andres.”
“Tuh kan....” Papa Dwika sudah bisa menebaknya. Istrinya memang sejak dulu menyukai tanaman untuk dipelihara seperti anaknya, bukan untuk dibudidayakan dan dijual kembali.
“Ya udah sih, Pa,” sewot Mama Kayla ketus. “Jadi kita mau liburan ke mana nih? Ke taman bunga aja deh yang kata Divi, Mama mau.”
Papa Dwika menahan geramannya. Ia akhirnya menganggukkan kepalanya. “Ya udah deh.”
“Yes! Kalau gitu habis ini, Mama siapin bekal untuk kita piknik!” Mama Kayla kelihatan begitu senang.
Divi yang melihatnya ikut tersenyum, sedangkan laki—laki paling tampan di rumah itu hanya bisa terdiam. Papa Dwika mendadak pening, niatnya untuk bersepeda dengan santai hari ini pupus.[]
***
bersambung >>>