Bab 13
Lost Kontak
Divi duduk di kursi makan yang ada di taman bunga dan memilih untuk tidak bergerak lagi. Ia sudah cukup untuk berjalan—jalan, melihat ke sana ke mari dan menemukan pemandangan indah yang nyaris keseluruhannya adalah jenis bunga.
Duduk sendirian. Divi ditinggal oleh kedua orang tuanya yang memutuskan untuk terus mengeksplorasi tempat wisata ini.
Jelas saja yang paling berbahagia sekarang adalah sang ibu. Mama yang gila tanaman terus menerus bergumam. Mama pengen nanam bunga ini. Bunga ini apa namanya? Nyaris sepanjang jalan, Mama Kayla bicara seperti itu.
Divi tidak terlalu menanggapi sedangkan sang ayah terus menolak. Papa Dwika tentu saja menolak karena ketika sang istri memutuskan untuk membeli tanaman hias, itu sama saja dengan harus memberikan istrinya dana talangan yang cukup besar. Istrinya memang suka seenaknya jika menyangkut dengan tanaman hias.
Sambil duduk diam untuk mengistirahatkan tubuhnya, Divi pun melihat ponsel yang sejak tadi tidak dipedulikannya. Apalagi tadi saat berfoto sang ayah membawa kamera DLSRnya. Jadi mereka tak harus membuka ponsel dan melakukan foto selfie.
Ada pesan dari Jayden.
Divi berpikir sejenak lalu membuka pesan dari kekasihnya itu.
[ Div, aku udah balik ke Jakarta. Gimana keadaan kamu? ] –Jayden.
Divi tersenyum tipis karena sejak tahu keadaannya yang sedang mengandung sang kekasih menyempatkan diri untuk menanyakan kondisinya.
[ Kamu sampai dengan selamat kan?
Keadaanku baik kok, Jay. Aku juga sekarang lagi piknik keluarga. Aneh juga rasanya piknik di usiaku yang sudah 27 tahun. ] –Divi.
Menunggu beberapa lama, Divi tak mendapatkan balasan dari Jayden. Ia mendesah pelan lalu memotret taman bunga yang dikunjunginya. Setelahnya ia memposting di akun i********: pribadinya.
Tiba—tiba pesan balasan pun datang.
[ Kamu harus bersyukur. Banyak orang yang banyak sepanjang hidupnya tidak pernah berpiknik dengan keluarga.
Div, aku lagi kerja sekarang. Nanti kuhubungi lagi ya kalau kerjaanku sudah selesai. Sorry. ] –Jayden.
Divi mendesah pelan setelah membaca pesan kekasihnya yang seolah tak ingin diganggu.
Bukan sosok yang kekanak—kanakan, Divi pun lebih memilih mengabaikan pesan Jayden. Ia tidak akan mengganggu pekerjaannya lagi dengan pesan singkatnya.
Lagipula sangat terlihat bahwa urgensi pekerjaan Jayden yang tengah dikerjakannya itu sepertinya sangat penting. Divi harus lebih pengertian pada Jayden.
Divi pun menghabiskan waktunya dengan scrooling i********:. Ia juga mencari berita terupdate untuk menambah wawasannya.
***
Hari demi hari berlalu, Jayden masih sibuk bekerja dan Divi yang sudah tak sabar lagi pun mulai melakukan teror pada kekasihnya itu. Bagaimana pun juga perut Divi lama kelamaan akan semakin membesar. Ia tidak bisa dibiarkan menunggu terlalu lama.
Divi mencoba menghubungi Jayden lagi, tapi sang kekasih tak kunjung mengangkat panggilannya. Tak mendapatkan respon apapun membuat kepala Divi terasa pening sekali.
“Div,” panggil Hana sambil menggeser kursinya. Menghampiri meja kerjanya.
Divi memaksakan dirinya untuk tersenyum. “Iya, Han. Kenapa?”
“Lo dengar nggak? Katanya bos mau resign.”
“Eh lo tahu dari mana? Nggak mungkin lah. Jangan asal bicara lo, Han!”
“Eh serius,” kata Hana dengan wajah seriusnya. “Gue dengar—dengar sih kabarnya si bos mau pindah kota. Ke Semarang kalau nggak salah.”
“Loh kok mendadak gitu? Lo emangnya dapat kabar dari mana, Han?” tanya Divi. Mendadak ia melupakan Jayden.
“Nggak tahu tuh anak—anak di bagian marketing tuh yang ngomogin kemarin malam di kafe. Gue kan kemarin join sama mereka di kafe buat nongki—nongki.”
Divi terdiam. Tak menyangka jika berita itu benar.
“Div, menurut lo bakal ada yang naik jabatan atau bakal ada pengganti baru bu bos?”
Divi mendesah pelan. Kepalanya sudah pening. Sudah tak ingin main tebak—tebakan. Akhirnya, Divi pun menggelengkan kepalanya. “Ah nggak tahu lah gue!”
“Kalau lo dipromosiin gimana, Div? Lo kan udah lumayan lama di kantor redaksi ini?”
Membayangkannya saja sudah horor. Divi pun kembali menggelengkan kepalanya. “Gue belum siap kalau jadi kepala redaksi. Lo tahu sendiri kan, kerja beginian aja udah bikin gue tifus. Apalagi kalau jadi kepala redaksi. Kerjaan makin banyak, tanggung jawab makin bertambah—“
“Gaji juga makin bertambah loh nominalnya.”
Divi mengangguk setuju. “Tapi gue belum siap!” Divi memang sosok yang suka berada di zona nyaman. Ia tidak ingin memaksakan dirinya untuk menjadi lebih ambisius. Belum lagi sekarang, ia juga punya masalah internalnya sendiri yang masih belum terpecahkan. “Mungkin lo aja, Han. Lo kayaknya pantas jadi kepala redaksi!”
“Cih!” decih Hana. “Gue udah ada niatan resign juga tahun depan, jadi gue nggak mau naik jabatan.”
“Apa? Lo mau resign tahun depan? Kenapa?”
Hana tiba—tiba merendahkan suaranya agar tidak didengar oleh orang lain yang berada di sekitarnya. “Gue mau fokus jadi freelancer.”
“Hmm? Lo yakin, Han?” tanya Divi ragu.
Hana pun tertawa pelan. “Pokoknya ada deh. Gue udah mikirin mateng—mateng dan gue udah yakin banget dengan pilihan gue.”
“Orang tua lo gimana? Mereka tahu tentang rencana lo buat resign?” tanya Divi lagi. Ia menatap Hana dengan penasaran.
“Belum ada yang tahu sih,” kata Hana dengan santainya. “Lagian juga kan nyokap sama bokap tinggal jauh, jadi mereka nggak perlu tahu rencana gue.”
Divi mendesah pelan. “Lo keren ya! Ngambil keputusan sendiri tanpa harus dapat campur tangan dari keluarga.”
“Nggak juga, Div. Gue malah iri lagi sama elo, orang tua lo bisa selalu mendukung keputusan lo. Memberikan lo kebebasan padahal lo tinggal dan dekat sama mereka. Itu menurut gue keren banget sih.”
Divi tersenyum tipis mendengar pujian Hana.
Saat terlihat bos mereka berjalan melewati mereka untuk pergi ke ruangannya, Hana pun buru—buru kembali ke meja kerjanya. Ia kembali mengerjakan tugasnya.
Sepeninggalan Hana yang kembali sibuk dengan kerjaannya sendiri, Divi pun kembali berlarut dengan pekerjaannya. Namun sebentar saja, ia sudah teringat pada Jayden.
Divi mendesah sambil menyandarkan kepalanya dengan nyaman di kursi kantornya. Dengan refleks, Divi pun mendesah pelan.
***
Jayden tak bisa dihubungi bahkan ketika Hana sudah pulang dari kantornya. Wanita itu merasa gelisah. Ia mulai ketakutan. Bayang—bayang bagaimana Jayden akhirnya menolak untuk beranggung jawab membuatnya khawatir.
Bagaimana jika akhirnya Jayden tidak menginginkan anak dalam kandungannya? Meskipun mereka saling mencintai, bukankah masih ada kemungkinan jika Jayden tak menginginkan calon anaknya nanti?
Divi mendesah pelan. Sambil menunggu ojek online yang dipesannya, Divi terus mencoba menghubungi Jayden. Namun lagi—lagi ponselnya tak bisa dihubungi. Laki—laki itu sungguh membuatnya sangat khawatir.
Tak lama kemudian, ojek online dengan driver yang memakai jaket hijaunya pun datang untuk menjemput Divi.
Divi memakai helm yang sudah dipersiapkan oleh driver ojol itu lalu duduk di belakang. “Mas, tolong kalau di jalan yang berkerikil agak hati—hati ya?”
“Baik, Bu,” balas sang ojek lalu mulai melajukan motornya dengan kecepatan standar.
***
Jayden berdiri di lantai paling atas kantornya sambil memegang gelas kopi yang masih hangat. Hari sudah senja dan sepertinya hari ini ia akan menghabiskan waktunya dengan lembur di kantor bersama Sabrina.
“Jay,” suara Sabrina terdengar. Jayden yang baru saja memikirkan gadis itu pun perlahan menoleh.
Sabrina menghampirinya lalu berdiri di samping Jayden. Mereka saling terdiam beberapa saat kemudian. “Jay?” panggil Sabrina lagi.
Jayden tidak membalas. Ia bahkan membuang mukanya.
“Gue minta maaf ya, udah bikin hape lo rusak.”
Jayden menghela napasnya. “Ya udahlah.”
“Serius, Jay. Gue nggak sengaja!”
“Iya, gue tahu lo nggak sengaja.”
“Terus hape lo sekarang gimana?”
“Rusak parah lah!” ketus Jayden. “Nanti sore gue bawa ke bengkel reparasi handphone. Sekalian gue bakal ganti hape.”
“Gue ganti ya?” ujar Sabrina menawarkan diri. Ia merasa bersalah karena sudah membuat ponsel Jayden terjatuh dari dari lantai 103 hingga ke lantai di bawahnya.
“Nggak perlu! Lagian emang bukan salah lo doang! Ini juga murni salah gue karena kurang hati—hati. Lain kali juga kalau ada orang didekat tangga jangan dikagetin ya! Tadi untung aja kan bukan gue yang jatuh tapi ponsel gue doang.”
Sabrina menundukkan kepalanya. Keisengannya membuat hidup Jayden sial. “Sorry ... gue janji nggak akan melakukan hal kayak gitu lagi.”
“Hmm—“ Jayden menyesap kopinya kemudian melihat senja di langit. Hanya sebentar karena setelahnya matahari yang tengah terbenam itu harus tertutup gedung pencakar langit yang ada di depannya. Menghalangi pemandangan sunset dari atas kantornya itu.
Ikut menikmati matahari tenggelam, Sabrina pun perlahan tersenyum. Tak tahu mengapa, tapi sikap Jayden yang tak mudah digodanya membuat Sabrina merasa tertantang.
“Jay—“
“Balik ke kantor yuk! Ingat kita harus cepat ngerjain maket!” kata Jayden sambil berlalu meninggalkan Sabrina. Tiap kali Jayden terlalu lama bersama Sabrina, lubuk hatinya merasa bersalah pada Divi yang berada jauh darinya.
Kedekatannya dengan Sabrina memang masih tak berubah selain sebagai rekan kerja di tempat magang kerjanya di kantor pusat, tapi Jayden kembali tersadar akan hal lain juga. Hal yang ia masih coba tangkis, kenyataan bahwa mereka tanpa sengaja pernah saling berciuman saat berada di kelab malam.
Jayden sungguh tak sengaja melakukan itu. Ia dan Sabrina pergi ke kelab malam karena sudah terlalu penat berada di kantor, dengan deadline pekerjaan utama dan sampingan yang berbarengan. Belum lagi, revisi yang harus segera dikerjakan dengan tempo dekat.
Mereka pergi dugem dan menikmati alkohol bersama—sama. Hingga saat Sabrina mulai mabuk, gadis itu secara agresif menggodanya. Jayden yang masih setengah sadar pun menolak, tapi tak menunggu waktu lama hingga akhirnya ia menerima ciuman itu dengan senang hati. Mereka berciuman di koridor kelab malam yang temaram. Menikmati ciuman mereka tanpa risih dengan beberapa orang yang memperhatikan.
Saat sadar dengan apa yang sudah terjadi, Jayden buru—buru menggelengkan kepalanya. Ia tidak boleh mengingat hal itu lagi. Itu adalah kesalahan dan ia tidak akan menganggapnya bahwa ciuman panas bersama kala itu pernah terjadi.
Sabrina berjalan di samping Jayden yang menggelengkan kepalanya dengan wajah cemberut. “Kenapa geleng—geleng?” tanyanya penasaran.
Jayden tak membalas. Ia justru berjalan lebih cepat, menjauhi Sabrina yang masih juga mengikutinya. Mungkin lebih tepatnya bahwa Sabrina ingin pergi ke meja kerjanya sendiri yang berada di satu ruangan dengan Jayden.
***
Divi merasa sangat frustrasi sekarang. Bagaimana bisa Jayden tak mengangkat panggilannya sama sekali sekarang? Apakah kini ia harus menerima bahwa Jayden mencampakkannya setelah tahu bahwa ia mengandung anaknya?
“Div, kenapa?” tanya Mama Kayla saat melihat Divi berjalan dengan tatapan mata kosong.
“Nggak papa kok, Ma,” balas Divi. Ia kembali memaksakan dirinya untuk tersenyum lalu berjalan melewati ibunya. Divi ke luar dari rumah lalu berjalan—jalan sendirian. Ia tidak ingin menangis di dalam kamarnya dan membuat kedua orang tuanya khawatir.
Akhirnya Divi pun melangkah tak tentu arah meskipun jam sudah menunjukkan pukul 20.30 malam.
Divi memeluk dirinya sendiri dengan cara melingkarkan kedua tangannya pada tubuhnya. Hawa Bogor malam ini terasa dingin sejuk.
Berjalan tak tentu arah, Divi akhirnya mendapat panggilan telepon. Saat ia mengeceknya berharap bahwa yang meneleponnya adalah Jayden dengan semangat. Namun, perasaan itu berubah menjadi sedih kala ia mengetahui yang meneleponnya justru sang ayah.
“Halo, Pa,” sapa Divi dengan nada sedih.
“Halo, Div. Kamu mau ke mana malam—malam gini? Tadi kata Mama kamu ke luar rumah?”
“Ini mau cari angin aja, Pa. Sebentar aja kok.”
“Cari angin?” Papa terdiam sejenak. “Tolongin beliin Papa bajigur dong kalau ada.”
“Bajigur? Ah papa—“
“Tolong lah, Div! Kan Mang Wawan juga biasanya ada keliling jam seginian! Kalau ada kamu beliin ya buat Papa.”
Divi mendesah pelan. “Hmm ... ya udah nanti aku cariin,” gumam Divi akhirnya mengalah.
“Makasih anak Papa yang paling cantik dunia akhirat,” balas Papa Dwika lalu menutup panggilannya dengan cepat. Setelah selesai, Diva melihat ponselnya lagi. Tak ada panggilan dari Jayden.
Divi mencoba menghubungi Jayden lagi tapi kembali mendengar suara operator. Ia mendesah lalu mematikan ponselnya.
Melihat ke depannya, Divi pun mulai celingukan untuk menemukan pedagang bajigur. Ia berjalan tak tentu arah dan menjauhi rumah untuk mencari Kang Wawan sang pedagang bajigur. Ia mencari terus hingga akhirnya menemukan.
Divi berjalan lebih cepat ke arah gerobak dorong Kang Wawan. Setelah sampai, ia pun memesan. “Kang, pesen wedang bajigurnya 3 ya.”
Kang Wawan yang mendengar calon pembelinya pun segera menyiapkan pesanan. Divi menunggu sambil duduk di kursi plastik berwarna biru tosca.
“Neng, malam—malam gini pergi sendirian aja?”
Divi terkekeh pelan. “Iya, Kang. Deket juga kok. Saya anaknya Pak Dwika.”
“Oh anaknya Pak Dwika ya,” Kang Wawan yang sudah jadi langgangan Pak Dwika tentu saja ingat dan hafal. “Saya baru lihat Neng. Dulu terakhir kali inget Neng masih kuliah.”
“Udah lama banget ya, Kang?”
“Iya.” Kang Wawan menyerahkan plastik berisi pesanan Divi dan Divi memberikan uang padanya. Mereka saling barter. “Sebentar ya, Neng. Kembali lima ribu.”
Setelah mendapat uang kembalian, Divi pun berjalan kembali. Ia kembali menuju rumah. Berjalan menanjak karena posisi rumahnya berada di atas.[]
***
bersambung>>>