6

1018 Words
"Dek, setelah aku pergi bagaimana keadaanmu?" Tanya Dimas secara tiba-tiba sampai membuat dirinya hampir tersedak. "Alhamdulillah baik-baik saja kok, semuanya berjalan normal lagian kita kan berpisah secara baik-baik jadi gak perlu ada yang tersakiti kan?" "Kau benar, syukurlah aku lega mendengarnya" "Dimas, jangan bahas masa lalu lagi ya! " Ucap Alia sembari memegang jemari Dimas, lelaki itu sedikit melirik kearah tangannya tanpa berniat sedikitpun menyingkirkan genggam tangan alia darinya, ia tak bisa membohongi kenyataan bahwa saat ini alia tampak begitu menawan dan cantik tidak seperti sebelumnya. "Baklah aku takkan membahas masa lalu tapi kalau boleh jujur kau terlihat cantik ya saat ini, kupikir kau bahagia saat tidak bersamaku, dek "Apaan sih mas, oh iya kira-kira siapa nama anakmu nanti? perempuan atau laki-laki?" Tanya Ali merubah topik pembicaraannya sembari menarik tangannya dari Dimas. "Hari ini kita adalah pasangan jadi gak perlu takut untuk menggenggam tanganku!" Ujar Dimas sambil menggenggam tangan Alia lagi sambil melirik keseseorang yang berdiri jauh mengawasi mereka, tentunya Dimas sudah menyadari kalau anaknya tengah mengawasi mereka jadi lebih baik Dimas menepati janjinya tanpa menyadari kalau secara perlahan-lahan perasaan yang aneh mulai bersemi dihatinya. "Aku belum memberikan nama untuknya tapi yang jelas jenis kelaminnya perempuan" "Aku harap anakmu secantik ibunya!" "iya, boleh kita berhenti membahas keluargaku?" Alia hanya mengangguk saja menyetujui permintaan Dimas, lagian dibalik pertanyaan itu sebenarnya Alia sedikit cemburu atas keberuntungan Angela mendapatkan hati Dimas dibandingkan dirinya hanya saja ia harus berusaha belajar ikhlas. "Hmm.. maksudku keluarga baruku, tenang saja Adam juga merupakan keluargaku jadi.." Saat Dimas berusaha menjelaskannya, Alia langsung memotongnya terlebih dahulu. "Aku paham kok, tidak usah diperjelas" "Maaf ya, aku terlalu sibuk diluar negeri sampai tidak pernah mengabari Adam ataupun dirimu" "Aku mengerti kok begitu juga dengan Adam, kamu hanya perlu menemaninya selama pengobatan ini karena walau bagaimanapun ia butuh sosok ayah dihidupnya dan cobalah lebih sedikit membuka diri padanya karena aku yakin kau bisa menjadi ayah yang baik, dimas" perjelas Alia sambil mengarahkan wajahnya yang ayu kehadapan Dimas sampai jarak Mereka sangat dekat, tentunya Dimas benar-benar terkesima akan suara lembut Alia yang menawan apalagi setiap kali melihat Alia tersenyum dengan pantulan cahaya senja membuat gadis itu tampak cantik sampai-sampai tanpa sadar ia kehilangan kendali dan mendaratkan bibirnya kebibir Alia yang membuat gadis itu terpaku kaget tanpa bisa menghindar. Untungnya tak butuh waktu lama, dimas langsung tersadar dan bangkit menjauhi Alia. "Astaga, maafkan aku dek!" Ucapnya merasa bersalah dan tak enak telah berlaku sangat tidak sopan pada mantan istrinya itu, Alia hanya terdiam kaku saja seakan ia merasa sangat syok . "Maafkan aku, kau tidak marah padaku kan?" Dimas terus-menerus memohon kepada gadis itu, Alia hanya bisa mengangguk mengiyakan saja dengan tatapan linglung dengan detak jantung yang memompa begitu cepat. Ia masih sangat mencintai lelaki yang berada dihadapannya itu, hanya saja saat ini lelaki itu telah milik orang lain dan tak seharusnya ia senang akan perbuatan yang dilakukan Dimas barusan. "Kau seharusnya tidak melakukan sejauh itu, istrimu pasti merasa terkhianati" ucap Alia tanpa menatap mata Dimas sedikitpun, kini ia benar-benar berdusta atas perasaan sendirian. "Kau benar, maafkan aku! Aku terlalu bodoh sampai kehilangan kendali seperti ini" "Aku pikir kita harus mencari Adam, ini sudah sore dan waktunya ia kembali kerumah sakit!" Ucap Ali yang langsung berjalan mendahului Dimas. "Bodoh banget aku!!! Lagian perasaan apa sih ini yang kurasakan!!!" Ketus kesal Dimas pada dirinya sendiri sebelum akhirnya mengejar Alia yang mencari Dimas. Ia menatap sekeliling tetapi tak kunjung menemukan Adam, lelaki itu pasti berpikir kalau Adam sangat marah padanya karena perbuatannya barusan makanya Anak itu menghilang dari pandangannya. Dengan langkah yang berat bercampur aduk, ia menemani Alia lencari Adam sampai akhirnya Adam sendiri yang menghampiri mereka dengan ekspresi wajah pucat dan tatapan tajam kearah Dimas. "Adam!! kamu kemana saja sih? bunda khawatir sama kamu!!" Ucap Alia sembari memeluk adam. "Aku gak kemana-mana kok Bun, ya sudah ayo kita kembali!" Jawab Adam lalu berjalan pergi yang kemudian disusul oleh Dimas . Kini langkah keduanya berada didepan Alia yang sedikit ketinggalan dibelakang dan sengaja memperlambat langkahnya demi bisa membiarkan kedua ayah dan anak itu berbicara lebih lama sekaligus meredahkan grogi didalam hatinya setelah apa yang dilakukan Dimas kepada dirinya tadi. "Kau melihatnya?" Tanya Dimas yang menatap lurus kedepan tanpa mendongak kearah Adam. "Tenang saja, aku takkan marah sama sekali yang jelas terimakasih sudah menemani bundaku seharian ini!" Tukas Adam. "Kau tidak membenciku karena telah mencium bundamu?" "Bukannya itu yang seharusnya sering dilakukan oleh suami istri, jadi masalahnya dimana? aku kan memang menyuruhmu menjadi suami buat bundaku sehari saja" ia melepaskan headsetnya yang tersambung ke airpod lalu memberikannya pada Dimas. "jauh lebih senang kalau kau mulai mencintai bundaku, tapi ya sudahlah...aku akan menepati janjiku dan membiarkanmu bebas mulai detik ini jadi kau bisa kembali ke Amerika dan menjalani kehidupan lamamu mulai besok" "Aku tak boleh mencintai bundamu dan itu takkan terjadi nak!" "Terserahmu, simpanlah ini dan coba dengarkan selagi ada waktu dan untuk urusan pengobatanku biar aku yang menjelaskan pada bunda" Ucapnya terakhir kali untuk mengakhiri perbincangan diantara keduanya sebab setelah itu Adam langsung menghentikan taksi untuk mereka. Didalam taksi suasana kembali menjadi sepi, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka bahkan supir taksi nya memilih menghubungi keluarganya dibandingkan harus berbincang kepada para penumpangnya itu sampai akhirnya mereka tiba dirumah sakit. "Aku yang akan menemani Adam jadi kamu pulang saja temani istrimu, mas" "Kau yakin?" Tanya Dimas, "kalau bisa biar aku saja, aku tak keberatan kok" sambungnya. "Aku yang keberatan dijaga olehmu, biar bunda saja yang menjagaku!" Ucapnya tajam lalu berjalan pergi memasuki rumah sakit. "pulanglah, istrimu pasti menunggumu jadi kau bisa datang besok pagi kesini" "hmmm..abang perlu menjelaskan sesuatu pada bunda, jadi bisa kita langsung masuk kedalam Bun?""baiklah Adam,ya sudah aku pergi duluan ya mas" Dimas langsung berjalan pergi kembali kedalam taksi tadi, anak lelaki itu hanya menatap sedih kepada mobil yang sudah berjalan menjauh itu. "Bunda, ayo masuk Abang gak kenapa-kenapa kok, lagian kayaknya dia gak cocok ada disini jadi biarkan ia pergi menjalani kehidupan lamanya saja" sindir tajam anaknya." "Abang kok ngomong gitu? mereka kan teman kita!" "Iya bunda , tapi ada yang harus Abang jelaskan kalau ..." Remaja lelaki itu menjelaskan segalanya kepada Alia tanpa memperdulikan perasaan Alia yang mendengarkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD