"Gimana pengalaman kamu sama anakmu, beb?" Tanya Angela pada suaminya itu sembari mengaduk-aduk teh panas kesukaan Dimas.
"Biasa saja, oh iya kamu tadi ngapain aja sayang?" Tanya Dimas yang langsung meneguk teh tersebut sambil menatap layar laptopnya, sepertinya ia tengah mengerjakan tugas laporan pekerjaannya.
"Seru! Aku pikir kita harus menetap di Indonesia sedikit lebih lama sekalian kamu menjaga anakmu dan aku bisa jalan-jalan mengelilingi kota ini" ucap Angela penuh ekspresi, ia sepertinya mulai tergoda untuk tinggal di Indonesia berbeda dengan Dimas yang sedikit tidak nyaman akan permintaan angela.
"Tapi kita harus kembali besok, kamu kan tahu pekerjaanku banyak dikantor dan kamu juga harus mendapatkan perawatan medis terbaik diamerika"
"loh bukannya kamu harus jaga anakmu ya, sayang?"
"Anakku sendiri yang menyuruhku untuk kembali menghabiskan waktu bersama kamu" Ucap Dimas, ia langsung menghentikan pekerjaannya dan memeluk lembut Angela yang duduk disofa sambil mencium bibir gadis itu.
"Benarkah? Padahal aku ingin tetap tinggal disini!" keluh Angela yang langsung menyudahi ciuman hangat tersebut sembari menunjukkan ekspresi cemberut, Dimas hanya bisa tersenyum saja dan mencu it hidung wanita kesayangannya itu.
"Nanti kalau kamu udah melahirkan bau deh kita liburan kesini, gimana?"
"Baiklah, ya udah aku mau tidur dulu soalnya gak bagus tidur lama-lama buat ibu hamil"
"Perlu aku temani?"
"gak perlu sayang, kamu selesaikan aja dulu pekerjaan kantor kamu yang menumpuk " ucapnya lembut dan berjalan pergi, dinas hanya bisa tersenyum lucu saja melihat tingkah manja istrinya itu .
"Dasar istriku!" ucapnya, lalu ia kembali menatap layar laptopnya lagi sampai kedua matanya tertuju pada sebuah airpod yang diberikan Adam beberapa jam yang lalu.
"Apa sih isinya?" Keluh penasaran Dimas yang langsung meraih airpod itu dan memasang headset ketelinganya, awalnya yang terdengar hanya bunyi suara batuk-batuk saja lalu setelah itu barulah terdengar suara seseorang seseorang yang tengah mengetik sebuah gitar dan menyanyikan sebuah lagu dengan petikan gitarnya.
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Kuterus berjanji 'tak 'kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya kumencintaimu
'Kan kubuktikan kumampu penuhi semua maumu
Andaikan detik itu 'kan bergulir kembali
Kurindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
'Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Kuterus berjanji 'tak 'kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya kumencintaimu
'Kan kubuktikan kumampu penuhi semua Maumu
Seusai lagu itu dinyanyikan tiba-tiba suara tepuk tangan bergemuruh keras direkaman Tersebut, cukup lama tepuk tangan itu berbunyi sampai akhirnya seseorang langsung mengambil alihnya.
"Wah kau begitu menghayati lagu itu bro, kayaknya kelas kita bisa deh ngirimin dirimu sebagai perwakilan kelas buat pertunjukan hari ayah Minggu depan"
"Apaan sih, aku gak ikut lomba lagian aku gak suka temanya"
"Karena kau gak punya ayah yah?"
"Jaga mulutmu Bryan, udah adam gak usah ditanggapi!"
"Sandy, matikan rekamannya! " ucap Adam lalu tiba-tiba sebuah suara hantaman keras berbunyi sekali sebelum rekaman itu dimatikan.
Seusai mendengarkan rekaman tersebut, Dimas tanpa bingung alasan anaknya memberikan rekaman itu padanya.
Ia memang pria yang tidak peka sama sekali dan rasanya aneh saja alasan putranya memberikan video yang sama sekali tidak penting itu kepadanya.
"Benar-benar tidak penting!" ucapnya ketus, lalu meletakkan kembali benda itu keatas meja dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.
Namun selang tak beberapa lama tiba-tiba ia mulai penasaran atas tujuan putranya, rasa penasarannya semakin menjadi-jadi sampai akhirnya ia memutuskan menelpon Alia untuk menanyakan. langsung pada anaknya itu.
*****
"Halo dek, aku boleh bicara sama Adam?" Tanya dimas, akan tetapi bukannya respon yang baik diterimanya melainkan nada kekesalan yang dilontarkan Alia.
"Mau apa lagi kamu menghubungi anakku, mas? aku tak habis pikir kau menerima taruhannya hanya karena kau tak mau terbebani oleh Adam!"
"Apa maksudmu? "
"Qian sudah memberitahuku, ya sudah lebih baik pulanglah segera kau kerumahmu yang diamerika itu dan lupakan saja kami"
"Tunggu jangan tutup teleponnya!!! dengar ya dek, aku tahu kau sangat marah padaku tapi tolong berikan segera telepon ini padanya karena aku perlu bicara padanya!"
"Hufftt... sampai kapan kau bisa punya hati? " sindir Alia, tapi yang namanya Dimas masih saja tetap sama tidak memperdulikan perasaan orang lain dan hanya berpikir secara logika saja jadi ia tak terlalu memperdulikan kemarahan alia padanya.
"Tolong berikan sekarang! kau tahu kau aku harus siap-siap tidur buat pulang besok jadi aku harus berpamitan pada anakku sendiri!"
"Baiklah, tunggu sebentar!" ucap Alia yang memilih mengalah, ia rasa percuma saja menceramahi mantan suaminya itu yang memang pada dasarnya Alia paham kalau dirinya dan juga Adam sama sekali tak pernah ada di hati Dimas jadi mau tak mau ia harusnya bersyukur karena Dimas mau berpamitan pada anaknya itu.
Ia langsung berjalan memasuki kamar pasien yang dihuni oleh Adam sendirian, tetapi Langkahnya terhenti tepat didepan pintu kamar mandi yang berada dekat dengan pintu masuk, disana Alia mendengarkan suara tangisan bercampur amarah dari anaknya itu sama halnya juga dengan Dimas yang jelas mendengarkan suara tersebut dari seberang telepon.
"Arghhh....!!!! kenapa aku tak punya papa???" Teriak Adam dari dalam kamar mandi, Dimas yang mendengarkan suara tersebut tampak kaget dan berbisik pelan pada Alia.
"Suara siapa itu?"
"Diamlah mas, itu suara Adam dan kupikir ini bukan waktu yang tepat untukmu berbicara dengannya"
"Alia, jangan dimatikan dan dekatkan saja handphone itu didepan pintu!" Ujar Dimas, ia merasa harus mendengarkan semua ini dan tanpa diketahuinya bahwa jiwa seorang ayah telah tumbuh didirinnya.
"Aku pengen punya papa!!!! Kenapa ia tak ingin menemaniku pengobatan besok? aku butuh papa !!!" Isak tangis bercampur aduk didalam kamar mandi itu sampai Alia sendiri ikut meneteskan air mata.
"Aku pengen punya papa!!!" lirihnya pelan, selang tak beberapa lama Dimas mendengarkan suara panik Alia yang bersamaan dengan jeritan kesakitan dari seberang telepon.
Entah apa yang tengah terjadi pada Adam ya g jelas ini bukanlah sesuatu kabar baik baginya.
"Halo, apa yang terjadi?" Tanyanya, namun tak ada Jawaban dari Alia selain suara tangisan Alia yang membuat Adam sedikit khawatir.
"Bunda, sakit!!!! Arghh...."
"Sabar ya sayang, bunda panggil dokter dulu!!!"
"Bunda, kalau nanti Abang mati apakah papa bisa mencintai Adam? kenapa papa gak bisa mencintai Adam? "
"Brukk.." handphone tersebut jatuh dari genggaman tangan Dimas, ia merasa hancur tatkala saat mendengarkan ucapan Adam barusan yang menyadarkan bahwa ia adalah ayah yang buruk.
Anaknya saat ini tengah berjuang nyawa melawan penyakitnya dan harusnya ia menemani Adam bukannya menuruti taruhan bodoh yang dilontarkan Adam yang jelas-jelas sangat membutuhkan sosok ayah dihidupnya saat ini.
"Bodoh!!! harusnya aku sadar kalau aku sudah mempunyai anak !!!" ucap Dimas sambil menundukkan kepalanya keatas meja.
"Aku harus kesana!!!" Dimas langsung berlari keluar rumahnya tanpa membawa peralatan sekalipun, ia bahkan sampai lupa akan impiannya barusan.