8

1046 Words
Dimas dan Angela berlari menuju rumah sakit dengan langkah yang tergesa-gesa , ia sebenarnya ingin pergi sendiri ke rumah sakit namun ia tak tega membiarkan istrinya yang tengah hamil diapartemen sendiri. "Mau ngapain kalian kesini?" Tanya Alia yang bersamaan pula keluar dari ruangan Adam, Dimas langsung menggenggam bahu Alia dengan tatapan khawatir. "Gimana keadaannya?" "Iya Al, gimana keadaan Adam?" Tanya Angela juga sebagai ibu tiri Adam, walau bagaimanapun ia juga merasa sedih melihat kekhawatiran suaminya pada Adam. "Dokter telah mengatasinya, sesuai janji besok Adam akan melakukan kemoterapi pertamanya jadi kalian gak usah khawatir" Alia mencoba untuk bersikap ramah pada kedua pasangan ini meskipun ia sedikit kesal pada mantan suaminya itu. "Kalau gitu biar aku yang nemani dia malam ini dan besok juga aku yang temani dia buat kemoterapi" "Gak usah, kalian gak perlu repot-repot gini kan Adam masih punya ibunya. Lagian Angela juga bakal mau melahirkan kan jadi pikirkan saja bayi pertama kalian" "gak apa-apa kok Al, aku dan Dimas udah bicarakan ini dijalan tadi dan kami sepakat untuk tinggal sementara di Indonesia sampai Adam sembuh total" "Mas, boleh aku bicara berdua?" Tanya Alia, ia langsung menarik tangan Dimas menjauhi Angela yang enggan menghalangi Alia menarik paksa suaminya itu. "Kenapa mas berubah pikiran?" Tanya Alia kesal, ia tak bisa membohongi dirinya kalau ada perasaan aneh yang membelenggu dirinya. "Hmm..Aku gak tahu, kupikir Adam membutuhkanku jadi aku harap kamu gak keberatan Al" "Aku gak suka neko-neko ya mas, jadi jujur aja aku sangat keberatan mas . Kenapa mas harus kembali lagi ke kehidupan ku? " Tanya Alia yang setengah membentak dan membuat kaget Angela. "Aishh...oke aku akan memberikan ijin untukmu menemani anakku tapi tidak istrimu , oh iya dan aku harap jangan sekalipun perlihatkan kemesraan kalian didepan anakku" Bentak kesal Alia yang tidak seperti biasanya, ia langsung pergi menjauhi mereka. Dimas yang baru pertamakalinya melihat Alia mengamuk merasa sangat kaget dan tak habis pikir sekhawatir itu kasih sayang seorang ibu sampai membuat Alia semarah itu padanya sebab setahunya Alia bukanlah gadis yang lemah. Dengan langkah kaki yang mulus, Dimas berjalan mendekati Angela yang tengah menatapnya bingung dan merasa kasihan pada Dimas yang habis dimarahi oleh Alia. "Dia memarahimu?" "gak apa-apa, oh iya aku harusnya gak mengajakmu ke sini kan jadi kasihan kamu, honey" "It's okay honey, aku bisa pesan taksi online buat antar aku pulang jadi don't worry!" "gak dong honey, oke tunggu dulu aku bicara bentar sama rumah sakit ini" Dimas berjalan menghampiri salah satu suster yang kebetulan ada didekat mereka dan mengobrol santai, selang tak beberapa lama Dimas dan suster itu berjalan menghampiri Angela. "Honey, kamu kan mau melahirkan bentar lagi jadi untuk jaga-jaga aku pesan satu kamar rumah sakit untuk kamu ya biar sekalian aku bisa jagain kamu" "Hahaha..kok kedengarannya lucu ya" Angela tak bisa menahan gelak tawanya, ia merasa itu adalah sesuatu yang bodoh dan terkesan lucu. "Aku hanya mencoba menjadi suami yang terbaik buatmu, jadi tidak masalah kan?" "baiklah, lagian dengan seperti ini aku bisa selalu menemani kamu" "benar, yaudah kamu istirahat ya" Dimas mencium kening istrinya. "Mari buk!" ajak suster itu yang langsung membantu Angela berjalan dengan perut besarnya sedangkan Dimas langsung memasuki kamar Adam. *** "Sudah kubilang jauhkan istrimu dari anakku!" Bentak Alia yang menerobos masuk ke dalam kamar Adam dan membuat Dimas menjadi kaget. "Anakmu bisa bangun kalau adek berteriak begitu!" Tukas tegas Dimas yang berjaga-jaga kalau Adam masih tertidur pulas dikarenakan dosis obat tidur yang diberikan dokter sebelumnya. "Kalau gitu aku mau bicara sama mas diluar" "oke!" Dimas langsung bangkit dan menyusul Alia yang sudah keluar duluan. Diluar, keduanya saling bertatapan mata satu sama lain yang memperlihatkan kedua mata Alia yang sedikit sembab dan berair selayaknya orang yang habis menangis. "kamu habis menangis?" Tanya Dimas tanpa tahu, Alia langsung menjadi salah tingkah setelah mendengarkan ucapan Dimas barusan. "Itu bukan urusan mas, intinya besok aku gak mau lihat istri mas ada dihadapan anakku " "Alia!" Dimas menggenggam pundak mungil Alia, dan semakin berjalan mendekat ke arah wanita itu. "Angela itu kan ibu tirinya Adam, jadi sudah seharusnya mereka saling mengenal " "Maaf mas, tapi aku tak ikhlas kalau Angela mencuri perhatian anakku! Sudah cukup dia mengambil perhatianmu jadi tolong!" "dia gak pernah mengambil perhatianku, aku saja yang dulu gak pernah cinta denganmu" Alia langsung melepaskan tangan Dimas dari bahunya. "Maafkan aku, aku khilaf! tapi yang jelas tolong katakan pada Angela jangan pernah sedikitpun menampakkan dirinya dihadapan anakku" Alia langsung masuk kedalam ruangan kamar Adam. "Biar giliranku yang menjaganya, nanti 3 jam lagi mas bisa datang kesini buat menemani Adam kemoterapi" Sambung Alia yang langsung masuk kedalam. Didalam ruangan , Alia menggenggam erat jemari Adam dan menangis pelan supaya tidak membuat Adam terbangun. Rasanya hati wanita itu sangat terluka perih, bagaimana tidak terluka bila mantan suaminya yang masih sangat dicintainya itu mengatakan secara terang-terangan bahwa ia tidak pernah sekalipun mencintainya. "Arghh..." teriak Adam secara tiba-tiba yang membuat Alia berhenti berlarut-larut dalam kesedihan. "kenapa sayang? bunda disini sama Abang!" Ucap Alia setengah panik, tetapi Adam masih mengerang kesakitan sambil menangis tersedu-sedu dan memegang erat jemari Alia. "yang mana yang sakit nak? Abang bilang sama bunda" "semuanya sakit!" jawab Adam sambil terus merintih menahan sakit dan membuat Alia menekan tombol rumah sakit yang ada disebelah Adam untuk memanggil suster, selang tak beberapa lama beberapa suster dan dokter Fahri datang memberikan beberapa obat yang terasa asing bagi Alia yang perlahan membuat Adam merasa tenang kembali. "Bunda disini, nak" alia langsung meraih tangan Adam dan memegangnya erat , Adam hanya mengangguk saja dan berusaha menahan emosinya. "Alia, kamu gak usah terlalu khawatir ya ! anakmu ini adalah anak yang kuat kok jadi jangan pernah berpikiran buruk tentang kondisinya" Dokter Fahri mencoba menyemangati Alia yang merasa kacau. "Terimakasih dok" jawab singkat Alia yang enggan memperdulikan perhatian dokter Fahri, ia masih larut menatap Adam yang perlahan mulai mengantuk dan tertidur pulas disamping bundanya. "Dokter bisa keluar dari sini lagian Adam sudah baikan kok, gak enak dilihat orang nantinya" Ucap Alia tegas yang membuat dokter Fahri yang merupakan teman terdekatnya saat ini tak bisa berkata apa-apa selain menurut saja. "perlu ku beritahu Dimas?" "tidak usah, saya gak ingin kami menjadi beban pikiran mas Dimas! ia lagi bersama istrinya" "kau cemburu?" Tanya dokter Fahri secara terang-terangan yang membuat Alia menatap kearah lelaki itu secara tajam. "Pergilah dok, aku mohon!" "Baiklah!" Jawabnya yang langsung berlalu dari hadapan wanita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD