Alexa membantu Arthur membuka pakaiannya. Bau anyir jelas menusuk indera penciuman Alexa. Entah darah berapa orang yang menempel di baju pria itu. Yang jelas, Alexa cukup tahu diri untuk tidak membuat masalah lebih dengan Arthur. Selain karena keadaan emosi pria itu yang sedang tidak normal, juga karena tatapan pria itu terus mengintimidasi setiap pergerakan Alexa yang sedang membantu menanggalkan bajunya. "Bisakah Anda berhenti menatapku seperti itu?" Kali ini Alexa tidak bisa menahan kegusarannya. Wajah mungilnya mendongak, menatap lurus pada sepasang mata elang yang menusuk telak. "Kau terus marah tanpa sebab. Aku tidak tahu lagi harus melakukan apa. Pria lebih sulit dimengerti." Setelah meluapkan kekesalannya, Alexa hendak berbalik meninggalkan Arthur. Namun, belum sempat wanita itu

