Jeda Sebelum Rima

1113 Words
Langkah kakiku terasa berat, menyeret bayang bayang kelelahan di atas aspal yang mulai mendingin setelah seharian dipanggang matahari. Sebagai seorang mahasiswa baru di jurusan Sastra Indonesia, aku merasa hari ini adalah sebuah bab yang terlalu padat dengan konflik, metafora, dan emosi yang meledak meledak. Aku yang biasanya lebih suka meringkuk di balik tumpukan buku, baru saja melakukan sesuatu yang melampaui batasan karakterku sendiri, mendeklamasikan puisi cinta di depan ribuan pasang mata demi seorang kakak tingkat bernama Araya. Setiap langkah menuju kos kosanku dipenuhi oleh gema suara Arlo yang masih terngiang di telinga. Teman satu kelompokku yang energinya seolah tak pernah habis itu benar benar tahu cara mengubah suasana romantis menjadi sebuah panggung komedi yang riuh. Namun, saat gerbang kos kosan yang tidak jauh dari kampus itu mulai terlihat, rasa puas yang sempat membuncah di lapangan tadi perlahan menguap, digantikan oleh kecemasan yang merayap seperti kabut malam. Tepat di depan gerbang, aku melihat pemandangan yang membuat jantungku berhenti berdetak sejenak. Araya sedang berada di atas motor matic miliknya, mengenakan jaket almamater yang tersampir di bahunya, bersiap untuk pergi. Lampu motornya menyala terang, membelah keremangan senja yang mulai jatuh di gang sempit itu. "Kak Araya!" panggilku, spontan. Suaraku terdengar sedikit parau, mungkin karena debu lapangan yang masih mengendap di tenggorokan . Araya menoleh. Dalam cahaya lampu motor yang remang, wajahnya tampak sedikit pucat, atau mungkin itu hanya perasaanku saja. Dia tidak membalas sapaanku dengan kata kata. Dia hanya memberikan sebuah senyuman tipis, senyum yang selama ini kukenal sebagai keramahannya yang tulus, namun kali ini terasa begitu singkat dan terburu buru. Tanpa sepatah kata pun, dia memutar gas dan melesat pergi, meninggalkan kepulan asap tipis dan keheningan yang menyesakkan. Aku berdiri terpaku di depan gerbang, menatap punggungnya yang menjauh hingga ditelan tikungan gang. Senyum itu, apakah itu senyum formalitas? Ataukah itu senyum yang menyembunyikan rasa tidak nyaman? Pikiran negatif mulai merajut narasi di kepalaku. Sebagai mahasiswa sastra, aku terbiasa mencari makna di balik sebuah simbol, dan senyum singkat Araya tadi terasa seperti sebuah titik setelah kalimat yang belum selesai. Aku masuk ke dalam kamarku dengan perasaan gelisah yang luar biasa. Aku merebahkan diri di kasur, menatap langit langit kamar yang tampak lebih suram dari biasanya. Apakah puisi tadi siang terlalu berlebihan? Apakah aku sudah mempermalukannya di depan teman temannya? Di dunia OSPEK yang penuh dengan hirarki senioritas, tindakanku mungkin dianggap sebagai sebuah kelancangan yang tak termaafkan. Bagaimana jika Kak Satria atau Kak Vanya menegurnya karena ulahku? "Bodoh kamu, Raka!" maki batin ku sendiri. Aku merasa seperti seorang penulis amatir yang menghancurkan plot ceritanya sendiri dengan satu tindakan impulsif. Malam semakin larut, dan suara jangkrik mulai kalah oleh suara perutku yang menuntut haknya. Rasa lapar akhirnya menang atas kegelisahan. Aku berjalan menyusuri gang menuju warung makan di ujung jalan. Aku sampai di sebuah warung bakmi Jawa yang aromanya sudah tercium dari jarak sepuluh meter. Saat aku baru saja menyuap sendok pertama, suara deru motor yang familiar terdengar berhenti tepat di depan warung. Aku menoleh, dan sekali lagi, semesta seolah sedang mempermainkan naskah hidupku. Araya baru saja turun dari motornya, tampak sedikit berantakan dengan rambut yang sedikit kacau terkena angin jalanan. Dia melihatku, dan kali ini dia tidak berpaling. Araya melangkah masuk ke dalam warung yang kecil itu dan duduk di kursi plastik tepat di depanku. "Kak Araya," aku membuka suara, tidak tahan dengan tekanan kesunyian ini. Dia mendongak, menatapku dengan mata yang tampak sedikit lelah. "Iya, Raka?" "Saya, saya ingin minta maaf," kataku dengan nada yang tulus. Araya mengerutkan keningnya, tampak bingung. "Minta maaf? Untuk apa?" "Kejadian tadi siang di lapangan," jelasku dengan cepat. "Saya merasa kalau puisi tadi siang mungkin menyinggung Kakak atau membuat Kakak tidak nyaman. Apalagi saat sore tadi Kakak cuma tersenyum dan langsung pergi, saya jadi berpikir kalau Kakak marah pada saya." Untuk sesaat, wajah Araya tetap datar, lalu perlahan, sebuah tawa kecil yang sangat halus keluar dari bibirnya. "Raka, kamu ini ternyata terlalu banyak berpikir, ya?" katanya setelah tawanya mereda. "Tadi sore aku buru buru! Adikku, tiba tiba pingsan dan harus dibawa ke rumah sakit. Aku baru saja kembali dari sana untuk memastikan kondisinya stabil. Makanya aku tidak sempat bicara banyak padamu." Aku mengembuskan napas panjang, sebuah perasaan lega yang hampir membuatku ingin ikut tertawa. "Oalah, syukurlah kalau begitu, Kak! Maksud saya, syukurlah kalau adik kakak kondisinya sudah stabil. Semoga adik Kakak cepat sembuh." "Terima kasih, Raka. Dia cuma kelelahan, biasa mahasiswa baru juga," Araya tersenyum, kali ini senyumnya jauh lebih santai. Aku terdiam sejenak, mengumpulkan sisa sisa keberanian. "Lalu, soal kejadian tadi siang? Kakak tidak marah kan saya pilih sebagai objek puisi?" Araya kembali menundukkan wajahnya, dan aku bisa melihat rona merah perlahan merayap di pipinya. "Jujur," dia memulai dengan suara yang sangat pelan, nyaris berbisik. "Aku suka dengan puisi itu. Kata katanya sangat tulus. Aku jarang sekali mendengar seseorang bicara seperti itu di depan umum. Tapi," lanjut Araya, kali ini dia menatapku kembali. "Aku juga sangat malu, Raka! Kamu harus tahu, saat itu bukan cuma matamu yang memandangku. Ada ribuan pasang mata lainnya di lapangan itu. Aku ini orang yang tidak suka jadi pusat perhatian, dan kamu baru saja membuatku jadi pusat semesta dalam waktu lima menit!" Aku terkekeh pelan. "Maafkan saya untuk bagian itu, Kak. Sebagai mahasiswa Sastra, kadang saya lupa kalau kata kata yang indah bisa jadi pedang bermata dua jika tidak diletakkan di konteks yang tepat." "Tapi tidak apa apa," Araya menyambung dengan cepat. "Itu adalah salah satu hal paling berani yang pernah aku lihat dilakukan oleh seorang mahasiswa baru. Dan, itu membuat hari keduaku sebagai panitia jadi tidak terlalu melelahkan." Kami menghabiskan malam itu dengan mengobrol. Saat kami akhirnya selesai makan dan berjalan kaki kembali menuju kos, suasana terasa berbeda. "Besok jangan telat lagi ya, Raka!" kata Araya saat kami sampai di depan kamarku. "Aku tidak mau berangkat bareng lagi dan jadi bahan gosip Arlo!" "Siap, Kak! Saya akan pasang tiga alarm sekaligus!" balasku sambil tersenyum lebar. Araya mengangguk, lalu menaiki tangga menuju lantai dua. Sebelum dia benar benar menghilang, dia menoleh sekali lagi. "Raka, terima kasih untuk puisinya. Dan terima kasih untuk makan malamnya!" Aku masuk ke dalam kamar, menyalakan lampu, dan duduk di depan meja belajarku. Aku mulai menuliskan kalimat pertama untuk bab hari ini. 'Terkadang, sebuah senyum yang singkat bukan berarti penolakan, melainkan sebuah jeda sebelum sebuah cerita yang lebih indah dimulai.' Aku tahu, esok hari di lapangan OSPEK, Arlo pasti akan kembali mengolok olokku. Kak Satria mungkin akan tetap berteriak, dan matahari tetap akan membakar kulitku. Namun, semua itu tidak lagi menjadi masalah. Karena kini aku tahu, di antara ribuan baris kata kata yang akan kupelajari di jurusan Sastra Indonesia ini, ada satu nama yang akan selalu menjadi bait favoritku. Dan perjalananku sebagai mahasiswa baru, baru saja menemukan ritme yang paling sempurna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD