Bait yang Jatuh di Lapangan

1084 Words
Matahari sudah mencapai puncaknya, menggantung tepat di atas kepala seolah ingin menguji daya tahan kami. Lapangan universitas yang luas ini masih dipenuhi ribuan pasang kaki yang berderap dalam irama seragam, namun ketegangan sejak pagi mulai sedikit mencair. Aku berdiri di barisan depan Kelompok Sembilan, mencoba mengatur napas yang masih terasa berat setelah sesi lari kecil tadi. Sebagai mahasiswa baru jurusan Sastra Indonesia, aku merasa setiap helai udara yang kuhirup membawa beban metafora yang belum sempat kutuliskan. Tiba-tiba, suara bariton Kak Satria kembali menggelegar melalui pengeras suara. Kali ini nadanya tidak lagi membentak. "Perhatian semuanya! Kita istirahat sejenak dari materi kedisiplinan. Sekarang, saatnya kita uji kemampuan improvisasi kalian!" seru Kak Satria sambil tersenyum licik, sebuah senyum yang membuat perasaanku mendadak tidak enak. "Saya ingin perwakilan beberapa kelompok maju ke depan. Tantangannya sederhana, buatlah puisi singkat secara spontan yang ditujukan untuk salah satu mahasiswi di kelompok kalian sendiri. Harus romantis, atau kalian lari keliling lapangan!" Gumam kegelisahan dan tawa kecil pecah di antara barisan. Ini adalah strategi panitia untuk mencairkan suasana, sebuah metamorfosis dari ketegangan menuju interaksi yang lebih santai. Namun bagiku, ini adalah ujian harga diri. "Oke, dari Kelompok Sembilan... kamu! Yang gaya rambutnya paling modis!" Kak Satria menunjuk tepat ke arah Arlo. Arlo tersentak, namun dasar jiwanya penuh percaya diri, dia justru melangkah maju dengan gaya layaknya model di atas catwalk. Teman sekelompok kami mulai bersorak. Arlo berdiri di tengah lapangan, menatap seorang mahasiswi di barisan depan yang sudah menahan tawa. Dia berdeham, memperbaiki kerah kemejanya yang lecek, lalu mulai bicara dengan nada yang dibuat-buat berat. "Wahai gadisku di barisan sembilan..." Arlo memulai, tangan diletakkan di d**a. "Wajahmu secerah matahari siang ini, sampai-sampai sunscreen SPF 50-ku menyerah kalah melihat kilaumu. Jika cinta adalah sebuah kuis, aku rela remedial selamanya asal bisa duduk di sampingmu sambil makan gorengan kantin yang minyaknya berkilau seperti matamu." Tawa meledak seketika. Seluruh lapangan riuh oleh tawa mahasiswa, bahkan beberapa kakak tingkat tak sanggup menahan geli. Arlo memang ahli mengubah suasana menjadi komedi segar. Dia membungkuk hormat layaknya aktor teater kelas dunia sebelum kembali ke barisan dengan wajah tanpa dosa. "Luar biasa, Arlo! Kamu lebih cocok masuk Teknik Mesin karena gombalanmu terdengar seperti suara knalpot rusak!" ejek Kak Satria yang ikut tertawa. "Sekarang, setelah komedi gagal itu, saya ingin satu lagi dari Kelompok Sembilan. Mana yang namanya Raka?" Jantungku rasanya seperti melompat keluar. Aku melirik ke arah barisan panitia, dan di sana, aku melihat Araya. Dia berdiri sedikit di belakang Kak Satria, memegang papan klip dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia tampak malu-malu melihat kerumunan yang riuh. Senyum tipisnya yang murah hati masih terlukis di sana, memberikan keberanian yang merayap ke dalam nadiku. Aku melangkah maju. Langkahku terasa jauh lebih berat daripada Arlo. Sebagai mahasiswa Sastra, aku tahu bahwa kata-kata memiliki kekuatannya sendiri, dan aku tidak ingin sekadar menjadi pelawak. Aku berdiri di titik yang sama, namun mataku tidak tertuju pada mahasiswi di kelompokku. Suasana mendadak senyap. Mungkin mereka menantikan "pujangga" sebenarnya beraksi. Aku menarik napas dalam, membiarkan aroma tanah dan panas matahari menjadi latar belakang narasiku. "Maaf, Kak Satria," suaraku terdengar tenang namun tegas melalui mikrofon. "Saya tidak akan membacakan puisi untuk teman di kelompok saya. Karena bagi seorang pencinta kata, kejujuran adalah rima yang paling indah." Bisikan mulai terdengar. Aku bisa merasakan tatapan tajam Kak Vanya dan seringai penasaran Kak Satria. Aku memutar tubuh, menghadap ke arah panitia, tepat ke arah Araya berdiri. Araya terkejut, matanya membulat kecil, dan dia tampak ingin bersembunyi di balik papan klipnya. "Puisi ini untuk seseorang yang mungkin belum menyadari, bahwa diamnya adalah bait yang paling sulit kutuliskan," aku memulai dengan suara yang melunak. Di tengah lapangan yang terbakar terik, Aku menemukan oase dalam sepasang mata yang tenang. Tidak ada teriakan yang sanggup meruntuhkan teduhmu, Dan tidak ada kata yang sanggup merangkai betapa tulus senyum itu tersimpan. Engkau adalah jeda di antara kalimat-kalimatku yang berantakan, Sebuah titik di mana aku ingin berhenti sejenak, Hanya untuk memastikan bahwa kebaikan bukan sekadar teori di buku sastra. Terima kasih, untuk satu senyum yang membuat matahari ini terasa jauh lebih bersahabat. Keheningan yang terjadi kali ini berbeda. Bukan karena takut, melainkan karena tersihir. Untuk beberapa detik, tidak ada suara. Romansa yang tulus seolah merayap di celah-celah panas, mengubah suasana kaku menjadi sesuatu yang jauh lebih intim. Aku melihat Araya. Pipinya merona merah padam. Dia menunduk dalam-dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya yang malu, namun senyum manis yang tertahan di bibirnya tidak bisa berbohong. Dia tampak sangat cantik dalam kebingungan yang anggun itu. Tiba-tiba, tepuk tangan pelan terdengar, diikuti sorakan penuh rasa kagum. Kak Satria bahkan terpaku sejenak sebelum ikut bertepuk tangan. Namun, di tengah momen puncak itu, sebuah suara cempreng membelah suasana. "WADUH! Raka! Itu puisi atau mantra pengasih?" Arlo berteriak sambil melambaikan tangan heboh. "Habis ini jangan lupa panggil saya jadi saksi nikah ya, Kak Araya! Makan-makannya jangan lupa!" Tawa kembali meledak, kali ini penuh kehangatan. Arlo memang selalu punya cara untuk "merusak" momen puitis dengan kejujuran jenakanya. "Sudah, sudah! Raka, kembali ke barisan!" Kak Satria tertawa sambil menggeleng. "Araya, kamu jangan dengarkan dia, nanti kamu beneran jatuh cinta sama anak baru ini!" Araya hanya menggeleng pelan sambil tetap menunduk, namun aku sempat melihatnya melirik ke arahku sebuah tatapan yang menyiratkan bahwa kata-kataku telah sampai ke tempat yang kutuju. Aku kembali ke barisan dengan langkah ringan. Arlo langsung merangkul pundakku kasar. "Hebat kamu, Raka. Aku tadi cuma main kasar, kamu mainnya halus sekali. Langsung kena ke jantung kating paling pendiam se-Fakultas!" "Aku cuma jujur, Ar," bisikku sambil tersenyum tipis. "Jujur atau mau modus? Tapi keren, asli. Lihat tuh Kak Araya, masih kipas-kipas muka pakai papan klip. Pasti lagi salting parah," goda Arlo lagi. Sesi tantangan itu berakhir dengan suasana yang jauh lebih akrab. Hari kedua OSPEK memberikan pelajaran penting bahwa di jurusan Sastra, kata-kata bukan hanya untuk dibaca di atas kertas, tapi untuk dihidupkan di tengah lapangan. Saat barisan dibubarkan untuk istirahat, aku melihat Araya berjalan menjauh bersama Kak Vanya. Sebelum menghilang, dia menoleh sekali lagi. Tidak ada senyum lebar, hanya sebuah anggukan kecil dan tatapan yang seolah berkata, 'Sampai bertemu nanti di kos'. Aku menarik napas panjang. Perjalanan ini masih sangat panjang, masih banyak karakter yang mungkin akan kutemui nanti di kelas. Namun untuk saat ini, bab tentang lapangan OSPEK ini adalah favoritku. "Ayo, Raka! Katanya mau makan nasi padang!" Arlo menarik lenganku. "Iya, iya, sabar!" Kami berjalan meninggalkan lapangan, meninggalkan debu yang berterbangan dan sisa-sisa rima yang masih menggantung di udara. Aku tahu, setelah hari ini, namaku bukan lagi sekadar maba yang pendiam, tapi seseorang yang berani menyuarakan hati. Dan bagiku, itulah sastra yang sesungguhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD