Hari pertama OSPEK berakhir dengan rasa pegal yang menjalar dari telapak kaki hingga pangkal leher; seolah seluruh sendiku telah digantikan tumpukan batu bata. Begitu namaku dipanggil dalam absensi kepulangan, aku segera melesat keluar dari gerbang kampus, meninggalkan riuh rendah yel-yel yang masih diteriakkan kelompok lain. Kos-kosanku hanya berjarak sepuluh menit berjalan kaki, melewati gang sempit yang dipenuhi aroma gorengan menggoda.
Sampai di kamar, aku langsung menjatuhkan diri ke atas kasur tipis yang terasa seperti awan paling empuk di dunia. Kamar tiga kali tiga ini adalah wilayah kekuasaanku sekarang—tempat aku akan merajut mimpi sebagai mahasiswa Sastra. Langit-langit kamar yang sedikit berdebu menjadi saksi bisu betapa melelahkannya hari ini. Namun, bayangan senyum Araya terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak yang enggan berhenti. Ada rasa penasaran yang menggelitik, sebuah anomali dalam logikaku sebagai pengamat kata-kata.
Malam tiba membawa udara yang lebih bersahabat, namun diiringi orkestra keroncongan dari perutku yang hanya diisi sepotong roti sejak siang. Aku melirik jam: pukul tujuh malam. Dengan langkah gontai, hanya mengenakan kaus oblong hitam dan celana pendek, aku memutuskan mencari makan. Mi tek-tek di ujung gang sepertinya bisa menjadi penawar lapar.
Saat sedang mengunci pintu dan melangkah menuju gerbang kos, aku melihat sosok familiar berdiri di depan pagar, tampak ragu-ragu untuk melangkah keluar. Dia mengenakan kardigan rajut berwarna krem, rambutnya kini dibiarkan tergerai lembut.
"Kak Araya?" suaraku lolos lebih cepat dari pikiran.
Perempuan itu menoleh, matanya membulat terkejut.
"Eh... Raka? Kamu yang tadi di Kelompok Sembilan, kan?" tanyanya dengan nada lembut dan sedikit malu-malu yang khas.
"I-iya, Kak. Kakak... kos di sini juga?" tanyaku tak percaya. Dari sekian banyak sudut di kota ini, bagaimana mungkin aku berakhir di gedung yang sama dengan kating yang baru saja kusematkan dalam bab pertama ingatanku?
Araya mengangguk pelan, jemarinya memainkan ujung kardigan sebuah gestur yang menunjukkan kegugupan.
"Iya, aku di lantai dua, kamar 204. Kamu di bawah?"
"Iya, Kak. Nomor 105. Benar-benar kebetulan yang... luar biasa," jawabku. Aku mencoba mencari kata yang lebih puitis, namun hanya 'luar biasa' yang sanggup keluar dari mulutku yang kaku.
"Mau keluar cari makan juga?" Araya memberanikan diri menatap mataku sekilas sebelum kembali menunduk ke arah sandalnya.
"Iya, Kak. Lapar sekali setelah berdiri seharian di bawah komando Kak Vanya," celetukku, mencoba menyelipkan humor untuk mencairkan kecanggungan.
Araya terkekeh pelan.
"Vanya memang begitu kalau sedang bertugas, tapi aslinya dia baik, kok. Kalau begitu, mau bareng? Aku juga bingung mau makan apa. Mungkin kalau jalan berdua bisa lebih mudah memutuskan."
Aku tak punya alasan menolak hadiah semesta ini. Kami berjalan berdampingan keluar gerbang. Malam terasa lebih hidup dengan lampu jalan yang temaram. Meski berjalan bersama, ada jarak sekitar tiga puluh sentimeter di antara kami—jarak aman yang diciptakan oleh rasa segan dan degup jantung yang tidak beraturan.
"Raka, kenapa pilih Sastra Indonesia?" suara Araya memecah keheningan saat kami melewati sebuah toko buku kecil.
Aku terdiam sejenak, mencari jawaban yang tidak klise.
"Mungkin karena saya merasa bahasa adalah satu-satunya hal yang bisa membuat saya tetap waras, Kak. Di dunia yang semakin bising, tulisan adalah tempat bersembunyi yang paling nyaman," jawabku jujur.
Araya menoleh, senyumnya kali ini lebih lebar, memancarkan apresiasi.
"Jawaban yang bagus. Jarang ada maba yang punya filosofi begitu. Kebanyakan hanya bilang 'karena suka baca' atau 'karena tidak diterima di jurusan lain'."
"Kalau Kakak sendiri?" aku memberanikan diri bertanya balik.
"Sama seperti kamu, awalnya. Tapi sekarang aku lebih tertarik pada bagaimana kata-kata bisa menyembuhkan atau menyakiti seseorang. Sastra itu... dalam," jawabnya lirih, namun berbobot.
Kami berakhir di sebuah warung bakmi Jawa. Selama menunggu pesanan, percakapan mengalir santai. Kami tidak lagi bicara soal OSPEK, melainkan tentang buku-puku Pramoedya, kopi pahit di kantin, hingga hobi Araya memotret langit senja. Aku menyadari satu hal, Araya adalah pendengar yang luar biasa. Setiap kali aku bicara, dia menatapku dengan perhatian penuh, seolah setiap kataku adalah bagian dari naskah penting yang sedang ia pelajari.
Makan malam itu berakhir dengan perasaan hangat yang bukan berasal dari kuah bakmi. Saat tiba di depan kamar masing-masing, Araya melambaikan tangan kecilnya.
"Selamat istirahat, Raka. Jangan lupa setel alarm, besok kita kumpul lebih pagi," pesannya dengan senyum manis sebelum menaiki tangga.
"Selamat istirahat, Kak," balasku singkat. Di dalam hati, aku merayakan kemenangan kecil malam ini.
Namun, kesialan sering kali datang tepat setelah keberuntungan besar. Keesokan paginya, aku tidak mendengar suara alarm. Entah karena terlalu lelah atau mimpi yang terlalu indah, aku baru terjaga saat cahaya matahari menerobos masuk. Jam ponsel menunjukkan pukul 06.45.
"Gawat!" Aku melompat dari kasur, menyambar handuk, dan mandi secepat kilat. Saat sedang sibuk mengancingkan kemeja dengan tangan gemetar, terdengar ketukan keras di pintu.
"Raka? Raka, kamu sudah bangun?"
Suara itu. Araya. Aku segera membuka pintu dengan rambut basah kuyup dan kemeja berantakan. Araya berdiri di sana, sudah rapi dengan almamaternya. Wajahnya cemas.
"Aku tadi lewat dan tidak mendengar suara apa pun. Aku takut kamu kesiangan, ternyata benar."
"I-iya, Kak. Maaf, saya benar-benar kebablasan."
"Sudah, jangan banyak bicara. Cepat siapkan tasmu. Aku bawa motor, kita berangkat bareng supaya cepat. Kalau jalan kaki, Kak Satria atau Kak Vanya pasti akan menghukummu habis-habisan," titahnya tegas namun lembut.
Tanpa pikir panjang, aku menyambar tas dan mengikuti Araya ke parkiran. Dia mengendarai motor matic-nya dengan lincah menembus tiap tikungan gang sempit. Aku duduk di belakang dengan kaku, namun aroma parfumnya yang lembut kembali menyapa, memberikan ketenangan di tengah kepanikan.
Kami tiba di gerbang kampus pukul 07.05. Lapangan sudah dipenuhi barisan rapi. Araya memarkir motornya terburu-buru.
"Lari ke barisanmu, Raka! Aku lewat jalan belakang," bisiknya sambil mendorong bahuku pelan.
Aku berlari sekuat tenaga. Begitu sampai di barisan Kelompok Sembilan, aku berdiri tegap dengan napas terengah. Di sampingku, Arlo menatapku dengan binar nakal yang menyebalkan.
"Ehem... ehem..." Arlo berdeham sengaja. "Wah, wah, ada yang berangkat bareng bidadari kampus, nih."
"Diam, Arlo. Aku cuma telat dan dia bantu aku," bisikku tajam.
"Bantu, ya? Sampai dibonceng mesra begitu? Satu kos, berangkat bareng... kayaknya bab satu novelmu ini genrenya sudah romansa murni," goda Arlo sambil menyikut lenganku.
"Tadi teman-teman juga lihat, lho. Siap-siap saja jadi bahan interogasi, Tuan Pujangga."
Aku hanya menatap lurus ke depan, mencoba mengabaikan godaan Arlo yang membuat wajahku terasa lebih panas dari matahari pagi. Di kejauhan, kulihat Araya sudah bergabung dengan barisan senior. Dia sempat melirik ke arahku, dan saat mata kami bertemu, dia memberikan anggukan kecil yang samar, sebuah rahasia yang hanya diketahui kami berdua di tengah ribuan orang.
OSPEK hari kedua baru dimulai, dan meski aku akan diolok-olok habis-habisan oleh Arlo, aku tahu setiap detik setelah ini akan memiliki makna yang jauh lebih dalam.