Chapter 8

1827 Words
Chapter 8 . . . . Tok.. Tok. Tok.. Suara ketukan pintu berkali-kali terdengar, tapi Sarada tetap terduduk diatas ranjang sambil menatap langit biru dari jendela kamar yang dia buka. 'Kenapa?' gumam batin Sarada. "Sayang, buka pintunya. Mama ingin bicara."  Sarada sepulangnya dari kediaman Sasuke. Dia langsung mengurung diri di kamar, Sakura menyusulnya tapi, pintu langsung ditutup oleh Sarada. Sakura mengetuk pintu dan berharapan putri kesayanganya itu mau menerima penjelasannya. "Mungkin Sara, butuh waktu." Sakura menoleh ke arah kanan, ia menghela nafas saat Sai menasehatinya.  "Maaf kalau aku ikut campur, tapi posisi Sara, saat ini ingin sendiri." "Iya, aku tau soal itu Sai. Aku hanya ingin menjelaskan semuanya."  Sakura menatap tegas ke arah wajah Sai, Sai kini sedang tersenyum penuh arti, entah apa yang sedang Sai pikirkan?  "Ada yang ingin aku tanyakan, boleh kita berbincang di ruang tamu?" tanya Sai. Sakura pun tersenyum seakan paham maksud dari Sai. Sakura mengikuti kemauan Sai. Mereka berdua menuju ruang tamu, Sakura pergi menuju dapur menyiapkan minuman juga cemilan lalu ia meletakan, dua gelas jus jeruk dan cemilan diatas meja dekat sofa. Mereka berdua hanya duduk tanpa ada yang memulai bahan pembicaraan. Sai mulai menyeruput segelas jus jeruk yang sudah disajikan.  "Apa aku boleh bertanya sesuatu yang pribadi? Nona Haruno?" "Dasar kau ini jangan memulai pembicaraan dengan cara aneh," ucap Sakura. "Ekhemm.. Maaf."  "Kau ingin menanyakan apa? Kelihatan serius sekali." "Aku ingin tau kenapa tuan Sasuke, terkadang mengatakan dia menyesal?" "Maksudmu apa? Aku tidak mengerti?" tanya Sakura yang terlihat penasaran dengan ucapan Sai. "Intinya begini. Tuanku selalu berkata aku menyesal, aku ingin berubah andai ada kesempatan pasti akan aku lakukan." "Mm.. Maksudmu Sasuke kenapa bisa begitu? Kau ingin tau apa penyebabnya?"  Sai mengangguk, Sakura mulai menghela nafas. "Dengar ini baik-baik Sai." "Baik." "Sasuke, seperti itu karena masa lalu kami berdua sangat aneh." Sai hanya diam, mendengarkan yang dikatakan oleh Sakura. "Mungkin kau akan merasa tidak terima jika aku membuka masa laluku." "Aku akan terima," jawab Sai. "Baiklah ...." Sakura pun menceritakan pertemuannya dengan Sasuke. Sai hanya bisa terdiam tak percaya dengan apa yang Sakura ceritakan, karena dimata Sai, Sasuke adalah sosok tuan yang baik, ramah dan peduli pada orang lain.  "Tu-tunggu sebentar apa kau bilang? Tuan memintamu agar menggugurkan kandunganmu?" "Iya." Sai mulai terpancing emosi saat mendengar semua cerita Sakura apalagi di bagian. Sakura harus menggugurkan kandungannya. "Aku hanya bisa cerita secara singkat. Sai, aku harap kau tidak marah dengan Sasuke karena dia sudah berbeda bukan Sasuke si b******k yang aku kenal dulu." "Aku sama sekali tidak pernah membayangkan kalau tuanku seperti itu." "Sudah-sudah itukan masa yang sudah terlewati."  Sai mulai mengatur nafas dan mencoba menenangkan dirinya dari emosinya yang tersulut karena mendengarkan cerita Sakura tadi. Ting.. Nuung.. Suara bel membuat percakapan Sakura dan Sai terhenti. "Sebentar Sai aku tinggal dulu." Sai hanya membalas senyum, Sakura pun ikut tersenyum lalu dia menuju pintu keluar rumahnya. Clekkh. Sakura mulai membentuk sebuah senyuman, saat Sasori mengaruk kepala belakangnya sambil berucap, "apa kabar." Dengan nada suara yang ramah sedikit canggung.  "Kabarku baik. Ayo masuk." Sasori mulai melangkah maju memasuki pintu rumah yang terbuka.  "Sakura, tadi pagi kau kemana?" "Jalan-jalan," jawab Sakura diiringi senyumnya. "Tumben," gumam Sasori. Saat di ruang tamu, pandangan Sasori tertuju pada Sai yang sedang menikmati camilan keripik kentang.  "Dia?" "Dia, yang pernah aku ceritakan waktu itu. Ini pertama kali kau melihatnya kan?" "Mm," Sahut Sasori, dia mulai melangkah menuju kearah Sai. "Salam kenal," ucap Sasori dengan nada suara datar diikuti uluran tangannya. Sai mulai berdiri dari duduknya dan membalas uluran dari Sasori. Mereka berdua hanya saling menatap tajam.  "Namaku, Sasori Akasuna." "Saya, Sai Shimura."  "Sakura, Sarada mana?" tanya Sasori sambil melepas jabatan tangan. "Dia di kamarnya," jawab Sakura lirih. "Mm.. Kau kenapa Sakura?"  Sai memperhatikan Sasori dan Sakura dalam diamnya. Sakura pun mulai bicara jujur, Sasori hanya menghela nafas panjang saat mendengar penjelasan Sakura bahwa Sarada sudah tahu siapa sebenarnya Sasuke.  "Kau disini saja. Aku ingin menemui Sarada dulu." ucap Sasori yang mulai melangkahkan kakinya menuju kamar Sarada. . . . . Sarada menghela nafas beberapa kali dan mulai menyiapkan seragam sekolah musim gugurnya. Baju sailor berwarna putih bersih, rok hampir selutut hitam, sweater coklat juga jas senada dengan warna roknya, seragam sekolah sudah ia siapkan untuk besok agar lebih praktis. Musim gugur adalah akhir musim panas dimana suhu mulai mendingin karena mendekati musim dingin.  Tok.. Tok.. Tok.. Tok... "Sarada, ini paman Sasori." Sarada mulai melangkahkan kakinya setelah meletakan seragamnya di lemari baju. Sasori hanya bisa tersenyum saat Sarada membuka pintu kamarnya.  "Boleh paman masuk?" "Mm..," jawab singkat Sarada. Sasori mulai melangkah memasuki kamar Sarada menutup pintu kamarnya setelah Sasori masuk. Kamar yang terlihat nyaman dan tertata rapi. Buku-buku di meja belajar sudah tertata juga tempat tidur terlihat sangat rapi. Sasori mulai duduk di tepi tempat tidur sambil memperhatikan raut wajah Sarada yang kelihatan sedih. "Tumben paman ke kamarku?" "Sekali-kali tidak apa-apakan? Ekmm.. Begini paman langsung ke intinya saja. Kenapa kau, mengurung diri di kamar?" "Aku sedang ingin sendiri," jawab Sarada. Dia mulai ikut duduk bersama Sasori.  "Karena ayahmu? Kau jadi seperti ini? Sarada yang paman kenal bisa sedih juga ternyata," ucap Sasori panjang lebar. "Apa Mama, menceritakan semua pada paman?" "Iya, semuanya," jawab singkat Sasori. "Apa paman dekat dengan dia, saat masih sekolah?"  Sasori hanya tersenyum. "Paman tidak terlalu mengenalnya, yang paman tau, dia adalah orang yang populer. "Mm, jadi begitu ya," gumam Sarada. "Sarada, kenapa kau tidak menyukainya?" "Karena dia orang b******k tidak peduli pada Mama dan aku."  Sasori mulai mengacak-acak surai hitam Sarada.  "Kau ini bocah yang aneh, berpikir hal yang berat-berat dan rumit." "Paman, tidak mengerti dasar bodoh!"  Sasori langsung memanyunkan bibirnya sambil menatap kesal.  "Begini saja, paman beri saran bersikaplah biasa saja-." "Paman keluarlah!" ucap Sarada sebelum Sasori menyelesaikan bicaranya.  "Baiklah, maaf jika paman menganggu," Sasori keluar dari kamar Sarada.  Sarada langsung menutup pintu. 'Hehh, aku memang tidak bakat menasehati,' kata batin Sasori saat dia mulai melangkah kembali ke ruang tamu. Langkah Sasori terhenti karena Sakura menuju kearah Sasori.  "Sasori, apa Sarada mau mengerti?" "Heeh, aku gagal di awal pembicaraan."  Sakura hanya diam, terlihat sedih setelah mendengar yang dikatakan Sasori.  "Sakura, tenanglah pasti Sarada akan bersikap biasa lagi diakan gadis yang pintar."  Sakura tetap diam, tertunduk. Sasori mulai membelai surai merah muda Sakura.  "Tersenyumlah untukku."  Sakura langsung mendongak melihat wajah Sasori.  "Cantikmu, berkurang jika bersedih," ucap Sasori diiringi ciuman ke pipi kiri Sakura.  Sai hanya mengangkat alis kanan nya saat tidak sengaja melihat kejadian itu dari kejauhan. Sasori hanya menunjukkan senyum penuh arti saat melihat Sai, yang berdiri jauh dari mereka berdua. 'Perasaanku tidak enak,' kata batin Sai diiringi tatapan tajam kearah Sasori. 'Aku akan mengambilmu darinya,' kata batin Sasori, diiringi senyum yang ia tunjukkan kepada Sakura yang mulai ikut tersenyum. . . . . Sarada hanya menatap bosan ke arah depan, terlihat seorang guru yang masih terbilang muda itu sedang memberi pengumuman penting di kelas.  "Hari ini kita kedatangan teman baru." "Sebentar, Sensei. Inikan musim gugur kenapa bisa ada murid baru?"  Salah satu murid yang duduk di bangku paling depan bertanya tegas. "Sensei, juga tidak tau. Ini perintah dari kepala sekolah." Wali kelas menyuruh murid baru itu masuk. Para murid yang ada di kelas itu menatap murid baru yang sedang menuju kearah wali kelasnya dengan seksama.  'Hari yang aneh. Inikan bukan musim semi kenapa bisa ada murid baru,' kata batin Sarada. "Salam kenal semuanya, nama saya Mitsuki." "Mitsuki, apa kau tidak ingin memberitahukan nama marga atau yang lain nya?" Sensei yang berdiri di sebelah kanan Mitsuki bertanya.  "Saya rasa sudah cukup sensei, kalau yang lain nya selain nama itu pribadi." "Baiklah, kau duduk di bangku paling belakang itu, disebelah gadis berkacamata. Namanya Sarada semoga kau, bisa berteman dengan Sarada dan yang lain." "Baik, Sensei." Mitsuki mulai melangkah kearah Sarada, yang duduk di bagian paling belakang dekat jendela. Di sebelah kanan dari arah pandang Sarada ada bangku kosong yang akan dipakai Mitsuki. Warna mata keemasan melingkari pupil hitam dan kulit putih pucat, rambut biru muda style acak-acakan memiliki daya tarik yang unik ditambah senyum yang sedari tadi Mitsuki tunjukan kepada murid yang memandangnya membuat, siswi merona tanpa sebab yang pasti.  Dua kancing baju atas yang terlihat sengaja tidak dipasang tapi, masih terlihat rapi ditambah jas hitam khusus sekolah untuk musim gugur, yang terlihat habis disetrika itu membuat style rapi yang terlihat sempurna berbeda dengan murid yang lain acak-acak tidak jelas. . . . . Pelajaran pertama dimulai hampir semua murid menghela nafas karena pelajaran hari ini terlihat sulit dan ditambah hadiah pelajaran dari wali kelas mereka.  "Hari ini siapa yang bisa menjawab 3 soal yang Sensei buat boleh istirahat, lebih awal tapi, di UKS hahaha," ucap wali kelas yang seakan membuat lelucon yang tidak lucu.  "Sensei, apa saya boleh menjawabnya?"  Semua tertuju pada Mitsuki yang ingin menjawab 3 soal dari tiga bahasa, walau hanya soal? Topi tapi harus dengan 3 bahasa yang diluar bahasa inggris yang memang hanya 1 bahasa asing yang ada di KMS/ Konoha Middle School.  "Iya jawablah, kalau kau bisa beristirahat di ruang UKS sampai pelajaran ku selesai. Jika kau bisa."  Mitsuki beranjak dari tempat duduknya melangkah pasti ke arah depan lalu meraih kapur di sebelah papan tulis.  'Masih pakai kapur klasik juga,' kata batin Mitsuki. Dia menjawab 3 soal dalam bahasa asing itu. Sebutkan 3 kata, topi dalam tiga bahasa ini Spanyol, Italia dan Francis. . . Mitsuki mulai menggoreskan kapur yang dia pegang ke papan tulis. Spanyol : Sombreros.  Italia : cappello. Francis : Chapeaux. . . "Kau pintar sekali Mitsuki, padahal 3 bahasa asing ini tidak ada di pelajaran SMP. Baiklah kau boleh ke UKS untuk istirahat." "Terima kasih, Sensei," jawab Mitsuki yang kini sedang mulai melangkah keluar kelasnya. Murid yang ada di kelas itu hanya memperhatikan Mitsuki yang keluar kelas, sementara Sarada hanya tersenyum penuh arti. . . Setiap jam istirahat selama 30 menit, Sarada habiskan dengan berdiam di bangku yang terletak diatas atap sekolah. Hembusan angin musim gugur cukup dingin membuat yang merasakan nya amat menikmati sepoi-sepoi angin musim gugur yang selalu menenangkan hati.  "Kenapa harus dia yang menjadi ayahku, yang selalu aku benci!!" Sarada bertanya pada dirinya sendiri. Dalam batin nya disambut dengan hembusan pelan sang angin.  Sarada hanya bisa memejamkan mata sambil mencoba menenangkan dirinya.  "Hei?! Kenapa bekal mu tidak kamu, makan?" Sarada langsung menoleh ke arah kiri tersadar dari apa yang dia lakukan. "Kau?" "Namaku, Mitsuki kamu masih ingatkan? Aku tadi di kelas sudah memperkenalkan diri." "Iya, aku ingat tapi kenapa kau tiba-tiba duduk disebelahku tanpa izin?" "Maaf kalau saya tidak sopan, soalnya kamu terlihat sedang memikirkan sesuatu karena itu, saya langsung ikut duduk saja," jawab Mitsuki. "Mm, jadi begitu. Mitsuki, aku sedikit aneh dengan bahasa formal mu lebih baik pakai bahasa umum saja." "Tapi, saya suka seperti ini, apa Sarada tidak suka?" tanya Mitsuki diiringi senyuman yang terlihat tulus sampai membuat Sarada ikut tersenyum.  'Aneh,' kata batin Sarada. Sarada mulai membuka kotak bekalnya/bento. Sosis dan telur gulung yang tersusun rapi diatas nasi, dalam kotak bentonya. "Mm, ibumu sangat terampil," gumam Mitsuki. "Ini aku buat sendiri," sahut Sarada membuat Mitsuki menatap Sarada, Mitsuki tersenyum.  "Kamu buat sendiri?" "Iya," jawab singkat Sarada. Sarada mulai menikmati bento yang dia bawa, sementara Mitsuki hanya menikmati roti yang ia beli di kantin. Sepoi angin berhembus sangat pelan menerpa tubuh mereka berdua hanya menyisir beberapa helai surai hitam dan biru muda miliki Sarada dan Mitsuki.  Onyx hitam melirik ke arah wajah Mitsuki yang sedari tadi hanya menunjukan ekspresi ramah yang monoton. Mereka berdua hanya diam tanpa bicara hanya menikmati bekal mereka berdua sampai habis.  "Mitsuki, apa aku boleh tanya sesuatu?" "Boleh, Sarada mau tanya apa?"  "Begini. Aku penasaran bagaimana kau bisa pindah sekolah? Inikan bukan musim semi?" tanya Sarada yang terlihat penasaran. "Maaf ya, tapi saya tidak bisa cerita soal itu padamu," jawab Mitsuki. "Iya tidak apa-apa, maaf kalau aku bertanya hal yang pribadi." "Tidak apa-apa, itu wajar kalau kamu bertanya seperti itu," jawab Mitsuki dengan nada suara yang ramah. "Sarada, apa nanti aku boleh pulang bersamamu?" "Mmm?! Pulang bersama??"  Mitsuki hanya tersenyum, menunggu jawaban Sarada. "Kalau kamu tidak mau tidak apa-apa. Aku hanya ingin punya teman pertama." 'Dasar, kata-katanya sopan tapi sedikit memaksa' kata batin Sarada. Baiklah kita pulang bersama," jawab Sarada. "Terima kasih." "Mm. Sama-sama."  'Rencanaku berhasil,' kata batin Mitsuki. . . . . BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD