Chapter 7

1699 Words
Chapter 7 . . . . Sasuke meraih tangan Sakura, saat Sasuke dapat meraih 'cincin', langsung ia tarik dan melempar jauh 'cincin' itu entah kemana. "Sasuke! Apa yang kau lakukan ?!" "Diam." sahut Sasuke, diiringi tatapan mata yang tajam. Sakura hanya membulatkan mata karena tatapan yang Sasuke tunjukkan, adalah tatapan 13 tahun yang lalu. "Sas-." gumam Sakura, dia mulai tertunduk mencoba menenangkan dirinya. Sasuke terus menatap Sakura saat sedang tertunduk.  "Angkat wajahmu lihat aku." Sakura tetap tertunduk, dia menggigit pelan bibir bawahnya. "Cepat lihat aku!!" "Jangan lagi hiks," ucap parau Sakura. Sasuke memalingkan wajah, dia mulai beranjak pergi meninggalkan Sakura yang masih tertunduk.  'Aku tidak ingin masa laluku terulang. Aku tidak ingin dia seperti dulu lagi,' kata batin Sakura diikuti air mata nya yang mulai membasahi pipi. "Sasuke." Suara Sakura membuat Sasuke, menghentikan langkahnya, Sasuke menatap Sakura. Terlihat onyx hitam itu seakan dipenuhi rasa benci. Sakura melihat onyx hitam kelam menatap tajam membuatnya, hanya bisa menangis dan menyebut nama Sasuke sangat pelan. "Hnn?" jawab Sasuke. "Aa, aku akan jelaskan-," Sakura mulai melangkah maju mendekat kearah Sasuke.  "Hiks.. Aku akan jelaskan soal cincin itu. Jangan marah, aku mohon."  Sasuke hanya diam memperhatikan Sakura yang semakin mendekat ke arahnya. "Hiks.. Cincin tadi pemberian temanku, dia Sasori. Padahal aku sering menolaknya tapi, dia terus mengungkapkan perasaannya padaku, hiks.. Sasori memberikan cincin itu sebagai ikatan pertemanan." "Kenapa kau, terima? Apa kau menyukainya?" kata Sasuke. Sakura mulai berpikir dan bertanya pada dirinya sendiri. Sepoi-sepoi angin yang berhembus menerpa pelan tubuh mereka berdua diikuti suasana yang hening. Pohon yang ada di taman itu seperti menjadi saksi kejadian, yang sedang keduanya alami. "Kau, dari dulu tetap bodoh dan bimbang. Aku tau kau pintar, Sakura, tapi sifat tak menentu mu masih sama seperti dulu."  Sakura hanya menutup rapat mulutnya, dia menatap wajah Sasuke, ekspresi sangat marah jelas terlihat dari raut wajah yang Sasuke tunjukkan.  "Maaf.."  "Hnn.. Tidak ada kata maaf," sahut Sasuke. 'Kau masih saja bodoh,' kata batin Sasuke.  Sakura langsung membulatkan mata, menatap kosong ke arah Sasuke. Sakura sadar apa yang dikatakan Sasuke itu semua benar. Terkadang Sakura memiliki kembimbangan dalam menentukan sesuatu, sifat yang sudah diketahui sejak lama oleh Sasuke. Jarak mereka berdua berhadapan hanyalah tiga meter tapi, Sakura merasa jarak mereka mulai menjauh. Bulir air mata terus menetes jatuh ke tanah melewati kedua pipinya. Sasuke mulai melangkah maju, tangan kanan merangkul tubuh Sakura dan memeluknya. Sasuke membimbing Sakura agar, ia menempelkan pipi ke d**a Sasuke.  "Aku tidak akan memaafkanmu, kalau kau belum bisa merubah sifatmu itu, Sakura."  Sakura mulai memejamkan mata untuk mendengar suara detak jantung Sasuke.  "Maaf karena kebodohanku." Sakura mulai memeluk Sasuke, Sasuke hanya diam tapi, tangannya mulai membelai surai merah muda milik Sakura. Sementara Sai dan Sarada yang sedang menikmati es krim coklat. Duduk bersantai di bangku panjang berwarna cokelat, mereka berdua terlihat senang. Banyak pengunjung yang ada di taman bermain itu pemandangan, wahana yang tersedia seakan memanjakan mata. Dan anak-anak yang bersama kedua orangtuanya menjadi pelengkapnya.  "Sara?"  "Iya, paman?" "Kenapa kau melamun? Apa semua wahana disini tidak menarik?" "Semua menarik, hanya saja seperti ada yang kurang paman," jawab Sarada.  Kedua onyxnya menatap kearah kedua orangtua dan anaknya.  Sai hanya tersenyum saat melihat arah tujuan yang Sarada, lihat.  "Apa kau ingin seperti dia?" "Iya, sedikit."  Sai mulai beranjak dari duduknya lalu ia membuang cup es krim ketempat sampah. Sarada pun melakukan hal yang sama.  "Paman, juga ingin seperti anak kecil itu." "Maksud paman apa?" "Paman, dulu saat masih kecil, selalu iri jika ada teman paman ke taman bermain bersama kedua orangtuanya," "Kenapa?" Sai mulai tersenyum.  "Karena paman, tidak memiliki orangtua seperti yang lain ya, paman hanya anak dari panti asuhan. Paman cukup bersyukur karena ada yang merubah hidup paman." "Mm, siapa orang itu?" tanya Sarada semakin penasaran. "Dia orang tua angkat paman." Sarada terus memperhatikan Sai, mendengar semua yang Sai katakan.  "Sara, paman boleh bertanya sesuatu?" "Boleh," jawab Sarada. hampir satu menit mereka berdua terdiam lalu, Sai menghela nafas.  "Maaf, kalau paman ikut campur. Paman hanya ingin bertanya, apa Sara, tidak ingin memaafkan, ayah Sara?" Sarada mulai berpikir lalu dia menatap tegas ke arah Sai. "Tidak!" "Sara, semua orang berhak, mendapatkan kesempatan kedua," gumam Sai, diiringi senyumnya.  "Kalau paman, bisa bertemu kedua orang tua paman. Pasti memaafkan mereka walaupun paman dulunya di lantarkan. Mungkin saja mereka punya alasan pribadi," gumam Sai panjang lebar. Sarada melihat keatas menatap langit biru, mulai mencerna kata-kata Sai. Sarada dan Sai hanya diam tanpa bicara, suara kemaraianlah yang menggantikan keheningan mereka berdua. "Mungkin aku akan belajar memaafkannya" gumam Sarada. Sai mulai tersenyum puas. 'Anak pintar,' kata batin Sai. Sakura berbaring di ranjang. Dia menatap langit-langit kamar, senyum yang manis di bibir tipis merah mudanya terus menyebut nama Sasuke.  'Aku semakin mencintainya,' kata batin Sakura. Sakura menutup wajahnya sendiri dengan bantal.  'Sadar bodoh, kau terlalu tua, untuk berpikir seperti ini,' kata batin Sakura lagi. Tok.. Tok... Tok. Sakura mulai beranjak dari ranjangnya dan mulai melangkah maju, menuju pintu. Clekh.. Saat Sakura membuka pintu, Sasuke berdiri di hadapan nya. Sasuke meraih pergelangan tangan Sakura. Sasuke merebahkan tubuh Sakura ke tempat tidur.  "Sasuke, apa yang-." Sakura hanya bisa diam. Saat Sasuke menciumnya.  Sasuke berbisik, "Sakura, puaskan aku." "Sa, Sasuke!"  . . . . Note : Cumi (cuma mimpi hehe..) Sakura terbangun dari tidurnya saat dia, bersandar di bahu kanan Sasuke.  "Hnn? Apa kau mimpi buruk?" Sakura menatap wajah Sasuke, dengan rona merah di pipi Sakura.  "Ti-tidak.." "Hari mulai siang, ayo kita masuk kedalam," ucap Sasuke beranjak dari duduknya.  Sakura hanya menyentuh kedua pipinya sendiri yang memerah. 'Kenapa aku, memimpikan yang seperti itu?!' kata bati Sakura. "Sakura?"  "I-iya." Sasuke mulai tersenyum, ia mengetuk kening Sakura. Sakura hanya mengelus keningnya sendiri lalu dia tersenyum. Sebenarnya Sasuke, sempat mendengar Sakura mengigau memanggil namanya dengan nada suara sedikit erotis . . . . Sakura tak henti-hentinya menatap wajah Sasuke. Sasuke yang kini sedang duduk, di dekat kolam renang yang sangat memukau kira-kira panjang 50 meter dan luas 25 meter. Kolam itu dulu sering digunakan Itachi Uchiha yang memang sangat suka berenang. Semasa SMA dia sangat populer di kalangan kaum hawa, tapi sayangnya Itachi telah meninggal dunia hanya ada kenangan yang cukup indah yang terkadang membuat Sasuke tersenyum bahagia bercampur duka.  "Sarada lama sekali," gumam Sakura. Sasuke menoleh ke arah Sakura. Mereka berdua duduk bersebelahan di dekat kolam. "Tenanglah, Sai pasti menjaga Sara."  "Tapi, aku khawatir ini kan sudah siang. Hehh, kalau begini nanti aku terlambat kerja.." "Hnn..? Berarti kau akan pulang?" Sasuke menatap intens. Sakura mulai menunjukkan rona merah di kedua pipinya, ia menunduk membuat Sasuke bertanya-tanya dalam pikirnya.  "Hnn?" "Jangan melihatku seperti itu," gumam Sakura. Sasuke meraih pipi kiri Sakura. Sasuke membimbing agar Sakura menatap onyx hitam milik Sasuke. Detak jantung sangat kencang membuat kedua pipi semakin memerah ditambah tatap serius Sasuke membuat Sakura hanyut dalam perlakuan Sasuke. "Sasu-." Sakura terhenti berucap lalu ia menutup mata. Mereka berdua hanya saling menutup mata dan saling melepas rindu yang memang sudah mereka berdua pendam sangat lama 13 tahun waktu yang lama ketika rasa kecewa, sedih dan benci. Dulu sangat menyiksa batin Sakura, tapi semakin ia membenci semakin kuat juga cintanya meyakinkan.  'Kau membuatku jatuh cinta untuk kedua kali,' pikir Sakura. Mereka berdua, saling membalas ciuman, diakhir saling menatap mata masing-masing, onyx dan emerald bertemu dan kata bersamaan tercipta dari keduanya.  'Aku mencintaimu.' Sasuke dan Sakura merona merah. Karena ucapan mereka berdua bersamaan dengan kata-kata yang sama.  'Aku mencintaimu' mungkin bagi orang lain itu hanya ucapan yang umum tapi, berbeda bagi Sasuke dan Sakura yang memang usia mereka bisa dibilang sudah dewasa 30 tahun. "Sakura, aku mohon jadilah istriku."  Kata-kata Sasuke memanglah biasa saja tidak ada kesan romantis sedikitpun nada suaranya pun datar, tapi bagi Sakura ini adalah sesuatu yang paling romantis apalagi yang di hadapannya sekarang adalah Sasuke Uchiha.  Yang memang memiliki sifat yang berbeda dari laki-laki yang lain. Berkata Cinta, rindu dan sayang ketiga hal yang sangat mustahil jika Sasuke yang mengucapkannya. "Apa ini mimpi? Apa kau Sasuke yang b******k yang aku kenal?" Sakura bertanya diiringi air mata yang membasahi pipinya.  "Ini aku, Sasuke dan kau tidak bermimpi, Sakura. Aku Sasuke Uchiha si b******k yang dulunya melakukan hubungan yang tak seharusnya dan merusak masa depan yang sekarang menjadi wanita yang paling aku cinta. Sakura Haruno? Apa boleh si b******k ini menjadi pendamping mu? Apa kau mau melepas margamu agar menjadi Uchiha?" "Sasuke," gumam Sakura, ia menghapus air mata nya.  "Kau aneh, sejak kapan jadi cerewet?"  Sasuke hanya tersenyum. "Apa kau menolak?" "Aku tidak perlu menjawab kan, karena jawaban nya pasti iya, apa kau ingat? Dulu kau selalu bilang aku ini milikmu. Ja-jadi aku selalu berpikir kalau aku ini milikmu, walau kau dulu sangat b******k dan maniak seks, itukan dulukan." kata Sakura kemana-mana. "Tunggu sebentar."  Sasuke beranjak dari duduknya lalu ia pergi meninggalkan Sakura yang masih terduduk di dekat kolam renang. Setelah beberapa lama kira-kira 3 menit, Sasuke kembali lalu ia membimbing Sakura agar berdiri.  "Aku mencintaimu." Sakura menggigit bibir bawahnya sendiri sekilas melirik kolam renang di dekatnya. 'Rasanya aku ingin lompat ke kolam,' kata bantin Sakura. "Tolong terima dan bukalah." Rona merah di kedua pipi Sakura terlihat jelas karena Sasuke memberi kotak kecil berwarna merah.  "Aku ingin membukakan untukmu tapi, sayangnya, aku hanya memiliki satu tangan." Sakura hanya dia tak menjawab. Dia mulai meraih kotak kecil yang ada di tangan kanan Sasuke. Sakura membuka isi kotak itu yang masih ditangan Sasuke. "Indah," gumam Sakura. "Kau, suka?"  "Iya, tapi kelihatan mahal ini kan berlian." Sasuke mengambil cincin dan kotaknya terjatuh ke keramik dekat kolam. Sakura hanya diam sekilat melirik kotak itu.  "Apa kau mau memakai ini?" Sakura hanya mengangguk lalu ia bersiap menerima saat Sasuke ingin mengenakan cincin ke jari manis Sakura.  "Setelah Sara, menerimaku. Aku akan melamarmu Sakura." "Iya, Sasuke"  Sakura memperhatikan cincin di jarinya.  "Pasti Sarada akan menerimamu, Papa Sasuke?" ucap Sakura. Sasuke mulai membelai surai merah muda milik Sakura. "Terima kasih atas semuanya." "Mmh, terima kasih?" Sahut Sakura "Karena kau membuatku sadar, juga membuatku tau apa itu cinta." Sakura langsung memeluk Sasuke.  "Sama-sama."  Sakura mengeratkan pelukan nya, Sasuke mulai membalas pelukan. "Berhenti!! Aku mendengar semuanya!!" Sakura dan Sasuke menoleh ke arah asal suara. Sarada menatap tajam kearah kedua orangtuanya.  "Sara," gumam Sasuke.  "Sarada sayang," ucap Sakura lalu ia mendekat kearah Sarada. "Sayang tenang nanti, Mama jelaskan." "Aku dengar semua." "Sara?" Sasuke mulai mendekat kearah Sarada dan Sakura. "Jangan mendekat selangkah pun!" ucap Sarada diiringi tatapan tajam kearah Sasuke yang langsung terdiam. "Sarada sayang, jangan seperti itu. Mamah mohon terima semua ini ya?" "Aku tidak mau," balas Sarada.  Sakura memeluk Sarada. "Ayo kita pulang nanti dirumah, semua Mamah jelaskan." "Mm," jawab Sarada. Sai yang mencari Sarada hanya bisa melihat dari kejauhan. "Semoga kami-sama, mau memberiku kesempatan kedua." kata batin Sasuke. Sakura dan Sarada akhirnya pulang meninggalkan kediaman Sasuke. Sasuke hanya bisa menatap langit-langit kamarnya. Rasa sesak masih sangat terasa, kata-kata putrinya seakan seperti pisau yang menikam dadanya. Sementara Sakura yang sedang berada di dalam mobil melaju menuju kediaman Sakura. Sakura hanya menatap sendu ke arah kaca mobilnya. Begitu juga Sarada melakukan hal yang sama saat duduk disebelah Sakura. Sai fokus menyetir mobil dan memikirkan cara agar Sarada bisa menerima Sasuke sebagai ayah. "Aku benci orang itu," gumam Sarada membuat Sai terkejut dalam diamnya tetap fokus menyetir.  'Ini akan susah,' kata batin Sai. Sakura hanya diam tetap melihat mobil yang melintas dari balik kaca mobil.  'Sasuke ...,' kata batin Sakura. . . . . BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD