bc

Love Mistakes - Jangan Salahkan Cinta

book_age18+
784
FOLLOW
6.5K
READ
pregnant
drama
tragedy
sweet
serious
like
intro-logo
Blurb

Ilona Larasati—yang diam-diam mencintai Ganang Pramudya, kakak angkatnya—harus menelan kekecewaan saat mendapati lelaki yang dicintainya itu tak sebaik yang dipikirkan selama ini, ketika pada suatu malam, lelaki itu merenggut paksa kesuciannya. Cinta yang semula mekar di hati Ilona berubah menjadi sebuah kebencian yang mengakar. Tak peduli seberapa pun usaha Ganang untuk menebus kesalahannya.

 

Ilona semakin terpukul saat menyadari dirinya hamil. Kebencian yang teramat dalam membuatnya muak terhadap sosok Ganang dan tak ingin menjadikan lelaki itu sebagai ayah dari anak yang dikandungnya.

 

Saat itulah sosok Nugie muncul sebagai penyelamat. Pemuda itu mau menikahi Ilona yang berbadan dua. Ilona tidak menyadari ada sebuah rencana busuk di balik uluran tangan Nugie.

chap-preview
Free preview
Malam Biadab
Malam sudah menua saat hujan turun mengguyur Jakarta. Air yang jatuh seumpama tombak yang siap menghunjam bumi. Petir bersahutan, serupa akar raksasa berwarna kuning keemasan yang menjalar di angkasa. Langit menangis, menciptakan genangan-genangan di sepanjang jalan dan memenuhi selokan-selokan. Bisa dipastikan daerah aliran sungai akan kebanjiran esok hari. Di bawah derasnya hujan, seorang lelaki duduk di balik kemudi dengan wajah merah padam. Dadanya turun naik menahan gemuruh di dalam sana. Giginya gemeletuk, rahangnya mengeras. Ia mengusap bulir bening yang sedari tadi ia tahan agar tak meluncur turun di pipinya. “Dasar perempuan jalang!” rutuknya saat teringat tunangannya, Tania. Kurang lebih tiga jam yang lalu, ia memergoki kekasihnya yang cantik tinggi semampai itu keluar dari salah satu hotel bintang lima bersama seorang lelaki tua berpenampilan perlente. Tiga bulan ia mencari keberadaannya, tetapi apa yang didapatnya kemudian hanyalah sakit hati. Apalagi setelah tahu kalau ternyata status mereka sudah suami istri. “Dia memang lebih tua, tapi bisa memberiku segalanya.” Kata-kata Tania terus terngiang di telinganya, menciptakan sayatan-sayatan yang terasa begitu perih di hati lelaki itu. Memang, lelaki dua puluh tujuh tahun yang bernama Ganang itu masih merintis usahanya di bidang properti. Semua harta miliknya ia habiskan untuk modal usaha, hingga tak mampu memenuhi sifat konsumtif Tania. “Matre!” Ganang memukul kemudi. Kemudian menekan pedal gas, memacu mobilnya dengan kecepatan penuh menuju ke rumahnya, melawan derasnya air hujan yang jatuh ke bumi. Jarak yang biasanya membutuhkan waktu kurang lebih tiga puluh menit, kini hanya butuh sepuluh menit untuk tiba. Ia hampir saja menabrak gerbang rumahnya andai tak buru-buru mengerem roda empatnya. Ia menekan klakson berulang-ulang, berharap Mbok Nah membukakan gerbang untuknya. Namun nihil. Asisten rumah tangga berusia senja itu tak tampak batang hidungnya. Sesaat kemudian barulah ia ingat, sudah tiga hari Mbok Nah pulang kampung dikarenakan saudaranya sedang menggelar hajatan. Akhirnya Ganang turun dari mobil dengan terhuyung-huyung. Pada saat bersamaan, tampak siluet tubuh seorang gadis mendekat dan membukakan pintu gerbang untuknya. Ganang mendengkus, kemudian masuk kembali ke dalam mobil. Memacunya melewati sang gadis yang berdiri basah-basahan di bawah derasnya hujan sambil memegangi pintu besi. “Maaf, tadi nggak dengar,” kata gadis yang bernama Ilona sambil menunduk. Ia berpapasan dengan Ganang ketika hendak masuk ke dapur melalui pintu garasi. Tak ia sadari bajunya yang basah menampilkan lekuk tubuhnya yang indah, membuat Ganang menelan ludah. “Hey!,” cegat Ganang seraya mencekal tangan gadis itu, menahannya agar tak pergi. Ilona menoleh, sedikit gentar saat menyadari kalau kakaknya itu sedang dalam pengaruh minuman keras. “Kamu cantik sekali malam ini.” Ganang menatap Ilona dengan tatapan sendu. Menelisik dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gairah kelelakiannya bangkit melihat tubuh Ilona yang basah kuyup. “Mas Ganang mau apa?” tanya Ilona gemetar. Ia benar-benar takut melihat tatapan Ganang yang seakan ingin menelannya bukat-bulat. Bau alkohol menguar dari mulutnya. “Mas Ganang kenapa mabuk? Kalau Ibu tahu pasti Ibu sangat sedih,” katanya. “Kamu cantik sekali malam ini,” bisik Ganang di telinga Ilona. Embusan napasnya yang hangat membuat Ilona sedikit salah tingkah. “Sayang, kamu jalang,” ucap Ganang kemudian sambil tertawa mengejek. Ilona terperangah. Pemuda tampan itu terus memepet Ilona hingga gadis itu terdesak ke tembok dan tak bisa menghindar lagi. “Mas Ganang mau apa?” Ilona berusaha mendorong tubuh lelaki di hadapannya. Sayang, ia kalah tenaga. Lelaki itu terus mendesaknya hingga tubuh mereka semakin rapat. “Kamu jalang sialan, pantas diperlakukan dengan sialan,” racau Ganang, kemudian mencium leher Ilona dengan kasar. Ilona yang ketakutan berusaha menepisnya. Ia terus berontak, tetapi tetap tak bisa lepas dari jerat Ganang. Tubuh kecilnya tak mampu mengimbangi kekuatan lelaki mabuk itu. Hingga saat lelaki di hadapannya terlihat lengah, Ilona mengangkat lututnya, menghajar s**********n Ganang dengan sekali entakan. “Aw!” Ganang spontan menjerit dan merunduk memegangi selangkangannya. “Perempuan kurang ajar,” umpatnya saat melihat Ilona berlari ke dalam rumah. Ganang menyusul, berjalan terbungkuk-bungkuk. “Buka pintunya!” gertak Ganang di depan kamar Ilona sambil menggebrak pintu kuat-kuat. Sementara di dalam sana Ilona duduk mendekap lutut di pojok kasur dengan tubuh gemetar. Tak ia pedulikan baju dan rambutnya yang basah. Keringat bercucuran di dahinya. Sungguh ia takut atas kejadian yang baru saja menimpanya. Dalam hati ia berjanji tak akan membukakan pintu kamarnya sampai pagi. Kalau perlu sampai orang tua angkatnya kembali dari luar kota. Iya, status gadis berusia dua puluh satu itu itu hanyalah seorang anak angkat keluarga Pramudya. “Buka! Cepat buka!” teriak suara dari luar membuat Ilona semakin erat mendekap lutut. Beberapa kali Ganang mencoba mendobraknya, tetapi tak berhasil. Ilona menarik napas lega saat terdengar langkah kaki menjauh. Namun tak sampai lima menit, Ganang sudah kembali dan mendongkel pintu kamarnya dengan linggis. Ilona tercengang. Tubuhnya semakin menegang melihat seringai di wajah Ganang yang terlihat begitu menyeramkan. Ganang melempar linggis dengan sembarang. Mencipta suara lantang yang membuat Ilona menjengit. “Kamu tidak akan pernah bisa mencampakkanku begitu saja, Tania,” geram Ganang dengan tatapan tajam ketika mendekati Ilona. Gadis itu mencoba bangkit menghindar, tapi belum sempat menjauh, Ganang menyambar tangannya dan membanting badannya di lantai. Ilona meringis merasakan pinggangnya yang terpelintir. Kepalanya terasa berdenyut-denyut usai membentur ubin. “Mas, jangan, Mas ...,” ratapnya di antara tangis. “Aku Ilona, adikmu.” Sekali lagi ia mencoba bangkit, tetapi gagal. Ganang lagi-lagi mendorong tubuhnya dengan kasar, menjambak, dan menamparnya berulang kali. Tubuh Ilona semakin tak berdaya. Ganang juga menarik paksa kausnya hingga robek. Ia sudah tak bisa lagi melawan ketika tangan dan bibir lelaki itu menjamah setiap inci tubuhnya. Menangis tanpa suara, ia merasakan sakit di bagian bawah tubuhnya. Bayangan almarhum ayahnya hadir di pelupuk mata. “Harga diri seorang gadis dilihat dari kesuciannya. Jagalah baik-baik. Berikan hanya kepada suamimu kelak,” begitu wejangannya dulu, saat Ilona baru menginjak usia dewasa. “Bapak ...,” lirih Ilona pilu. Sesaat kemudian matanya terpejam. Pasrah pada takdir yang menimpanya. Hilang. Hilang sudah kesucian yang ia gadang-gadang hanya untuk suaminya kelak. Hilang sudah harga dirinya sebagai seorang gadis. Hilang sudah sesuatu yang sudah ia jaga sebaik-baiknya. Hujan di luar semakin deras. Langit seakan menangisi nasib pilu Ilona Larasati, gadis manis yang baru mendiami rumah keluarga Pramudya setahun lalu. Guntur dan petir terus menggelegar, seakan ikut meneriakkan suara hati Ilona yang tak terima kehormatannya direnggut paksa. Angin berembus dingin, mengalunkan kidung kesedihan. Air menggenang di jalan-jalan ... yang bisa saja esok hari menumbuhkan tunas pada biji beringin yang selama ini kering di tanah kerontang. Ilona ingin menjerit. Ilona ingin berteriak atas ketidakadilan yang menimpanya. Akan tetapi, ia hanya bisa menangis, tanpa suara. ‘Bukan ... bukan seperti ini,’ batin Ilona meratap.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
170.4K
bc

Tentang Cinta Kita

read
230.3K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
212.7K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
7.3K
bc

Perfect Man and Stupid Women

read
157.9K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook