Penyesalan dan Luka

1129 Words
"Ilona.” Ia meraih lengan gadis yang sedang frustrasi itu. “Maaf,” lirihnya. Ilona terperanjat, menoleh menatap Ganang dengan tatapan penuh benci. “Jangan pernah sentuh aku,” lirihnya dengan penuh penekanan. Ganang refleks melepaskan tangannya. Membiarkan Ilona bangkit dan masuk ke kamar mandi. Setelahnya ia mendengar suara tangisan yang begitu menyayat hati dari dalam kamar mandi Ilona. Ganang bangun duduk. Mengusap wajahnya dengan kasar dan meremas-remas rambut. Ia tak pernah menyangka kalau efek minuman keras begitu hebatnya. Selama dua puluh tujuh tahun usianya, ini kali pertama ia menyentuh minuman biadab itu. Sementara Ilona masih menangis meraung-raung di dalam sana, Ganang bangun memunguti bajunya yang berserakan dan mengenakannya. Ia memandang sekeliling. Kamar Ilona sangat kacau karena perbuatannya. Pintunya juga rusak. ‘Aku harus memperbaikinya, sebelum Ayah dan Ibu kembali,’ batinnya. Dengan kepala yang masih terasa berat, Ia berjalan terhuyung-huyung meninggalkan kamar Ilona yang berantakan. ***   “Kamu mau ke mana?” tanya Ganang saat mendapati Ilona keluar dari kamarnya menenteng sebuah tas yang Ganang yakin pasti berisi baju-baju. “Meninggalkan neraka,” jawab Ilona ketus. Berusaha melewati Ganang yang sudah di depan kamarnya membawa kotak perkakas untuk memperbaiki pintu. Rambut lelaki itu basah, dari tubuhnya menguar aroma sabun mandi yang segar. Bila hari-hari kemarin ia harus curi-curi pandang untuk melihat wajah tampan Ganang, kali ini tidak. Ilona kini muak melihat wajah lelaki itu. Wajah itu mengingatkannya pada peristiwa buruk yang terjadi malam tadi. Wajah Ganang yang mencumbunya membabi buta tanpa perasaan terus terbayang di pelupuk matanya. Membuatnya ingin selalu membuang ludah karena jijik. Galang mencekalnya, “Jangan pergi,” katanya. Ilona menghentikan langkah, menatap Ganang dengan tatapan ingin membunuh. Ganang menunduk salah tingkah. “Aku minta maaf, semua di luar kesadaranku.” “Ya sudah. Aku mau pergi.” “Jangan.” Ganang menghadang langkah Ilona. “Kalau kamu pergi, aku harus bilang apa sama Ibu? Ibu udah terlanjur sayang sama kamu, dia pasti sedih kalau kamu nggak ada.” “Terus kamu pikir, aku harus tetap di sini terus sampai muak melihat wajahmu yang menjijikkan?” Rahang Ilona mengeras, wajahnya merah padam, dan matanya yang berkaca-kaca menatap nyalang pada Ganang. “Aku minta maaf, Ilona?” “Maaf? Setelah semua yang kamu lakukan?” “Aku akan bilang Ibu untuk menikahkan kita.” “Tak perlu. Aku tak butuh laki-laki b***t macam kamu untuk jadi suami.” “Ya sudah. Sekali lagi aku minta maaf, tapi kumohon, tetaplah tinggal di sini. Paling nggak sampai Ibu pulang. Nanti kamu bisa pergi kalau sudah ketemu dan pamitan sama Ibu,” ujar Ganang menawarkan perdamaian. Ilona menarik kasar tangannya yang sedari tadi dipegang Ganang. Ia berpikir, apa yang dikatakan Ganang ada benarnya juga. Ia masuk ke rumah ini secara baik-baik. Keluar pun harus dengan baik-baik. Belum lagi ia teringat akan jasa keluarga Pramudya terhadap ayahnya. Kalau bukan karena kebaikan Bu Lidia, mungkin ayahnya tak bisa keluar dari rumah sakit karena kekurangan biaya ICU yang mencekik leher. Ilona membuang napas, kemudian kembali masuk ke kamarnya meletakkan tas. Setelah itu ia pergi ke taman belakang, membiarkan Ganang membetulkan pintu kamarnya yang rusak akibat perbuatannya semalam. Ilona duduk menyendiri di ujung taman mungil itu. Di depannya ikan kecil berwarna merah dan jingga berlarian riang di dalam air. Sayang, keriangan itu tak sampai ke hati Ilona. Tubuh gadis itu memang ada di sana, tetapi tidak jiwanya. Tatapan matanya kosong .... Tak berapa lama, air mata meluncur turun di pipinya yang mulus tanpa jerawat. Ia menangis. Semula hanya isak pelan, kemudian semakin lama isaknya semakin rapat dan akhirnya ia meraung-raung di depan kolam. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Bapak ... tolong Nona, Pak,” raungnya. Nona adalah panggilan sayang untuknya dari Pak Adi; ayahnya. Ganang yang sudah selesai membetulkan pintu kamar Ilona menatap dengan perasaan bersalah dari kejauhan. “Maaf, Ilona ... maaf,” gumamnya, menitikkan air mata. Ganang tak habis pikir, bagaimana ia bisa berlaku seburuk itu hanya karena sakit hati pada Tania. Karena gadis itu, ia tega menghancurkan masa depan Ilona, adik angkat yang harus ia jaga seperti perintah ibunya sebelum pergi kemarin sore. Ganang mendekati Ilona. Memegang bahu gadis itu dan membantunya berdiri. Tetapi Ilona menepisnya dengan kasar. “Puas kamu, aku hancur seperti ini? Puas?” Ia berteriak, sebelum akhirnya kembali masuk ke kamarnya, menutup pintu rapat-rapat. *** Ilona tetap bergeming meski Ganang berulang mengetuk pintu kamar menyuruhnya makan. Ilona benar-benar tak merasakan lapar. Sepanjang hari ia hanya terus meringkuk di kamarnya dengan air mata yang seakan tak pernah ada habisnya membasahi bantal. “Nanti kamu sakit ... kalau kamu sakit aku harus bilang apa sama Ibu? Kamu tau sendiri, Ibu lebih sayang sama kamu ketimbang sama aku.” Ilona tetap bergeming. Benar apa yang dikatakan Ganang, Bu Lidia sangat menyayanginya. Menganggapnya seperti anak sendiri tanpa pernah membedakannya dengan Ganang. Bu Lidia sangat memanjakannya, sampai-sampai Ilona tak diizinkan bekerja lagi sebagai SPG demi bisa tetap menemaninya di rumah. Semua kebutuhan Ilona dicukupi oleh keluarga Pramudya. Bu Lidia juga menyuruhnya kuliah, rencananya taun ajaran baru nanti ia akan mendaftarkan diri di fakultas hukum. Tetapi, setelah semua yang terjadi, Ilona sepertinya harus mempertimbangkan keputusan tersebut. Ia tak ingin bertahan di rumah ini. Tapi untuk keluar pun, dia butuh alasan yang bisa diterima oleh Bu Lidia. “Aku udah buatkan makan malammu. Aku taruh di meja makan, nanti kamu makan ya,” pinta Ganang. Baru beberapa langkah ia berbalik melangkah, pintu kamar Ilona terbuka. Ganang mengembangkan senyum, ia senang Ilona mau makan masakan buatannya. Namun, ternyata ia salah. Ilona berjalan melewatinya. Mengabaikan sepiring nasi goreng dan segelas s**u yang hampir dingin di tangannya. Dari kejauhan ia melihat Ilona menjerang air dan mengambil sebungkus mie instan dari lemari dapur. Ganang membuang napas, meletakkan nasi goreng dan s**u di meja. Duduk di kursi, ia mengamati gadis itu memasak mie dengan wajah sendu. Sesekali terlihat ia seperti menahan tangis. Hati Ganang mencelus, betapa ia telah melukai gadis itu. Ia seketika bimbang, apa yang harus ia lakukan untuk menebus kesalahannya. Ilona terlihat sudah menuang mie-nya ke mangkuk. Ganang berharap Ilona akan makan di meja makan bersamanya. Ia ingin bicara. Tetapi, lagi-lagi ia harus sadar diri, posisinya sekarang adalah terdakwa. Ilona hanya melewatinya, membawa semangkuk mie instan-nya yang masih mengepul ke dalam kamar kemudian kembali menutup pintu rapat-rapat. Ganang menekuri nasi di depannya, mengaduk-aduknya tak jelas, kemudian mulai menyendoknya. Perasaan bersalah membuat nasi goreng itu terasa begitu sulit masuk ke tenggorokannya. Dia mengambil segelas air, menenggaknya hingga habis, kemudian berjalan lesu ke kamarnya. Membanting pintunya kuat-kuat, kemudian berteriak sekencang ia bisa. Haaa!!! Di kamarnya, Ilona menyuap mie-instan dengan air mata yang terus mengalir. Ia tahu Ganang melakukan semua itu dalam keadaan setengah sadar. Ia tahu kakak angkatnya itu menyesal. Tetapi, rasa sakit atas perlakuannya sungguh tidak terperi. Ia tak bisa memaafkan Ganang, Ia membenci Ganang. Tak ada lagi cinta yang diam-diam telah mekar di hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD