Serkan menatap Reynold dengan tatapan bingung. "Ada apa kau ke sini, Rey?" tanyanya, berusaha mengalihkan perhatian dari Alea yang masih memeluknya dari belakang. Meskipun merasa risih, Serkan tidak langsung mendorong Alea pergi. Dia tahu bagaimana perasaan Alea. Meskipun sikap Alea yang manja ini sangat meresahkan.
Reynold, dengan pandangan mata yang terus tertuju pada Alea, berdeham pelan sebelum menjawab. "Aku ingin mengundang Paman ke acara amal di kampus minggu depan," katanya dengan nada yang sedikit ragu. "Siapa tahu Paman tertarik untuk hadir. Kami akan mengumpulkan dana untuk beasiswa mahasiswa berprestasi."
Serkan mengerutkan kening sejenak, mencoba mencerna undangan itu. "Acara amal? Terdengar menarik. Apa kau yang menyelenggarakannya?" Serkan tetap mencoba menahan sesuatu yang menegang, meskipun Alea semakin menunjukkan gestur mesra dengan sesekali mengecup punggungnya. Jelas terlihat bahwa Reynold tidak nyaman melihat hal itu, tapi ia berusaha untuk tetap tenang.
"Iya, aku bersama beberapa dosen lainnya," jawab Reynold, suaranya sedikit lebih pelan. Matanya tak lepas dari Alea yang sekarang tampak begitu santai memeluk Serkan, bahkan sesekali mengecupnya dengan lembut di punggung. Rey berusaha menahan diri agar tidak menunjukkan reaksi berlebihan, tapi dalam hatinya, amarah dan cemburu mulai merayap. Alea benar-benar tahu bagaimana cara membuat Rey kesal.
"Apa kau benar-benar tertarik untuk hadir, Paman?" Reynold mencoba mempertahankan percakapan agar tidak terlihat bahwa dia terganggu oleh pemandangan di depannya.
Serkan, meskipun terganggu oleh tingkah Alea, tetap bersikap tenang. "Tentu saja. Aku akan datang. Ini acara yang bagus, apalagi untuk mendukung pendidikan mahasiswa yang membutuhkan," jawabnya sambil melepaskan tangan Alea dari pinggangnya perlahan, memberikan isyarat halus bahwa ia tidak nyaman dengan situasi tersebut.
Namun, Alea tak mengindahkan isyarat itu. Dia tersenyum licik dan melingkarkan tangannya kembali ke pinggang Serkan. "Aku juga bisa ikut, kan, Paman?" tanyanya manja, sambil mencium punggung Serkan lagi. Tatapan matanya sekilas menantang Reynold, seolah ingin menunjukkan bahwa ia kini lebih bisa menyenangkan laki-laki.
Serkan menegang sejenak, tapi ia menahan diri untuk tidak mendorong Alea pergi secara kasar. "Alea..." gumamnya pelan, mencoba memberikan isyarat agar gadis itu berhenti. Namun, tetap saja. Alea semakin sengaja.
Reynold yang melihat semua itu hanya mengangguk dengan senyum hambar. "Tentu saja, Alea, kamu bisa ikut. Kamu kan mahasiswi di kampus itu," kata Reynold sinis, meski berusaha menyembunyikan cemburunya.
Alea tertawa kecil mendengar ucapan Rey, "Iya, Pak Rey," balasnya, namun nadanya jelas memperlihatkan bahwa ia tidak memedulikan apapun yang dikatakan Reynold. Dia kembali fokus pada Serkan, seolah-olah Reynold tidak ada di ruangan itu.
Serkan akhirnya menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. "Baik, Rey. Aku akan datang ke acara amal itu. Kirimkan detailnya ke sekretarisku nanti," katanya, berharap bisa segera menyelesaikan percakapan ini.
Reynold mengangguk pelan. “Akan aku kirimkan, Paman. Terima kasih sudah bersedia hadir,” katanya dengan datar. Tatapan matanya masih melekat pada Alea, namun kali ini ia tidak lagi berbicara apa-apa. Reynold tahu percuma untuk berdebat sekarang. Tanpa banyak kata, dia membalikkan badan dan berjalan keluar dari ruangan.
Serkan hanya bisa menghela napas lagi begitu pintu menutup. "Alea, kau ini...," ujarnya dengan nada serius, meskipun suaranya tetap lembut. "Kau tidak lihat situasi?"
Alea mendesah pelan, melepas pelukannya. "Kenapa sih, Paman? Aku hanya ingin memeluk Paman," ucapnya dengan nada polos yang dibuat-buat.
Lantas Serkan mematikan CCTV di ruangan itu dengan satu sentuhan pada tombol di mejanya, lalu menarik tirai jendela hingga tertutup rapat, menyingkirkan cahaya dari luar. Tatapannya berubah tajam, penuh dengan gelora yang selama ini ditahannya. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia menarik Alea dengan tegas, mendorongnya ke sofa.
"Kau benar-benar tahu caranya memancing singa yang sedang tidur," bisiknya serak, wajahnya mendekat ke leher Alea.
Alea terdiam, merasakan napas hangat Serkan yang menggoda kulitnya. Dia tahu, sejak tadi Serkan sudah menahan gelora yang kini jelas tidak bisa dikendalikannya lagi.
Tangan Serkan mulai menyentuh lembut leher Alea, jari-jarinya bergerak pelan namun penuh kendali. Alea tidak bisa menahan desahan kecil saat kulitnya bersentuhan dengan tangan pria itu.
Namun, di tengah desakan gairah yang tumbuh, Alea masih memikirkan sesuatu. Tanpa sepengetahuan Serkan, dia meraih ponselnya di sakunya, dengan cepat memotret momen itu—Serkan yang berada di atasnya, tangannya menyentuh lehernya dengan penuh tuntutan. Dalam detik yang sama, dia mengirim foto itu kepada Reynold.
Alea tersenyum tipis saat pesan terkirim, tetapi senyumnya segera hilang ketika Serkan menatapnya dalam-dalam, menyadari sedikit gerakan dari tangan Alea. Namun, dia tidak berkata apa-apa. Tatapan matanya masih dipenuhi hasrat, tetapi ada sedikit keraguan di sana.
"Alea, apa yang kau lakukan?" suaranya terdengar lebih berat, menahan gejolak di dalam dirinya.
Alea hanya menatapnya balik dengan ekspresi penuh percaya diri, meskipun di dalam hatinya sedikit gemetar. "Hanya bermain sedikit dengan singa," jawabnya, nada suaranya sedikit bercanda.
Serkan mengerutkan kening, tetapi tidak melepaskan cengkeramannya di leher Alea. Dia mendekat lagi, hingga wajahnya hampir menempel pada wajah Alea. "Kau benar-benar membuatku kesulitan, Alea. Tapi ingat, mainan bisa rusak jika kau tidak hati-hati."
Alea tertawa kecil, meskipun napasnya mulai terasa berat di bawah pengaruh Serkan. "Paman... kau yang mulai ini," katanya pelan, suaranya menggoda. "Jangan salahkan aku jika aku juga ingin bermain."
Serkan menatapnya lekat, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya Alea rencanakan, namun hasrat di dalam dirinya semakin sulit ditahan. Namun, ia tiba-tiba menarik diri sedikit, menahan keinginan yang semakin memuncak.
“Kau belum siap untuk apa yang akan terjadi kalau kita teruskan,” kata Serkan dengan nada rendah, tapi ada peringatan di balik kata-katanya. Ia menahan diri, meskipun jelas sekali bahwa keinginannya hampir tidak bisa dikontrol.
Alea, yang merasa di atas angin, justru mendekat lagi, menyingkirkan jarak yang baru saja diciptakan Serkan. "Siapa bilang aku tidak siap?" bisiknya di telinga Serkan, suaranya lembut namun penuh tekad.
Namun, sebelum Serkan bisa menanggapi, ponsel Alea bergetar. Ia melirik ke layar ponselnya, yang ternyata adalah balasan dari Reynold.
[Apa maksud kamu, Alea?], pesan singkat dari Reynold muncul, jelas menunjukkan kemarahan yang ditahannya.
Alea menyeringai, puas dengan reaksi Reynold, meskipun ia tahu ini hanya akan menambah rumit situasi yang sudah berbahaya.
Serkan yang melihat perubahan ekspresi Alea, kembali menatapnya dengan curiga. "Taruh ponsel kamu!" pinta Serkan, Alea menurut.
Lantas, Serkan melonggarkan dasinya. Lalu mengecup bibir Alea dengan rakus, dan Alea langsung membalas dengan semangat empat lima.
"Cukup sampai di sini," ucap Serkan, napasnya terengah-engah. Ia tidak ingin menyentuh Alea untuk kedua kalinya.
"Tidak, Paman!" Alea menarik dasi Serkan hingga jarak keduanya kembali dekat, "Lanjutkan, aku menginginkannya, ah.... "