Reynold duduk di pojok kafe favoritnya, menyesap coffee vanilla latte yang mulai mendingin. Pandangannya kosong menatap keluar jendela, tapi pikirannya masih terpaku pada perbincangannya dengan ibunya Serkan, tentang Serkan yang dijodohkan dengan Alea.
"Aku yakin, Alea menerima Paman Serkan pasti ada alasan lain, aku akan mencari tahu," bisik Reynold.
Reynold menghela napas panjang, mencoba untuk tenang. Semenjak dirinya mengakhiri hubungan dengan Alea, gadis cupu nan polos itu langsung berubah drastis.
Namun tiba-tiba, matanya tertuju pada sosok yang sangat dikenalnya. Sherry, kekasihnya—seorang mahasiswi cantik yang selalu menjadi pusat perhatian di kampus—tampak sedang keluar dari kafe.
Reynold tersentak. Ia nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sherry tidak sendirian. Di sampingnya, ada seorang pria yang tidak dikenalnya, namun jelas-jelas sedang bergandengan tangan dengannya.
Reynold mengernyitkan dahi, rasa penasaran mulai membanjiri pikirannya. "Apa yang sedang dia lakukan? Siapa pria itu?" bisiknya pelan pada dirinya sendiri.
Sherry tertawa kecil, tampak sangat nyaman dengan pria di sampingnya. Mereka berjalan santai menuju hotel yang terletak tepat di seberang kafe. Reynold merasakan detak jantungnya meningkat, sesuatu di dalam dirinya menyuruh untuk mengikuti mereka. Ia meletakkan kopinya dengan cepat, dan tanpa berpikir panjang, ia bangkit dari tempat duduknya, mengikuti mereka dengan langkah perlahan.
Rasa cemburu dan kemarahan mulai merayap dalam dirinya. Sherry, yang selama ini selalu menampilkan kesan manis dan setia, kini tampak begitu berbeda di depan pria lain.
"Mungkin aku salah paham," gumam Reynold dalam hati, mencoba menenangkan dirinya. Namun, ia tidak bisa berhenti mengikuti mereka.
Mereka berdua akhirnya berhenti di depan pintu hotel. Reynold bersembunyi di sudut memastikan dirinya tidak terlihat. Jantungnya berdegup kencang saat ia melihat Sherry berbalik menghadap pria itu. Tanpa ragu, Sherry menyentuh wajah pria itu, tersenyum lembut, dan dengan penuh keberanian, mencium bibir pria itu. Ciuman yang tidak bisa disalahartikan sebagai sebuah kesalahpahaman.
Reynold tercekat.
Dunia seolah berhenti sejenak. Ia menahan napas, memandang pemandangan di depannya dengan perasaan marah, terluka, dan mungkin bahkan sedikit hampa. Tangannya mengepal kuat, dan ia merasakan rasa panas merambat di seluruh tubuhnya.
Tanpa berpikir lebih jauh, Reynold berbalik dan berjalan cepat menjauh. Ia tidak ingin melihat lebih banyak lagi. Ia tidak ingin tahu kelanjutan dari adegan yang sudah terlalu jelas itu. Langkahnya semakin cepat, sampai ia akhirnya berhenti di sudut jalan, jauh dari hotel itu. Matanya kosong, perasaannya hancur. Sherry—gadis yang selama ini ia percayai, yang ia pikir tulus mencintainya—ternyata mengkhianatinya.
Reynold mencoba mengendalikan emosinya, tapi setiap kali ia mengingat ciuman itu, ia merasa semakin muak. Ia mengepalkan tangan, berusaha menahan amarahnya. "Jadi selama ini dia hanya bermain-main denganku?” pikirnya, matanya masih menatap tajam ke kejauhan.
Sherry, primadona kampus yang begitu dipuja banyak orang, ternyata sama sekali bukan seperti yang ia pikirkan.
Ia berjalan tanpa tujuan, berusaha menghindari kenyataan yang baru saja menamparnya keras. Setiap langkahnya terasa berat, dan pikirannya berputar-putar antara rasa marah dan sakit hati.
Namun satu hal kini jelas di pikirannya—Sherry bukan lagi seseorang yang bisa ia percayai. Dan Alea? Dia mungkin satu-satunya yang selama ini benar-benar tulus.
"Mengapa jadi begini?"
Reynold terus berjalan, membiarkan pikirannya hanyut dalam kerumitan emosi yang sulit diuraikan.
***
Alea melangkah cepat menuju ke ruang kerja Serkan di lantai 25. Ia membawakan makan siang untuk Serkan. Ia ingin memberikan kejutan kepada laki-laki itu, seperti biasa, meski tahu bahwa pria itu selalu terkesan menjaga jarak.
Setibanya di depan pintu ruang Serkan, sekretarisnya, langsung menghampiri Alea.
"Maaf, Nona Alea, Tuan Serkan tidak bisa diganggu. Anda tidak bisa masuk begitu saja."
Namun, Alea hanya tersenyum tipis. "Aku hanya ingin mengantar makan siang. Dia pasti tidak keberatan." Tanpa menunggu izin lebih lanjut, Alea membuka pintu ruang kerja Serkan dan melangkah masuk dengan langkah ringan. Sekretaris hanya bisa menghela napas panjang, terbiasa dengan keberanian Alea yang sering melampaui batas.
Di dalam ruangan, Serkan berdiri di depan jendela, memandang ke arah kota. Cahaya matahari siang menyorot tubuhnya yang tegap. Alea menghentikan langkahnya sejenak, menatap punggung Serkan dengan senyum kecil di bibirnya.
"Paman," panggilnya dengan lembut sambil mendekat. Tanpa berpikir panjang, Alea melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Serkan, memeluknya dari belakang. "Aku bawakan makan siang untukmu."
Serkan, yang terkejut dengan pelukan tiba-tiba itu, langsung menepis tangan Alea dengan lembut. "Alea..." gumamnya pelan, tanpa menoleh ke belakang. Meski hatinya perlahan mulai terbuka untuk gadis muda itu, ia tetap merasa perlu menjaga jarak. Ada sesuatu dalam dirinya yang menahannya, mungkin perbedaan usia yang begitu jauh atau rasa tanggung jawab yang besar.
Alea menarik diri, sedikit tersinggung dengan reaksi dingin Serkan. "Kenapa, Paman? Aku cuma ingin menunjukkan perhatian. Apa kamu tidak suka?"
Serkan menghela napas panjang, akhirnya berbalik untuk menatap Alea. "Ini bukan masalah suka atau tidak, Alea. Kau tahu kita tidak bisa seperti ini di tempat kerja, apalagi ada banyak orang di luar sana."
Alea menatapnya dengan mata penuh tanya. "Apa ada orang lain yang tahu kalau kita dijodohkan, Paman?" tanyanya hati-hati, berusaha menyelami pikiran Serkan.
Serkan menggelengkan kepalanya. "Tidak, sejauh ini hanya kita dan keluarga kita yang tahu. Aku sengaja tidak memberitahu siapa-siapa. Ini bukan sesuatu yang bisa dibicarakan dengan mudah."
Alea mengangguk pelan, mencerna jawaban Serkan. Namun, pandangannya tiba-tiba tertuju pada bayangan di pintu yang sedikit terbuka. Reynold berdiri di sana, memandang mereka dengan wajah yang sulit dibaca. Mata Alea langsung berkilat, dan tanpa berpikir panjang, ia menarik dasi Serkan dengan tiba-tiba.
"Alea, apa yang kau—" Serkan mencoba protes, namun kata-katanya terhenti saat bibir Alea menyentuh bibirnya dengan lembut. Ciuman itu cepat, namun cukup untuk membuat Serkan terkejut dan mematung sejenak.
Di ambang pintu, Reynold tak mampu bergerak. Matanya terpaku pada pemandangan di depannya—Alea, gadis yang pernah menjadi kekasihnya, kini dengan berani mencium pamannya. Rasa cemburu mendadak membakar dadanya, namun ia tak bisa mengatakan apa-apa. Tubuhnya terasa membeku di tempat.
Serkan akhirnya berhasil menarik diri dari ciuman itu, sedikit terengah-engah. "Alea, kau benar-benar nakal," ucapnya, meski nadanya tidak sepenuhnya tegas.
Namun, Alea hanya tersenyum kecil, seolah-olah tidak peduli. Matanya beralih sekilas ke arah Reynold, yang masih berdiri di sana dengan wajah tak percaya. "Tapi paman suka, kan? Kalau suka, jangan protes."
Serkan menatap Alea dengan bingung dan kesal, namun sebelum ia bisa berkata lebih jauh, ia melihat Reynold berdiri di pintu. "Reynold? Sejak kapan kau di sana?"
Reynold menggeram dalam hati, cemburu yang tak bisa ia sembunyikan terpancar jelas di wajahnya. "Cukup lama," jawabnya dingin, suaranya nyaris berbisik.