"Paman, aku dan Pak Rey hanya sebatas murid dan dosen. Tidak lebih dari itu," Alea berkata dengan nada tenang, namun di dalam hatinya ada rasa cemas yang menyelinap.
Alea hanya tidak ingin Serkan mengetahui bahwa Rey adalah mantannya, tidak mau sampai Serkan curiga padanya. Bisa-bisa nanti gagal rencana Alea yang sudah ia siapkan dengan sempurna.
Serkan menatap Alea, seakan mencoba membaca kejujuran dari setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Murid dan dosen?" ulang Serkan pelan, tatapannya masih belum sepenuhnya yakin. "Tapi kenapa aku merasa ada sesuatu yang lebih di antara kalian berdua?" Serkan menatap Alea, sesekali melirik kearah Reynold.
Alea menelan ludah, mencoba menjaga rasa cemasnya di depan Serkan. "Tidak ada yang lebih dari itu, Paman. Kenapa Paman malah jadi curiga? Hm... aku dan Pak Rey di kampus hanya berbicara sebatas tugas-tugas kuliah. Kalau memang terlihat aneh, mungkin hanya perasaan Paman Serkan saja," jelasnya sambil meletakkan tangan di d**a Serkan seolah berusaha meyakinkan Serkan.
Serkan masih terlihat ragu. Matanya berpindah ke arah Reynold yang diam saja sejak tadi. "Rey, apa benar? Kamu dan Alea tidak memiliki hubungan apa-apa selain itu?" selidik Serkan.
Reynold menghela napas panjang. "Paman, Alea tidak berbohong. Kami memang sering bertemu di kampus, dan hubungan aku dan Alea tidak lebih dari itu."
Serkan memutar matanya, tidak langsung menerima penjelasan dari keduanya. "Tapi… kenapa aku merasa kalian berdua menyembunyikan sesuatu? Kenapa aku merasa ada yang kalian tutupi?"
Alea berusaha menahan rasa gugupnya, tapi dia tahu bahwa dia harus bermain lebih cerdik. Dia menggenggam tangan Serkan erat-erat. "Paman, aku tidak pernah menyembunyikan apa pun darimu. Kamu tahu, kan, aku mencintaimu? Aku tidak akan melakukan hal yang bisa menyakiti perasaanmu. Pak Reynold hanya dosenku, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Reynold mengangguk, menambahkan, "Paman, tenanglah. Alea memang muridku, dan aku hanya dosennya."
Serkan menatap keduanya, jelas masih ada sedikit keraguan di matanya. Namun, melihat kesungguhan Alea yang terus menggenggam tangannya, ia mulai luluh. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghela napas perlahan. "Baiklah, aku akan percaya."
Alea tersenyum lega. "Nah gitu dong, Paman," ucap Alea.
Serkan menatap Alea, lalu Reynold. "Tapi kalau ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari aku, entahlah ... Kalian harus tahu, aku tidak suka ditipu."
"Tentu, Paman," jawab Reynold dengan nada tegas. "Tenang saja."
Setelah itu, suasana ruangan menjadi sedikit lebih tenang. Reynold melirik jam di tangannya, "Aku rasa aku harus kembali ke kampus sekarang, Paman. Maaf, jika aku terlalu kepo dengan urusan pribadi Paman," Ucap Rey.
Serkan mengangguk pelan. "Baik, Rey. Hati-hati di jalan."
Reynold menatap Alea sejenak sebelum berbalik dan berjalan keluar ruangan. Alea memperhatikan kepergiannya dengan tatapan penuh arti, namun segera beralih kembali kepada Serkan setelah Reynold menghilang dari pandangan.
"Sudah, kan? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi," ujar Alea sambil tersenyum manis.
Serkan menatapnya sekilas. "Aku harap begitu, Alea."
Alea, kemudian menarik dasi Serkan, hingga jarak keduanya begitu dekat. "Tenanglah, Paman.... " Alea hendak akan menyentuh bibir Serkan, namun Serkan segera menghindar.
"Sejak kapan kamu jadi nakal, Alea?" tanya Serkan menatap Alea dengan serius.
Serkan sudah cukup lama mengenal Alea, dan perubahan serba dadakan yang terjadi pada Alea membuat Serkan tentu curiga.
"Sejak aku menerima perjodohan dengan Paman," bisik Alea, Serkan mendongak tak percaya.
Esok harinya, Reynold mengetuk pintu rumah Alea dengan sedikit ragu. Ia tahu ibunya Alea sedang tidak ada di rumah, jadi ini adalah kesempatan baginya untuk bicara tanpa gangguan. Ketika pintu terbuka, Alea tampak terkejut melihat siapa yang datang.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Rey?" tanya Alea dingin, membuka pintu hanya sedikit.
Reynold tersenyum tipis, berusaha terlihat santai. "Aku cuma ingin bicara, Alea. Aku tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan."
Alea mendesah, matanya menyipit. "Aku tidak ada waktu, Rey. Lebih baik kamu pergi sekarang."
"Alea, aku tidak akan pergi sampai kita bicara. Aku tahu kau menerima perjodohan ini karena ada alasan lain, bukan karena kamu benar-benar mau menikah dengan Paman Serkan," lanjut Reynold, ia tersenyum kecil.
Alea memutar bola matanya, mencoba mengabaikan ketegangan yang muncul di dalam dadanya. "Itu bukan urusanmu, Rey. Serius, aku tidak mau membahas ini lagi. Pergilah!"
Reynold melangkah maju, mendekat ke pintu sebelum Alea bisa menutupnya sepenuhnya. "Kau masih menyembunyikan sesuatu, kan? Apa kau benar-benar jatuh cinta pada Paman Serkan atau ini semua hanya karena aku?" desak Reynold. "Kau bisa bohong ke semua orang, tapi tidak kepadaku. Aku mengenalmu lebih baik dari siapapun."
Alea diam sejenak, merasakan tatapan intens Reynold menembus pertahanannya. Dengan tegas, ia menahan pintu di antara mereka berdua. "Kamu tidak mengenalku lagi, Rey. Aku sudah berubah. Apa yang aku lakukan sekarang adalah pilihanku. Bukan karena kamu, bukan karena perjodohan, tapi karena aku .... "
"Benarkah? Kau sungguh ingin menikah dengan pria yang usianya dua kali lipat lebih tua darimu? Sejak kapan kamu suka pria seperti Paman Serkan?" Reynold terus memancing, jelas tak mau menyerah begitu saja. "Kau tidak mencintainya, Alea. Kau hanya menggunakan dia. Itu jelas."
Alea terdiam sesaat, merasakan amarah mulai membara di dalam dadanya.
"Aku sudah bilang, Rey," suara Alea terdengar lebih tegas, "Ini bukan urusanmu lagi. Kamu sudah memilih untuk bersama orang lain. Jadi, berhenti mencoba mencari tahu apa yang terjadi dalam hidupku."
Reynold tidak menyerah begitu saja. "Alea, aku tahu kau masih peduli padaku. Itu sebabnya kau melakukan ini. Kau marah, kecewa, dan kau ingin membuatku merasa bersalah. Tapi itu tidak perlu."
Alea tertawa sinis, "Kamu pikir aku melakukan ini karena kamu? Lucu sekali. Tidak semua keputusan dalam hidupku dibuat karena kamu. Dengar, aku bisa menentukan jalanku sendiri."
Reynold terdiam sesaat, "Alea..."
Alea memotong dengan cepat, matanya berkilat penuh kemarahan. "Cukup, Rey. Aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu. Aku sudah muak dengan drama ini. Kamu datang ke sini, berharap aku akan jatuh lagi dalam pesonamu, tapi itu tidak akan terjadi. Jadi, lebih baik kamu pergi sekarang."
"Kau benar-benar tidak mau bicara lagi?"
"Tidak. Aku tidak mau," jawab Alea tegas, tanpa sedikit pun keraguan.
Dengan berat hati, Reynold akhirnya mengangguk pelan. Ia melangkah mundur, melepaskan cengkeramannya dari pintu. "Baiklah, Alea. Aku akan pergi.
Alea menatapnya dingin, tanpa emosi.
Reynold menghela napas panjang sebelum berbalik dan pergi. Pintu tertutup dengan suara tegas, dan Alea berdiri diam sejenak, membiarkan keheningan menyelimutinya. Ia merasa lega, tetapi ada juga rasa perih yang menyelinap dalam hatinya.
"Dari mana dia tahu bahwa aku dan Paman Serkan itu karena perjodohan?" tanya Alea pada dirinya sendiri.