“Sudah cukup lama," jawab Alea, tidak mengizinkan Serkan untuk berbicara. "Aku dan Paman Serkan sengaja merahasiakan hubungan kami. Dan sekarang sudah waktunya aku dan Paman Serkan memberitahu pada semua orang kalau kita adalah pasangan kekasih. Iya, kan, Paman?” Alea menyenderkan kepalanya dengan manja di bahu Serkan.
Reynold hanya bisa mengangguk pelan, ia berusaha untuk menyembunyikan amarahnya di depan Serkan dan Alea. Dia benar-benar tidak menyangka, mantannya berpacaran dengan pamannya.
Reynold tidak mau sampai Alea ataupun Serkan menyadari tentang perasaannya saat ini, bahwa dirinya benar-benar marah, kesal, mungkin juga cemburu. Apalagi melihat penampilan Alea, dan juga melihat Alea begitu berani mencium bibir Serkan. Saat Alea menjadi kekasihnya, Alea tidak pernah melakukan itu padanya.
Benar-benar sangat menyebalkan. Huh!
Tanpa berkata apa-apa lagi, Reynold melanjutkan langkahnya.
Serkan yang masih bingung dengan situasi ini, hendak bertanya sesuatu kepada Alea, namun sebelum dia sempat membuka mulut, Alea mendekat dan mencium bibirnya lagi. Kali ini, ciuman itu sedikit lebih lama, membuat Serkan terkejut namun tidak bisa menolaknya.
Reynold yang masih berada di dekat sana sempat melihat saat Alea mencium bibir Serkan. Tanpa sadar, kedua tangan Reynold mengepal kuat.
Setelah ciuman itu, Alea melepaskan diri dan tersenyum kecil. “Aku harus masuk kelas sekarang, Paman. Terima kasih sudah mengantarkan handphoneku.” Jari telunjuk Alea menyentuh bibir Serkan, menghapus sisa lipstik di bibir Serkan.
Serkan menatap Alea dengan tatapan bingung, ia juga merasa kesal karena sejak semalam Alea terus menyerang dirinya tanpa memberikan kesempatan untuk melawan. “Alea, kamu benar-benar—”
“Paman, aku harus masuk kelas. Nanti kita lanjut lagi, oke,” potong Alea dengan nada manis. "Paman pasti akan candu." Alea tersenyum manis kemudian masuk ke kelas.
Serkan tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya bisa melihat Alea berjalan menuju ke kelas. Dia akhirnya menghela napas panjang dan memutuskan untuk pergi.
Namun, saat Serkan sudah menghilang dari pandangan, Reynold tiba-tiba muncul kembali dan langsung menarik Alea dengan paksa saat Alea sudah berada di ambang pintu. "Ikut aku," desisnya, menarik Alea menuju ke belakang kampus yang sudah mulai sepi.
Setibanya di belakang kampus, Reynold melepaskan cengkeramannya dan menatap Alea dengan tatapan yang mematikan. Napasnya masih memburu, Reynold sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.
"Jadi, sebenarnya yang berkhianat itu kamu, Alea, bukan aku," katanya dengan suara tinggi.
Alea hanya tersenyum sinis, merasakan kepuasan melihat Reynold marah seperti itu. “Aku berkhianat? Apa maksudmu, Reynold?” tanyanya dengan nada polos yang jelas-jelas dibuat-buat.
“Jangan berpura-pura tidak tahu, Alea! Kau sengaja, kan, berciuman dengan Paman Serkan di depan mataku, dan bahkan kau bilang bahwa kau berpacaran dengannya? Kau gadis yang benar-benar licik,” seru Reynold, matanya masih terbuka lebar.
Alea melipat tangannya di depan d**a dan menatap Reynold dengan tenang. “Terus masalah kamu apa, Reynold? Kamu sudah punya Sherry, bukan?" Alea tersenyum sinis, "Kita hampir tiga tahun pacaran, tapi kau tidak pernah menghargai aku. Jadi, jangan salahkan aku kalau aku memilih orang yang lebih menghargai aku. Hanya Paman Serkan yang bisa menghargai aku, mencintai aku apa adanya.” Alea berkata santai, seolah-olah dirinya menang di atas angin, ia yakin kalau Reynold benar-benar cemburu.
Reynold mendekat, menatap Alea dengan tajam. “Sherry tidak ada hubungannya dengan ini. Dia hanya… pelarian sementara. Tapi kamu? Kamu-lah pengkhianat sebenarnya, Alea. Bukan aku!”
Alea tertawa kecil, merasa ironis mendengar ucapan Reynold. “Apa kau bilang? Sherry hanya pelarian? Haha lucu! Kamu lupa? Apa yang sudah kamu katakan padaku kemarin, hah? Dan sekarang kamu mengatakan bahwa aku pengkhianat? Reynold, kamu tidak pernah benar-benar mengenalku. Kamu hanya melihatku sebagai gadis yang bisa kamu permainkan, seseorang yang bisa kamu abaikan kapan pun kamu mau. Aku memang cupu di depan kamu, tapi aku sangat menyenangkan di depan Paman Serkan, pacarku sekarang.”
Reynold menggeram, jelas merasa tersudut. “Kamu pikir kamu bisa menyakitiku dengan cara ini, Alea? Kau salah besar. Aku tidak peduli. Kau memang pengkhianat yang sesungguhnya, bukan aku!”
Alea tersenyum tipis, merasa bahwa dia telah menang dalam pertempuran ini. “Kau tidak akan pernah mengerti, Reynold. Tapi ingat ini, kau akan menyesal telah meremehkan aku. Kau akan tahu betapa aku sangat pandai menyenangkan laki-laki. Jika kau tidak percaya, kau bisa tanyakan pada Paman Serkan.”
Reynold menatap Alea dengan kebencian yang dalam, tapi dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya berbalik dan pergi, meninggalkan Alea sendirian di belakang kampus.
Alea menghela napas panjang setelah Reynold pergi. Dia merasa puas karena bisa membuat Reynold marah, tapi di dalam hatinya, dia tahu bahwa ini semua hanya awal dari sesuatu yang lebih besar.
Dengan tekad yang bulat, Alea berjalan kembali ke kelas, merasa lebih percaya diri.
"Aku seperti ini gara-gara kamu, Reynold!" bisik Alea tersenyum menyeringai. "Lihat saja, kamu pasti akan menyesal telah mencampakkan aku."
***
Di Mansion Wilson.
Serkan pulang lebih awal, dan di ruang tengah sudah ada Reynold menunggunya.
"Rey, kau di sini?" Serkan melonggarkan dasinya. Lantas, Serkan duduk di sofa, ia menarik napas dalam-dalam.
"Ada yang ingin Rey tanyakan pada Paman. Apa benar, Paman dan Alea itu sudah pacaran sejak lama?" tanya Rey, sebenarnya dia ragu untuk menanyakan tentang ini pada pamannya.
Serkan menatap Reynold dengan tatapan curiga. "Memangnya kenapa, Rey?" Serkan malah berbalik bertanya.
"Aku hanya ingin tahu saja, Paman," jawab Reynold. "Apa paman yakin sama Alea? Alea masih muda sedangkan usia paman sudan matang. Apakah sebaiknya paman tidak mencari wanita yang usianya lebih matang?" kata Reynold ragu-ragu.
"Rey, aku dan Alea.... "
"Usia tidak akan menjadi penghalang, Pak Rey!" potong Alea, entah sejak kapan gadis itu datang.
Reynold langsung beranjak berdiri, dan Alea langsung duduk disebelah Serkan.
"Iya, kan, Paman?" tanya Alea, dan lagi ... Alea memberanikan diri mengecup bibir Serkan sekilas di depan Reynold.
Serkan malah diam membisu, setiap mendapatkan sentuhan dari Alea membuat dirinya dirinya membeku.
Alea tersenyum sinis, bola matanya melirik sinis pada Reynold.
Serkan menghela napas dalam-dalam, lantas bola matanya melirik ke arah Alea sesekali ke arah Reynold.
"Apa sebelumnya kalian memiliki hubungan?" tanya Serkan pada Alea dan juga Reynold.
Alea membulatkan pupil matanya sempurna. Sungguh, dia tidak ingin Serkan mengetahui bahwa dirinya dan Reynold pernah pacaran.
"Kenapa kalian diam?" tanya Serkan, tatapannya terlihat menyelidik.
"Paman, aku.... "