Bab 3 : Jangan salahkan aku, Alea!

1321 Words
Alea tiba di apartemen Serkan dengan langkah cepat. Ia masih marah, kecewa, dan kesal beradu jadi satu. Namun, senyuman seringai kembali terukir di sudut bibirnya. Alea mengetuk pintu dengan keras, membuat Serkan yang sedang santai di dalam langsung terbangun. Sebelum Serkan sempat membuka pintu, Alea sudah mendorongnya hingga terhempas ke dinding. "Alea, apa yang kau lakukan?" Serkan bertanya, ia benar-benar terkejut dan kesal. Alea mendekat, tatapannya terlihat liar dan menggoda, "Aku datang ke sini hanya untuk membuktikan pada paman bahwa paman tidak akan menyesal menerima perjodohan dari orang tua kita!" Serkan belum sempat merespons, namun Alea malah mendekatkan bibirnya ke bibir Serkan, menekan tubuhnya ke arah tubuh Serkan. "Kamu mau apa, Alea?" Serkan berusaha menghindar, namun suaranya tercekat ketika Alea mencium bibirnya dengan penuh gairah. Serkan merasa dirinya tergoda, meskipun ia tahu bahwa ini tidak seharusnya terjadi. Jujur saja, ini pertama kali bagi Serkan. Alea yang dibutakan oleh rasa sakit hati, mendorong Serkan ke tempat tidur. Serkan yang awalnya menolak, akhirnya menyerah pada godaan Alea yang benar-benar b*******h. "Jangan salahkan aku, Alea," bisiknya sebelum dia kehilangan kendali, dan tubuh mereka berdua terhempas ke atas ranjang. *** Alea terbangun lebih awal, sinar matahari pagi menerobos melalui tirai apartemen Serkan. Dia meremas selimut di tangannya, menahan rasa sakit dan sesal yang tiba-tiba menyerangnya. Serkan masih tertidur di sebelahnya, wajahnya tampak tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. "Bodoh!" umpat Alea , ia mengusap wajahnya kasar, "Apa yang sudah kamu lakukan, Alea?" Alea melihat ada noda darah di atas kasur menandakan bahwa ia sudah tidak perawan lagi. Karena patah hati membuat Alea begitu berani menyerahkan tubuhnya pada Serkan, Laki-laki yang belum tentu akan menjadi suaminya. Alea memejamkan mata, pikirannya dipenuhi oleh kenangan semalam, dan betapa nekatnya dia untuk membuktikan dirinya kepada Reynold. Alea menyeka air matanya yang mulai mengalir, lalu dengan cepat dia bangkit dari tempat tidur, berusaha sekuat mungkin untuk menahan emosinya. "Mengapa kamu harus menangis, Alea? Bukankah ini yang kamu inginkan?" Alea berusaha untuk tersenyum. Setelah berpakaian, Alea meraih ponselnya. Dengan tangan yang gemetar, dia mulai mengedit video yang dia rekam semalam. Wajah Serkan tidak terlihat, hanya dirinya yang tampak jelas saat dia memberikan segala yang dimiliki untuk memuaskan Serkan. "Lihat, Rey... aku bisa menyenangkan laki-laki..." bisiknya lirih pada dirinya sendiri, hatinya hancur namun juga dipenuhi oleh rasa dendam. Setelah video itu selesai Alea edit, Alea membuang ponselnya ke atas tempat tidur dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tubuhnya bergetar hebat, air mata jatuh tanpa bisa dia tahan. Alea sadar apa yang telah dilakukannya adalah tindakan yang didorong oleh sakit hati dan ego yang terluka, tetapi rasa sakit yang dirasakan lebih besar daripada penyesalannya. Serkan yang kini sudah terbangun, melihat Alea duduk di tepi tempat tidur sambil menangis. Dia mengerti apa yang terjadi, tetapi tidak tahu harus mengatakan apa. Karena kejadian semalam terjadi karena Alea yang mulai. Alea menyadari bahwa Serkan sudah bangun, "Aku menyesal, Paman Serkan," kata Alea dengan suara serak, masih tidak berani menatap Serkan. "Aku terlalu bodoh... aku hanya ingin membuktikan sesuatu yang seharusnya tidak perlu aku buktikan." Kemudian Serkan bangun dan duduk di samping Alea, menyentuh bahunya dengan lembut. "Memangnya kamu ingin membuktikan pada siapa?" Alea menatap Serkan. Tak ada gunanya menangis, dia tahu bahwa dia harus kuat, tetapi luka yang ditinggalkan oleh pengkhianatan Reynold dan keputusan gegabah yang diambilnya terlalu dalam untuk sembuh dalam waktu singkat. "Pada paman. Aku ingin membuktikan pada paman bahwa aku bisa menyenangkan paman," ucap Alea menghapus air matanya lagi. Serkan ketawa kecil, kemudian mendekatkan bibirnya ke sebelah telinga Alea, "Lantas, kenapa kamu menyesal?" bisik Serkan. Alea tersenyum kemudian kedua tangannya melingkar di tengkuk Serkan, "Aku takut, paman akan meninggalkan aku setelah ini." Serkan kembali tertawa, "Kamu benar-benar gadis bodoh!" Serkan kemudian turun dari tempat tidur, bergegas masuk ke kamar mandi. Tak lama kemudian, Serkan keluar dari kamar mandi. Ia tampak terlihat segar. Ia melihat Alea sedang memandangi dirinya sendiri di cermin, mata merahnya masih basah oleh sisa air mata. "Kenapa lagi kamu, Alea?" tanya Serkan acuh. "Aku ingin terlihat cantik, Paman! Aku lelah dikatain jelek oleh teman kampus," katanya dengan suara parau, "Aku juga tidak ingin membuat Paman merasa malu punya kekasih jelek sepertiku," tambah Alea. Serkan menghela napas dalam-dalam, kemudian ia mendekati Alea. "Baik, gadis bodoh. Aku akan mengabulkan permintaan kamu," ucap Serkan tersenyum menatap Alea. Hah? Tanpa banyak bicara lagi, Serkan yang sudah berpakaian rapi membawa Alea keluar dari apartemen. "Paman mau bawa aku ke mana?" tanya Alea bingung. Serkan tidak menjawab pertanyaan dari Alea. Ternyata Serkan membawa Alea ke salon. "Saya ingin Anda merubah penampilan gadis ini, " kata Serkan pada pemilik salon, "Pastikan dia terlihat cantik namun harus terlihat natural sesuai dengan usianya," pinta Serkan. "Baik, Tuan Serkan." Nona Zhu, Pemilik salon dan para asistennya segera membawa Alea. Nona Zhu memotong rambut Alea, lalu mewarnainya dengan sentuhan warna yang lebih cerah namun tetap alami. Riasan wajahnya dibuat lembut namun tegas, menonjolkan kecantikan alaminya yang selama ini tersembunyi di balik kacamata besar dan penampilan yang biasa-biasa saja. Selama berjam-jam, Alea duduk di kursi salon, merasakan setiap sentuhan yang mengubah penampilannya. Ketika semuanya selesai, Alea hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Rambutnya kini tergerai indah, matanya yang dulunya tertutup oleh kacamata besar kini terlihat indah dengan bantuan lensa kontak. Bibirnya juga dihiasi dengan lipstik merah muda. Alea terus berdiri di depan cermin. Ia masih belum percaya dengan penampilan barunya. Alea digandeng oleh Nona Zhu berjalan menuju ke ruang tunggu, di mana ada Serkan yang sedang menunggu. "Bagaimana Tuan Serkan?" tanya Nona Zhu. Serkan yang sedang membaca majalah langsung menoleh ke arah Nona Zhu dan disamping Nona Zhu berdiri Alea yang terlihat berbeda sampai Serkan tidak mengenalinya. "Alea.... " Suara Serkan hampir tidak terdengar. Matanya tidak berkedip namun dalam detik itu juga, ia mengalihkan pandangannya. "Bagaimana penampilan aku, paman?" tanya Alea, dia langsung mendekati Serkan saat Nona Zhu pergi. "Setidaknya jauh lebih baik daripada sebelumnya," ucap Serkan menatap Alea hanya sekilas. Bibir Alea terlihat mengerucut, padahal ia ingin sekali Serkan memuji penampilannya. *** Alea sampai di kampus, kedatangan Alea menjadi sorotan. Dia berjalan memasuki aula dengan kepala tegak, dan percaya diri. Ia mengenakan pakaian yang lebih stylis, sesuai dengan penampilannya. Tidak ada lagi kacamata besar yang menutupi kecantikannya. Mahasiswa dan mahasiswi di sekitarnya memandang Alea dengan tak percaya. Banyak yang tidak percaya bahwa gadis yang dulunya dianggap biasa-biasa saja ternyata sangat cantik bak bagaikan bidadari. Bisikan-bisikan mulai terdengar di antara mereka, tetapi Alea tidak menghiraukannya. Dia tetap melangkah dengan percaya diri. Reynold yang kebetulan sedang berbicara dengan Sherry di sudut taman, ia melihat Alea. Dia langsung terdiam, tidak bisa berkata-kata. Matanya terpaku pada sosok mantannya yang kini sangat berbeda dari yang pernah dia kenal. Mata Reynold tidak berkedip, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Alea…?" bisik Reynold, tidak sadar bahwa dia memanggil Alea dengan suara yang begitu rendah. "Rey, kamu kenapa?" tanya Sherry. Alea menangkap pandangan Reynold sejenak, waktu terasa berhenti. Di balik tatapan dinginnya, ada rasa puas yang mengalir dalam diri Alea, melihat ekspresi Reynold sudah cukup memberikan Alea kemenangan kecil. Reynold terdiam, setelah ia mengalihkan pemandangannya. "Kamu kenapa, Sayang?" Sherry mengulangi pertanyaannya lagi. "Tidak kenapa-napa. Ya sudah, Sherry, aku harus mengajar dulu," ucap Reynold. Sherry mengangguk, ia tidak menyadari bahwa Reynold terpukau dengan penampilan baru Alea. Saat Alea akan masuk kelas, Serkan menghentikan langkahnya. "Handphone kamu ketinggalan, Alea," ucap Serkan menyerahkan ponselnya pada Alea. "Oh iya.... " Alea mengambil ponselnya dari tangan Serkan. Alea melihat Reynold, la langsung menarik lengan Serkan agar lebih dekat dengannya, mengecup bibir Serkan sekilas di depan Reynold. "Terima kasih, Paman," ucap Alea, ia tak peduli dengan tanggapan teman-temannya di sekitarnya, yang penting ia bisa membuktikan pada Reynold bahwa dia bisa menyenangkan laki-laki seperti Sherry. Serkan hanya bisa menghembuskan napas kasar, melihat kelakuan Alea yang semakin berani. "Paman Serkan," panggil Reynold, ia berjalan mendekati Serkan dan Alea. "Eh, Rey," sahut Serkan. "Ada hubungan apa antara Paman dan gadis itu?" tanya Reynold. "Aku adalah kekasihnya Paman Serkan," jawab Alea yang langsung menggandeng tangan Serkan. Reynold terbelalak, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, "Sejak kapan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD