Serkan menghela napas panjang, matanya menatap lekat gadis yang sering memakai kacamata. "Lebih baik kita jalani saja. Kalau untuk menikah, sebaiknya kita tunda dulu. Saya tidak mau ada perceraian, Alea. Jadi…"
"Aku mengerti, Paman Serkan." Alea memotong kalimatnya, ia tersenyum nakal, kedua tangannya melingkar di tengkuk Serkan. "Paman ingin kita pacaran dulu, kan? Oh baiklah, aku setuju," katanya sambil menatap mata Serkan.
Serkan terdiam, keningnya berkerut seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Sebelum dia sempat merespons, Alea sudah bergerak cepat. Dengan beraninya, dia mengecup leher Serkan, meninggalkan bekas merah yang jelas terlihat.
Serkan tersentak, namun sedikit mengerang karena ada sensasi nikmat. Kedua matanya membulat sempurna. "Alea, apa yang kamu lakukan?" tanya Serkan, suaranya setengah berbisik. Napasnya masih terengah-engah.
Alea tersenyum menggoda, ia mendekatkan bibirnya ke sebelah telinga Serkan.
"Tanda kepemilikan ini, sebagai tanda bahwa kita sudah menjadi pasangan kekasih, Paman Sayang." Alea turun dari pangkuan Serkan, masih dengan senyuman yang sama, lalu berjalan keluar ruangan tanpa menoleh ke arah Serkan.
Serkan terdiam, masih terkejut dengan tindakan Alea. Tangannya perlahan menyentuh lehernya yang kini terasa panas. "Gadis nakal!" gumamnya sambil menggelengkan kepala. "Meskipun tampangnya lugu, ternyata dia gadis nakal. Huh berani sekali dia…."
Serkan mengambil kaca kecil di dalam laci, ia melihat ulah Alea di lehernya yang memerah. Sesaat dia merasa ingin marah, tetapi entah mengapa senyuman tipis mulai terbentuk di wajahnya.
"Benar-benar menarik," pikirnya, lalu tertawa kecil sebelum kembali fokus pada pekerjaannya.
Tak lama, terdengar bunyi notifikasi.
[Paman, bagaimana rasanya? Manis? Apa Paman mau lagi?]
Serkan hanya ketawa kecil dengan kelakuan Alea. Serkan memilih mengabaikan pesan dari Alea.
Sementara itu, Alea baru saja sampai di rumah. Begitu dia membuka pintu, ibunya langsung menghampirinya.
"Alea, kamu ke mana saja? Mommy khawatir!" ujar ibunya.
Alea menarik napas dalam-dalam, lalu memeluk ibunya dengan erat. "Maafkan Alea, Mom. Maaf karena sempat menolak dijodohkan dengan Paman Serkan. Sekarang, Alea setuju." Alea melepaskan pelukan itu.
"Benarkah? Kamu setuju menikah dengan Serkan?" tanya sang Ibu, ia tidak percaya.
"Iya, Mom. Tapi Aku dan Paman Serkan memutuskan untuk pacaran dulu," katanya sambil menatap mata ibunya dengan serius.
Mata ibunya perlahan melembut, dan ia menghela napas lega. "Syukurlah, Nak. Mommy hanya ingin yang terbaik untukmu. Serkan itu pria yang baik, meskipun kadang terlihat dingin, tapi Mommy yakin dia akan menjagamu."
Alea tersenyum lembut. "Iya, Mom. Alea juga percaya. Mungkin awalnya terasa berat karena Alea harus menikah dengan Paman Serkan, tapi… Alea akan mencoba."
Ibunya memegang tangan Alea erat-erat. "Mommy lega, Nak. Kamu sudah dewasa, bisa membuat keputusan sendiri. Mommy hanya berharap kamu bisa bahagia."
Alea mengangguk, hatinya terasa lebih ringan, meskipun pengkhianatan Reynold masih terngiang. "Iya, Mom. Alea akan berusaha. Alea janji."
Setelah berbicara dengan ibunya, Alea menuju kamar dan melemparkan dirinya ke atas tempat tidur. Dia menatap langit-langit dengan senyum kecil di wajahnya. "Pacaran dengan Paman Serkan? Apa kata orang-orang nanti? Huh!" gumamnya pada dirinya sendiri, mencoba membayangkan kelakuannya tadi yang begitu berani mencium Serkan.
Selama pacaran hampir tiga tahun dengan Reynold, Alea tidak seberani itu. Ia belum pernah merasakan ciuman.
"Aku memang terlalu bodoh! Reynold sangat tampan, dia seorang Dosen yang menjadi idola para Mahasiswi di kampus. Dan dia pasti malu mempunyai pacar jelek seperti aku," gumamnya.
Selama hampir tiga tahun pacaran, Alea dan Reynold memang merahasiakan hubungannya.
***
Alea baru saja keluar dari kelas ketika tiba-tiba matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Reynold, pria yang selama ini menjadi pacarnya, berjalan di tengah-tengah kampus. Tapi kali ini, laki-laki itu tidak sendiri.
Reynold tampak bergandengan tangan dengan seorang mahasiswi primadona kampus, Sherry, yang terkenal dengan kecantikannya.
Alea tertegun, hatinya terasa seperti dihantam beribu duri. Dia berhenti sejenak, memperhatikan Reynold dan Serry. Orang-orang di sekitarnya juga memperhatikan, beberapa bahkan mulai berbisik-bisik, mengomentari pemandangan itu.
"Apakah Dosen tampan itu sudah pacaran dengan Serry?" seorang mahasiswi berbisik pada temannya.
"Aku dengar begitu. Keren ya Sherry, dia bisa meluluhkan hati dosen tampan itu," jawab salah satu wanita dengan nada iri.
Reynold dan Sherry berjalan menuju ruang dosen, tampak mesra. Alea merasa perasaannya hancur berkeping-keping.
"Kamu jahat, Rey," bisik Alea.
Saat Reynold masuk ke dalam ruang dosen, Sherry langsung dikerumuni oleh teman-temannya.
"Sherry, benarkah kamu dan Reynold sudah pacaran?"
"Iya, aku dan Rey sudah pacaran. Kemarin Rey menyatakan cintanya padamu," jawab Sherry dengan bangga.
Mendengar kata-kata Sherry, Alea merasa darahnya kembali mendidih. Tak tahan lagi, dia memutuskan untuk menunggu di dekat pintu ruang dosen, berharap Reynold segera keluar.
Tak lama kemudian, Reynold keluar, tampak santai dengan senyum di wajahnya, seakan dirinya tidak memiliki kesalahan.
Alea segera menarik tangan Reynold, setelah suasana hening.
Alea membawa Reynold ke atas gedung kampus.
"Alea, apa yang kamu lakukan?" Reynold berusaha melepaskan tangannya, tetapi Alea menggenggamnya erat.
Setelah sampai di atas gedung, Alea langsung melepaskan genggaman tangannya dan menatap Reynold dengan tatapan benci. "Maksud kamu apa, Rey? Kita hampir tiga tahun pacaran, dan sekarang kamu malah pacaran sama Sherry?!"
Reynold mendengus, ia tersenyum kecil. "Kamu tidak sadar diri, Alea. Kamu jelek, kamu membosankan. Kamu tidak pernah memberikan apa yang aku inginkan. Pacaran denganmu sangat membosankan. Kau wanita yang sangat kaku. Tiga tahun pacaran, aku tidak mendapatkan apa-apa darimu, bahkan sekedar ciuman pun, aku tidak pernah mendapatkannya. Ketika aku menerima Sherry jadi pacarku, dia langsung memberikan aku kenikmatan yang tak pernah kamu berikan," kata Reynold tanpa mempedulikan perasaan Alea.
Alea terdiam, hatinya semakin teriris pisau yang menusuk mendengar kata-kata kejam yang keluar dari mulut Reynold.
Emosinya mulai memanas, bahkan ia hampir menangis, namun Alea berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Kau benar-benar b******n, Reynold. Selama ini aku berpikir bahwa kau benar-benar mencintaiku. Tapi ternyata kamu.... " Alea mendorong d**a bidang Reynold, namun Reynold berusaha menahan keseimbangan tubuhnya agar tidak jatuh.
Reynold tersenyum menyeringai, tak ada rasa penyesalan di matanya. "Alea, kamu memang tidak pantas untuk menjadi kekasihku. Orang seperti aku butuh seseorang yang bisa menyenangkan diriku, bukan yang membosankan seperti kamu. Sherry itu cantik, menyenangkan, dan yang paling penting, dia tahu bagaimana memperlakukan seorang pria."
Alea merasakan kemarahan yang meluap di dadanya. Tanpa berpikir panjang, dia kembali mendorong Reynold dengan sekuat tenaga. Reynold terhuyung mundur, hampir terjatuh ke lantai namun ia masih bisa menahannya.
"Oke, kita putus, Rey! Ingat, kau pasti akan menyesal!" teriak Alea.
Reynold tertawa kecil, tidak terpengaruh dengan kemarahan Alea. "Menyesal? Aku pikir tidak, Alea. Malah aku merasa beruntung bisa lepas dari wanita jelek sepertimu."
Alea tidak menanggapi lagi, dia berbalik dan pergi meninggalkan Reynold. Rasa sakit di hatinya begitu dalam, tapi dia berusaha tegar. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya mengalir deras ketika dia turun dari gedung. "Reynold, kamu akan menyesal," bisiknya pada dirinya sendiri.
Alea berada di toilet di sekitar kampus. Ia menatap dirinya di pantulan cermin. Meremas ujung pakaiannya kuat.
"Apakah aku benar-benar jelek?" Alea bertanya pada dirinya sendiri.
Lantas ia membuka kacamatanya, pandangan matanya memudar, bahkan ia sampai tidak bisa melihat dengan jelas bayangan dirinya di pantulan cermin.
Alea frustasi karena matanya memang sudah minus, sehingga ia tidak bisa melihat dengan jelas.
"Bagaimana bisa aku menjadi cantik seperti Sherry?" bisik Alea, ia kembali memakai kacamatanya.
Alea ke luar dari toilet, ia memutuskan untuk ke taman.
Alea tercengang saat melihat Reynold sedang berbincang dengan seseorang. Dan orang itu, Alea mengenalnya.
"Hah? Paman? Rey memanggilnya paman?" Alea jadi bertanya-tanya, ia penasaran ada hubungan apa antara Reynold dengan laki-laki itu.