Bab 3

1053 Words
Kamera ponsel itu dimatikan setelah berhasil merekam momen di dalam sana selama beberapa detik. Ia menatapnya sekilas, tersenyum puas. “Dia nggak akan bisa bertindak sesuka hati kalau tau aku punya video ini.” Di dalam ruang kerja Elang, keduanya masih berciuman. Senja memberontak berulang kali, meski akhirnya berakhir sia-sia. Elang mendominasi tiap pergerakan Senja. Sebelum perempuan itu memberontak, ia sudah lebih dulu mengunci tubuhnya. Kini Senja benar-benar di bawah kendalinya. Tanpa melepas ciuman, Elang membawa tubuh Senja untuk didudukkan ke meja kerja. Ia memeluk pinggang ramping mantan istrinya. Satu tangannya bergerak, meraih tengkuk dan menekannya untuk memperdalam ciuman. Elang memagut bibir bawahnya dalam. Menyesap lidah. Dan, memberi gigitan kecil hingga lengannya dicengkeram oleh Si Perempuan. Tidak tinggal diam, satu tangan yang ada di pinggang tadi berpindah. Ia bergerak ke bagian d.a.da Senja dan memberi pijatan ringan. Lenguhan panas di sela ciuman itu terdengar. Elang makin leluasa melakukan sesuatu terhadap tubuh sang mantan istri. Setelah keduanya hampir kehabisan napas, ciuman itu berakhir. Senja menunduk, mengusap bibirnya yang basah dengan lengan secara asal. Sungguh, ia malu dengan sikapnya. Senja tidak jauh beda dengan perempuan murahan di luar sana. Ia tertunduk dalam. Dalam posisinya sekarang, ia bisa melihat dua kancing blouse-nya terlepas. Rambut berantakan. Roknya sedikit tersingkap. Sialnya, kondisi Senja sekarang justru mengundang hal lain dalam diri Elang yang seharusnya tidak muncul. Pria tersebut menggeram. Ia berpaling, lalu mundur untuk sedikit menjauh dari tubuh Senja. Napas pria tersebut mulai berat, cepat. Senja turun. Ia kembali mengambil map itu dan diberikan pada Elang. “Tanda tangan sekarang. Aku nggak punya banyak waktu lagi.” Elang berbalik. Ia mengambil bolpoin dan menandatangani berkas yang dibawa oleh Senja. Pria tersebut juga memberi stempel pada tanda tangan tersebut. Senja langsung menarik dan memandangnya singkat. Ia tutup map tersebut, lalu didekap. Tidak ada kata terima kasih ataupun hal lain. Perempuan tersebut murni memendam kemarahan sekaligus kebencian terhadap mantan suaminya yang selalu mencari kesempatan padanya. Tumit Senja berputar. Tubuhnya menghadap pintu. Ia enggan untuk pamit dengan pria tersebut. Namun, saat langkahnya sampai di dekat pintu, suara Elang menginterupsi. “Asisten saya sudah di bawah. Biar dia mengantarmu.” “Nggak perlu,” ujar Senja, menolak tegas. “Aku udah pesen ojek online.” Elang hanya mengangguk-angguk. Ia tahu mantan istrinya sama keras kepalanya dengan dirinya. Senja menarik pintu, kemudian keluar dari sana. Ia membuang napasnya kasar. Perempuan tersebut merapikan penampilannya singkat. “Ternyata benar, ya, kalau kamu perempuan murahan.” Suara itu membuat Senja mematung. Ia tidak berkedip dalam beberapa detik. Perempuan tersebut sangat hafal pemilik suara ini. Yogas. Ya, suara berat itu milik Yogas, anak sambungnya. Senja makin erat mendekap map di depan dadanya. Pandangannya masih lurus. Ia enggan menatap Yogas yang kini mendekatinya dari arah belakang. Sejak kapan lelaki itu berdiri di sana? Pertanyaan tersebut hadir di benak Senja, mengikis ketenangannya yang sebenarnya sudah hilang semenjak di dalam ruang kerja Elang tadi. Senja menggeleng, berusaha menepis pikiran buruknya. Ia memejam sesaat sambil mengembuskan napasnya pelan. Perempuan tersebut berusaha menenangkan diri. “Gimana, Senja? Enak rasanya bermain dengan pria lain?” Deg! Deg! Deg! Jantung Senja berdegup makin kencang. Kalimat itu ... seolah menjelaskan semuanya. Yogas melihat semuanya. Anak sambungnya menyaksikan apa yang dilakukan dirinya bersama Elang di dalam sana. Sial sekali. Senja merutuki semua yang terjadi. Harusnya ia tidak ceroboh. Harusnya perempuan tersebut ingat jika Yogas sedang magang di sini. Kenapa ia begitu lalai? Ah, benar-benar bodoh. Senja bahkan menyepelekan hal kecil yang justru menjadi sumber masalah tambahan baginya. “K–kamu ....” Senja terbata. Ia tidak bisa berkata-kata. Yoga mengangguk, satu kali dan mantap. “Ya. Aku melihat semuanya. Aku tau apa yang kamu lakukan sama Kak Elang.” Senja menahan napas. Ia mengalihkan pandangan untuk berpikir mencari cara supaya putra sambungnya tidak bicara dengan Baskara. “Kasihan sekali Papa, punya istri nggak tau diri seperti kamu. Kamu Cuma benalu yang nggak punya otak. Kamu Cuma manfaatin Papa.” Perempuan itu terenyak. Ia tahu, Yogas marah. Dan kemarahan putra sambungnya hanya akan menjadi petaka baginya. “Dari awal aku sudah menduga. Kamu bukan perempuan baik-baik. Kamu sama saja dengan perempuan di luar sana yang gila harta.” Senja meremas map yang didekap. Sungguh, ia tidak terima dengan dugaan Yogas. Namun, perempuan tersebut tidak punya cukup nyali untuk membela diri. Ia salah. Senja mengakuinya. Anggaplah ia bodoh karena mau saja dimanfaatkan oleh Elang. Namun, ini semua demi kariernya. “Mana ada perempuan yang rela jual diri demi karier?” Yogas terkekeh geli. Tatapan remehnya terlihat. “Terlepas dari apa pun alasannya, kamu tetap salah. Kamu tetap mengkhianati Papa.” Hening. Senja tidak membalas. Ia masih berusaha berpikir keras untuk menyelesaikan masalah ini. Tarikan napas dalam terdengar, lalu berembus lembut. Pelan, ia bawa pandangannya pada Yogas. “Iya. Aku salah. Aku memang melakukan itu. Tapi, aku terpaksa.” Jawaban Senja justru membuat Yogas tertawa. Ia tidak habis pikir alasan klise yang didengar. Lelaki tersebut maju, lalu mencengkeram kerah baju Senja. “Akan aku pastikan, Papa tau soal ini, Senja.” Yogas menyentak tubuh Senja. Ia berbalik, melangkah lebar meninggalkan ibu sambungnya yang masih mematung. Senja ketakutan. Tubuhnya gemetar. Ia menyugar rambutnya, frustrasi. Tidak ada cara lain. Perempuan itu harus bisa berhasil membujuk Yogas. Ia mengejar Yogas, masuk ke dalam satu lift yang sama dengan anak sambungnya. Senja menatap lelaki yang kini berwajah dingin. “Kamu nggak bisa bilang ini ke Mas Baskara, Yogas. Kamu nggak ada bukti. Mas Baskara nggak akan percaya omong kosong.” Yogas diam. Ia biarkan Senja mengumpulkan kepercayaan dirinya, sebelum ia jatuhkan. “Apalagi Mas Baskara tahu, kamu nggak pernah suka sama aku. Dia bisa saja menganggap kamu memang sengaja mau hancurin rumah tangga papa kamu.” Tidak ada jawaban. Yogas hanya mengambil ponselnya dan mencari sesuatu yang sempat ia dapatkan. Ia memperlihatkannya pada Senja. Sontak, perempuan itu diam. Ia menutup mulutnya sendiri. “Memangnya ada, perempuan yang terpaksa melakukan hal kotor seperti ini, tapi terlihat menikmati?” Perlahan, Yogas bawa atensinya pada perempuan yang masih membeku. Ia bisa melihat ekspresi tegang sekaligus takut di wajah Senja. Sorot mata perempuan itu juga diliputi gelisah. Bahkan, Senja sampai mundur. Kondisinya benar-benar terimpit. Yogas kembali menyimpan benda itu. Ia tersenyum licik. Tatapannya bergerak, dari atas kepala Senja, sampai ke ujung kaki. Perempuan itu cantik. Menarik. Dan, selalu berpenampilan fresh. Seketika satu ide muncul. “Aku bisa jaga rahasia ini, Senja. Tapi, kamu harus ....” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD