Bab 4

1102 Words
Bab 4 Pintu lift terbuka sebelum Yogas melanjutkan kalimatnya. Ia menarik lengan Senja untuk keluar dari sana dan dibawa ke basemen. Lelaki tersebut membuka pintu mobil bagian penumpang dan menatap Senja. “Masuk.” Perempuan itu menggeleng. Ia tidak ingin terlibat lebih jauh dengan Yogas. Senja langsung berbalik, hendak pergi. Tapi, Yogas menahan. Pergelangan tangan ibu sambungnya dicekal kuat. Ia menariknya sedikit, memangkas jarak dengannya berdiri. “Kalau membantah, berarti kamu mengambil pilihan video ini sampai ke Papa.” Senja kembali menegang. Keberaniannya yang sempat terkumpul kembali luntur. Ia lemah dengan ancaman. Dan itulah sisi negatif yang tidak bisa dihilangkan dalam dirinya sampai sekarang. Tangan yang masih digenggam Yogas, Senja tarik kuat-kuat, menimbulkan rasa perih dan panas. Ia menatap geram putra sambungnya. “Jangan kurang ajar, Yogas!” “Kamu yang kurang ajar. Kamu yang nggak punya malu. Bisa-bisanya kamu bermain dengan pria lain, sementara papaku kerja keras dan kasih semuanya ke kamu!” Perempuan itu membisu. Ia makin tidak berkutik dibuat oleh Yogas. Dalam hati, Senja mengumpat. Ia memaki dirinya sendiri. “Mau tanya sama seribu orang pun, salah tetaplah salah. Memangnya orang mana yang membenarkan perselingkuhan?!” Yogas kembali bicara. Ia memanfaatkan keadaan Senja yang hanya bisa diam, seolah membiarkan dirinya berspekulasi apa pun tentang perempuan tersebut. “Masuk!” Yogas mendorong tubuh Senja. Terpaksa, perempuan itu masuk ke mobil dan duduk di kursi penumpang. Napasnya memburu. Gemuruh emosi di dadanya makin berisik. “Aku akui aku salah, Yogas,” kata Senja setelah lelaki itu duduk di kursi kemudi. “Syukur kalau kamu mengakui.” “Tapi, aku terpaksa biar bisa dapat tanda tangan dari Kak Elang.” Yogas berdecih sinis. Ia tidak peduli alasan apa pun. Yang jelas, ia melihat semuanya. Ia menyaksikan bagaimana cara perempuan tersebut mempersilakan dirinya untuk disentuh. “Papa nggak akan peduli alasan, Senja,” kata Yogas dengan suara rendah, “dia hanya akan peduli bukti.” Senja terjerembap. Punggungnya bersandar di kursi. Wajahnya menengadah. Bahkan, ketika mobil itu melaju, ia masih diam seribu bahasa. Perjalanan yang hanya beberapa menit itu diisi keheningan. Baik Senja maupun Yogas tidak ada yang bicara. Keduanya sama-sama larut dalam pikirannya sendiri. Sampai di depan kantor tempat Senja bekerja, mobil berhenti. Namun, Yogas tetap mengunci pintunya, seolah menahan perempuan di sampingnya. “Tolong jangan bicara sama Mas Baskara, Yogas.” Akhirnya, permohonan itu keluar. Satu hal yang lelaki itu harapkan kini benar-benar didengar. Yogas tersenyum miring. Ia bawa tubuhnya menyamping sedikit untuk memandang Senja. Dalam keadaan gelisah begini saja wajah ibu sambungnya sangat cantik. “Bisa saja, Senja.” Dahi Senja mengernyit. Ia tidak bisa mengartikan makna raut wajah Yogas. Lelaki itu bicara tenang, tapi ... berbahaya. Senja tahu, di balik ketenangan Yogas, pasti ada sesuatu yang harus dituntaskan. Sesuatu yang ia anggap sebagai jaminan. “Apa yang kamu mau, Yogas?” Senja sudah lelah basa-basi. Ia langsung melayangkan kecurigaannya. Seringai tipis menghias di bibir lelaki tersebut. Tangannya dengan lancang membelai wajah Senja, lalu mencubit pelan dagunya. Keduanya kini beradu pandang, dengan tatapan berbeda. Senja dengan kemarahannya yang tertahan, sementara Yogas dengan sorotnya yang penuh siasat. “Kalau aku minta seperti yang Kak Elang minta ... apa kamu bersedia?” Senja langsung menepis tangan Yogas dari wajahnya. Ia melengos. Siapa sangka lelaki di sampingnya sama brengseknya seperti Elang. “Kenapa? Kamu saja dengan mudah kasih ke pria lain. Nggak salah, dong, kalau aku minta.” Perempuan itu tercekat. Ia meremas kuat-kuat sisi map yang berada di pangkuan. Senja tidak akan pernah mau melakukan hal tersebut. “Nggak. Aku nggak akan pernah melakukan itu, Yogas.” Senja menolak dengan nada lebih lembut. “Kenapa? Mau bayaran?” Yogas mengambil dompet, menarik satu kartu dan dilempar tepat ke pangkuan Senja. Tatapan datar Senja mengarah ke kartu tersebut. Ia benar-benar merasa terhina dengan tindakan Yogas. Perempuan itu lantas mengambilnya. Ia menoleh ke arah Yogas. Menyelipkan kartu itu ke saku jas yang dikenakan putra sambungnya. “Kamu salah jika menilaiku seperti itu, Yogas.” Lelaki itu mengangguk, berulang kali. Namun, bibirnya tidak berhenti memberi senyum cemoohan yang seolah merendahkan ibu sambungnya. “Baik. Berarti kamu memang ingin berakhir di tangan papaku.” Yogas mulai memainkan ponselnya. Jarinya menggeser layar, mencari nomor sang papa untuk ditelepon. Degup jantung Senja makin memburu. Ia langsung merebut ponsel yang kini mulai tersambung dengan panggilan. Jarinya yang gemetar dengan cepat menyentuh tombol merah, tanda panggilan berakhir. Matanya melebar, melihat nama “Papa” di layar. Ternyata Yogas tidak omong kosong. Lelaki itu benar-benar menelepon papanya untuk mengadu. “Jangan, Yogas.” “Kalau takut, harusnya kamu menuruti semua ucapanku, Senja.” “Aku nggak mau.” Senja tetap bertahan, menolak mentah-mentah permintaan Yogas tadi. “Aku punya penawaran lain kalau kamu keberatan dengan permintaanku tadi.” “Katakan.” Senja berujar lemah. Ia sudah hampir di titik menyerah menyikapi tingkah gila anak sambungnya. “Jadi pacarku.” Perempuan itu terperanjat kaget mendengar permintaan Yogas. Tidak disangka permintaan anak sambungnya lebih gila dari permintaan pertama. “Nggak mungkin, Yogas! Aku ini istri papa kamu. Kamu gila kalau minta aku jadi pacar kamu.” Yogas tertawa kecil. Ia memajukan tubuhnya ke tubuh Senja. “Kenapa nggak mungkin? Sekarang banyak, kok, yang punya hubungan gelap kayak gitu. Apalah arti anak atau ibu sambung.” Tangan Senja yang ada di pangkuan mengepal kuat-kuat. Betapa kesalnya ia menghadapi situasi yang mengimpitnya dari berbagai sisi. “Kamu masih muda, Yogas. Kamu bisa cari perempuan yang sumuran. Kamu—“ “Aku maunya kamu, Senja.” Yogas memainkan helai rambut Senja, mengirup dalam-dalam wanginya yang manis dan memabukkan. Senja berusaha menarik diri. Ia makin menepi, duduk bersandar di pintu mobil. Perempuan tersebut sudah tidak ada harga dirinya lagi di mata Yogas. “Lagi pula, jarak umur kita nggak begitu jauh. Jadi—“ Ucapan Yogas terpotong ketika Senja menoleh cepat dan memberi tatapan tajam padanya. “Kamu nggak bisa seenaknya, Yogas. Meskipun kita nggak beda jauh dalam hal umur, tapi hubungan kita tetap ibu dan anak, terlepas dari status sambung ataupun kandung.” “Aku nggak mau dengar apa pun, Senja! Kamu hanya perlu menjawab ya atau nggak.” “Nggak.” Senja menjawab tegas, tanpa pertimbangan. Belum sampai Yogas menjawab, bunyi telepon Senja terdengar. Perempuan itu melihat layar benda tersebut hingga tampak sebuah nama yang membuatnya makin gugup. Ia berpaling sebentar untuk mengangkat panggilan tersebut. Nada formal terdengar dari seberang sana. Yogas mendengar isi percakapan keduanya. Ia menaruh penuh atensinya pada perempuan yang kini selesai melakukan panggilan dengan orang di seberang sana. “Aku akan menunggu jawabannya nanti malam, Senja.” Senja menatap Yogas. Bunyi ringan terdengar, menandakan kunci pintu mobil telah terbuka. Perempuan itu turun tanpa meninggalkan kata. Namun, tatapannya bimbang. Hatinya berkecamuk. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD