Malam hari ....
Senja masih berada di depan kantornya. Ia menatap jam di pergelangan. Pukul sembilan malam dan hujan lebat belum berhenti dari sore.
Pada situasi seperti ini, Senja kesulitan mencari taksi online. Jarang sekali ada driver yang mau menerima pesanan saat hujan seperti ini.
Ia menunggu. Bersandar di tembok samping pintu masuk sambil memeluk tubuhnya sendiri yang merasa kedinginan.
Senja sudah berulang kali menelepon suaminya. Namun, nomornya tidak aktif. Pesan yang dikirim pun tidak dibaca.
“Ck! Kalau kayak gini ... jam berapa aku sampai rumah nanti?”
Gumaman itu terdengar pelan. Senja maju. Ia menengadahkan tangan ke tetes air hujan yang turun dari langit. Suasana jalan di depan mulai sepi.
Senja menarik tangannya lagi. Ia memutuskan untuk duduk di sebuah kursi, menunggu barangkali sebentar lagi hujan reda.
Ting!
Satu buah pesan masuk. Senja berharap itu adalah Baskara yang mungkin berbaik hati akan menjemputnya.
Tapi, harapan itu sirna ketika ia melihat pesan dari mamanya. Senja membacanya singkat, sebelum akhirnya memutuskan untuk menelepon.
Hanya beberapa detik saja, panggilan tersebut terhubung. Suara nyaring dari seberang sana memekakkan telinga Senja.
“Mama butuh uang, Senja. Kamu minta ke suamimu, terus transfer ke Mama.”
Helaan napas terdengar pelan. Senja memejam sebentar. Semenjak menikah, sudah berapa kali saja Desti meminta uang padanya.
“Mama bisa minta ke Papa. Kalau untuk kebutuhan rumah, Kak Syila, atau Bunga, Papa pasti nggak keberatan meskipun nominalnya besar.”
Dengkusan sebal terdengar. Desti seperti tidak terima dengan masukan Senja, meskipun nada bicaranya terdengar halus.
“Tau apa kamu soal kebutuhan?! Kamu tau nenek kamu, kan? Dia butuh biaya pengobatan yang nggak sedikit!”
Desakan itu membuat Senja memejam sebentar. Lagi-lagi alasan neneknya yang harus melakukan obat jalan seminggu dua kali.
“Ma, aku juga baru saja jadi istri Mas Baskara. Aku nggak mungkin minta uang dengan gampang. Aku—“
“Alasan! Mau jadi anak durhaka, kamu?!”
Sejujurnya, Senja sakit hati. Tiap kali ia berusaha menolak, Desti selalu mengecap buruk tentang dirinya.
“Bukan kayak gitu, Ma. Tapi, minggu kemarin Mas Baskara aja udah kasih dua ratus juta. Dan uang itu bukannya udah aku kasih ke Mama semua?”
Diam. Orang di seberang sana tidak menjawab. Senja memijat pelipisnya, pusing.
Baskara memang memberinya uang dua ratus juta untuk kebutuhan rumah sekaligus nafkah pribadi Senja.
Tapi, semua uang itu Senja berikan pada mamanya yang meminta, bahkan memaksanya memberi uang dengan dalih bakti kepada ibu sekaligus neneknya.
Maka terpaksa Senja menggunakan uang gajinya yang jauh lebih kecil dari pemberian Baskara untuk dialihfungsikan sebagai dana kebutuhan rumah.
“Mama nggak mau tau, Senja. Gimanapun caranya, kamu harus kasih Mama lima ratus juta. Kamu mau nenek kamu mati karena telat obat? Hah?!”
“Ya, Tuhan ... Ma ....”
Senja tidak bisa berkata-kata. Ia tidak habis pikir dengan kalimat buruk Desti yang terlontar ringan.
“Nggak usah banyak drama, Senja! Percuma Mama nikahin kamu sama Baskara kalau kamu nggak pinter-pinter ambil hati dia buat dapetin uang!”
Perempuan itu tertunduk dalam. Kepalanya makin berat. Kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut Desti di seberang sana menambah beban yang selama ini ia pikul sendirian.
“Senja usahain, Ma. Tapi, nggak janji.”
“Dasar, Bodoh! Punya otak itu dipakai! Masa ambil hati suamimu aja nggak bisa, sih?!”
Daripada harus terus mendengar omelan Desti yang memojokkannya, Senja akhirnya mematikan panggilannya tanpa permisi.
Ia menatap layar tersebut. Jarinya bergerak, membuka aplikasi M-banking untuk mengecek sisa saldo dari gajinya.
Tinggal tiga juta. Dan itu harus cukup untuk kebutuhan bulan ini. Senja memegang benda tersebut kuat-kuat.
Sialnya, dalam kondisi seperti ini otaknya seperti buntu. Senja tidak bisa berpikir jernih. Ke mana lagi ia harus mencari uang tambahan?
Suara dehaman dari arah belakang terdengar. Senja menegang. Ia menoleh cepat. Matanya membulat sempurna.
Elang. Pria tersebut menampilkan senyum tipis. Wajahnya terlihat bersinar di bawah cahaya lampu yang sinarnya temaram.
“Saya bisa bantu.”
Kerutan ringan terlihat di dahi Senja. Ia bingung.
“Berapa?”
Senja memiringkan kepala, berusaha mencerna maksud dari ucapan Elang. Kelopak matanya berkedip cepat, mengerjap.
“Maksudnya apa, Kak?”
Elang mengambil posisi duduk tepat di samping Senja. Ia menyandarkan tubuh dan menatap sisi wajah perempuan yang pernah menjadi istrinya.
“Berapa nominal yang kamu butuhkan?”
Tersadar, Senja langsung menggeleng. Ia enggan melibatkan Elang lagi dalam hal apa pun.
“Nggak, Kak. Aku masih ada.”
Elang tidak merespons. Ia langsung mengambil ponsel dan mengirim sejumlah uang ke rekening Senja.
Bunyi notifikasi terdengar. Senja langsung mengangkat ponselnya dan membuka isi notifikasi di jendela layar.
Lima ratus juta masuk ke rekening Senja, sesuai dengan nominal yang tadi diminta oleh mamanya.
Bukannya senang, perempuan tersebut malah gelisah. Ia menoleh ke arah Elang dengan tatapan dingin.
“Jangan Kakak pikir, aku bisa luluh dengan uang ini, ya?!”
Ia langsung bergerak cepat. Dalam waktu yang singkat, Senja mengembalikan uang yang dikirim Elang.
Pria tersebut tersenyum melihat tingkah Senja. Naif sekali perempuan di sampingnya. Walau Elang tahu, Senja memang bukan tipe orang yang mudah menerima sesuatu tanpa alasan.
“Mau kamu luluh atau nggak, saya nggak akan pernah biarkan kamu hidup bebas, Senja.”
Senja terkekeh. Ia menggeleng tidak habis pikir dengan sikap mantan suaminya yang terlalu percaya diri.
“Jangan mimpi, Kak! Kita nggak akan pernah berhubungan lagi!”
“Sure?”
Senja mengangguk mantap. Ia berdiri, menyimpan ponselnya ke dalam tas. Saat hendak melangkah, Elang mencegahnya. Pria tersebut berdiri tepat di depannya.
“Minggir, Kak!”
“Nggak. Saya nggak akan pergi.”
Terpaksa, Senja memakai cara kasar. Ia mendorong d.a.da pria tersebut supaya menjauh, atau setidaknya bergeser dari posisi yang menghalangi langkahnya.
“Saya nggak akan bairin hidup kamu tenang, selama kamu masih menjadi istri Baskara, Senja!”
“Kenapa kamu kayak gini, Kak? Apa sebenernya alasan kamu?!”
Elang tidak menjawab. Ia justru menarik paksa Senja untuk dimasukkan ke dalam mobil. Ia membawa perempuan tersebut dengan laju mobil berkecepatan tinggi.
“Berhenti, Kak! Aku mau pulang!”
“Biar saya antar.”
“Nggak!”
Pria itu enggan menjawab. Ia biarkan Senja memberontak, bahkan sampai mencengkeram lengannya sekali pun.
Sampai akhirnya, keduanya sampai di depan rumah Baskara. Ternyata Elang tidak bohong. Senja diantar pulang ke rumah suaminya.
“Masuk dan istirahat. Besok saya jemput.”
Senja mengabaikan perkataan itu. Yang penting, sekarang ia terlepas dari mantan suaminya. Perempuan tersebut melangkah masuk.
Suasana rumah sepi, mungkin suaminya belum pulang. Dan Yogas, lelaki itu pasti melakukan balapan liar lagi.
Seketika Senja teringat video di ponsel Yogas. Tidak pernah ia bayangkan kehidupannya akan rumit seperti sekarang. Semua ini berawal dari pernikahan malam itu. Pikirannya kembali ke detik di mana ia pertama kali ditekan oleh Elang.
***