Bab 23

1655 Words

Nada dering ponsel itu terhenti mendadak, bukan karena Senja menekan layar, melainkan karena ketukan keras di pintu kamar. Senja tersentak. Ibu jarinya masih menggantung di udara, sementara wajahnya pucat. Baskara menoleh ke arah pintu dengan ekspresi jengkel, seolah gangguan itu datang pada saat yang paling tidak tepat. “Pa, di bawah ada tamu.” Baskara menarik napas panjang. Ia melirik Senja sekali lagi. Tajam, seolah menancapkan peringatan yang belum tuntas. Ia mendekat. Suaranya rendah dan keras, tanpa memberi ruang tawar. “Urusan kita belum selesai, Senja.” Senja mengangguk kecil. Ia tidak menjawab lebih dari itu. Baskara keluar, pintu kamar tertutup, dan langkahnya menjauh ke arah tangga. Sunyi kembali jatuh, tetapi bukan sunyi yang menenangkan. Senja masih berdiri di tempa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD