Bab 24

1614 Words

Akhirnya, ia memilih Yogas. Langkah Senja terasa berat saat ia berjalan menuju kamar anak sambungnya. Ia mengetuk pelan, lalu masuk. Kamar itu redup, hanya lampu kecil di sudut yang menyala. Yogas duduk di ranjang, menatap ponselnya, lalu melirik Senja dengan ekspresi puas yang sengaja tidak ia sembunyikan. “Ck! Lama banget kamu,” protes Yogas. Wajahnya menekuk. Senja duduk di kursi dekat ranjang Yogas. Cukup lama, ia hanya diam. Tatapannya mengarah pada lampu kamar itu, kemudian beralih ke arah dinding. Bayangan dirinya dan Yogas terlihat jelas di sana. Suasana benar-benar hening. Mereka seperti tengah larut dalam pikiran masing-masing. Udara terasa pengap. Ia menyilangkan tangan di depan perut, mencoba menjaga jarak, sekaligus menjaga dirinya sendiri dari anak sambungnya. Ia tid

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD