Bram lebih dulu turun, membawa dua kantong besar berisi oleh-oleh—buah, kue kering, dan satu kotak kecil yang dibungkus rapi. Wajahnya tampak tulus, seperti ayah yang benar-benar datang dengan niat menjenguk anak perempuannya. Desti menyusul dari sisi lain. Ia merapikan kerah bajunya, menepuk-nepuk rambutnya agar jatuh sempurna. Senyum tipis terukir. Senyum yang selalu ia kenakan saat berada di depan Bram. Di tangannya, sebuah tas kecil berisi hadiah lain—terlihat sederhana, tetapi dipilih dengan perhitungan. “Jangan lupa senyum,” bisik Desti pelan, seolah mengingatkan dirinya sendiri. Bram melangkah lebih dulu menuju pintu. Ia berhenti sejenak, menatap rumah besar itu dengan dahi sedikit berkerut. Ada sesuatu yang selalu membuatnya merasa tidak nyaman setiap kali datang. Namun, i

