chapter 2

1028 Words
Aku masih terhanyut dalam kilasan memori dulu,,dimana aku merasa kau adalah pilihan terbaik,,hingga saat yang tak pernah ku sadari,,aku di ombang ambing ombak kegelisahan... Kembali pada kenangan itu... "Saya terima nikahnya Setia Larasati binti Muhamad Ridwan dengan maskawin lima gram emas di bayar tunai!" "bagaimana para saksi sah?" "sah!!!!" Dalam doa yang di aminn kan semua yang menyaksikan hari bahagia ku itu aku tenggelam dalam syukur yang dalam bahagia dan haru,,dimana aku kini halal bagimu di hadapan Tuhan dan hukum... Pesta resepsi sederhana yang begitu hikmat melengkapi kebahagiaan ini... Dan masa-masa setelahnya seperti baik-baik saja... Hingga singgah dia mahkluk kecil di dalam rahimku,, keadaan ku yang tak begitu baik saat ngidam membulatkan tekad untuk resign dari pekerjaan ku... "sebaiknya kamu resign saja,,aku khawatir kamu sedang mengandung,, kecapean gak bagus buat anak kita" "ku rasa aku memang ingin resign,,atau aku break saja setelah melahirkan aku kerja lagi" "apa aku kurang memenuhi kebutuhan kita?" "bukan tapi...." "cukup ini sudah keputusan ku,,kamu resign dan diam di rumah menjaga anak dan mengurus rumah,,aku yang cari nafkah" ujarmu menyelesaikan secara sepihak keputusan akan pilihan hidupku membuat ku terdiam dan kamu berlalu begitu saja meninggalkan ku dalam genangan kebingungan... Setelahnya kamu masih diam beberapa hari,,aku berusaha membujuk mu tapi nyatanya kamu tetap tak ada respon untuk ku.... Hal ini awal dari sebuah luka ini,,luka kecil yang tak di obati di biarkan terbuka... "mas,,aku udah resign" aku mengikuti keputusan mu berharap setelahnya kamu mulai bicara seperti biasa lagi,,dan ya,,kamu memang kembali bicara seperti biasa dan seperti tak pernah terjadi apa-apa... Tanpa ku sadari luka ku bukan sembuh tapi di biarkan begitu saja... Saat ini..... Aku masih terdiam hingga "drrrrtttt" getar handphone ku kembali membawaku sadar dari lamunan,,ku putuskan untuk mengangkatnya.. "hallo?" "kamu kemana? kamu meninggalkan anak-anak sendirian di rumah!" "aku keluar,, sebentar lagi aku pulang" dan telpon itu berakhir begitu saja... apa yang aku harapkan?? dia hanya khawatir anak-anak sendirian di rumah,,bukan khawatir tentang perasaan ku... Saat dia marah dan kecewa dia diam dan pergi begitu saja meninggalkan ku dan anak-anak,,aku akan menelpon dan membujuknya... Tapi,,saat aku pergi yg dia lakukan hanya mengatakan anak-anak sendirian,, alasannya hanya anak-anak,,bukan sebuah pertanyaan kepedulian atau sekedar bertanya aku kenapa? saat di diam aku akan berusaha membuat hal yang dia inginkan dan terus meminta maaf tanpa aku tahu apa kesalahan ku... Anak-anak adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap di sisinya meski aku sudah tak sanggup... Dalam hening ini aku mengingat,,dan masih terus terjebak memori ku,, tumpukan luka ini semakin terasa berat... hanya saja ada kehidupan yang harus aku pertahankan,, anak-anak... Dengan gontai aku berjalan,,mencari jalan pulang dan mencari jawaban dari setiap pertanyaan yang kau diamkan,, sungguh kusut pikiran ku saat ini,,di sepanjang perjalanan yang aku lewati tak satupun ku temui jawabnya... Hingga kakiku berhenti di ambang pintu rumah ini,, rumah yang seharusnya hangat kini telah beku oleh diammu... Aku menarik nafas dalam mencoba mengendalikan perasaan ku,,dan mulai menarik handle pintu,,belum sempat lagi aku menekannya pintu sudah terbuka dari dalam,,di balik itu kau muncul dengan wajah dinginmu... Tak menatap ku atau bertanya,,kau membuka pintu lalu berbalik masuk duduk dengan tenang di ruang tengah,,di balik sebuah meja tempat biasa kau menyelesaikan pekerjaan... Luka-luka di dalam d**a ku semakin berdarah meminta obat dari sebuah kata maaf dan penjelasan,,atau sekedar bertanya 'aku kenapa?'. Sungguh Samapi aku masuk mengikuti langkahmu,,semua harapan itu tak pernah ku dapatkan,,aku diam melihatmu sekilas dan beranjak ke kamar aku sudah terlalu lelah... Ku bersihkan diriku,,meski dalam hati yang kacau... Di atas ranjang ku rebahkan tubuh lelah dan hati luka ini,, berharap istirahat bisa membuatku sedikit lega,, nyatanya mataku tak sanggup terpejam dalam luka yang masih terasa perih dan berdarah... Ku dengar langkah mu mendekat,,aku yang memunggungi mu tak sanggup melihat wajah dingin itu,,kau duduk di sisi ranjang sebelah,,ingin membaringkan tubuhmu,, kurasakan kasur sedikit bergerak,,saat ini aku masih berharap sebuah penyelesaian,,atau sebuah kata saja darimu untuk menenangkan ku... Tapi harapan hanyalah harapan,,kau baringkan lelahmu tanpa melihatku,,atau bertanya keadaan ku,,membuatku semakin dalam di makan luka..Aku memilih selesai untuk malam ini... Biarlah luka tetap menjadi luka .. Dan aku yang telah lelah menutup mata berharap besok saat aku membuka mata keadaan akan membaik... Selalu seperti ini seingat ku,,dari dulu aku tak pernah mendapatkan penyelesaian dari sebuah masalah,,semakin memperjelas luka yang tak berdarah ini... Di bangunkan oleh hangat sang mentari pagi,,membuatku mengerejapkan mata ,,ku lihat hari sudah pukul 7.30 pagi dan kau sudah tak ada di samping ku,, perlahan aku bangun dan berjalan keluar kamar ku lihat kau dan kedua anakku sudah di meja makan... Berlari sikecil memeluk ku "mama udah pulang" aku diam menahan sedikit pilu di hati ku,,inilah yang aku takutkan.. meninggalkan mereka,, sementara mereka tak faham apa yang terjadi di dalam batinku.. Aku menunduk dengan senyum pilu "iya Ara,,Ara sudah siap mau sekolah?" sungguh aku tak sanggup melihat wajah mungil ini bila aku egois untuk pergi.. "iya,,mama kemana semalam kok gak ajak Ara?" pertanyaan lugu yang menghujam jarum di relung hatiku,,ku lihat dari sudut mataku kau melirikku namun tetap diam dan dingin... Aku berusaha sekuat tenaga agar tak menangis di depan anak-anak ku.. "mama pergi sebentar dan itu sedikit mendadak" alasan absurt yang bisa ku berikan untuknya,, sementara sisulung yang sudah cukup mengerti melirikku dan di sudut matanya kulihat kepiluan itu,,aku tersenyum getir,, "ayo siap-siap sekolah,,papa antar" Kalian pergi untuk kegiatan masing-masing,,dan aku terdiam di tempat ku,, tertunduk lemas dan bingung... Aku melangkah ke dalam membersihkan diri... Mungkin aku akan bekerja saja,, sedikit kesibukan akan membuatku lupa,,, itulah jawaban yg aku dapatkan... Atau mungkin bukan jawaban hanya sekedar pelarian... Aku mulai menghubungi rekan kerjaku dulu dan manajer yang ku kenal... "pak Yusuf,,saya ingin bekerja kembali" "Setia,, akhirnya kamu bisa kembali bekerja untuk kami,,tapi posisimu dahulu sudah terisi,,bagaiman jika kamu di pemasaran saja,, pemasaran online bisa kamu kerjakan di rumah" solusi bagus untuk ku saat ini,,aku masih bisa berkarier dan merawat anak-anak setidaknya kesibukanku membuat ku lupa akan masalah dan luka... Dan biar saja luka itu tetap menganga... "baiklah pak,,aku mau,,akan ku kirim resume ku di email HRD kantor" "ya,,kami tunggu secepatnya kamu bergabung Setia" "terimakasih pak" Ada sedikit ruang di hatiku yang sesak ini,, seperti ada pelarian yang tepat... Dan kamu akan tau,,akupun bisa bertarung dalam diam ini,,akan ku gunakan senjata waktu ini untuk membuatmu meledak pada saatnya nanti..... Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD