12

1173 Words

"Berhenti kuliah?" Aku menghela nafas lagi untuk kesekian kalinya sambil memutar bola mataku. Ayahku ini pernah tidak sih, mendengarkan aku dengan seksama. "Tidak, hanya cuti." jawabku sabar. Sebisa mungkin tidak terdengar kesal. "Ooh..." balasnya sembari meletakkan cangkir berisi kopi hangat itu. "Untuk berapa lama?" lanjutnya lagi. "Satu semester saja. Kami..." Bibirku menahan, aku melirik pada Hans di sebelahku. Genggaman tangannya mantap pada tanganku. Seakan meyakinkan jika hasil pembicaraan kami semalam sudah rampung. Kukumpulkan sedikit demi sedikit keberanianku untuk bicara. "Kami memutuskan untuk menikah." Ayah diam, alisnya meninggi sedikit seperti sudah menduga semuanya ini. Malah, aku dapat merasa jika dia merasa menang dan akulah yang selama ini bodoh. Tapi, itu tidak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD