3

1702 Words
Aku diam terpaku melihatnya. Haruskah aku berteriak? Tidak ada siapa-siapa lagi di sini. Hanya ada aku, makhluk setengah ikan itu dan desau angin serta ombak meramaikan keheningan kami. Langit mulai semakin gelap, menciptakan kontras dengan warna matanya yang semakin bercahaya. Jika aku mundur, maka akan sangat tanggung. Tentu saja aku sebetulnya takut berhadapan dengan siluman ikan dengan ukuran seperti hiu ini. Meski begitu, kuakui rasa penasaranku juga meningkat drastis. Aku menurunkan tubuhku perlahan selagi dia masih tetap menatapku tajam. Perlahan tanganku terulur untuk menyentuh wajahnya yang bersisik halus. Tetapi, sebelum tanganku sampai pada kulit bersisik itu, tangannya menahan tanganku. Tangan itu mencengkram pergelanganku dengan kulit licinnya. Meski licin, cengkramannya kuat. Detik itu juga aku tahu kalau kekuatannya bukan kekuatan manusia. Aku meringis, tetapi hal itu tidak menghentikan tangannya menarikku lebih mendekat. Aku pun jatuh tertarik. Kini posisiku sangat dekat dengan dadanya. Udara tertarik dan terhembus melewati insangnya yang pas sekali di depan wajahku. Aku bisa melihat dari jarak yang luar biasa dekat, pigmen kulitnya yang kebiruan ditutupi kepingan-kepingan sirip tipis kehijauan. Sungguh, dia bukan manusia. Dia seperti lautan samudra. Aku menoleh ke atas dan mendapati dia sedang memperhatikan dengan jeli tangan manusiaku. Dari telapak ke punggung tanganku, lalu mendekatkannya pada hidungnya untuk mengendus tanganku. Wajah tampannya tampak polos, persis seperti ekspresi manusia yang sedang melihat sesuatu yang baru. Menggemaskan. Tunggu, aku kenapa? "Kyaaa!" Aku menjerit saat dia membuka mulutnya ingin memasukan tanganku ke dalamnya. Kulihat dia tersentak kaget dan langsung waspada saat mendengar jeritanku yang lumayan dekat dengan telinganya. Aku menarik tanganku cepat sebelum dia memakannya dan berdiri. Di seberangku kini makhluk itu tampak marah. Dia menunjukan taring-taringnya, serta tulang-tulang tajam bagai tanduk ramping di siripnya berdiri. Siap untuk mencabikku jika aku mendekatinya. "Tunggu! Aku tidak marah! Kamu yang mau makan tanganku!" tukas, sewot. Tetapi dia yang-aku-tak-tahu-mengerti-atau-tidak-ucapanku justru semakin waspada saat aku membentaknya. Selangkah aku maju, maka tanduk di siripnya itu semakin tinggi. Selangkah aku mundur, tanduk itu menurun. Ini seperti berhadapan dengan balita merajuk saja. Padahal aku hanya penasaran dengannya. Tiba-tiba sebuah ide cemerlang muncul di kepalaku. "Oh! Sebentar, tunggu ya!" Kulemparkan senyum terakhir padanya sebelum meninggalkan dermaga untuk kembali ke rumah. Aku tidak tahu bagaimana reaksinya saat aku tersenyum padanya. Kuharap dia bisa mengerti jika aku berusaha ramah dan dia menahan diri untuk tidak meninggalkan dermaga dulu. Sampai rumah, dengan cepat aku berlari ke kulkas dan mengambil selembar roti gandum. Aku tidak terpikir untuk mencari hal lain, aku takut terlalu memakan waktu dan dia terlanjur pergi. Jadi, setelah selembar roti itu sudah di tanganku, aku kembali bergegas ke dermaga. Aku berlari dan mendapati siluet ikan besar itu masih di dermaga disinari bulan. Menyadari aku semakin mendekat, dia kembali pada posisi waspadanya. Taringnya terlihat lagi dan tulang-tulang itu mengancam. Saat jarakku dengan dia hanya kurang dari dua meter, aku pun berlutut dan merobek roti itu. Robekan yang lebih kecil segera kusodorkan padanya tanpa pikir panjang. "Ini... makanlah..." pintaku penuh harapan. Namun iris emas itu justru menatap nanar apa yang kutawarkan. Memang untuk sesaat dia terlihat bingung hingga taring-taring itu tertutup, tetapi sepertinya kecurigaan muncul lagi. Dia kembali menggertakku dengan taring dan tanduk siripnya. "Cobalah dulu, ini makanan manusia. Tapi tidak beracun kok! Mau, ya?" bujukku sekali lagi. Roti yang tersobek itu ku sobek lagi jadi lebih kecil dan menyodorkannya. Dia menatap curiga, tetapi perlahan mendekatkan kepalanya untuk mengendus roti itu. Sniff, sniff... Seketika ekspresinya berubah lugu. Aku sampai bisa mengambil kesimpulan kalau mungkin dalam hati, makhluk ini berkata "Baunya enak. Ini makanan?" lalu geli sendiri. Tetapi dugaanku sepertinya benar, perlahan dia menarik roti itu dari tanganku dengan giginya dan memakannya. Dia makan seperti manusia. Dikunyah lalu ditelan. Kemudian wajahnya kembali lugu. Dia menatapku seperti meminta sesuatu dan menurunkan tubuhnya hingga dadanya menempel pada daratan. Aku masih sangat terpukau dengan apa yang kulihat hingga aku sadar jika dia memperhatikan sisa roti di tanganku. Aku pun mengerti maksudnya. "Kamu suka? Yay! Mau lagi? Kemarilah!" tawarku berbinar-binar. Aku memancingnya mendekat. Tanganku yang berisi roti terulur lagi. Dia melihatnya dengan berbinar-binar juga. Perlahan dia menyeret tubuh besarnya untuk mendekat, menghampiri roti itu. Lalu dengan cepat menggigit dan memakannya saat roti itu sudah dalam jangkauannya. Sekarang aku semakin berani mendekatinya. Kuberikan potongan roti terakhir padanya sebelum roti yang sebelumnya selesai dia makan. Dia segera melahapnya lagi dari tanganku dengan bahagia. Perasaaku jadi hangat. Aku tersenyum lega. Dengan tidak sadar mengulurkan kedua tanganku yang kosong untuk menangkup wajahnya. Tekstur kulitnya yang tidak biasa itu menyapu permukaan kulitku. Aku tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata seperti apa rasanya. Seperti menyentuh kulit ikan, lumba-lumba dan manusia bersamaan. Dia yang sadar jika tanganku membelai lembut kedua sisi wajahnya, kini terlihat seperti terkejut layaknya manusia. "Cantiknya... Warnamu..." lirihku. Aku tidak terganggu sama sekali menatapnya begini. Kini jelas sekali bentuk matanya yang seperti manusia dengan warna seperti mata serigala itu terlihat. Menusuk tajam netraku yang belum puas dengan apa yang kulihat. "Kamu... terlihat sama seperti laut yang dalam... Bukan seperti laut berombak dekat pantai atau karang. Kamu lebih tenang dan memberi kesan yang lebih dahsyat. Menenangkan sekaligus menegangkan... Seperti samudera..." Aku bicara padanya seakan-akan dia mengerti. Aku masih menatapnya kagum dan tatapan kami bertemu satu sama lain dibawah sinar bulan ini. "Ocean..." Kata itu meluncur dari bibirku sebagai kesimpulan pemikiranku tadi. "Boleh aku menamaimu itu...? 'Ocean'..." pintaku. Otot kedua pipi Ocean tertarik. Mengukir sebuah senyum di wajahnya dan itu merupakan salah satu senyum termanis yang pernah kulihat. Aku terkejut kembali. Darimana dia belajar soal senyum? Apa di laut mereka juga tersenyum? Atau dia baru saja mempelajarinya saat melihatku tersenyum tadi? Senyum yang memperlihatkan taring-taring itu tidak membuatku takut. Aku justru semakin terpukau melihatnya. Makhluk ini cerdas, aku tahu itu. Tanganku masih menangkup wajahnya, justru semakin tidak ingin melepaskannya. Aku masih ingin menikmati saat ini. Namun sayang, sepertinya, Ocean yang ingin menyudahinya. Ocean menarik dirinya dari tanganku, seiring itu senyumnya hilang. Aku membeku pada tempatku, sedikit kecewa. Ocean ingin kembali ke lautan dan aku hanya bisa melihatnya merangkak menuju laut. "Apa kamu akan datang lagi? Ocean?" tanyaku. Ocean berhenti saat tinggal satu lompatan dia bisa kembali ke laut. Dia menoleh padaku untuk sesaat. Lalu yanpa sempat mempersiapkan mental, dia melemparkan senyum padaku. Aku kembali shock. Aku berlari mendekatinya tapi Ocean segera melompat ke dalam laut sebelum aku sempat menyentuhnya. Kulihat siluet ikan besar itu berenang dengan lihai ke dasar laut hingga aku tidak bisa melihatnya lagi. Dadaku berdegup kencang. Merinding hebat menyerangku tetapi aku tidak ketakutan sama sekali. Sungguh, tadi itu pengalaman langka yang sangat berharga. Tanpa sadar aku tersenyum puas sampai terengah. Sungguh, hari ini luar biasa. *** "Mitologi laut?" Mata pustakawan itu memicing padaku yang gugup. Aku mengangguk cepat pada pertanyaannya yang meragukanku. "Kamu mau cari buku tentang mitologi laut? Kamu mau jadi peneliti atau mau jadi dukun?" tanyanya sadis. Sudah kuduga. Memang benar jika wanita tua pustakawan ini memang menyebalkan seperti apa yang teman-temanku bilang. "Memangnya ada dukun yang kerjanya di laut ya, bu?" tanyaku polos, sepertinya justru memancing emosi ibu pustakawan. "Kamu dulunya apa? SMA atau SMK? SMK ya? Sekolah Menengah Kedukunan?" Halalalah. Setelah memaksakan diri memberi tawa palsu disana dan disini agar ibu itu tidak marah, akhirnya dia memberikanku pengarahan. "Buku seperti itu sudah disingkirkan dari sini karena tidak ilmiah. Tapi sepertinya belum semuanya dibuang atau dibakar. Coba kamu cari di bagian gudang. Kalau masih ada dan belum ada yang mengambil, ambilah untukmu." katanya. "Wah! Terima kasih, bu!" balasku cepat. Kali ini senyumku jujur dan tidak memaksa seperti tadi, aku benar-benar bersemangat. Rasanya seperti baru saja mendapat harta karun. "Jangan sesat ya! Percaya tetap pada Tuhan!" serunya dari jauh begitu aku menuju gudang. "Okay!" balasku sebelum belok ke lorong lain. Gudang Perpustakaan. Tempatnya buku-buku yang sudah tidak layak tampil, ketinggalan jaman dan tidak layak baca dikumpulkan untuk dibakar atau diloakkan. Tidak kusangka kini bisa terasa seperti gudang harta karun. Tanpa mempedulikan pekerja tua yang sedang memilah-milah buku di sana, aku segera mencari apa yang kubutuhkan. Meski gudang, aku cukup terkesan karena buku-buku itu tetap dipisahkan berdasarkan jenis bacaan. Dengan cepat aku pun mendapat apa yang kucari di tumpukan buku mitologi. Ada beberapa yang membahas tentang kelautan di sana. Segera kuambil beberapa buku itu dan membawanya pergi. Tidak lupa setelah menunduk salam pada bapak tua yang sedang mengurusi buku-buku itu tentunya. Sampai di rumah, tasku segera kuletakan kasar dan aku mengambil buku-buku itu dari dalamnya. Setumpuk buku itu kutaruh di atas meja belajarku dan aku mengambil buku yang paling atas untuk dibaca lebih dulu. "Mermaidkah dia? Atau mungkin merman, lebih cocoknya? Aku sangat ingin tahu!" seruku tanpa sadar saat membalikkan halaman-halaman buku lapuk itu. Halaman 87. Mermaid. Pupil mataku membesar saat melihat halaman depan bab itu. Sebuah gambar yang hampir seperti bentuk Ocean terpampang disana, hanya saja posturnya lebih kecil dan terlihat lebih ramah. "Ini pasti Ocean!" seruku, terlalu cepat mengambil keputusan. Lalu segera semua informasi dalam bab itu kuserap habis. Sampai pada hal terkecilnya kuperhatikan. Mermaid, makhluk mitos yang digambarkan memiliki tubuh setengah manusia dan setengah ikan. Makhluk yang mitosnya pandai bernyanyi agar memancing para nelayan lalu menerkamnya. Namun, beberapa kasus yang tidak diketahui penulisnya, mengatakan jika terkadang pada mermaid menolong kapal atau pelaut yang tersesat dalam badai. Sama hal nya dengan makhluk mitologi lainnya, mermaid sangat pemalu dan jarang terlihat keberadaannya. Meskipun ada beberapa rekaman amatir yang tidak sengaja merekam mermaid, belum ada bukti jelas dari eksistensi mereka. Namun beberapa ahli sangat bersikeras jika mermaid nyata dan hidup di kedalaman laut yang tidak terjangkau manusia. "Waaah..." Aku takjub dengan informasi yang kudapat. Meski sedikit berbeda dengan apa yang kualami kemarin. Ocean tampaknya tidak bisa bernyanyi. Aku malah takut jika dia bernyanyi dengan suara ikan paus seperti itu. Tanganku membolak-balikan halaman buku tua itu demi menggali lebih dalam informasi tentang mermaid. Informasi fisik, apa yang menjadi makanannya, pernah terlihat di daerah mana dan juga pengakuan beberapa ahli yang mengaku pernah melihatnya. Semua informasi itu kuhabiskan sampai pada halaman terakhir bab itu. Raut kecewa terukir, aku belum puas dengan apa yang kudapat. Rasa penasaranku belum terpuaskan. Aku baru saja ingin menutup buku itu untuk berpindah pada buku berikutnya, sebelum mataku menangkap satu kata baru yang tertera pada di referensi akhir bab itu. Siren. Tanganku kembali membuka lebar buku itu. Kata Siren menggema dalam pikiranku tiba-tiba seperti menyruhku untuk mencari tahu tentangnya. Kuurungkan niatku untuk menaruh buku itu dan kembali mencari chapter tentang Siren. Apa itu Siren? Ada hubungannya dengan Mermaid?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD