Chapter 10

1382 Words
Histeris. Satu kata itu bisa menyimpulkan keadaan Maria yang berdiri mematung di depan pintu kamar Vivian. Niat Maria ingin membangunkan Vivian karena Lyala akan datang berkunjung untuk menemui Maria dan Vivian, dan apa yang Maria lihat, bukanlah sesuatu yang pernah Maria bayangkan sebelumnya. "HOLLLYYY SHIIITT!" Vivian langsung terduduk dari tidurnya mendengar suara Maria yang tidak main-main kuatnya. Vivian mengumpat saat merasa pinggangnya nyeri luar biasa, bagian bawahnya jelas tidak dalam keadaan baik-baik saja. "Apa? Apa?" Vivian bertanya panic, mukanya memandang takut pada Maria yang masih setia berdiri dengan mata membola tak percaya di dekat pintu. "Kak! Apa ini?" Maria bertanya lebih mengarah pada keadaan kamar Vivian yang berantakan. Guling dan bantal berserakan di lantai, sprei yang sudah keluar dari tempat tidur, baju Vivian yang bertebaran di lantai dan di sofa kamar, juga bau ini, Maria tau bau ini. Ini bau ehem.. seks. "Apanya yang apa?" Vivian masih setengah sadar, menarik selimut yang menutupi tubuhnya sampai ke bahu, hingga hanya kepalanya yang terlihat. "Kau habis diperkosa atau apa?" Maria berjalan masuk ke kamar Vivian, membuka tirai dan jendela kamar Vivian. "Maria!" "Segera mandi dan jelaskan tentang kekacauan ini, sebelum aku menuduh yang bukan-bukan Kak. Aku tunggu di depan TV" Maria memerintah, benar-benar tidak ingin dibantah. Begitu menendang guling yang menghalangi jalannya, Maria menutup pintu kamar Vivian dan berlalu keluar. Vivian telah selesai mandi dan berpakaian. Sudah berulang kali Vivian ingin membuka pintu kamarnya dan menemui Maria, tapi Vivian benar-benar tidak punya muka sekarang. Dia terciduk. Terciduk habis bercinta. Memalukan sekali, bukan? Setelah menghembuskan nafas berulang kali dan meyakinkan diri, juga tidak lupa menyusun alasan-alasan yang masuk akal, Vivian keluar kamar. Di ruang tamu, sudah ada Maria yang duduk dengan TIDAK santai. Tanduk dikepalanya dan cakar di jarinya seolah bisa Vivian lihat. Vivian akan benar-benar tidak bisa berkutik lagi ataupun mengelak kali ini. "Jelaskan" Maria bahkan sudah mulai menyerang Vivian, saat Vivian bahkan belum duduk di sofa tunggal ruang tamunya. "Dari mana dulu?" Vivian berusaha semampunya agar tetap tenang. "Kau habis bercinta? Benar?" Maria memandang tajam Vivian, tidak ingin melewatkan ekspresi Vivian sedetik pun atas semua pertanyaan yang akan Maria tembakkan. Vivian mengangguk sebagai jawaban. "What the Food!" Maria menepuk pahanya dan menggelengkan kepalanya dramatis. Benar-benar tidak bisa di percaya. "Dengan siapa?" Maria memandang tajam kearah mata Vivian yang sudah kehilangan ketenangannya. Vivian melirik kearah balkon dengan kaca bening yang terhalang hordeng tipis. Tangannya saling meremas, tidak ingin menjawab, tapi Maria jelas-jelas menuntut. "Kak Temi?" Tebak Maria. "Apa? Tidak mungkin!" "Lalu siapa?" Maria mendesak. Vivian tutup mulut lagi, kali ini memandang karpet di bawah kakinya. "Ada apa ini?" Lyala muncul, dan keadaan makin gawat darurat untuk Vivian. "Kak, Kak Vivian baru saja bercinta" adu Maria. Vivian menatap horror Maria. Sementara Maria hanya berekspresi tenang. Sama sekali tidak memperdulikan Vivian yang ingin menghajarnya. "Vivian what?" "Oke, tolong tenang. Kak Lyala, duduklah. Tolong jangan histeris, oke? Biar aku menjelaskan dulu." Vivian menyerah. "Kau… melakukan one night stand, Vi?" Lyala membolakan matanya tak percaya. "Hell No! Kak, jangan menuduhku dulu. Aku memang… ya seperti yang Maria bilang. Tapi apa yang salah? Aku sudah cukup umur untuk itu, wajar kan?" Vivian membela diri. "Aku bahkan masih ingat kalau kau tidak ingin melakukannya jika bukan dengan orang yang kau cintai, Vi. Demi Tuhan, kau baru mengatakannya kemarin, dan hari ini? Kau ingin memberiku surprise?" Lyala masih melongo tak percaya, sementara Maria benar-benar mengintimidasi Vivian dari caranya memandang. "Aku mencintainya" Vivian memerah malu. Dia bahkan menyatakan perasaan cintanya di depan Lyala dan Maria lebih dulu, bukan pada yang bersangkutan. "Aku masih ingat juga kalau kau bilang, kau tidak punya kekasih Vi" Lyala menyerang lagi. "Benar! Kau tidak punya pacar Kak, aku sangat tau" Maria menimpali. "Apa kau mulai menjadi liar sekarang, Vi? Aku bisa mati berdiri astaga… bagaimana bisa? Siapa yang mengajarimu?" Lyala mulai histeris. "Kak! Aku memang tidak punya kekasih, tapi aku mencintainya. Aku sudah bilang kan kalau aku tidak ingin melakukannya kalau tidak bersama orang yang ku cintai?" Vivian mencoba menjelaskan. Tapi sepertinya sepasang Kakak-adik di depannya sangat tidak puas dengan jawaban Vivian. "Bertele-tele! Katakan, dengan siapa kau tidur semalam?" Lyala benar-benar sudah tidak tahan lagi, rasa penasaran benar-benar sudah nyaris akan membunuhnya. Vivian menelan ludahnya kasar. Kalau boleh, Vivian tidak ingin menyebut nama itu sekarang, karena, Bro… semalaman dia menyanyikan nama itu entah berapa puluh kali, dan menyebut nama itu lagi membuat Vivian nyaris mati karena malu. "Kak Vivian?" Maria menaikkan satu alisnya, karena Vivian benar-benar menutup mulutnya. "Zach Rodriguez?" tembak Lyala. Meskipun ragu, tapi hanya nama itu yang terlintas di otak Lyala sekarang. Dan Vivian mengangguk. "WHAT THE F*CK!" koor Lyala dan Maria bersamaan. *** "Zach, sakit…" "Sialan!" Zach memaki. Pulpen yang ada digenggamannya dilempar begitu saja. pria berkulit gelap itu bahkan mengacak-acak rambutnya dengan kasar agar ingatan tentang Vivian bisa hilang sebentar saja. Dia perlu konsentrasi! "Wow Kak! Aku baru muncul dan sudah di hadiahi lemparan pulpen?" itu Arya. Berdiri sambil memegang pulpen yang dilempar Zach sembarangan. "Sejak kapan kau masuk?" Zach mengabaikan ucapan Arya, kembali membaca kertas-kerta yang bertebaran di mejanya. "Saat kau melempar pulpen kearah ku. Ada apa Kak?" tanpa disuruh, Arya mendudukan diri didepan Zach, hanya terhalang meja kerja si pria berkulit gelap. "Tidak ada. Ada apa kau kemari?" "Ingin memberikan ini" Arya meletakan undangan berwarna coklat emas yang terlihat mewah diatas tumpukan kertas di meja Zach. "Kau menikah?" Zach menaikkan alisnya sebelah. Memastikan benda yang sedang di pegangnya saat ini adalah undangan pernikahan. "Hu'um. Kau harus datang kali ini Kak. Aku memaafkan mu waktu itu karena tidak datang ke pertunanganku, tapi kau harus datang ke pernikahanku kali ini. Dan… bawa pasanganmu!" Arya menaik turunkan alisnya. "Hadiah apa yang kau mau?" Zach mengabaikan ucapan Arya lagi. "Rumah seperti villa milikmu?" "Kau mendapatkannya." "Kau serius Kak?" Arya memajukan badannya kearah Zach. "Apa kau tidak serius dengan permintaanmu?" "Tentu saja tidak! Aku tidak perlu rumah, aku sudah punya. Aku hanya ingin kau datang ke acaraku, dengan amplop berisi uang kurasa sudah cukup" Arya menaik turunkan alisnya lagi. "Kau mendapatkannya" "Itu baru Kakakku!" "Arya…" Zach mengalihkan pandangannya dari undangan mewah yang sempat menyita perhatian Zach ke Arya. "Iya?" "Kenapa kau menikah?" Arya mengerutkan alisnya bingung atas pertanyaan Zach. Benar juga, kenapa dia menikah? Arya mulai mempertanyakan hal ini saat dia akan menikah nyaris seminggu lagi. "Karena aku mencintai Lyala?" Arya menjawab ragu. "Kau juga pernah jatuh cinta dengan orang lain sebelum dengan Lyala, kenapa kau tidak menikahi mereka? Dan kenapa Lyala?" Zach tidak puas dengan jawaban Arya, mulai cerewet dengan bertanya lagi. Arya menegakkan duduknya, kepalanya miring ke kiri, matanya bahkan tidak focus. Bahkan otak jeniusnya kesulitan menjawab pertanyaan Zach. "Karena Lyala memahami ku?" Jawab Arya, bahkan semakin ragu. "Omong kosong. Kenapa kau berani mengambil langkah sejauh ini, bahkan kau kebingungan menjelaskan kenapa kau menikah?" Zach mengerutkan alisnya kesal. "Aku hanya tidak tahu Kak. Aku hanya tidak mau kehilangan Lyala. Aku tidak berani membayangkan kalau Lyala pergi dari ku, bahkan aku tidak pernah memikirkan masa depanku tanpa Lyala disamping ku. Itu akan sangat mengerikan. Aku sangat beruntung memiliki Lyala, dia sangat sabar dengan sifat cerobohku, bahkan dia tidak menghiraukan pekerjaan sampingan kita. Dia hanya melihatku sebagai Arya, bukan Axel si mafia bawah tanah" Jelas Arya panjang lebar. Jika Zach menggunakan nama samaran untuk bisnis bersihnya, Ace, kebalikannya Arya menggunakan nama samaran untuk bisnis kotornya, Axel. "Jadi, sebelum Lyala, kau tidak pernah membayangkan masa depanmu dengan kekasih-kekasihmu terdahulu?" Zach memandang undangan ditangannya lagi. "Tidak Kak, sebelum Lyala, aku bahkan tidak pernah berpikir untuk menikah, menikah itu seperti pembodohan untukku. Kemudian Lyala muncul, dan menjungkirbalikkan semuanya. Aku bahkan membayangkan Lyala akan mengandung anakku saat pertama kali aku melihatnya, cukup gila kan?" "Kau ingin menidurinya bahkan saat baru bertemu dengannya?" Zach menaikan alisnya takjub. "Bukan itu intinya!" geram Arya. " intinya adalah, Lyala membuatku berani mengikat komitmen. Padahal sebelum bertemu Lyala, aku berganti kekasih seperti berganti baju. Lyala membuatku, benar-benar jatuh cinta. Intinya begitu!" Arya kesal. "Apa kau tidak takut terikat dengan orang yang sama seumur hidup mu? Maksudku, kau akan bosan" "Kau akan paham posisiku saat kau bertemu dengan orang yang bisa menggerakkan hatimu Kak. Orang yang bisa membuatmu rindu bahkan saat kau baru saja melihat wajahnya beberapa jam yang lalu, orang yang membuatmu ingin membunuh siapapun yang berani menyakiti hati orang itu, orang yang membuatmu berubah jauh lebih baik, orang yang membuatmu takut kehilangan, orang yang kau cintai" Dan Zach melihat wajah Vivian di dalam angannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD