Chapter 9

2084 Words
Kebiasaan Vivian jika sedang dalam masa libur adalah pergi kuliner seorang diri. Vivian akan berpergian tanpa arah yang jelas dari satu café ke café yang lain, dari satu kedai ke kedai yang lain untuk makan, sampai perutnya nyaris pecah. Seperti hari ini, setelah mampir ketempat Lyala, Vivian melanjutkan acara membeli makanan nya ke sebuah restoran yang cukup terlihat sepi dari luar di daerah Jakarta Pusat, karena waktu sudah menunjukan pukul tiga sore, sudah lewat jam makan siang, keadaan restoran tersebut benar-benar sepi. Vivian melepas topi hoodie nya dan masker yang menutupi hidung serta mulutnya, mendudukan diri disebuah meja disudut disebelah dinding, sendirian. Vivian terbiasa menikmati waktunya sendiri, sebelum jadwal promosi album terbarunya mencekik lehernya. Menghabiskan waktu dengan dirimu sendiri itu perlu. Setelah memesan makanan yang diinginkannya, Vivian melihat-lihat interior restoran yang baru pertama kali di kunjunginya ini. Di depannya terdapat pintu berukiran klasik khas restoran china dengan tulisan VIP menggantung di daun pintunya. Vivian masih sibuk melihat-lihat interior restoran tersebut sampai pintu di depannya terbuka, mengalihkan perhatiannya. Vivian melirik sekilas dan beberapa pria berjas rapi keluar dari sana, atensi Vivian masih tertuju pada interior bangunan sampai orang terakhir keluar dari ruangan VIP tersebut bersama seorang pelayan yang menutup pintu ruangan untuknya setelah pria terakhir itu keluar. Vivian terkesiap. Didepannya berdiri Zach Rodriguez dengan wajah datar brengseknya, bercengkrama dengan beberapa pria tua di depan pintu, pria-pria yang Vivian duga adalah rekan bisnisnya. Zach yang selalu terlihat 'mahal' dimata Vivian, hari ini mengenakan setelan jas berwarna biru gelap nyaris menuju hitam, rambut hitam legamnya tertata rapi, aura arogannya masih kental disekitar pria berkulit gelap itu, bahkan dari jarak yang agak jauh, Vivian bisa mencium wangi parfum Zach. Benar-benar penciuman yang tajam, Vivian Salsadila. Vivian buru-buru menundukkan kepalanya memencet ponselnya asal-asalan, berpura-pura sibuk, berharap Zach tidak menyadari kehadirannya. Beberapa pria tua sudah berjalan melewati meja Vivian yang berada tepat berhadapan dengan pintu, sementara Zach masih berbicara kepada wanita yang memegang buku dan laptop di tangannya. Wanita itu berlalu, meninggalkan Zach sendiri. Dari ekor mata Vivian, Vivian bisa melihat Zach merapikan Jas nya dan memasukkan kedua tangannya dalam saku celana, berjalan kearahnya. Mendadak Vivian merinding, berdoa agar Zach juga mengabaikan keberadaannya seperti rekan-rekan bisnisnya barusan. Zach berhenti tepat di depan Vivian yang masih menunduk, matanya tertutup rapat, Vivian mulai berdoa agar Zach cepat-cepat berlalu, tapi Vivian masih bisa merasakan keberadaan Zach didepannya dari wangi parfum yang menyerang penciuman Vivian. Damn it, Zach Rodriguez! "Apa yang anjing kecil ku lakukan sendirian disini?" Zach tersenyum miring melihat reaksi Vivian yang terkejut mendengar suaranya. Vivian mengangkat kepalanya, tersenyum terpaksa. "Aku… aku lapar…" Vivian merutuki jawaban dan nada suaranya. Jawaban yang terdengar seperti Vivian sedang bermanja pada pria yang masih berdiri di depannya. Zach menaikkan alisnya sebelah, agak merinding mendengar nada suara Vivian yang terdengar agak manja. Zach menarik kursi didepannya dan mendudukan dirinya di depan Vivian yang menundukan pandangannya. "Pesanlah sesuatu" "Aku sudah…" jawab Vivian cepat. Vivian meruntuki dirinya lagi, kali ini karena detak jantungnya mulai bertingkah dengan berdetak makin kencang. Vivian bahkan tanpa sadar duduk dengan tegak dan kaku, berjaga-jaga atas sesuatu yang akan menimpanya nanti. Vivian banyak belajar, setiap pria ini muncul di depannya, pasti Vivian terkena masalah, atau minimal… Vivian dibuat menangis. "Pesanan anda Nona…" salah satu pelayan muncul, membawa beberapa pesanan Vivian, menyusun rapi di atas meja. Didepan Vivian dan Zach sudah tersaji tiga jenis makanan berbeda dengan satu gelas Jus dan satu botol air mineral. "Terima kasih" jawab Vivian sambil tersenyum. Pelayan itu berlalu. "Kenapa tidak dimakan?" Tanya Zach yang sedari tadi duduk tenang di depan Vivian saat melihat gadis bersurai coklat itu tidak menyentuh makanannya sama sekali. "Iya? oh… iya, makan…" jawab Vivian gugup. Bahkan ucapannya berantakan. Zach tersenyum miring lagi melihat Vivian benar-benar memakan makanannya dengan cepat, bahkan tidak menawarinya sama sekali. "Kau lapar sekali?" Zach melipat tangannya diatas meja, badannya maju beberapa senti kedepan. "Uhuuukk…. Uhuukk.." Vivian tersedak mendengar ucapan Zach. Tangannya dengan cepat menyambar sedotan dari gelas jus, meminumnya dengan rakus, sementara Zach masih diam saja memandangi Vivian dan segala tingkah bodohnya. "Ma… maafkan aku" cicit Vivian. Matanya melirik lirik takut Zach yang masih setia memandangi. "Jangan hiraukan aku. Makan saja. Kau ingin tambahan makanan lagi?" "Tidak… Tidak, tidak usah" Vivian mengibaskan tangannya saat melihat tangan Zach terangkat seperti ingin memanggil pelayan. "Ya sudah, habiskan makananmu" Zach memajukan tangannya, membuat Vivian otomatis mundur kebelakang. "Ah, ma… maafkan aku tuan" Vivian menunduk beberapa kali, mengutuk reaksi tubuhnya yang panic karena tangan Zach yang terulur. "Makan lagi" perintah Zach. Zach dengan santai menarik gelas jus milik Vivian, meminum tanpa permisi. Vivian bahkan tidak bisa mengontrol mimic wajahnya yang terkejut. Zach meminum jus miliknya, dari sedotan yang sama! itu artinya mereka berciuman secara tidak langsung kan? Iya kan? Menyadari hal itu, mendadak wajah Vivian merona merah. Vivian menggeleng-gelengkan kepalanya, menyadari pikiran bodohnya yang tidak penting itu. Vivian mengambil sumpit dan sendoknya lagi, memulai makannya yang tertunda. Mendadak Vivian menyadari sesuatu. Vivian tidak menawari Zach makan sama sekali, bahkan berbasa-basi pun tidak. Vivian duduk tegak lagi, matanya menatap waspada kearah Zach yang juga sedang menatapnya, tepat di mata Vivian. Vivian merasa tungkai kakinya melemas di bawah meja. "Apa?" Zach menaikkan sebelah alisnya. "A… apa kau mau makananku tuan?" "Suapi aku kalau begitu" Dan Vivian merasakan wajahnya benar-benar menghangat. Vivian benar-benar berakhir menyuapi Zach yang tidak melepas pandangannya dari Vivian. Bahkan Vivian kehilangan selera makanannya. Vivian benar-benar ingin sekali sesuatu dari bawah lantai menelannya sekarang juga. Dia akan benar-benar mati sakit jantung karena pria arogan ini. Makanan di depan mereka sudah habis, dengan Zach sendiri yang memakannya dengan disuapi Vivian. Zach memanggil pelayan, meminta bill. Vivian sudah bersiap mengeluarkan dompetnya, tapi Zach meliriknya tajam, membuat gadis bersurai coklat itu memasukkan kembali dompetnya. Vivian sudah benar-benar akan berlari meninggalkan Zach di depan restoran, tapi niat yang masih dalam otaknya itu langsung gagal saat Zach menggenggam tangan Vivian dan memaksa Vivian masuk kedalam sebuah mobil sedan mewah yang terparkir manis di depan restoran. "Ki… kita mau kemana?" Vivian panic. Kepalanya melirik ke kiri ke kanan, seperti bocah ketakutan akan diculik. "Kerumahku" "Apa?" kali ini, Vivian benar-benar panic. *** Vivian berakhir didepan pintu apartemennya, ada Zach dibelakangnya mengekori. Zach hanya bercanda soal membawa Vivian kerumahnya, karena pada akhirnya Zach mengantarkan Vivian ke apartemennya. Awalnya Vivian berkeras ingin pulang sendiri, tapi karena ucapan Zach yang mengatakan kalau Zach ingin mengambil coat dan jas nya yang pernah di pinjamkan kepada Vivian, Vivian tidak punya alasan lagi untuk melawan. Dan disinilah mereka berdua berakhir, diapartemen Vivian. Vivian meninggalkan Zach di ruang tamu, sementara Vivian masuk ke kamar, mengunci pintu kamarnya dari dalam. Vivian menyenderkan badannya yang lemas di dinding, merosot kelantai. Vivian bahkan merangkak kearah sofa di dekat jendela, disana ada coat dan jas Zach tersampir disandaran sofa. Vivian memandang coat dan jas itu dengan sedih. Ini rahasia, oke? Vivian sebenarnya punya masalah dengan jam tidurnya. Insomnia kalau istilah kesehatannya. Sering kali Vivian bahkan harus memakan obat tidur agar bisa terlelap. Namun beberapa minggu ini, Vivian benar-benar bisa tidur nyenyak, tanpa bantuan obat tidur sama sekali. Terima kasih pada coat dan jas Zach yang menyisakan wangi pria berkulit gelap itu disana. Sementara diluar, Zach berkeliling memperhatikan isi apartemen Vivian. Terdapat banyak foto di apartemen gadis bersurai coklat itu. Zach masih sibuk memperhatikan foto-foto yang kebanyakan adalah foto Vivian. Mata Zach tertarik pada foto dalam bingkai kecil berwana putih diatas meja. Disana ada foto seorang anak kecil yang sedang berjongkok dipasir dengan sweater kebesaran berwana hitam sedang tersenyum kearah kamera. Zach mengambil bingkai putih itu, tertawa kecil. "Dari kecil bahkan pipinya sudah lebar…" Zach mengomentari foto di tangannya. Zach masih sibuk memperhatikan foto-foto yang tertempel di dinding saat pintu kamar Vivian terbuka, menampilkan Vivian yang berjalan kearahnya dengan coat dan jas milik Zach di siku tangannya. "Ini…" Vivian menyerahkan jas milik Zach, sementara coat Zach masih bertengger di siku nya. Zach mengambil jas dari tangan Vivian tanpa berbicara. "Dan ini coat milikmu, tuan…" Zach mengambil coat dari tangan Vivian, tapi Vivian seperti tidak rela melepaskan coat itu. Zach menarik pelan coat itu, dan Vivian kembali menarik coat itu kearahnya. "Anjing kecil?" Zach mengerutkan alisnya bingung. Vivian langsung tersadar akan perbuatannya, dengan sedikit tidak rela, Vivian melepaskan genggamannya dari coat milik Zach. "Kau tinggal sendiri?" Zach meletakkan coat dan jas miliknya diatas sofa ruang tamu, kemudian mendudukan dirinya disebelah coat dan jas nya. "Ya…" jawab Vivian asal. Bahkan dia tidak mendengar pertanyaan Zach. Mata Vivian masih sibuk mengawasi coat dan jas Zach yang tergeletak tak berdaya disamping pemiliknya. Zach menyadari mata Vivian yang tidak focus, terarah kearah coat dan jasnya, bahkan saat Zach mulai berjalan kearah Vivian, Vivian tidak meyadarinya, sampai Zach berdiri menjulang di depannya. "A… ada apa?" Vivian mengerjabkan matanya beberapa kali. Terkaget seperti orang bodoh begitu melihat Zach yang sudah berdiri di depannya. "Kau menginginkannya?" Zach menarik dagu Vivian, agar gadis bersurai coklat itu mengarahkan pandangannya kepadanya. "A… apa?" "Coat dan jasnya. Kau menginginkannya?" Zach bertanya seduktif. Matanya sibuk memperhatikan bibir Vivian yang sedikit terbuka. Vivian menelan ludahnya susah payah. Mendadak Vivian merasa kepanasan. Vivian bukannya tidak tau ada api nafsu berkobar di mata Zach, dan hal itu membuat Vivian panas dingin. Bahkan mata Zach mulai mengelam. Tidak ada jawaban yang bisa Vivian ucapkan. Karena, seingin apapun Vivian memiliki coat dan jas itu, harga diri melarangnya keras untuk berkata iya. Vivian ingin melepaskan diri dari Zach, tapi Zach lebih cepat. Zach mencium bibir Vivian lembut setelah mati-matian menahan diri sedari tadi. Vivian mengerjabkan matanya berkali-kali, masih mencoba mengerti keadaan yang sedang terjadi. Tangan Zach yang posesif melingkar di pinggul Vivian, memaksa gadis bersurai coklat itu merapat ketubuhnya. Tangan Vivian berpegangan pada jas Zach, Vivian meremas Jas Zach kuat saat tangan pria berkulit gelap itu sudah berada di balik bajunya. Entah bagaimana akhirnya mereka bisa sampai di atas tempat tidur Vivian. Nafas Vivian berantakan, tidak jauh berbeda dengan keadaan Vivian yang bajunya sudah hilang entah kemana. Sementara jas Zach juga sudah terlempar sembarangan. Zach mengurung Vivian yang berada dibawahnya dengan kedua siku tangannya sebagai penahan tubuhnya. Zach membiarkan Vivian mengambil nafas sebanyak yang Vivian mau, sementara Zach memperhatikan Vivian yang sudah memerah hebat dibawahnya. "Kau milikku, Vivian Salsadila…" Bisikan ditelinga Vivian membuat Vivian tanpa sengaja mendesah dibawah Zach. Desahan Vivian adalah racun untuk Zach. Zach benar-benar lepas kendali. Vivian yang tidak melakukan perlawanan sama sekali kali ini, benar-benar membangunkan sisi liar dan dominan Zach. pria berkulit gelap itu benar-benar tidak akan berhenti lagi kali ini. Persetan dengan gossip diluaran, persetan dengan Bianca, persetan dengan status Vivian yang seorang artis, yang Zach inginkan saat ini adalah, Vivian menyanyikan namanya di bawahnya. "Aku milikmu…" cicit Vivian pelan, mata sayunya malu-malu menatap Zach. Vivian Menarik kepala Zach kearahnya, mengecup bibir pria berkulit gelap itu. "Miliki aku, Zach…" Dan Zach benar-benar hilang kendali diri. Juga Tidak ada jalan untuk Vivian kembali. *** "Arya, aku benar-benar merasa bersalah pada Vivian…" Lyala memeluk bahu Arya dari belakang. Menyenderkan kepalanya di bahu Arya yang sedang sibuk dengan remote TV di tangannya. Arya duduk dilantai beralaskan karpet, sementar Lyala duduk diatas sofa apartemen Arya. "Kau membuatku dua kali lipat merasa bersalah, sayang…" Arya mengelus puncak kepala Lyala. "Tadi Vivian datang ke café." "Oh ya?" "Iya. Arya, apa tuan Zach Rodriguez itu benar-benar tidak punya belas kasihan? Maksudku, aku melihat Vivian bertambah kurus, tapi dia banyak makan. Aku rasa Vivian benar-benar stress" adu Lyala. "Maafkan aku, Lyala. Aku tidak bisa berbuat apa-apa soal itu. Kau tau kan, aku masih ingin hidup lama, menikahi mu, hidup berbahagia bersamamu." Arya makin menyesal. Jika ada yang bisa Arya lakukan untuk menyelamatkan Vivian, tentu Arya sudah lakukan dari awal. Tapi apa yang harus Arya lakukan? Menyembunyikan Vivian? Bisa-bisa Vivian dikira di culik dan menjadi berita besar di Negara mereka. Lyala mencium pipi Arya sekali, dan kembali meletakkan kepalanya di bahu Arya. "Tapi, Lyala… aku merasa Kak Zach agak melunak pada Vivian. Kau ingat saat Vivian datang ke hotel di acara perjudian bersama Maria?" Lyala menganggukan kepalanya. "Kak Zach berjumpa pertama kali dengan Vivian disana. ada sesuatu terjadi, dan Vivian memaki Kak Zach. Dan kau tau? Kak Zach membiarkannya" "Benarkah?" Lyala menegakkan tubuhnya, terkejut dengan informasi baru dari Arya. "Aku mengatakan yang sebenarnya sayang. Dan soal Hana yang ketahuan membunuh oleh Vivian, Kak Zach juga membiarkannya" "Apa karena Vivian artis? Bisa jadi berita besar kalau Vivian mati terbunuh kan?" Lyala menyimpulkan. "Bisa jadi. Atau itu hanya alasan Kak Zach untuk mengikat Vivian di tangannya?" Arya berspekulasi. "Bisa aku simpulkan kalau Tuan Rodriguez mencintai Vivian, Arya?" "Terlalu terburu-buru untuk itu sayang. Aku kenal Kak Zach. Dia benar-benar tidak akan mencintai seseorang. Mencintai berarti memperlemah diri. Untuk Kak Zach, aku rasa itu mustahil. Dia hanya… kau tahu? Control freak"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD