Chapter 8

2044 Words
"Gunakan baju yang lebih tertutup dan jangan tembus pandang seperti ini kalau kau baru habis bercinta, Vi" "Uhuukkk… WHAT?" Vivian tersedak minumannya mendengar ucapan Lyala yang tiba-tiba. Vivian dan Lyala sedang berada di café milik Lyala yang berada dikawasan Jakarta Pusat, terletak disalah satu gedung perkantoran elit, yang bagian basement nya diisi oleh bermacam ragam café, mulai dari minuman kopi asal Amerika yang terkenal, toko kue kenamaan, sampai makanan mulai dari makanan lokal sampai mancanegara, ada dilantai dasar gedung perkantoran elit ini. "Apa?" Lyala berujar santai menanggapi reaksi Vivian yang dinilainya berlebihan. "Aku tidak!" Vivian mengerut kesal. "Ya… ya… katakan itu pada kissmark yang mulai membiru di tulang selangka mu" Lyala memutar bolo matanya. Vivian refleks menyilangkan kedua tangannya didepan d**a, menutupi apapun yang terlihat dipandangan Lyala. "Kau memandangi dadaku, Kak?" protes Vivian, berusaha mengalihkan pembicaraan. "Kissmark di dadamu itu menggangguku, Vi. Salah mu sendiri pakai kemeja putih tipis begitu" Lyala menopangkan kaki kirinya ke kaki kanan, tangannya terlipat didada, matanya menelisik tajam kearah Vivian yang salah tingkah berada tepat didepannya yang hanya terhalang meja. Membuat Vivian seperti pesakitan yang sudah sekarat, malah dituding kejam. "Ini bukan kissmark, oke?!" Vivian balas menantang tatapan Lyala yang seolah mengejeknya. "Aku sering mendapatkannya dari Arya, ngomong-ngomong. Jelas aku kenal tanda di dadamu itu. Jadi, dengan siapa kau menyerahkan dirimu?" Lyala mulai menyerang Vivian yang makin kelabakan didepannya. Benar-benar seperti kena sidang pengadilan dengan Vivian sebagai tersangka. Vivian terpojok. "Kak!" Vivian ingin marah karena merasa terpojok, tapi reaksi tubuhnya berkhianat. Wajahnya memerah, dan Vivian salah tingkah. Sekelebat ingatan tentang dirinya dan Zach yang nyaris bercinta di ruang rias menyerangnya tanpa bisa dicegah. "Tinggal di jawab apa susahnya?" Lyala mulai jengkel. Walaupun gerak tubuhnya masih santai, tapi dalam hati Lyala benar-benar penasaran. Ini bisa jadi gossip, oke? "Hentikan pembicaraan ini. Aku kesini ingin membeli kopi dan cake, Kak. Bukan untuk disidang. Dan aku benar-benar tidak habis bercinta Kak. Aku berani bersumpah" "Kau mulai pintar menyembunyikan sesuatu ya?" Lyala terkekeh akhirnya, menyudahi peran ibu tiri yang sedari tadi diperankannya. "Aku tidak menyembunyikan apapun Kak. Bagaimana bisa aku… kau tau… melakukan itu, pacar saja tidak punya" Vivian mengiba belas kasihan Lyala kali ini, berharap gadis cantik itu sedikit kasihan padanya dan percaya atas kebohongan kecilnya kali ini. "Kau tidak harus punya pacar untuk bisa melakukannya, Vi. Jangan terlalu naïf. Kau tidak perlu punya hubungan khusus dengan seseorang supaya bisa melakukannya" "Ya… ya… dan aku cukup cerdas untuk tidak tidur dengan sembarangn orang. Aku hanya akan melakukannya dengan orang yang aku cintai, Kak" "Aku pegang ucapanmu, anak muda. Jangan tidur dengan sembarang orang. Aku tidak bisa membayangkan kau yang anak baik-baik ini berubah jadi binal. Aku bisa gila" "Tentu. Kau bisa pegang ucapanku. Btw, Kak Arya apa kabar?" Vivian berujar ceria, tapi Lyala merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari yang sewajarnya. Memiliki rahasia benar-benar menyiksa Lyala. Ingin rasanya Lyala meminta maaf pada Vivian atas apa yang menimpanya beberapa minggu yang lalu. Walaupun bukan dia pelakunya, tetap saja Lyala merasa tertekan. Lyala jadi paham perasaan Arya yang merasa bersalah kepada anak naïf dan bodoh di depannya ini. "Dia baik. Aku dengar dari Maria, kau akan segera comeback, Vi?" Lyala mengalihkan pembicaraan. Membahas soal Arya bersama Vivian sudah tidak akan pernah sama lagi bagi Lyala semenjak Lyala tau kebenarannya. "Hum, aku sudah selesai syuting video clipnya. Beberapa minggu lagi aku akan comeback, Kak" Vivian tersenyum cerah. "Sukses untuk lagumu. Vi, boleh aku bertanya sesuatu?" Lyala menegakkan tubuhnya, mencondongkan diri kea rah Vivian. "Apa Kak?" "Kau masih bertemu dengan Zach Rodriguez?" Detik saat pertanyaan Lyala masuk ketelinga Vivian, Vivian mematung ditempatnya, jantungnya berdebar keras hanya karena mendengar nama si b******k itu. *** "Kenapa anak manja itu kembali?" Zach bertanya pada Frans yang berdiri tegak di depan meja kerjanya, tidak ingin duduk walaupun sudah di persilahkan. "Dia kembali karena mendengar gossip tentang anda yang sedang ramai dibicarakan, Boss" Frans menjelaskan. "Lalu?" "Dia langsung ingin menemui anda saat tiba di Jakarta, tapi saya menolak permintaannya." "Pastikan anak itu tidak muncul dihadapanku. Atau aku akan membolongi kepala anak itu… dan juga kepalamu" Zach memijit pangkal hidungnya. Kepalanya nyaris pecah berurusan dengan wartawan yang seperti vampire haus darah. Video ciuman panas antara Zach dan Niara memang masih menjadi topic hangat, keadaan bukannya semakin tenang malah semakin liar. Membunuh jurnalis penyebar video tersebut pun tidak ada gunanya. Para wartawan itu sepertinya belum puas kalau belum mendengar pernyataan langsung dari Zach. Dan kini, sakit kepala Zach bertambah dengan kembalinya anak manja itu- Bianca- "Siap bos." "Dan buat konfirmasi atas namaku di media kalau aku dan Niara tidak punya hubungan apa-apa. Pastikan pernyataanku sudah terbit di media satu jam lagi." "Siap bos" "Pergilah. Urus anak manja itu, dan segera katakan pada ayahnya untuk memulangkannya ke Amerika" "Tapi, dia bersikeras ingin bertemu dengan anda boss" "Bawa dia kehadapanku, dan kalian akan mati berdua. Romantis kan?" Zach tersenyum miring, dan itu adalah alarm untuk Frans agar jangan membantah. "Maafkan saya boss, tapi Bianca berencana menemui Niara jika anda tidak mau menemuinya, anda tau benar sifat anak itu…" Frans menyuarakan kegelisahannya lagi. "Apa aku harus perduli, Frans?" Zach dan aura dominasinya. Siapapun tidak akan bisa berkutik di depannya. "Maafkan saya, tuan" Frans membungkuk dan undur diri dari hadapan Zach. Berlalu secepat mungkin, menghindari kemarahan monster ini demi keselamatan nyawanya. Terdengar bijak sekali, Frans. *** Dan disinilah Bianca berada, duduk berhadapan dengan Niara yang kebingungan setelah dipaksa, ditarik, dan diancam oleh Bianca. Mereka berada di café yang berada dalam salah satu gedung agensi yang menaungi Niara sebagai salah satu artisnya, dan sialnya adalah milik ayah Bianca. Salahkan Zach yang tidak mau bertemu dengan Bianca, terpaksa Bianca menyeret wanita itu langsung. "Apa kau punya hubungan khusus dengan Zach?" Bianca bertanya tanpa basa-basi. Dibelakangnya sudah berdiri pengawal setianya –Frans-. "Maaf?" Niara mengerutkan alisnya kebingungan. "Sudah tidak cantik, telinganya bermasalah, apa yang dilihatnya darimu?" Bianca mulai menyerang. Kecemburuannya melahap habis isi tubuhnya. "Maaf, tapi anda ini siapa?" "Wow, artis macam apa yang tidak tahu anak pemilik agensi yang menaunginya?" Bianca terkejut dibuat-buat. "A… anda Bianca?" Niara membulatkan matanya tak percaya. Niara sering mendengar tentang anak pemilik agensi yang tinggal diluar negeri, tidak hanya itu saja, banyak kru mengeluh soal sifat Bianca anak kesayangan CEO agensinya, yang katanya bossy, menyebalkan, seenaknya, dan kurang sopan santun. "Baru sadar kau sedang berhadapan dengan siapa? Jadi, kau, siapanya Zach Rodriguez?" Bianca bak berada di atas angin melihat wajah berkulit gelap Niara. "A… aku tidak punya hubungan seperti yang sedang diberitakan itu, Bianca" "Lalu?" Bianca menaikan alisnya. Tidak puas dengan jawaban Niara "Aku bukan siapa-siapanya…" "Kau tau, jika kau berbohong, aku bisa pastikan kau akan ditendang dari perusahaan ini. Jangan bermain dengan api, sayang…" Bianca menyerang lagi, sementara Niara sudah membulatkan matanya. Jangan bercanda, demi bisa debut sebagai model, Niara bahkan harus membuka pahanya, menyampingkan harga diri demi debut dan saat Niara berada dipuncak karir, dia harus tersingkir karena video sialan yang mengundang macan tidur dari Amerika ini muncul dihadapannya, ini benar-benar tidak adil untuknya. "Aku tidak berbohong!" Niara menaikan suaranya satu oktaf karena takut dan kesal. Niara sadar dia sedang berhadapan dengan siapa. Bianca jelas bukan orang yang tepat untuk dilawan kalau dia ingin karirnya masih bertahan. "Jaga suaramu, b******k! Kau pikir kau berbicara dengan siapa?!" Bianca mulai terpancing emosinya, sementara Frans hanya tersenyum miring menyaksikan dua macan betina yang sebentar lagi akan saling cakar. Frans bukannya tidak mau menyampaikan pesan Zach yang ditujukan pada wartawan ke Bianca, pesan yang menyatakan bahwa Zach dan Niara tidak ada hubungan apa-apa. Tapi, sayangkan melewatkan tontonan gratis seperti ini? Jadi Frans memutuskan menyimpan pesan itu untuknya dulu saat ini. "Ma… maafkan aku. Tapi aku benar-benar tidak ada hubungan apa-apa dengan Zach" "Kau pikir aku bisa percaya begitu saja? Kau pikir mataku buta? Jelas-jelas di video itu kau dan Zach berciuman!" Tuding Bianca. "Tapi aku tidak ada hubungan apa-apa dengan nya. Dia hanya sponsor" Jelas Niara. "Katakan itu di depan media! Katakan kalau kau hanya jalangnya!" "Apa?" "Katakan pada media kalau kau hanya hiasan ranjangnya!" Bianca memukul meja di depannya. "Bianca, sudahlah…" Frans melerai. Kasihan juga melihat Niara yang hampir menangis. "Diam, b******k!" Bianca memukul tangan Frans yang memegang pundaknya, berniat menenangkannya yang sebentar lagi siap menerkam Niara. "Mana mungkin aku berbicara di media seperti itu! Itu sama saja bunuh diri! Aku membangun karir ku susah payah, hanya karena hal ini kau ingin menyingkirkanku dari dunia hiburan. Ini tidak adil!" Niara meledak. "Susah payah? Kau hanya membuka pahamu demi sponsor! Apanya yang susah payah!" Bianca mencibir, tidak merasa kasihan sedikit pun melihat Niara yang sudah menangis didepannya. Niara terdiam mendengar ucapan Bianca yang jelas-jelas menampar harga dirinya telak. Niara bahkan tidak sanggup membuka suara lagi, karena apa yang di ucapkan Bianca adalah fakta yang sesungguhnya. "Kenapa diam?" Bianca menantang. "Aku bersumpah Bianca, aku tidak ada hubungan apapun dengan Zach. Kau benar, aku hanya jalangnya. Aku tidak tau hubungan apa yang kau jalin dengan Zach, tapi sekali lagi, hubunganku dengannya hanya sebatas sponsor, tidak lebih. Dan video itu, aku tidak tau darimana asalnya" Niara sudah menangis hebat di depan Bianca, ucapannya bahkan tersendat-sendat karena tangis, tapi Bianca benar-benar tidak ada hati untuk sedikit mengasihani Niara. "Kau, dan karirmu, tamat hari ini Niara. Kau sudah salah berurusan denganku." Bianca berdiri, bersiap meninggalkan Niara yang sudah panic. Niara bingung, bahkan tidak tau apa yang tengah menimpanya saat ini. Tiba-tiba anak pemilik agensinya muncul, menuduh dan menghinannya tanpa kasihan, kemudian mengancam akan menghancurkan karir yang dibangunnya dengan harga dirinya sebagai bahan pertukaran. Ini benar-benar terburuk dalam hidupnya. Dia tahu Bianca benar-benar akan menghancurkan karirnya, sampai Niara ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Bianca jelas-jelas punya power di dunia industry hiburan Indonesia, menghancurkan karir Niara bukan hal sulit untuknya. Hanya sedikit permainan media, maka hancurlah Niara di tangannya. Tanpa menghiraukan harga dirinya lagi, Niara bahkan berlari mengejar Bianca yang sudah berjalan menuju pintu keluar café, menghalangi jalannya, dan bahkan berlutut didepan Bianca dan Frans. "Apa?" Bianca mendongak angkuh, sementara Niara sudah berlutut dihadapannya. "Ku.. kumohon Bianca. Aku hiks… benar-benar hanya jalangnya, aku… aku tidak ada hubungan khusus dengannya. Tolong percaya. To… tolong jangan hancurkan aku, kumohon…" Niara benar-benar kehilangan harga dirinya untuk yang kedua kali. Setelah dilakukan seperti p*****r oleh Zach, sekarang diperlakukan bak sampah oleh Bianca. "Ck, sudahlah Bianca. Sebenarnya tadi tuan Ace sudah mengatakan padaku kalau mereka tidak punya hubungan apapun. Bahkan tuan Ace memintaku untuk memberikan konfirmasi ke public" Frans akhirnya buka suara. Rasanya benar-benar kasihan melihat Niara yang diperlakukan bak sampah oleh Bianca. "Kau! Berani sekali…." "Kau menyuruhku diam" Frans menaikan bahunya tak peduli. "b******k!" Bianca meninju perut Frans sekuat tenaga. Merasa kesal karena dipermainkan dan untuk waktunya yang terbuang hanya untuk berurusan dengan jalang berkedok artis. Bianca melewati Niara dengan sengaja menyenggol bahu gadis itu dengan kakinya. Sementara Frans tengah terduduk menahan sakit diperutnya akibat pukulan Bianca. "Terimakasih…" Ucap Niara sambil menolong Frans berdiri. "Bukan masalah. Tolong Maafkan dia…" Frans tersenyum manis. Pantang untuk Frans meminta maaf atas namanya sendiri. Frans tidak akan minta maaf atas hal yang menimpa Niara, yang secara tidak langsung terjadi karena Frans tidak mengatakan hal itu pada Bianca sampai gadis di hadapannya ini di labrak habis-habisan. "Bukan salahnya…" Niara balas tersenyum, masih memegang tangan Frans agar tidak limbung saat berdiri. "FRANS! KU HITUNG SAMPAI TIGA JIKA KAU TIDAK KESINI, KAU MATI DI TANGANKU, b******k!" Bianca berteriak kencang. Terganggu dengan pemandangan didepannya. "Huh, anak manja itu…" Frans berjalan memegangi perutnya, meninggalkan Niara tanpa salam perpisahan basa-basi. Sepeninggalan Bianca dan Frans, Niara melirik kesekitarnya. Bersyukur karena keadaan café yang sepi tanpa pengunjung. Niara kembali berjalan kemeja yang di dudukinya bersama Bianca, mendudukan dirinya sampai dia merasa tenang dan tangisnya mereda. Saat keadaannya mulai tenang, Niara mengambil ponselnya, membuka galeri foto dan melihat foto yang berhasil diambilnya beberapa hari yang lalu. Foto Vivian dan Zach yang sedang berciuman, dengan Zach membelakangi kamera. Niara menelpon seseorang dengan ponselnya, terjadi tawar menawar harga yang lumayan sengit ditelepon. Saat harga yang diinginkan Niara disetujui, dan sejumlah uang masuk kerekening Niara dengan jumlah yang tidak sedikit, Niara menatap ponselnya sekali lagi. Menimbang ulang akan keputusannya, dan gadis itu bukannya goyah malah makin yakin akan keputusannya saat melihat pesan M-Banking diponselnya. Tanpa berpikir dua kali dan akibat dari perbuatannya, Niara mengirim foto Vivian dan Zach ke salah satu berita online. "Setidaknya, jika aku hancur, kau harus hancur bersamaku, Vivian Salsadila" Mata gadis itu menggelap. Yang Niara lupa adalah, industry hiburan lebih 'ramah' pada actris dan penyanyi daripada seorang model.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD