Ella menutup buku-bukunya yang terbuka lebar di atas meja belajar. Bosan. Itu yang dia rasakan sekarang. Dia mengusap wajah dengan tangan. Kemudian, dia menelungkupkan wajahnya dia di sana.
Selepas isya', dia langsung menuju meja belajarnya, mengerjakan PR untuk pelajaran besok, menyiapkan beberapa catatan, dan menelaah ulang pelajaran yang telah dia dapatkan. Itu yang dia inginkan. Akan tetapi, belum semua dia kerjakan dan kepalanya menuntut untuk diistirahatkan. Meskipun hanya rintik dan hawa dingin hujan sore tadi, itu sudah cukup membuatnya kewalahan malam ini. Tidak biasanya dia pusing hanya karena air hujan yang bahkan tidak membuatnya basah kuyup. Ah, siapa tahu sistem imunnya sedang turun saat ini.
Ella membawa tubuhnya ke atas kasur, merebahkannya di sana dengan nyaman. Rumahnya masih terasa sepi. Pertanda kalau kakak perempuannya belum juga datang. Dia menghela napas dalam sambil menatap langit-langit. Tangannya meraih guling dan memeluknya. Matanya menuju ke arah jam dinding. Sudah pukul delapan lebih lima belas menit. Ryan belum datang juga.
Selepas berganti pakaian dan makan bersama, Ryan berpamitan untuk pulang terlebih dahulu dan akan ke rumah Ella pada malam hari. Namun, sampai sekarang juga lelaki itu belum menampakkan batang hidungnya. Ella merasa kesepian. Ini yang tidak dia suka dari dulu. Tahu ditinggal lama begini, dia mendingan ikut Ryan pulang ke rumah lelaki itu saja.
Suara nada dering dari gawai Ella terdengar lantang dalam kesunyian malam. Pemiliknya pun sampai terlonjak karenanya. Dia mengelus d**a pelan dan menyadarkan diri bahwa itu benar-benar suara alat elektronik miliknya, bukan suara yang aneh-aneh meskipun nada deringnya memang dipasang dengan suara tawa Ryan. Dengan berat hati dia mengangkat tubuhnya untuk mengambil benda tersebut yang masih tergeletak di atas meja. Kenapa dia lupa membawanya ke kasur, sih.
"Iya, halo. Kenapa, Ry?" Pertanyaan itu menghasilkan anggukan dari Ella sendiri. "Sebentar. Masih jalan." Lalu, dia mematikan sambungan itu. Dia melangkah keluar kamar menuju pintu utama. Ada Ryan yang sedang menunggu di luar.
"Lama banget. Katanya cuma sebentar." Ella langsung menodong sahabatnya itu. Bibirnya mengerucut lucu yang disambut dengan pelukan oleh Ryan. Lelaki itu mendekapnya erat.
"Anak Papa manja banget astaga. Kan, jadi gak tega ninggalin lagi." Ryan mencairkan suasana. Dia membawa mereka masuk. Tidak lupa untuk menutup kembali pintu tadi. "Kesepian, ya? Mbak Dewi belum pulang?" tanyanya.
"Belum. Gak enak banget, ih." Ella memasang mata puppy. "Aku panas gak, sih, Ry?" Gadis itu mengambil telapak tangan Ryan dan meletakkannya di kening agak lama. "Panas?"
Ryan terdiam sejenak dan berlagak sok mikir. "Hmmm, kayaknya cuma tiga puluh derajat, sih."
"Astaga. Itu aku udah beku banget, Ry."
"Hahahaha. Ya, emang demam kenapa tanya?" Ryan mengelus kepala Ella. "Udah minum obat? Eh, salah. Udah makan malam apa belum?" tanyanya.
Ella menggeleng. "Tadi aku langsung belajar, sih. Malas ke bawah juga. Mau pesen online tapi males nyambut orangnya."
"Untung gak males sama aku."
"Ya, kan, kamu berbeda."
"Kayak ada spesial-spesialnya gitu, ya?"
Mereka berdua tertawa dan baru melepaskan rangkulan saat sudah sampai di meja makan. "Kamu mau makan apa? Mumpung kita udah ada di bawah."
"Ayam goreng?"
"Demam. Nanti kamu malah batuk."
"Sop buntut?"
"Jauh. Harus ke Juanda dulu. Palingan bapak kurirnya pasti mager dingin-dingin gini."
Ella memutar bola matanya. Ryan itu perhatian, sih, iya. Tapi cerewet dan kadang menggunakan alasan yang tak masuk akal untuk mendukung kemalasannya itu yang membuatnya harus bersabar menghadapi makhluk Tuhan yang satu ini.
"Ya, udah tahu campur, deh."
"Gak, ah. Males banget banyak bungkusnya."
Ella menghela napas kasar. "Lah terus apa, loh, Ryan ganteng. Papaku yang paling pengertian dan gak cerewet?" ucap gadis itu sarkas. Sepertinya kesabarannya mulai terkikis.
"Nasi goreng aja dah. Di Cak Dul situ, kan, deket. Gak pake ongkir."
"Iya, tapi aku gak mau keluar buat beliin."
Ryan terkekeh. Dia merapikan rambut Ella yang sedikit berantakan. "Aku. Aku yang ke sana. Kamu di sini aja. Di luar dingin." Dia melepas tas yang ada di pundaknya.
"Kok, kamu gak pake jaket?" Ella menarik kemeja biru tua Ryan yang menjadi outter kaos cokelatnya. "Nanti kedinginan, loh. Aku ambilin jaket bentar, ya?"
Ryan menahan tangan Ella. Dia menggeleng. "Enggak usah. Aku bawa jaket, kok. Tapi di luar."
"Dipakai."
"Iya. Nanti aku pakai. Lagian, bajuku juga gelap dan panjang. Bakalan tetep anget, kok."
"Tetep aja. Aku gak mau denger kamu bilang kedinginan."
"Iya. Iya. Anak Papa perhatian banget, sih." Ryan mencubit pipi kanan Ella. "Tungguin bentar, ya. Gak akan lama."
"Kok bisa?" Ella bersungguh-sungguh bertanya. "Emang kamu lihat dagangan Cak Dul tadi lagi sepi, ya?" Ada nada prihatin di sana. Maklum, Cak Dul mempunyai sejarah tersendiri dengan keluarganya. Dulu, saat awal perantauan, Cak Dul menyewa indekos di belakang rumahnya yang notabene adalah bekas rumah kakek Ella. Dari awal perantauan, Cak Dul sudah menjual nasi goreng. Sudah hampir depalan tahun dia berjualan. Maka dari itu, nasi goreng Cak Dul bisa dibilang cukup lagendaris di daerahnya. Dengan sebab itulah Ella khawatir. Apakah dagangan Cak Dul mengalami pemerosotan pembeli?
"Enggak, sih. Tadi ramai banget malah."
"Terus. Kok, kamu bilang gak akan lama? Jangan nerobos pembeli yang lain, loh." Itu satu kebiasaan Ryan yang tidak disukai Ella. Dia suka sekali minta didahulukan dari pada para pembeli lain yang dengan dalih sudah kenal lama dengan penjualnya.
"Ya ampun. Tidak boleh berprasangka buruk itu, El."
"Biasanya kamu gitu, soalnya."
"Enggak."
"Terus?
"Ya, kan, itu biasanya. Ini gak biasa. Aku gak nyerobot kok."
Ella bersendekap dan menatap tajam ke arah Ryan. Lelaki itu tidak bisa menahan senyumannya.
"Kan, bohong." Ella mengarahkan telunjuknya ke Ryan.
"Enggak." Ryan tetap dengan senyumannya yang tidak bisa ditahan. "Aku bisa jelasin." Dia berusaha untuk tidak tertawa. Ella terlihat sangat kesal. Dia suka. "Aku tadi udah pesen ke Cak Dul sejak mau pulang tadi. Udah dari sore. Gak nyerobot."
Ella masih mempertahankan wajah galaknya.
"Aku gak bohong, Ella. Enggak bohong. Suwer." Telunjuk dan jari tengah Ryan berdiri. "Kamu mau minum apa?" Kemudian tangannya mengelus pelan ujung kepala Ella.
"Gak boleh es, ya, pasti?" Mimik wajahnya berubah derastis. Kini wajahnya menjadi lunak, cemberut sedikit manyun. Mata anak anjingnya kembali.
"Mau dicubit atau diuyel-uyel?"
"Dicium." Ella langsung menutup mulutnya saat menyadari jawabannya sangat tidak terkondisikan. Itu adalah jawaban refleknya jika ayahnya, orang tua aslinya bertanya. Bukan papa palsunya ini.
"Beneran, nih?"
"ENGGAK!" Dia beranjak dari tempatnya. Memasang ancang-ancang untuk kabur dari kemungkinan dikejar. Ryan juga sudah hendak mendatanginya.
"Iya. Iya, enggak. Jadi mau minum apaan?"
"Air putih aja kalau gitu. Lagi pula di rumah ada banyak teh. Tinggal ngambil air panas dari dispenser."
"Okelah kalau gitu. Gak keluar uang banyak."
"Astaga. Gak ikhlas, Mas, beliinnya?"
"Ikhlas. Ikhlas kalau cuma dua bungkus nasi goreng. Selebihnya perlu dipertimbangkan lagi," ucapnya.
Mereka tergelak sejenak. Ryan segera berpamit untuk mengambil pesanan nasi gorengnya. Kalau tidak segera, mereka pasti akan memakan waktu lebih lama lagi untuk mengobrolkan hal-hal yang tidak jelas seperti tadi. Tapi, percayalah, itu yang disukai oleh Ella, karena gadis itu tidak bisa dengan sebebasnya berlaku seperti itu dengan lainnya.
Selepas kepergian Ryan, Ella segera membuat teh hangat untuk keduanya.
Suara nada dering dari gawainya terdengar lagi. Dia segera menghampirinya. Tertera nomor asing di sana. Sejenak, dia berpikir apakah itu kurir. Sepertinya dia tidak sedang memesan apapun secara online. Dia pun mengangkatnya meskipun sempat ragu.
"Iya, halo. Ini siapa, ya?" Itu pertanyaan yang akan selalu dilontarkannya saat mendapatkan telepon dari nomor yang tidak dia ketahui.
"Hai. Ini benar Ella? Aku Nian. Kamu masih ingat, kan?"
Gadis itu berdiam sejenak. "K-Kak Nian temennya Ryan itu?"
"Iya." Terdengar nada ceria dari jauh sana.
"Iya, aku ingat. Ada apa, Kak?"
"Save nomerku, ya. Jangan lupa."
"Baik."
Sungguh, Ella sedang menghadapi krisis yang sangat serius. Nian ternyata sangat bersungguh-sungguh dengan kata-katanya yang akan menelepon dirinya. Dia kira Nian akan sama saja dengan teman-teman Ryan yang lain, hanya merah di bibir. Berarti juga, perkataan Ryan tentang Nian tidak bisa dia anggap sebagai angin lalu. Dia menelan ludah.
"Senang rasanya mendengar suara kamu lagi."
Canggung. Apalagi yang bisa Ella rasakan saat bersama orang baru kalau bukan itu? Dia sekarang bergelut dengan dirinya untuk tetap tenang.
"Makasih."
"Kamu lagi di rumah?"
"Iya, Kak. Kalau Kakak?" Ella mendudukkan dirinya di atas salah satu kursi terdekat. "Di rumah juga?"
"Hahahaha. Iya." Nian mengambil napas dalam. "Canggung banget, ya? Maaf."
"Gak papa, Kak. Kayaknya aku yang harus minta maaf. Aku gak bakat buat bicara sama orang."
"Enggak. Kamu gak salah. Aku aja yang terlalu anggap santai. Aslinya bikin jantungan juga telponan sama kamu."
"Ke-kenapa?"
Terdengar embusan napas tipis dari seberang. "Bukan apa-apa. Aku kira bakalan bisa santai seperti biasa tapi cukup deg-degan juga, ya."
Ella menahan diri agar tidak terkekeh. Pipinya terasa memanas begitu saja. Dia merapatkan kedua bibirnya.
"Aku gak papa, kan, nelpon kamu malam-malam begini? Kamu gak lagi belajar?"
"Enggak, kok. Aku udah belajar tadi."
"Gak bakalan dimarahin orang tua, kan?"
"Ayah sama Ibu lagi enggak ada di rumah. Kenapa? Takut banget, ya?"
"Khawatir aja."
"Karena?"
"Nanti kamu kena marah gara-gara aku. Takut kamu jadi trauma terus gak mau ngomong lagi sama aku."
Ella tertawa ringan. "Segitunya, ya?"
"Ya, namanya aja khawatir, La. Kan biasanya kayak gitu."
"La?"
"Ella. La? Gak boleh, ya, aku panggil kayak gitu?"
"Bukannya gak boleh. Cuma asing aja. Baru kali ini ada yang manggil aku seperti itu."
"Emang, biasanya dipanggil kayak gimana?"
"Ella, El, Lail, Laila, gitu. Jarang banget ada yang panggil aku dengan sebutan itu. Kayaknya cuma Kakek dan Nenek deh yang panggil aku pake sapaan itu."
"Ya ampun."
"Hehehe, kenapa, Kak?"
"Berasa tua."
"Hahahaha." Tawa Ella terdengar sangat renyah. Dia sampai tidak sadar kalau Ryan sudah kembali dari tempat Cak Dul.
"Siapa, El?" tanyanya sambil mendatangi gadis itu.
"Kak Nian," jawabnya sambil masih ada senyuman di bibirnya.
Ryan yang melihatnya tercenung sejenak. Sesuatu menyadarkannya. Ella terlihat begitu cerah dengan ukuran berinteraksi dengan orang asing. Dia pun ikut tersenyum meskipun merasakan ada yang aneh di dalam dirinya.
"Oh, Nian." Lelaki itu berlalu, mengambil peralatan makan.
"Ada Ryan?" tanya Nian.
"Kakak mau bicara dengan Ryan?"
"Gak usah, ah. Udah sering. Bosen banget."
Lantas, Ella tergelak lagi sambil memandang punggung Ryan. Lelaki itu benar-benar mendekatinya dan mengambil gawainya begitu saja. "Awas lo sampai minta bantuan gue lagi. Gue juga bosen sama elo mulu."
Ryan menyalakan loud speaker. "Udah, gue tutup dulu. Kita mau makan. Nanti aja lo terusin. Awas sampai macam-macam sama Ella."
"Ya ampun. Ternyata pawang kamu galak banget, La."
Ella hanya bisa tertawa menanggapinya.
"Kalau gak gitu, ni anak gak bisa selamet sampai sekarang."
"Ella jangan ketularan galaknya, ya. Nanti kamu—"
Sambungan terputus antara keduanya. Ryan sengaja menakhirnya. Mendengar Nian mengomel dan mode tidak kalem, bisa membuatnya stres dalam sesaat. Dia sudah sangat pengalaman.
"Kenapa dimatiin?" tanya Ella polos dengan sisa senyumannya.
"Makan dulu, Ella. Masa kamu mau ngacangin aku dan terus telponan sama Nian?" Ryan menata peralatan makan untuk dirinya dan Ella.
"Ya, enggaklah."
"Mekanya aku matiin." Lelaki itu membuka bungkusan nasi goreng untuk Ella kemudian dirinya dengan menyisihkan karet gelang agar tidak terbuang. Dia sudah duduk di seberang gadis itu dan siap untuk memulai acara makan malamnya. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Dia pun mengangkat pandangannya. Benar saja. Ella sedang memangku tangan sambil memandanginya intens. Jangan lupakan senyuman agak creepy gadis itu.
"Apa?"
"Cemburu, ya?" Kesempatan untuk Ella.
"Kata siapa?"
"Aku."
Ryan tersenyum miring. "Kamu pikir aku bisa cemburu begitu aja? Kalau pun aku cemburu, aku udah melarang kamu buat mengiyakan ajakan dia kenalan ataupun mengangkat telepon itu tadi. Jujur aja. Siapa yang terpengaruh dan siapa yang mempengaruhi?"
Ella terdiam sejenak. Dia tidak suka dipojokkan seperti ini. Dia, kan, hanya ingin bercanda. Kenapa lelaki di depannya itu menganggapnya serius. Seperti tidak pernah menggoda saja.
"Ih, gak suka, ah, Ryan." Ella mengambil sendoknya dengan paksa. Dia hanya memegangnya dan belum menyentuh makanannya sama sekali untuk beberapa waktu.
Ryan memejamkan matanya, menyadari apa yang baru saja dia lakukan. "Maaf." Dia memegang tangan Ella sambil agak merunduk agar bisa melihat wajah gadis itu. "Maaf, aku terlalu keras, ya? Ella, maaf." Dia mengelus permukaan telapak tangan gadis itu lembut. "Ella, maaf."
Helaan napas panjang terdengar dari Ella. Lalu, dia mengangkat wajahnya. Dia mengusap pipinya secara cepat. "Gak papa. Maafin aku kalau aku malah kayak ngacanin kamu."
"Hei. Hei. Gak perlu minta maaf. Di sini aku yang salah. Aku gak nanggapi candaan kamu. Maaf."
Ella mengangguk. "Udah, yuk. Makan."
Gadis itu menyendok makanannya. Sudah agak tidak selera. Laparnya menguap begitu saja. Namun, dia sadar untuk tidak menyiakan makanan. Apalagi itu dengan perjuangan Ryan. Takut kalau lelaki itu tersinggung lagi.
"El."
"Apa?" Ella menatap Ryan.
"Maaf."
"Iya, Ryan. Dimaafin."
"Masih gak enak."
Ella tersenyum. "Iya. Masih belum plong juga. Butuh waktu. Aku seharusnya lebih longgaran."
Ryan kehabisan kata-kata.
"Aku tahu alasan kamu gak hanya itu. Biar aku fokus makan dulu, kan? Biar gak ganggu makanku. Aku paham." Ella menggenggam balik tangan Ryan. "Makasih karena udah ngingetin aku. Terus gitu, ya. Aku suka kamu perhatian sama aku gitu. Ya, meskipun aku selalu ngambek dulu."
Keduanya akhirnya memulai lagi acara makan malam itu dengan senyuman. Satu hal yang membuat Ella tak habis pikir, Nian paham dengan isyarat Ryan dan tidak menelponnya setelah itu. Bagaimana bisa mereka saling memahami sebegitu dalam?