Keberuntungan masih berpihak pada Ryan dan Ella. Mereka kembali ke sekolah dengan selamat tanpa dicurigai siapa pun. Tugas yang diberikan oleh wali kelas Ella seharusnya dikumpulkan dan Ella belum mengumpulkannya. Akan tetapi, ketua kelas yang menyebalkan dan abal-abal itu dengan baik hati mengambil dan mengumpulkannya ke wali kelas dengan selamat. Dia aman dari hukuman.
Ella pun mau tidak mau harus berterima kasih kepada ketua kelasnya itu. Sebenarnya sangat berat untuk mengatakan terima kasih kepada orang seperti Anton. Tapi, karena cukup perhatian dan pengertian, dia mempunyai alasan yang cukup untuk mengutarakan kata, "Terima kasih," itu. Anton langsung membalas dengan jari yang dibentuk seperti hati kepadanya. Jangan lupa senyuman centilnya.
Memang ada-ada saja kelomang kelas itu.
Ryan memenuhi janjinya untuk mengantarkan Ella pulang. Dengan mengendarai sepeda motornya, dia membawa gadis itu kembali ke rumah. Jaketnya juga dia serahkan kepada Ella. "Jangan sampe kedinginan." Itu, sih, cuma alasan belaka. Aslinya, seragam gadis itu terlihat kotor di bagian belakang. Kalau Ryan mengatakan hal itu langsung saat di sekolah, Ella pasti akan kelabakan sendiri dan kalian pasti tahu, lah, kalau dia akan kebingungan dan merasa khawatir. Maka dari itu, Ryan lebih memilih untuk meminjamkan jaketnya langsung.
Ella menurut saja. Dia tidak akan curiga dengan perhatian yang diberikan kepadanya. Apalagi kalau dari Ryan. Sudah terlalu sering. Dia pun duduk di jok belakang.
Sesampainya di depan rumah, Ella harus menelan ludah banyak-banyak meskipun agak sulit karena tenggorokannya terasa seperti tercekat. Ada Mbak Dewi yang sedang menyapu teras rumah. Tatapan kakaknya itu juga tidak ramah saat menyadari kehadiran dirinya.
"Kenapa baru pulang?" Iya, selalu nada interogasi yang keluar pertama kali.
"Aku ajak dia jalan-jalan. Btw, Assalamualaikum, Mbak." Ryan mencoba menghangatkan suasana yang dingin ini. Memang benar-benar dingin dengan gerimis kecil yang menemani perjalan mereka. Begitu pula angin yang terus-terusan berembus dan menyapa kulit mereka.
"Waalaikumussalam." Dewi tidak segengsi itu untuk tidak menjawab salam di saat seperti ini.
Ella hanya menunduk di belakang Ryan. Dia tidak berani menatap kakaknya. Hubungan mereka tidak sebaik pasangan saudari biasanya. Mereka hanya tidak terbiasa. Dewi dari kecil dirawat oleh kakek dan nenek mereka dan sangat jarang menghabiskan waktu bersama adiknya. Canggung selalu menyelimuti mereka. Terlebih lagi selera mereka juga berbeda. Maka dari itu, sampai sekarang, Ella masih takut dengan kakaknya. Bahkan saat Dewi tidak melakukan apa-apa.
Pula, dalam kacamata Dewi, Ella terlalu manja. Jadi dia juga tidak terlalu menyukai adiknya itu. Entahlah kapan mereka akan bisa menyatu selayaknya saudara biasanya yang saling menyayangi.
"Itu jaket siapa?" Pertanyaan itu sebenarnya sangat biasa. Namun, di telinga Ella, itu adalah ancaman dan cara untuk menyalahkannya sekarang.
"Ryan." Jawaban itu lirih. Untung saja masih bisa didengar oleh telinga Dewi. Mungkin kalau tidak, gadis itu akan mengulangi pertanyaannya dengan suara lebih tinggi dan akan diartikan membentak untuk memarahi.
"Cepetan masuk. Kalian kedinginan gitu. Bikin yang anget-anget sana." Kemudian, Dewi meneruskan sapuannya.
Kedua anak manusia yang terlihat menggigil itu memasuki rumah. Setelah melepas sepatu dan merapikannya, mereka langsung rebahan di sofa.
"Dingin banget." Ryan mendusel di sofa sambil memeluk tiga bantal langsung, menyampuli dirinya dari angin luar yang masuk lewat pintu yang masih terbuka.
"Dibilang bikin yang anget-anget kok malah leyeh-leyeh di sini." Dewi masuk sambil menutup pintu langsung dan Ella dalam sekejap menegakkan punggungnya. "Ganti baju, El. Terus masukin mesin cuci. Kucel gitu."
Sang adik tidak bisa berkata-kata. Ryan mendongak untuk melihat reaksi gadis itu. "Cepetan, gih. Mumpung ada yang mau jadi babu." Lalu perkataan lancang itu mendapatkan gebukan keras di paha. "Astaga! Gak mbak. Gak adik. Sama aja ganasnya!"
"Itu mulut juga jangan ganas kalau gak mau diganasin." Lalu, Dewi melewati mereka untuk menuju dapur. Dia meletakkan sapu di gudang kecil dekat kamar mandi bawah.
"Teh atau cokelat?" tawar Dewi yang sedang mengambil dua gelas dari lemari dapur atas.
"Cokelat!" Itu yang berseru adalah Ella. Masalah cokelat, dia tidak boleh dihalangi atau didahului siapa pun. Sama seperti saat dia harus dibelikan es krim dan s**u stroberi.
Dewi sudah menyangka ini akan terjadi. Dia sengaja menawari terlebih dahulu meskipun sudah tahu pilihan dua bocah itu. Ella dengan cokelat hangat sedangkan Ryan pasti akan memilih kopi.
"Percuma aku sering ke sini dan gak pernah diperhatiin," gerutu lelaki itu, ngambek. Ryan menutupi wajahnya dengan satu bantal sofa.
"Cowok ngambekan. Gak macho!" Dewi berteriak sambil mengaduk gelas pertama yang berisikan cokelat hangat Ella. "Kalian berdua cepetan ganti baju, dah. Kucel banget pulang sekolah." Dewi memang lebih barbar dari pada adiknya. Maka dari itu Ella agak takut kepadanya. Tapi, aslinya Dewi baik dan perhatian. Hanya saja nadanya tidak bisa santai.
"Cepetan, El!" Ryan memerintah gadis yang masih melungker di sofa sama sepertinya itu.
"Lo juga, gembel!" Dewi menyebet kaki lelaki itu dengan keras. Dia menyodorkan gelas Ella. "Baju kamu pasti kotor, kan? Mekanya pakai jaket Ryan."
Ella menelan ludah sambil menerima minumannya setelah duduk dari tidurnya. "Enggak, Mbak. Ini Ryan yang ngasih jaket soalnya nanti aku kedinginan."
Dewi bersendekap. "Uhh, manis banget, ya. Ya ampun, enak banget punya temen yang perhatian gitu. Jadi tameng di saat yang tepat." Itu sempurna adalah sindiran untuk Ryan. Lelaki itu tidak mau bersitatap dengan jelmaan emak-emak anak banyak itu. Mengerikan.
"Punyaku mana?" tanya Ryan sambil merendahkan nadanya untuk memelas.
"Idih. Malak. Ambil sendiri sana." Dewi berlalu dengan meninggalkan pukulan di kaki lelaki itu. "Kamu juga. Baju kena lumpur gitu masih aja dipakai. Hati-hati gitu, loh, kalau pakai baju itu. Ganti baju sana. Bajumu yang kemarin udah aku seterika. Aku taruh di lemari biasanya," tuturnya.
"Sumpah? Demi apa Mbak Dewi bisa sebaik ini, Ya Allah?!" Ryan menegakkan punggungnya dan mengangkat kedua tangannya ke langit-langit rumah.
Dewi hendak menggeplak bocah itu lagi tapi hanya membuahkan gestur ancaman. Dia berlalu dan menyelesaikan kopi hangat yang masih dia diamkan sebelum disaring sarinya. Ryan lebih suka kopi drip yang harus susah payah dahulu untuk bisa menikmatinya. Maka dari itu stok kopi di rumah ini banyak, karena bocah itu sering kemari dan bahkan biasa menginap.
Baiklah, seperti yang telah dibilang tadi. Dewi itu sebenarnya sangat baik. Hanya saja sedikit sangar. Sangat nyambung dengan kelakuan Ryan.
Sebaiknya apresiasi saja keberadaan Ryan di dunia ini. Lelaki itu bisa mengimbangi sikap kakak beradik yang sangat bertolak belakang itu. Dia sahabat Ella tapi juga teman gelut Dewi yang tak tertandingi. Ajaib, lah, istilahnya.
"Kopinya dulu, Buk. Baru ganti baju." Lelaki itu memang terniat sekali jika ingin dislepet oleh Dewi. Dia pun tertawa sangat keras saat melihat wajah kesal Dewi yang sekarang sedang mengurus kopinya.
"Aku ke kamar dulu, ya, Ry. Ganti baju." Ella berbisik setelah meminum setengah cokelat hangatnya. Telunjuknya mengarah ke Dewi sembunyi-sembunyi. Dia merapatkan antara gigi-giginya. Takut kalau kakak perempuannya itu tahu gesturnya sekarang.
Ryan mengangguk dan segera menenggelamkan kepalanya ke sofa lagi. Di rumah ini bawaan Ryan selalu malas. Dia hanya ingin rebahan, makan, dan menikmati keindahan menjadi orang yang tak berguna di dunia. Apalagi semenjak Dewi tinggal di rumah ini setahun yang lalu. Gadis itu mengurus segalanya. Dia, kan, jadi ketagihan berkunjung.
Tak lama kemudian, Dewi membawakan gelas berisikan kopi untuk Ryan. Tak tanggung-tanggung, gadis itu menggebuk lengan Ryan untuk menyuruhnya duduk.
"Ella mana?" tanya Dewi saat Ryan sudah menerima gelasnya.
"Ganti baju. Takut sama Mbak." Jawaban asal tapi tepat dari lelaki itu hanya dianggapi dengan anggukan pelan Dewi. Sudah setahun dan dia masih belum bisa dekat dengan adiknya sendiri. Terkadang, dia juga merasa terlalu galak dan keras kepada saudarinay yang tertutup dan lembut itu. Namun, entah, kenapa dia juga belum bisa mengubah sikapnya.
***
Ella meletakkan tasnya di atas meja belajar dengan malas. Sebenarnya, dia juga malas untuk naik ke kamarnya ini dan berganti baju. Toh, dia mempunyai Ryan yang sama malasnya. Namun, dia tidak mau mendapatkan omelan dari kakaknya. Menyeramkan. Apalagi kakaknya itu selalu ngegas. Dia sering kaget.
Gadis itu membuka jaket yang dia kenakan dan meletakkannya di atas kasur. Dia memandangi seragamnya yang jauh dari kata licin dan baik-baik saja. Kemudian, dia memutar badan untuk melihat bagian belakang seragamnya. Matanya membulat. Seragamnya kotor. Seketika dia menelan ludah. Teringat dengan perkataan kakaknya yang menyuruh untuk segera meletakkan seragamnya di mesin cuci. Bagaimana orang itu bisa mengetahui hal seperti ini? Inilah yang membuat Ella kadang merinding saat memikirkan kakaknya. Seakan saudarinya itu mempunyai sixth sense atau mata tembus pandang. Atau kemampuan magis lainnya. Ngeri.
Cepat-cepat Ella mengambil baju ganti dan memasuki kamar mandi. Dia mengatur kran air hangatnya dan berniat untuk membasuh tubuhnya. Dia akan berusaha untuk tidak memakan waktu yang lama, karena dia yakin setelah ini kakaknya itu pasti akan menyuruhnya makan.
Di lantai bawah, Ryan menikmati kopinya yang masih hangat itu. Dia melirik ke Dewi yang duduk berseberangan dengannya. "Aku ganteng."
Satu bantal melayang ke arah Ryan. Si korban malah tertawa. "Ngapain lihat aku kayak gitu? Terpesona, ya? Bilang aja kali."
"Kamu bisa gak, sih, ngomong bener gitu sekali aja, plis."
"Bener."
"Ni anak!" Dewi hendak beranjak dari duduknya untuk menerjang dan memukuli Ryan. Akan tetapi, lelaki itu sudah kabur terlebih dahulu.
"Di lemari yang biasanya, kan? Iya, aku bakalan ganti. Makasih Mbak Dewi Aphrodite galak!" Ryan melenggang ke arah kamar belakang, tempat 'lemari itu' berada.
Dewi menghela napas pelan. Dia memang sedang memandangi Ryan tadi. Bukan maksud apa-apa. Dia hanya ingin mengatakan sesuatu. Tapi, bocah itu malah bersikap tengil. Dia pun membatalkan niatnya. Dengan langkah yang cukup teratur, Dewi mendatangi kamar adiknya yang ada di lantai dua itu, bersebelahan dengan kamarnya.
Dewi mengetuk pintu. "El!" Beberapa kali dia memanggil nama adiknya, tapi tak kunjung ada jawaban. Dia pun segera masuk dan tidak mendapati adiknya. Untung dia dapat mendengar suara berisik di kamar mandi.
"Ella!"
"Iya, Mbak!" Ella mematikan kran shower-nya.
"Aku pergi keluar dulu, ya. Kamu di rumah sama Ryan. Ayah sama Ibu masih perjalanan dan kayaknya bakalan balik besok. Gak papa, kan?" Agak ragu. Dewi sedikit sangsi untuk meninggalkan Ella sendirian. Meskipun ada Ryan.
"Gak papa. Ryan belum pulang, kan?"
"Makanannya ada di meja. Cuma sop tahu sama ayam goreng, sih. Makan sama Ryan, ya."
"Iya, Mbak. Makasih."
Mbak Dewi memang baik. Hanya Ella saja yang sering salah tangkap.