Nian menempelkan punggungnya ke sandaran kursi mobil. Dia sengaja untuk tidak duduk tegak. Dia menghela napas panjang sejenak, lalu memasang sabuk pengaman. Dia tidak berminat berbicara.
"Kenapa di belakang?" tanya Mama Nian yang melihat pantulan wajah anaknya dari spion dalam. Dia sudah siap untuk mengemudikan kendaraannya.
"Gak papa. Lagi pengin aja." Nian menjawab tanpa nada tinggi. Bahkan suaranya hampir tidak didengar.
"Marah, ya, sama Mama?"
"Agak."
Wanita itu menghela napas dalam dan mengeluarkannya pelan. Dia menyalakan mesin mobil dan mulai mengambil haluan. Mereka keluar dari kawasan Apaja Kafe, menuju pertokoan Sidoarjo untuk kemudian putar balik.
"Maafin, Mama."
Nian hanya diam dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Menatap kosong kendaraan yang berada di seberang jalan tanpa tahu apa yanh harus dia amati dari semua itu. Tidak ada niatan untuk menjawab ataupun hanya sekedar mengangguk untuk Mamanya. Mood-nya hancur karena wanita itu.
"Kak. Maafin Mama, ya." Sesekali wanita itu mencuri pandang ke spion untuk melihat reaksi anaknya. Akan tetapi, nihil.
Nian memilih untuk memejamkan matanya sambil menunggu mobil yang dia tumpangi membawanya pulang ke rumah. Dia tidak bisa marah dengan kata-kata kepada Mamanya. Pun dia tidak yakin jika dia berbicara dan membahaa soal kekesalannya, dia akan bisa mengontrol nada dan ucapannya. Mala dari itu, dia memilih untuk tidak mengeluarkan kata-kata.
Bukan seperti tadi yang Nian mau. Rencananya cukup berantakan dengan kehadiaran Mamanya yang tiba-tiba. Dia pikir, wanita itu akan menunggunya di mobil seperti biasanya. Bukan. Bukan karena dia malu diketahui oleh Ella bahwa dia memang dimanja. Akan tetapi, perkenalan antara kedua perempuan itu harusnya dia yang mendalangi. Rasanya tidak enak saja melihat dua orang berharga di dalam hidupnya yang saling berkenalan mandiri di depannya. Pun, Nian berniat untuk memperkenalkan Ella saat mereka sudah semakin akrab dan terbiasa satu sama lain. Perkenalan antara keduanya terlalu dini. Sejatinya dia takut jika Ella malah semakin menjauh karena itu.
Senyuman gadis itu terbayang. Ada satu hal yang belum Nian katakan kepada gadis itu. Tadi, dia sudah menceritakan soal sulaman tangan Neneknya. Interaksi antara keduanya pun sangat di luar dugaannya. Ella bisa diajak berbicara dengan santai dan juga mengimbangi perkataannya. Itu sungguh tidak terbayangkan olehnya, mengingat perkataan Ryan kepadanya tempo hari bahwa Ella sulit untuk terbuka atau membangun pembicaraan dengan orang yang baru dia kenal. Gadis itu biasanya akan kikuk, canggung, dan semisalnya. Untunglah dia juga bisa memilih topik yang disambut dengan baik oleh gadis itu. Rasanya dia sangat beruntung. Dia pantas bersyukur.
Ah, biarkan saja. Nian memang terlampau bahagia bisa bertemu kembali dengan Ella. Setelah dipikir-pikir lagi, mungkin tindakannya ini bisa dibilang terlalu tergesa. Namun, biarlah apa dikata. Toh, itu sudah terjadi. Mau bagaimana lagi. Untungnya, dia tidak menyatakan satu hal yang mungkin akan membuat gadis itu sungguh menjauh darinya. Bersyukur, dia menahan diri dan tidak mengeluarkannya dari bibirnya. Semua tentang mereka berdua memang terkesan 'terlalu dini' meskipun cerita mereka sudah dimulai dari dulu. Dia takut malah dikira modus.
"Ma, makasih," ucap Nian setelah membuka matanya. Belum. Mereka belum sampai di depan rumah. Bahkan masih harus melewati beratus-ratus meter lagi untuk sampai di bangungan itu. "Makasih udah masuk tadi."
Wanita itu mengangkat alisnya. Dia memandang buah hatinya dari spion. "Kenapa, Kak?" tanyanya lembut.
"Gak papa. Mama nyelametin aku aja tadi. Ya, meskipun aku agak kesel kalau Mama masuk gitu aja."
Wanita itu tersenyum. "Maafin, Mama, ya."
"Gak papa. Udah kejadian. Paling enggak, lain kali Mama tanya dulu atau gimana gitu." Nian menghela napas. "Aku cuma takut aja dia malah menghilang lagi karena semuanya terasa amat cepat. Dia gampang canggung. Mama lihat sendiri, kan?"
"Iya."
"Ma." Nian melihat spion. Pandangan mereka bertemu. "Aku pasti bisa bertahan, 'kan? Ella terlalu berarti bagiku."
Wanita itu tidak langsung menjawab. Dia memandang anaknya sejenak sambil tetap peduli dengan kemudi. "Kamu akan tetap bertahan selagi kamu berusaha, Kak. Semuanya akan baik-baik saja."
Nian tersenyum. "Makasih, Ma." Padahal dia tahu jika Mamanya mengatakan demikian, berarti ada kemungkinan untuk 'tidak baik-baik saja' yang akan menyambutnya di kemudian hari. Tapi, dia tidak mau berhenti sekarang. Dia mau bertahan. Dia membutuhkan banyak waktu untuk bisa bersama Ella. Hanya itu harapannya sekarang.
***
Ryan menatap Ella dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Ella begitu peduli dengan Nian. Seharusnya, melihat sahabatnya bisa peduli dan mempertanyakan orang lain seperti ini, membuatnya merasa senang dan lega. Namun, kenapa dia tidak merasakannya? Kenapa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya? Kenapa ada sesuatu yang menahannya untuk tersenyum bangga?
"Kok ada, sih, orang yang tega nyakitin Kak Nian yang kayak gitu?" Ella seakan sedang bermolonog.
Pertanyaan itu sukses membuat Ryan mendongak dan menatap Ella dengan penuh tanda tanya. Dia tidak salah dengar, kan? "Kamu bilang apa tadi?"
"Enggak. Kak Nian itu, loh. Mantannya tega banget nyakitin Kak Nian yang baik kayak gitu. Padahal Kak Nian orangnya asyik. Hmmm, pasti Kak Nian udah terlanjur sayang banget, ya, sama mantannya?" Ella memelankan suaranya hingga hampir berbisik saat mengucapkan kalimat terakhir. Dia agak memajukan badannya.
Ryan tertegun. Dia membutuhkan beberapa detik untuk memahami situasi yang sedang terjadi. Sekaligus mengembalikan dirinya untuk hadir di sana setelah tenggelam dengan kecamuk pikirannya akan temannya itu. "Mantan?"
Ella mengangguk mantap. "Iya, mantan. Pasti mantannya cantik banget, ya, sampai Kak Nian gak bisa lepas dan kesakitan gitu hatinya pas ditinggalin."
Ryan mengerjapkan matanya beberapa kali. "Nian bilang kalau hati dia sedang 'merapuh' karena mantan?" Tidak bisa dibiarkan. Terang-terangan sekali menyatakan bahwa Ella, sahabat sekaligus gadis yang paling dia lindungi, sebagai pelarian. Kurang ajar sekali.
Ella menggeleng. "Kak Nian gak bilang, sih, hatinya 'merapuh' karena apa. Aku cuman menebak aja. Kayak, semuanya terhubung gak, sih, Ry? Akhirnya kumenemukanmu. Saat hati ini mulai merapuh. Pas Kak Nian ditinggal dan sedang terpuruk sama mantannya, dia menemukan saputangan yang dulu dia kasih ke aku yang ada di kamu itu. Terus dia kayak dapat 'jawaban' dari penantiannya dia karena bisa ketemu aku. Yang mana, kata neneknya Kak Nian, dia akan bisa menemukan penyembuhnya dengan saputangan yang sengaja diberi inisial itu. Wah, kek novel beneran," takjubnya karena bisa mengeluarkan apa yang ada di pikirannya sejak tadi. Mata Ella berbinar. Namun, sedetik kemudian dia menyadari ucapannya yang panjang lebar dan tanpa jeda itu. Pun dengan konklusi akhir yang sungguh membuatnya merasa malu.
Ryan mendengarkan dengan seksama. Kemudian dia tertawa. Ella-nya ini benar-benar lucu. Setelah nyerocos lancar, kini gadis itu tertunduk dalam. Dia tahu Ella pasti sedang menghadapi krisis batin dalam dirinya sendiri. "Gak usah malu. 'Kan, emang kayak gitu." Lelaki itu meletakkan gawai Ella di depan pemiliknya dan menyempatkan diri untuk mengusak anak rambut gadis itu, kemudian dia merapikannya lagi. "Ya, udah. Pulang aja, yuk," ajaknya, mengalihkan pergolakan batin gadis di depannya itu.
"Kamu gak capek?" tanya Ella yang pipinya masih menampakkan semburat warna merah.
"Ya, capek. Tapi, untungnya tadi Devan mau nyetir. Jadi, aku gak begitu pegel banget." Lelaki itu masih mengembangkan senyuman. "Lagi pula, ngapain tanyanya kayak gitu. Pun kalau aku capek, iya kali kita nginep di sini."
Ella menunduk lagi. Dia malah merutuki dirinya. Kentara sekali kalau dia sedang salting. Sebentar lagi dia pasti akan menjadi sasaran empuk bagi kejahilan Ryan.
Ryan berdiri, membuat Ella mendongak. "Ayo." Tangannya terhampar dan dia pun disambut dengan erat. Mereka berjalan beriringan dan berhenti di depan meja barista yang agak lenggang. "Van, gue pulang dulu," pamitnya sambil mengangkat tangan yang tidak digenggam.
"Yok! Hati-hati di jalan." Devan mengalihkan pandangannya dari mesin kopi sejenak lalu ikutan mengangkat tangan. "Makasih tumpangannya," lanjutnya.
Ryan dan Ella pun keluar dari kafe, menuju sepeda motor yang diletakkan di ujung tempat parkir. Ryan mengambil helm dan memberikannya kepada Ella. Gadis itu meraihnya dan segera memakai helm itu. Setelah, semuanya siap, Ryan menyalakan mesin dan meninggalkan Apaja Kafe di belakang.
Ella mengeratkan pelukannya yang melingkar di pinggang Ryan. Dia meletakkan kepalanya menghadap ke samping dan menempel di punggung Ryan.
Lelaki itu tersenyum di balik helmnya. Dia lelah. Memang. Dan itu tidak dapat dipungkiri. Akan tetapi, Ella yang manja seperti ini membuatnya merasa sedang disembuhkan. Energinya terisi ulang. Dia menyukainya. Sangat.
***
Ryan memarkirkan sepeda motornya di garasi rumah dan segera masuk dari pintu samping setelah melepaskan helm. Dia melangkah menuju dapur setelah melewati ruang keluarga yang luas nan kosong. Televisi mati dan sofa yang masih tertata rapi. Tidak ada mobil juga di garasi tadi. Berarti dia masih jadi orang pertama yang pulang ke rumah. Tahu seperti ini, lebih baik dia tetap berada di rumah Ella tadi.
Lelaki itu mengambil air minum dingin dan menuangnya di gelas. Dia meminumnya dalam sekali hitungan. Sedetik kemudian, gelas itu bersentuhan kasar dengan meja dapur. Memang tidak seharusnya dia dia melakukan hal itu. Gelasnya tidak salah apa-apa. Hatinya saja yang sedang sepi. Pun suasana rumahnya juga mendukung dirinya untuk frustasi.
Dia memejamkan matanya untuk meredam rasa. Dia sudah biasa ditinggal sendirian seperti ini di rumah. Akan tetapi, kenapa sekarang terasa lebih menyesakkan. Ah, mungkin itu hanya sekedar pikirannya saja yang terlalu sensitif. Tapi, kenapa dia bisa berpikir sensitif secara tiba-tiba begini? Aneh.
Kakinya melangkah menjauh dari dapur. Pun dari gelas itu. Jangan sampai dia melukai tangannya hanya karena meremat gelas kaca yang tak bersalah itu. Telapak tangannya harus tetap dijaga agar tidak terluka. Bagaimanapun, jika tangannya terluka, itu akan menyusahkannya juga saat latihan.
Ryan membuka pintu menuju halaman belakang. Dia juga tidak melihat ada seseorang di sana. Dia menghela napas masyghul. Benar-benar sepi. Sebenarnya dia ingin memelihara hewan untuk menjadi temannya jika dia sendirian di rumah seperti ini. Entah itu kucing, kelinci, anjing, atau kuda sekalian. Rumah ini terlalu besar jika hanya dihuni olehnya seorang. Paling tidak, kalau penghuni lainnya tidak bisa berada di rumah, ada pengganti untuk mengisi tempat kosong yang hampir betulan melompong selama berhari-hari itu.
Ryan membawa dirinya ke lantai dua, kamarnya. Dia mau mandi saja dan merebahkan diri di kasur. Badannya sudah capek. Pun pikirannya juga masih penuh.
Semenjak Nian bertanya tentang saputangan Ella yang dibawanya, dia terus saja kepikiran dengan temannya itu. Kenapa waktu itu dia juga tidak curiga saat melihat inisial yang tersulam di saputangan itu bukan inisial nama Ella? Dia menerima saputangan itu karena sedang berkeringat dan Ella menyekanya. Akhirnya, saputangan itu ada padanya dan sampai sekarang pun belum dia kembalikan. Dia kelupaan tidak memberikan saputangan itu. Padahal kemarin Ella memintanya.
Sekarang, pikirannya bertambah. Ella bisa membuka dirinya kepada orang lain. Itu terlihat jelas dari mimik wajah gadis itu. Pun dari cara dia merespon pembicaraan tentang Nian. Seharusnya dia bersyukur akan hal itu. Dia sudah terlampau takut bila suatu saat nanti dia sudah tidak mampu lagi untuk berada di sisi Ella. Setidaknya, dengan ini, Ella mungkin akan bisa belajar untuk menjalin hubungan dengan orang lain selain dirinya. Ah, seharusnya dia bangga karena Ella mau mendengarkan omongannya. Tapi, kenapa masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya? Seperti ada sesuatu yang menahannya untuk—
Entahlah, dia sendiri juga tidak tahu apa penyebab kegundahan hatinya ini. Sudahlah, dia harus mandi. Sebaiknya dia bersegera sebelum hari semakin larut.