"Ayah! Ibu! Udah pulang?" Ella memperlihatkan tas kresek yang ada di tangannya. Tadi, dia meminta ke Ryan untuk diturunkan di penjual gorengan. Dia memberanikan diri untuk antri sendirian dan menyuruh Ryan untuk pulang terlebih dahulu. Dia ingin mencoba untuk beli gorengan sendiri tanpa ada yang menemani. Meskipun dia harus menggenggam tangannya erat hanya untuk meyakinkan diri bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Dia juga sengaja memilih penjuan gorengan yang ada di dekat rumahnya, bukan yang langganan keluarganya yang ada di Sidoarjo kota. Dia memang membulatkan tekad untuk bisa mandiri.
"Ya ampun. Anak Ibu abis dari mana?" Sang ibu, Dinda, melebarkan kedua tangannya untuk menyambut anaknya. Dia pun disambut dengan pelukan hangat setelah anaknya itu meletakkan gorengan di atas meja.
"Habis keluar sama Ryan. Terus beliin Ibu dan Ayah gorengan." Ella mendapatkan elusan di punggungnya. "Tadi, Mbak Dewi yang pesenin buat Ayah sama Ibu. Hehehehe. Kalau Mbak Dewi gak pesenin, palingan aku juga gak beliin apa-apa." Gadis itu melepas pelukannya dan duduk di antara Ayah dan Ibunya di sofa.
"Gitu, ya. Kalai udah keluar sama Ryan. Ayah sama Ibu dilupain." Dinda memencet hidung anaknya.
Sang ayah, Rizki, memandang anak pertamanya yang masih berkutat di dapur untuk menyiapkan minuman untuknya dan sang istri. Ada rasa menyesal yang menelusup hatinya. Membiarkan Dewi tinggal bersama orang tuanya adalah keputusan yang berat. Namun, itu adalah satu-satunya hal yang paling baik saat itu. Setidaknya, dia dan istrinya harus menghabiskan banyak waktu untuk ke depannya bersama Dewi dan Ella.
"Mbak Dewi, makasih," ucap sang ibu yang mendapatkan senyuman hangat dari anak sulungnya itu.
Dewi membawa dua cangkir teh hangat dan mengulurkan tangannya ke atas meja. "Ambilin piring buat gorengannya, El." Dia berucap tanpa memalingkan wajah dari cangkir orang tuanya yang belum sempurna ditempatkan.
Ella terdiam sedetik dan langsung beranjak dari tempat duduknya. Rasa senang akan kedatangan orang tuanya seakan sedikit terkikis. Nada Dewi kepadanya selalu sama. Tidak ada ramah tamahnya. Apa Mbak Dewi masih gak suka sama aku? Itulah yang selalu ada di benaknya setiap berbicara kepada kakaknya. Alhasil, setiap diperintah atau dimintai tolong apapun, dia hanya bisa mengiyakan dan mengerjakan. Dia tidak mau nada bicara kakaknya meninggi. Datar tanpa nada saja sudah cukup.
Dewi mengambil piring yang ada di tangan Ella dan segera meletakkan gorengan di atasnya. Alisnya mengernyit. "Bukan yang biasanya, ya?" Gadis itu mengangkat wajahnya.
Ella terdiam. Terpaku sambil berdiri di sebelah sofa yang diduduki oleh orang tuanya. Dia menggeleng pelan.
"Kamu beli di mana?"
Entah kenapa, rasanya tubuh Ella bergetar dengan sendirinya. Air matanya juga seperti tidak bisa diam saja. "Di penjual deket jalan raya sana." Suaranya pun ikutan bergetar.
Dewi mengangguk. Melihat adiknya yang selalu memberikan reaksi yang sama setiap mereka berkonversasi, membuatnya mulai memahami adiknya ini. Memang terkadang sangat mengesalkan, namun dia juga tidak bisa menghentikan. Yang ada malah Ella akan menangis di tempat dan tanpa sebab. "Makasih."
Ayah dan Ibu mereka melihat ke arah dua anaknya secara bergantian. Inilah salah satu penyesalan yang selalu menghantui dua orang tua itu. Kedua anak gadis mereka, meskipun sama-sama perempuan, tidaklah membuat keduanya menjadi dekat begitu saja. Karakter mereka yang sangat bertolak belakang membuat mereka sulit berinteraksi dengan santai.
"Duduk sini, sayang." Ibu mereka menyudahi keheningan yang begitu tiba-tiba itu. Dia menarik tangan Ella dan mendudukkannya di sebelah kanannya. "Mbak Dewi udah bilang makasih." Dinda mencoba memberi pengertian kepada anaknya.
Ella hanya mengangguk dan mengucek matanya. Kemudian, gadis itu tersenyum meskipun terlihat agak dipaksakan.
Dewi terdiam dan masih menatap adiknya itu. Sungguh, dia tidak bermaksud apa-apa. Apakah dia tadi terlalu kejam? Berbicara seperti tadi bisa bikin sakit hati, ya? Bahkan dia sendiri pun bingung.
Di saat seperti itulah dia mulai menghela napas dan membuangnya perlahan agar tidak terdengar 'kasar' lagi. "Aku salah, ya? Maaf." Lalu, dia akan mengalah dengan mengatakan maaf terlebih dahulu. Ya, apalagi kalau sudah ada orang tua mereka di sana. Bukan maksud Dewi mau berburuk sangka kepada adiknya kalau dia sedang dijadikan tersangka di sini. Namun, dia juga manusia. Dia juga bisa berprasangka.
Ella hanya diam. Dia bingung mau mengatakan apa. Kakak perempuannya itu sudah mengatakan rasa terima kasihnya, juga 'maaf'. Lalu, apalagi? Seharusnya semua itu cukup untuk menyadarkannya bahwa Dewi adalah manusia yang baik. Akan tetapi, Ella juga manusia. Dia juga bisa merespon sesuatu secara spontan. Ya, walaupun di dalam hatinya, dia tahu bahwa kakaknya tidak bermaksud apapun.
"Ya, ampun. Gorengannya pasti enak banget ini." Ayah mereka mengambil tahu isi, gorengan kesukaannya. "Dewi, tolong bukain plastil petisnya, deh. Kayaknya enak kalau kasih petis."
Dengan cekatan, Dewi meraih plastik bening kecil yang berisikan sambal petis itu. Dia melipat-lipat mulut plastik itu sedemikian rupa agar bisa dicocol dengan gampang.
"Makasih." Rizki tersenyum. "Kalian juga makan, gih. Masa Ayah doang."
Ketiga perempuan itu melihat satu-satunya pria yang sedang menikmati gorengan di antara mereka itu. Rasanya, ingin mengelus d**a melihat kelakuan pria ini. Namun, bagaimanapun mereka juga ikut mencomot gorengan yang masih hangat itu.
"Ibu sebenernya punya oleh-oleh buat kalian berdua. Tapi, masih ada di mobil. Nanti Ibu ambilin, deh." Dinda mencoba mencairkan suasana.
"Apa, Bu?" tanya Ella dengan mulut yang masih penuh dengan ote-ote.
"Ibu beliin baju buat kalian berdua sama sepatu baru."
Mata Ella bersinar. Ini adalah hal yang dia tunggu saat orang tuanya peegi ke luar kota. Selalu ada oleh-oleh.
"Lagi, Bu?"
Semua mata tertuju pada Dewi yang memasang wajah heran. Dia telah mencuil tempe mendoan dan belum jadi memakannya.
Dinda menyadari maksud dari reaksi Dewi. "Iya, Mbak. Ibu sengaja beliin baju baru buat kalian berdua. Soalnya, habis ini akan ada acara reuni SMA-nya Ayah dan Ibu. Jadi, Ibu pilihin baju yang cakep buat kalian berdua." Wanita paruh baya itu terlihat sangat bersemangat.
Si sulung hanya bisa melongo karenanya. Hal seperti ini sangat bertolak belakang dengan kehidupannya saat bersama Kakek Nenek. Hidupnya memang sangat berkecukupan. Namun, oleh-oleh seperti baju dan sepatu anggun di setiap pulang dari luar kota, rasanya sangat berlebihan. Apalagi, beberapa kali dia mencoba mencari di internet harga baju yang dibelikan oleh orang tuanya, dan dia terkejut saat melihat nominalnya. Bahkan satu harga baju sama dengan harga dua baju yang dibelikan oleh Nenek. Padahal, untuk gaya dan bahan, tentu saja Nenek akan memilihkan yang terbaik.
Dewi menelan ludah. Lalu memasukkan mendoannya ke mulut. "Makasih banyak, Bu, Yah." Dia tidak lupa dengan pria yang ada di sampimg ibunya itu.
"Sama-sama," jawab pasangan suami istri itu secara bersamaan.
"Makasih, Ibu, Ayah." Ella juga tidak mau kalah. Dia mengatakannya dengan riang sambil menoleh dengan sedikit memiringkan badannya agar bisa meluhat wajah orang tuanya satu per satu.
Dan itu terlalu berlebihan, menurut Dewi. Dia tidak bisa melakukan hal yang seperti itu. Terlalu menggelikan. Dia bukan mencela. Hanya saja tidak terbiasa.
Jadi, kalian tahu, 'kan, bagaimana rasanya berada di posisi Ella dengan Dewi yang kaku dan di posisi Dewi dengan Ella yang sangat manja dan feminim? Semoga kalian mengerti dua saudari ini.
***
Dering gawai Ryan terdengar sangat nyaring, memasuki telinga pemiliknya yang sedang terlelap di atas meja belajar. Dia pun terbangun dan melihat layar gawainya menampakkan alarm. Jam menunjukkan angka sembilan lebih tiga puluh menit. Dia sengaja mengatur penanda waktu itu untuk membangunkannya jika tertidur. Syukurlah, perhitungannya tepat.
Dia melihat layar gawai itu dengan setengah membuka mata. Ada beberapa notifikasi yang tertera di layar kunci. Salah satunya adalah panggilan yang tak terjawab dari Ella dan Nian. Dia mengerutkan dahinya. Kenapa dua orang ini menghubunginya hampir bersamaan setelah bertemu tadi?
Ryan menggeliat dengan nyamannya. Kenikmatan yang hanya bisa dirasakan saat capek atau setelah tidur. Dia melihat gawainya lagi dan memeriksa notifikasi lainnya. Tidak ada pesan atau telepon yang terjawab dari Papa Mamanya. Dia mendesah. Ternyata masih sama saja.
"Iya, halo," jawab Ryan dengan suara berat khas setelah tidur. "Ayah sama Ibu udah dateng?"
Di seberang sana, ada Ella yang sedang rebahan di kasurnya, menunggu ibunya selesai bebersih. "Iya. Udah." Suara gadis itu terdengar riang.
Ryan menyandarkan punggungnya di kursi dan mencari posisi nyaman. "Seneng banget. Kenapa? Oh, aku tahu. Kamu dapet oleh-oleh apa?"
"Coba tebak apaan?"
"Gak tahu." Bohong. Ryan sengaja berbohong. Aslinya, dia sudah tahu apa yang akan menjadi oleh-oleh sahabatnya itu dari orang tua gadis itu. Dia hanya terbiasa memeperlakukan Ella seperti itu.
"Baju buat datang ke acara reuni SMA Ayah dan Ibu." Gadis itu hampir berseru. Kemudian dengan sendirinya dia membuat suara mendesis untuk peringatan. "Ya, ampun. Aku keras banget."
Ya, memang. Ryan saja sampai sedikit menjauhkan gawai itu dari telinganya. Dia menatap layar gawainya sejenak dan menempelkannya lagi di telinganya. "Gak, kok, El. Suara kamu lembut."
"Ih, Ryan. Ngeselin."
"Hahahaha."
"Jadi, kamu bakalan dateng juga, 'kan, di acara reuni itu?" tanya Ella antusias.
Ryan berpikir sejenak dengan deheman panjang. Hanya akting, bagaimana mungkin dia bisa memutuskan untuk ikut acara itu atau tidak jika orang tuanya saja belum memberinya kabar. "Gak tahu, deh. Nanti aku tanya ke Papa Mama dulu."
Ella tidak langsung berbicara. Dia memberikan jeda. "Papa Mama belum pulang, ya? Kamu sendirian di rumah, Ry?" tanya gadis itu dengan sangat hati-hati. Dia tidak mau membuat suasana hati sahabatnya menjadi buruk.
"Hmm." Ryan tersenyum. "Sepi banget, ya? Kedengeran suara kuntilanak nggak?"
"Ih, Ryan. Apaan, sih? Mana ada suara kuntilanak. Jangan mengada-ngada."
Lelaki itu tertawa.
"Nah, itu baru suara ketawanya kuntilbapak." Gantian Ella yang tertawa sekarang.
Ryan ingin membalas. Tapi, dia sedang malas. "El."
"Iya?" Terdengar suara sisa napas yang tersenggal karena tawa tadi.
"Mau bobok abis ini langsung, gak?"
"Gak tahu. Lagi nungguin Ibu mandi. Soalnya, Ibu mau tidur sama aku."
"Mbak Dewi?"
Ella tak berkata dalam beberapa detik. "Aku gak tahu. Mbak Dewi bukan tipe anak yang seperti itu."
"Ajak bobok bareng, gih."
"Gak mau, Ryan. Aku takut."
"Takut kenapa?"
"Ya, takut aja. Takut ganggu Mbak Dewi. Biasanya Ibu bakalan panggil Mbak Dewi, tapi jawabannya selalu sama. Dia gak mau."
"Mungkin, dia maunya kamu yang ajak."
"Gak mungkin. Gak mungkin banget."
"Kenapa enggak mungkin? Ya, 'kan, mungkin aja, El, dia mau kamu santai sama dia terus dia bisa mengimbangi. Ya, masa kamu harus menimpali aja. Sekali-kali mulai gitu."
Ella terdiam lagi. Dia langsung merasa bersalah. "Intinya, aku harus lebih membuak diri gitu, 'kan?"
"He-em."
"Aku gak bisa, Ryan. Udah aku coba."
"Dengan niat kuat? Udah membulatkan niat pas mau mulai dulu?"
"Setengah-setengah, sih. Aku takut, Ry." Ella tetap saja dengan alasannya.
"Kamu takut apa, sih? Mbak Dewi juga gak pernah gigit kamu gitu, loh. Terus kamu takut apa?"
"Iya, sih, gak gigit. Tapi rasanya udah kayak dicubit."
"Itu cuma perasaan kamu aja, sih. Orang Mbak Dewi suka banget bantu dan ngerjain pekerjaan rumah yang seharusnya kamu juga andil.
Gadis yang di seberang sana itu sedang menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya malayang. Iya, memang benar perkataan Ryan. Semua ini hanya persangkaannya saja. Bahkan dia juga menyetujui itu. Tapi, untuk menghilangkannya kenapa sangat susah? Seperti ada dinding yang sangat tinggi antara dirinya dan kakak perempuannya itu. Pun dia sendiri tidak tahu apakah ada ujungnya.
"Pelan-pelan, ya, El. Dicoba. Kalian udah tinggal bersama kurang lebib satu tahun. Apalagi kalian sama-sama ceweknya. Biasanya pembahsannya sama."
"Selera kami berbeda, Ryan. Aku pernah aja Mbak Dewi nonton film. Aku suka yang animasi dia suka yang orang beneran. Genre-nya pun juga berbeda. Aku suka romance. Mbak Dewi suka yang aksi."
"Romance action, 'kan, ada tuh. Coba aja lihat itu berdua. Siapa tahu cocok."
"Gak jamin, ya, Ry."
Ryan terkekeh. Sahabatnya itu sudah terdengar sangat pasrah dan kesal. "Maaf. Maaf. Gak maksud, El."
"Iya. Iya. Aku tahu. Papaku pasti pengin aku jadi anak yang baik, 'kan? Pengin aku bisa mandiri gitu, 'kan?"
Ryan tersenyum lebar meskipun dia tahu bahwa Ella tidak akan bisa melihatnya. "Anak pintar. Udah ngerti aja maksud Papa," elunya.
Ella tertawa kecil dan terdengar sangat lucu di telinga Ryan. Menggelitik. Kalau sekarang dia sedang bersama Ella, dia pasti sudah memeluk gadis itu sambil mencubit pipinya yang berisi.
"Ryan udah makan malam?" tanya gadis itu.
Ryan menegakkan punggungnya. Dia menyentuh perutnya. Pantas saja dia merasa lemas dari tadi. "Belum. Aku lupa, ya ampun."
"Kok belum makan, sih?" protes gadis itu. Dia ingat bagaimana jika Ryan mengetahui dirinya belum makan atau tidak makan tepat waktu. Pasti ada saja omelannya.
"Aku ketiduran ini tadi."
"Ih, suka banget bikin badan sakit sendiri."
"Hei. Hei. Dengerin aku dulu, ya. Aku tadi abis mandi langsung belajar, tapi akhirnya ketiduran. Jadinya sampai sekarang aku belum makan."
"Mau dibeliin nasgor?" tawar Ella.
"Siapa? Cak Dul? Kamu bawain aku nasgornya Cak Dul?"
"Kalau mau, aku ke rumah kamu kalau gitu sama Ayah."
"Gak. Gak. Ayah bakalan lelah. Pun, aku yakin kamu cuma goda aku aja. Woi! Memangnya aku bisa gampang kena? Wleee."
Ella tertawa riang. "Ah, tapi pokoknya kamu makan, ya. Jangan skip makan malamnya. Ada mie di rumah?"
"Ada. Selalu siap sedia."
"Bagus. Makan yang banyak, ya."
"Ya, kalau kebanyakan bakalan keracunan aku, El."
"Ryan! Jangan ngomong kayak gitu, ah. Gak lucu sama sekali tahu, gak?"
"Hahaha. Iya. Iya."
Mereka sama-sama menghela napas. Kemudian keduanya tertawa bersama.
"Ibu belum selesai?"
"Ini barusan. Ya, udah. Makasih, ya, udah ditemenin ngobrol."
"Makasih juga udah ngingetin buat makan malam."
"Good night."
"Good night."
Ryan menjauhkan gawainya dari telinga. Dia menatap layar gawainya. Masih tidak ada notifikasi dari orang tuanya. Dia pun mendengkus dan beranjak dari kursinya.
Perutnya benar-benar harus diisi.