bc

Heroes of Legacy: Embers of Light

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
adventure
serious
kicking
medieval
kingdom building
war
like
intro-logo
Blurb

Aryan—seorang jenderal jenius Kekaisaran Lesbart yang tak pernah gagal—menerima perintah langsung dari sang Kaisar: membumihanguskan sebuah desa terpencil yang diklaim terjangkit wabah mematikan. Sebagai prajurit setia, ia menjalankan misi tersebut tanpa ragu.​Namun di balik kobaran api, Aryan menemukan kenyataan mengerikan. Wabah itu hanyalah kebohongan besar Kekaisaran untuk menyembunyikan sebuah rahasia kelam. Saat ia memilih menyelamatkan seorang gadis desa yang berhasil bertahan hidup, garis batas antara kesetiaan dan keadilan seketika hancur.​Dalam semalam, Nasib sosok pahlawan kekaisaran berubah menjadi pengkhianat yang diburu oleh pasukannya sendiri.Bersama pedang digenggamannya, Aryan bertekad untuk membongkar kepalsuan yang menyelimuti Kekaisaran

chap-preview
Free preview
Chapter 1
"Kenapa ... Semuanya menjadi seperti ini?" Lelaki itu bertanya akan situasi yang semakin tak ia pahami, semakin tak terkendali, membuat waktu kematiannya semakin dekat. Semua orang kini berbalik kearahnya, mengangkat pedang untuk memotong kepalanya atas perintah sang penguasa. *** Tahun 1647, Gencatan senjata ditanda tangani kedua belah pihak. Terompet perang telah berhenti, hanya dalam separuh dekade, bendera elang hitam bermata merah telah sukses berkibar dengan gagahnya di separuh benua. Peperangan maha dahsyat yang dinyatakan Kekaisaran Lesbart kepada Kerajaan-kerajaan, memberikan perubahan total pada garis teritori peta Benua. Lelaki itu; pemimpin pasukan kesatria Kekaisaran angkatan pertama sekaligus pemimpin komando angkatan darat Kekaisaran, Aryan Leonhardt adalah sosok yang paling berjasa dalam perang besar itu. Dia memimpin pasukan dengan gagah berani, menaklukkan kerajaan-kerajaan yang memerangi Kekaisaran. Hingga ia mendapat julukan dari lawan maupun rekannya, Mighty Knight, Kesatria terkuat seantero benua. Kekuatannya diakui oleh sang Kaisar–bahkan oleh seluruh kerajaan yang melawan Kekaisaran–yang membuatnya menjadi salah satu tokoh kunci dalam kekuatan Kekaisaran saat ini. Tetapi ... Segalanya berubah ... Hari itu, Aryan dipanggil untuk menghadap kepada sang Kaisar. Dirinya melangkah diatas karpet merah hingga cukup dekat dengan singgasana sang Kaisar, dirinya berlutut penuh hormat. "Komandan pasukan Ksatria divisi pertama, Aryan Leonhardt, datang untuk memenuhi panggilan paduka," ucapnya seraya menundukkan kepala penuh rasa hormat kepada sang penguasa. "Terima kasih karena sudah datang, Aryan," sambut sang Kaisar. Sosok agung yang duduk diatas singgasana. Kulitnya sedikit pucat, rambut perang dan matanya sangat tajam, lebih tajam daripada pedang yang pernah di tempa. Sosok itu adalah penguasa dari separuh benua ini. Pemimpin agung Kekaisaran Lesbart, Kaisar Alberich. "Aryan, Kesatria ku. Sudah 5 tahun sejak pertempuran besar itu berakhir dan kita telah berhasil menaklukan berbagai kerajaan, menaklukkan separuh dari benua ini. Semua itu berkat kerja kerasmu yang telah membawa kejayaan untuk Kekaisaran," tutur sang Kaisar memuji komandan pasukan Kekaisaran itu. "Pujian anda adalah kehormatan untuk saya, paduka. Tapi semua ini bukan hanya karena saya, tetapi pasukan Kekaisaran dan juga kebijaksanaan anda membawa Kekaisaran ini pada kejayaannya dan selamanya akan seperti itu." Ucapan manis Aryan berhasil mengukir senyuman tipis di wajah sang Kaisar untuk sesaat, lalu berganti kembali memasang wajah masam. "Aryan, ada yang ingin ku minta kepada mu," ucap sang Kaisar. Suara berat sang Kaisar, mengerutkan kening Aryan. Dirinya tahu di dalam suara berat itu ada hal serius yang ingin penguasa itu katakan. Aryan mengangkat kepalanya, melihat wajah masam penuh kekhawatiran sang Kaisar "Katakanlah, Tuan ku. Apa yang anda inginkan?" tanya Aryan. Kemudian, Kaisar itu kembali berkata "Aku baru saja mendapat kabar dari tabib jika ada wabah di wilayah jajahan. Wabah itu sudah tidak terkendali dan sangat mematikan, para tabib sudah berusaha selama sepekan ini tetapi tidak ada hasil." "Sepekan!? Bukankah itu sudah cukup lama, sebenarnya wabah seperti apa itu, paduka?" tanya Aryan sedikit menyela ucapan sang Kaisar. Namun, seakan tak begitu memikirkan tindakan kurang sopan karena meninggikan suaranya, sang Kaisar membalas ucapan Aryan dengan santai "Para tabib juga belum mengetahuinya, mereka bersama dengan peneliti Kekaisaran juga sedang bekerja sama untuk menyelidiki penyakit wabah ini. Tetapi mereka membutuhkan waktu lama dan wabahnya semakin buruk ..." Wabahnya memburuk, jika tidak di tangani maka akan menyebar dan membuatnya jauh lebih buruk lagi. Obatnya masih belum di temukan, lalu harus bagaimana? Aryan sudah menyadari apa yang akan diminta oleh sang Kaisar kepadanya. "Diriku sebenarnya tidak ingin ... Tetapi keselamatan jutaan penduduk Kekaisadan jauh lebih berharga, Aryan. Ku harap dirinu mengerti." Perintah tersirat yang enggan ia dengar, namun ia memahami setiap kata yang sang Kaisar utarakan. Sedikit rasa sesal dihatinya memahami apa yang Sang Kaisar katakan, Meski begitu, perintah tetaplah perintah. "Regu pasukan pertama Kekaisaran, akan menerima perintah dari anda, Kaisar Alberich." Aryan bersama dengan sebagian kecil pasukannya dari divisi pertama angkatan bersenjata Kekaisaran; Sekolompok pengguna senapan bertenaga Rumstone dan sekelompok lainnya dengan senjata khusus yang masih dibilang 'Uji coba' oleh peneliti Kekaisaran, mereka bergerak menuju sebuah Desa di dekat hutan yang berada dalam wilayah jajahan Kekaisaran. Mengingat ada wabah, seluruh kesatuan kecil yang dibawa Aryan mengenakan topeng yang dilapisi oleh kain khusus untuk menghindari penularan wabah. Pasukan bergerak dengan teratur dan senyap atas perintah sang komandan. Mereka tidak semata membakar desa lalu pulang, namun Aryan datang dengan rencana yang lebih mulia. "Jalankan tahap pertama." Regu pelontar bergerak sedikit maju ke depan Aryan, berbaris dengan teratur seraya menyiapkan sebuah senapan pelontar–tabung pendek yang menyatu dengan gagang, ujungnya lebar berdiameter 40mm, alat sederhana dengan pelatuk sebagai kontrol utamanya. Hanya dengan sekali tekan, sebuah benda melesat hingga masuk kedalam desa. Benda itu meledak tanpa suara, hanya mengeluarkan kepulan asap tebal. Di satu sisi, regu eksekusi dalam posisi siap, mereka menggendong dua tabung kecil berwarna kemerahan dengan selang yang terhubung pada benda logam, memiliki laras baja yang panjang menyatu pada sebuah gagang dengan kontrol yang serupa seperti pelontar. Begitu asap menyebar, mereka masuk kedalam desa dengan sebuah topeng yang menetralisir dampak asap itu. Moncong laras mereka arahkan ke kediaman penduduk, pelatuk di tekan ... *Bhoooosh* Dari kejauhan, Arya mampu melihat semburan warna oranye yang sampai membumbung ke langit. Suara ledakan kecil terdengar, timbul dengan asap hitam pekat membumbung ke langit desa. Meskipun demikian, tidak ada gema suara warga desa yang terdengar di telinganya, seolah-olah suasana hening menyelimuti seluruh tempat itu dan nyanyian kehidupan sehari-hari berhenti untuk selamanya Kelompok bertopeng gagak itu kembali, dengan sedikit riuh seakan mereka bangga dengan apa yang mereka lakukan. Tentu ia mengerti, ini adalah titah Kaisae agung. Sebuah kebanggan bisa menuntaskan keinginan paduka Kaisar. "Tahap pertama berhasil, komandan." Aryan menganggukkan kepalanya "Semuanya, misi telah selesai. Simpan kembali peralatan kalian, kita akan pulang" "Baik!" Jawab mereka serentak Tiba-tiba, Seorang prajurit di dekatnya bertanya dengan "Tuan, kenapa kita tidak langsung membakar mereka? Saya pikir lebih cepat lebih baik." Aryan pun menjawab dengan suara tenang "Wakil regu, anda Benar. Tapi, mereka juga manusia yang sama seperti penduduk kita. mereka bukan musuh, bukan pula pengkhianat. Setidaknya, mereka harus pergi dengan tenang. Kematian saat tertidur akan meringankan rasa sakit mereka." Benar, tujuan mereka bukanlah untuk mengobati mereka. Tetapi, melenyapkan desa yang terjangkit wabah misterius. Sang Kaisar percaya jika tindakan yang tidak etis itu dapat menghentikan wabah sebelum akhirnya meluas ‎Setelah beberapa saat berlalu, para prajurit yang bertugas akhirnya kembali ke tempat titik kumpul mereka yang terletak di atas bukit yang tidak terlalu jauh dari desa tersebut. Ekspresi wajah mereka menunjukkan kepuasan, seolah-olah mereka baru saja memperoleh harta karun yang sangat berharga. Lalu, seorang ketua regu Magus memberikan laporan kepada Aryan. Dia berlutut menghadap sang komandan kemudian berkata "Tuan Aryan, tahap kedua telah dilaksnakan, seluruh bangunan dan perangkat desa terbakar, tidak ada tanda-tanda penduduk yang masih sadar. Para penjaga desa yang tidak berada dalam bangunan juga kami lenyapkan."" "Kerja bagus, kalau begitu misi selesai, ayo kembali–" "Tunggu!" Suara yang datang bersama dengan sosok berjubah dihadapan Aryan secara tiba-tiba memaksa para prajurit mengangkat senjata mereka. Telapak tangan Aryan terangkat; memberi isyarat untuk menahan senjata mereka. "Kau ... Apa yang kau lakukan disini?" tanya Aryan heran dengan rasa curiga. Sosok itu membalas "Saya, dari divisi pengintai, ditugaskan oleh Jenderal untuk mengawasi misi anda." Kening sang wakil regu mengkerut disertai wajah bingung, "Divisi pengintai? Saya pikir regu divisi 1 tidak perlu memerlukan itu. Terlebih tuan Aryan yang memimpin," cetus seorang prajuri yang Aryan percayakan sebagai wakil regu operasi ini. Aryan bertanya padanya dengan nada ketus "Apa yang membuatmu kemari? Kami telah selesai melaksanakan titah paduka Kaisar, kau bisa melihatnya sendiri." "Anda salah." Aryan tersentak—bukan hanya dia, tetapi seluruh regu pasukan disana terlebih pasukan magus yang paling berkontribusi dalam operasi ini begitu mendengarnya. "Apa maksudmu?" Sosok itu melompat dari dahan pohon dan mendekati Aryan, berbisik seolah tak mau orang lain mendengar ucapannya. Tapi itu wajar saja, sebab Aryan yang merupakan pemimpin mereka tersentak mendengar ucapannya. "Apa!?" Pengintai itu menganggukkan kepalanya. Darah berdesir dengan cepat di dalam tubuh Aryan, dirinya langsung berlari kearah Desa sambil berteriak kepada pasukannya untuk kembali lebih dulu. Aryan berlari secepat mungkin menuju desa yang terbakar, setelah dirinya mendengar bisikan sosok itu, bahwa ... Tidak ada tanda-tanda wabah di desa itu ... *** Terangnya langit perlahan tertutup pekatnya awan hitam; perlahan mereka meneteskan airnya ke bumi. Aryan mempercepat langkahnya; bergegas kembali ke desa yang menjadi target mereka. Tuan, tidak ada tanda-tanda wabah di desa itu ... Kata-kata yang dibisikkan oleh pengintai tak dapat ia percaya, Karena sang paduka Kaisar sendirilah yang mengatakan kabar itu. Tetapi, kegelisahan hatinya membuat Aryan meragukan tuannya. Ia tak dapat menghentikan langkahnya, terus berlari hingga mencapai gerbang desa. Langkah kaki mulai terasa berat. Air yang meresap ke dalam zirahnya ditambah dengan zirah bajanya memiliki beban tersendiri menyulitkannya berjalan. Sesaat kemudian langkah Aryan terhenti menyaksikan pemandangan dari akibatnya misi mereka. Hujan yang memadamkan api yang melalap desa itu meninggalkan reruntuhan yang tak berguna. "Apa yang kau inginkan sebenarnya? Apa kau mencoba mengkhianati ku?" tanya Aryan, dengan suara lantang begitu menyadari sosok berjubah "Saya tidak mungkin mengkhianati an—." Mulut sang pengintai berhenti berucap begitu matanya mendapati sang komandan menarik pedang dari sarungnya. Nafasnya memburu, dirinya hanya terdiam mematung merasakan sorot mata tajam disertai aura yang mencekam, seolah dirinya telah siap dimangsa oleh sosok predator. "Berhentilah membual. Kau tidak mungkin memeriksa ke dalam rumah penduduk yang sedang dibakar. Jikapun dirimu datang mendahului kami, maka seharusnya kau memberitahu ku lebih dulu, benar? Atau kau memang tidak berniat melakukannya ..." "Tunggu sebentar, Tuan Aryan. Sedikitpun diri saya tiada berkhianat kepada tuan. Saya memahami sikap kesatria tuan, karena itulah saya melaporkan hal yang sebenarnya kepada tuan." Mata Aryan menyipit mendengar ucapan sang pengintai sebagai tanda, rasa curiganya masih dalam titik tertinggi kepada sang Pengintai. "Seperti yang anda tahu, divisi pengintai akan melakukan pengawasan kepada setiap pasukan yang menjalankan tugas. Saya menyaksikan pasukan penyihir membakar rumah, tetapi disaat itu terjadi, saya melihat seorang gadis kecil yang masih sadarkan diri." Kening Aryan mengkerut kuat mendengar ucapannya. 'Itu tidak mungkin' Benak Aryan membantah sang Pengintai. Ia begitu yakin jika itu tak mungkin terjadi, sebab kabut yang mereka "ciptakan" adalah buatan ilmuan terbaik Kekaisaran, kabut itu sejatinya cukup kuat untuk membuat korbannya tak sadarkan diri selama seharian penuh. "Tolong ikut saya," lanjut pengintai, mengambil langkah lebih dulu menuju ke belakang reruntuhan rumah penduduk di bagian timur. Aryan mengikuti kemana langkah pengintai itu pergi, hingga mereka sampai di sebuah pohon yang selamat dari api yang menghanguskan desa. Langkah Aryan terhenti seketika, matanya terbelalak melihat apa yang ditunjukkan oleh sang Pengintai. Dibalik pohon itu, terdapat seorang gadis dengan pakaian lusuh yang tak sadarkan diri, namun bukan itu saja yang ingin sang Pengintai tunjukkan kepada Aryan. "Saya menemukannya di samping rumah yang terbakar. Dia terus menangis, jadi saya membuatnya tak sadarkan diri." Itu cara yang buruk untuk membuat diam seorang gadis, tapi Aryan mengerti jika alasannya pasti lebih dari itu. "Lalu, saya menyadarinya ... tidak ada tanda-tanda penyakit apapun pada gadis ini." Aryan mendekati gadis di bawah pohon itu dengan berhati-hati, karena dirinya masih tak percaya dengan ucapan sang Pengintai. Biasanya, mereka yang terkena penyakit misterius akan menampakkan ciri-ciri yang jelas pada fisik mereka seperti cacar atau luka lebam, napas yang dihembuskan akan tidak teratur, lalu suhu tubuh yang tidak normal. Akan tetapi, gadis itu tidak mengalami semuanya. Aryan termenung penuh dengan tanda tanya, apa yang sebenarnya terjadi? Jika wabah tidak ada, lantas kenapa sang Kaisar memerintahkannya untuk membakar desa ini? Di tengah kebingungan akan keganjilan yang terjadi, sekelompok orang meneriaki pangkat serta namanya dalam militer. Pasukannya, mereka mencari Aryan yang pergi tiba-tiba. "Mereka ..." Aryan menoleh ke sekumpulan prajurit yang mencarinya di desa, lalu matanya kembali teralih kembali kepada gadis desa. "Tuan Aryan, apa sebaiknya kita lenyapka—." Suara sang pengintai tercekat begitu mendapatkan sorot mata tajam dari Aryan. "Maaf ... Anda pasti tidak akan melakukannya," ucap Pengintai itu. Ia tahu, jika Aryan, seorang kesatria Kekaisaran yang dikenal bengis oleh lawannya tidak akan pernah sekalipun mengotori tangannya dengan darah penduduk yang tak bersalah. Dalam karirnya di militer Kekaisaran, tak pernah sekali Aryan memerintahkan pasukannya untuk menjarah atau menyandra penduduk Kerajaan lain kala perang. Pedangnya hanya ia hunuskan kepada mereka yang melawan Kekaisaran dengan pedang. Tapi ... Bagaimana dengan sekarang? "Bawa gadis ini ke ruang istirahat ku, pastikan tidak ada yang melihat," ucap Aryan seraya berbalik dan berjalan menuju pasukannya "Sesuai keinginan anda." Langkah kaki sepatu baja di tengah hujan yang semakin deras semakin menjauh dari mereka. Sang Pengintai dengan cepat menjauh dari tempat itu bersama gadis yang ia gendong bagaikan seorang putri. Para prajurit yang melihatnya datang menghampiri mereka, langsung bergegas berkumpul di sekitar Aryan. "Apa yang kalian lakukan disini, sudah kubilang untuk kembali lebih dulu, kan?" tanya Aryan dengan nada tinggi dan sedikit emosi kepada prajuritnya. Mereka bergeming seketika seraya mengangkat dagu ke langit. Mereka menegang begitu mendengar amarah komandan mereka. "Ma--maaf, Tuan. Tetapi, kami kemari karena kami Khawatir." "Be--benar!" Kaki dan tangan mereka gemetar, entah karena dinginnya air hujan atau rasa takut mereka menghadapi amarah Aryan, itu membuat Aryan menghela napas lelah. "Baiklah, aku mengerti kekhawatiran kalian. Apa yang lainnya sudah kembali?" tanya Aryan, melihat jumlah mereka yang datang lebih sedikit daripada jumlah keseluruhan pasukan yang tergabung dalam operasi. "Ya, selain kami disini, sisa pasukan telah kembali ke Kota terdekat," jawab seorang prajurit. Aryan membalas serta memberi titah "Baiklah, kalau begitu mari segera berkumpul dengan yang lain." "Baik!" jawab mereka serempak, lalu melangkah keluar desa itu. Kaki Aryan tak langsung mengikuti mereka, kepalanya kembali menoleh ke arah pohon itu dimana ia tak lagi melihat keberadaan sang pengintai dan sang gadis desa, satu-satunya gadis yang seharusnya tiada bersama dengan warga desa lain karena dibunuh oleh pasukannya. Segudang pertanyaan dalam benaknya terus meronta meminta jawaban, namun sekeras apapun ia berfikir, tak ada satupun jawaban yang tepat. Ia tahu hanya satu orang saja yang memiliki kunci dari segala pertanyaannya. 'Apa yang sebenarnya terjadi ...' To be continue

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

NIKAH??? BOHONGAN???!!!

read
3.3K
bc

Putri Haram Konglomerat untuk Tuan Muda Cacat

read
19.9K
bc

Gairah Lama Kembali Membakar

read
6.2K
bc

Kuliah Malam Bersama Dosen Hot

read
156.6K
bc

Orang Ketiga

read
37.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pilihan Hatimu

read
114.5K
bc

Babysitter Canduku

read
20.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook