Aku sebisa mungkin menahan rasa sakit yang aku rasakan. Bukan hanya itu saja, rasa kecewa yang tidak berujung juga mulai mengganggu diriku. Semua yang aku rasakan saat ini, sungguh membuat tubuh ini semakin berat dan tidak semangat. Namun, aku tetap berusaha untuk tegar. Aku juga akan tetap mendengar kenyataan pahit yang ada di depanku ini. “Jadi, bagaimana? Kamu mau bercerita atau tidak?” Aku tetap menanyakannya lagi. “Mmmm... sebenarnya....” Orang yang menjadi dalang dari penculikan ku ini pun mulai membuka mulutnya. Namun, dia berhenti cukup lama. Laki-laki itu terlihat ragu untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. “Aku tahu. Ini semua ada hubungannya dengan adikmu yang sudah tiada itu kan?” Aku mencoba memancing dirinya. Aku buat, seolah diriku ini tahu tentang adik perempu

