Mataku langsung terbelalak melihat sesuatu yang dikirim oleh Farale ini. Awalnya, aku ingin sekali mengabaikan sebuah foto yang dikirimnya itu. Dalam benakku, aku masih berpikiran bahwa ini pastilah salah satu keisengannya yang lainnya. Namun, aku tidak percaya dengan ini semua. Bahkan, kini bukan hanya satu foto saja yang telah masuk ke handphone-ku ini. Dia terus-terusan mengirimkan foto yang mengerikan ini. Aku semakin yakin, ini bukanlah leluconan yang dia lakukan. Tidak mungkin, dia mencari orang sebanyak itu untuk menyiapkan kekacauan yang ada. Ini benar-benar membuat aku tidak bisa berpikir jernih lagi. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? “Sial. Kenapa harus macet sih?” geramku. Jalan yang biasanya lancar ini, tiba-tiba saja tersendat karena sesuatu. Ingin rasanya, aku marah-mar

