BAB 1

1314 Words
Aku memandangi langit langit kamar tempat aku berbaring saat ini. Aku masih tidak percaya dengan yang terjadi semalam. Bahkan, rasa sakitnya juga masih berbekas di tubuhku ini. “Ajeng, kamu enggak papa?” tanya Chika yang khawatir melihat diriku. Aku tidak menjawabnya. Tentu saja, kondisiku sangat tidak baik. Aku tidak mau berbohong dengan mengatakan aku tidak apa apa. Kejadian yang terjadi semalam benar benar tidak bisa diduga. Bahkan, masih teringat jelas di dalam ingatanku ini. “Andrew... to... long....” Aku hampir tidak bisa mengeluarkan suara lagi. Pandangan mataku sudah mulai kabur. Andrew yang ada di atasku pun mulai tidak terlihat jelas. Tangannya masih tetap berada di tempatnya semula. Dia tidak ada niat untuk menghentikan tindakannya ini. Bahkan, matanya terlihat sangat kosong. Entah, apa yang dia inginkan dari diriku ini. “A...ndrew....” Aku masih berusaha memanggil namanya. Namun, dia sama sekali tidak bisa mendengarnya. “And... drew....” Aku masih tetap memanggil namanya disisa- sisa napasku. Namun, dia masih tetap tidak menganggap diriku ada. Orang yang ada di depanku ini seperti tidak sadar dengan yang sudah dia lakukan. Aku hanya bisa pasrah dengan diriku ini. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Tenagaku sudah terlanjur habis, sehingga tidak mampu mendorong tubuhnya yang kekar itu. “Bruk....” Di sisa kesadaranku, aku sempat melihat dua bayangan yang ada di belakang Andrew. Aku tidak bisa ingat persis kejadiannya. Aku hanya merasa tubuh Andrew tiba-tiba jatuh di atas tubuhku. Dan setelahnya, aku tidak sadarkan diri. Aku tidak lagi bisa melihat orang orang yang ada di sekitarku. Meski, aku masih bisa mendengar suara seseorang memanggil- manggil namaku. Namun, aku sudah tidak bisa bergerak. Hingga pagi tadi, aku baru tersadar sudah berada di kamar ini. Cahaya kamar ini sangat gelap saat aku bangun. Aku juga melihat seseorang sedang tertidur di bangku yang ada di samping ranjangku ini. Aku melamunkan semua kejadian yang menimpa diriku semalam. Aku benar- benar tidak menyangka Andrew tega melakukan hal itu terhadap diriku. “Klikk....” Tiba-tiba, lampu kamar menyala. Dan tidak lama kemudian, seseorang masuk ke kamar ini. “Selamat pagi?” sapa seorang perempuan dengan pakaian seragam serba merah muda. “Pagi, sus.” Seseorang yang tidur di sampingku langsung terbangun, begitu lampu ini menyala. Aku baru menyadari, bahwa yang berada di sampingku ini adalah Chika. “Bagaimana kabarnya pagi ini?” tanya perempuan yang baru saja datang. “Dia belum....” Chika tidak melanjutkan perkataannya, saat melihat mataku yang sudah terbuka. “Ajeng... kamu sudah sadar.” Chika terlihat sangat senang melihat diriku. Aku tidak menjawabnya. Aku hanya melemparkan sebuah senyuman yang sangat berat aku lakukan. “Baiklah, saya periksa dulu ya,” kata perempuan itu. Perawat itu pun segera berdiri di sisi yang berlawanan dengan Chika. Dia juga langsung bergerak cepat memasang alat pemeriksa tensi darah. Kemudian, dia juga melanjutkan dengan alat- alat lain yang dia gunakan untuk mengecek pasiennya. “Semua hasilnya normal. Nanti kita lihat hasil pemeriksaan dokter ya. Kalau, tidak ada masalah Nyonya Ajeng sudah bisa pulang,” kata perawat itu. “Terimakasih ya, sus,” kata Chika. Suster itu hanya tersenyum dan meninggalkan kami berdua. “Ajeng, kamu enggak papa kan?” tanya Chika khawatir. Aku hanya terdiam. Aku masih sangat syok dengan kejadian semalam. Dan sepertinya, Chika pun tahu apa yang sudah terjadi semalam. “Aku enggak tahu harus berkata apa. Andai saja, Zaki telat mencari kamu. Kamu pasti....” Chika tidak sanggup melanjutkannya. Dia hanya menutup mukanya dengan kedua tangannya. Aku tahu, dia pasti sedang menahan tangisnya. Aku pun berusaha menggapai tangan yang menempel di wajahnya itu. Meski, tanganku ini terasa sangat berat. Mungkin, karena selang infus yang terpasang di sana. Setelah aku berhasil menyentuh tangan mungilnya itu, aku pun membelainya dengan lembut. Aku mengatakan dalam isyarat, bahwa aku baik baik saja. Dan dia pun mau membuka tangan yang menutupi mukanya itu. Sangat terlihat jelas, air yang menggenang di kelopak matanya yang sangat lembut itu. Aku juga baru menyadari, bahwa matanya itu sedikit bengkak. Entah sudah berapa lama dia menangis. “Aku enggak papa kok, ka.” Akhirnya aku mengatakannya. Meski pun itu sangat bertolak belakang dengan hati kecilku. “Aku tahu, kamu pasti tertekan kan. Bahkan, aku pikir kamu tidak akan pernah bangun dari tidurmu ini,” kata Chika. “Emangnya, kenapa aku enggak bakal bangun?” tanyaku pura-pura kuat. “Kamu tahu tiga hari ini, aku sangat khawatir kalau kamu enggak akan pernah bangun lagi,” katanya lagi. Air mata yang dari tadi dia tahan pun akhirnya jatuh juga membasahi pipinya. “Emangnya, aku sudah tertidur berapa lama?” Aku pun jadi penasaran karena ucapan Chika itu. “Kamu seperti ini sudah lima hari, jeng. Padahal kata dokter, tubuh kamu enggak ada yang salah. Saluran pernapasan kamu juga sudah mulai membaik saat hari kedua kamu di rumah sakit. Dan dokter juga bilang, kalau alasan kamu enggak mau bangun karena kamu sendiri,” jelas Chika. “Maksudnya?” Aku tidak pahan dengan penjelasan Chika itu. “Jadi intinya, kamu enggak mau bangun karena kamu memang enggak mau bangun. Bukan karena ada yang salah dengan tubuh kamu,” kata Chika sedikit jengkel. “Baru kali ini orang sakit malah dimarah- marahin,” godaku. “Kamu sih. Bikin aku jantungan aja. Kalau kamu beneran enggak bangun... aku... aku....” “Udah... udah. Aku kan sekarang udah bangun,” kataku dengan santai. “Kamu jangan seperti ini lagi ya... hik... hik....” katanya sambil menahan tangis. “Enggak bakal sayang. Lagian siapa sih yang mau seperti ini?” balasku. “Ini semua gara- gara Andrew....” “Deg.” Aku sangat terkejut saat Chika menyebut namanya. “Dia... sekarang di mana?” Aku juga penasaran dengan keadaannya. “Ngapain kamu nyari dia. Zaki udah urus laki- laki itu. Tenang aja, dia tidak akan muncul lagi di depan kamu,” kata Chika. “Bagaimana cara kalian melepaskan aku dari cengkraman Andrew?” Aku penasaran dengan kejadian saat aku tidak sadarkan diri. “Waktu kami mencari kamu, kami melihat seseorang yang sedang melakukan kekerasan di koridor menuju jalan belakang. Awalnya, kamu tidak sadar bahwa itu Andrew. Tapi, tiba-tiba Andrew langsung berlari dan memukul bagian belakang Andrew, hingga Andrew pingsan,” cerita Chika. “Trus, Andrew tidak apa apa?” tanyaku lagi. “Kenapa kamu harus khawatir sama orang yang sudah membuat kamu seperti ini, sih.” Chika terlihat sangat kesal melihat aku khawatir dengan keadaan Andrew. Kenapa Chika yang ada di depanku ini mendadak menjadi berubah? Chika yang dulu aku kenal, sangat mendukung hubungan aku dengan Andrew. Namun sekarang, dia malah melarang diriku untuk bertemu dengan laki-laki yang bernama Andrew itu. Jangankan untuk bertemu, sekedar menanyakan kabarnya saja, Chika sudah sangat kesal menjawabnya. “Tapi aku....” “Jangan bahas dia lagi di depanku.” Chika langsung memotong perkataanku. Dia sangat tidak ingin, diriku membahas tentang Andrew. Namun entah mengapa, setelah Chika berbicara seperti itu, aku malah jadi semakin penasaran dengan Andrew. Padahal, awalnya aku sangat tidak ingin melihat manusia yang satu itu. Namun kini, aku jadi sangat ingin bertemu dengan dirinya. Apakah dia baik baik saja, atau keadaan dia semakin memburuk. Pikiranku selalu dipenuhi tentang dirinya. Selain itu, Aku pun juga ingin mendengar alasan dia melakukan ini terhadap diriku. Aku sempat mendengar tentang penyakit yang dia derita. Tetapi aku tidak menyangka, jika dia akan melakukan hal seperti ini. “Dia... pernah datang ke sini?” Aku masih menanyakan tentang laki-laki itu, meski Chika sudah melarangku. “Berkali kali dia datang ke sini. Tetapi, Zaki selalu menghalanginya. Sampai sekarang pun, Zaki masih berjaga di depan kamar ini,” kata Chika sambil melihat pintu kamar yang tertutup. “Mengapa?” Tentu saja, aku menanyakan penyebabnya. Mengapa saudaranya itu juga ikut melarang Andrew untuk datang melihat diriku. “Zaki takut, sesuatu yang mempengaruhi diri Andrew sebenarnya ada di diri kamu. Jadi, dia belum bisa membiarkan Andrew untuk bertemu dengan dirimu,” jawab Chika. Apa yang sebenarnya ada di diriku yang membuat Andrew seperti ini? Sebenarnya apa yang terjadi pada Andrew?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD