BAB 2

1407 Words
Berbulan- bulan berlalu. Chika dan Zaki masih melarangku untuk kembali ke rumah Andrew. Entah, apa yang akan dikatakan oleh ibunya Andrew. Pasti semua pelayan yang ada di rumah itu pun sibuk mencari tahu apa yang terjadi pada diriku. Sebenarnya, aku sangat ingin bertemu dengan Andrew. Selain perasaan ingin tahu dengan keadaannya. Ada juga perasaan aneh yang membuat aku tidak nyaman. “Ka, aku cuti sudah terlalu lama. Enggak bisa apa aku masuk kerja bulan ini,” kataku kepada Chika. Chika masih tidak menanggapi perkataanku. Matanya masih tertuju ke layar televisi. Aku tahu, dia sebenarnya mendengar apa yang aku katakan. Tetapi, dia memilih untuk diam daripada berujung keributan. Seperti yang terjadi sebelumnya. Kerjaan kami hanya berada di ruang tengah ini saja. Kami menghabiskan waktu dengan mengobrol, nonton film dan juga memasak. Walau terkadang, aku sering menemani Chika dengan kerjaan yang sengaja dia bawa ke rumah. Dari dulu, dia memang tidak suka terikat dengan sebuah pekerjaan yang harus diam di kantor. Untungnya, ada rekan kerjanya yang mengerti dengan watak Chika ini. Sekarang, karena dia harus mengawasi diriku. Maka Chika meminta semua pekerjaannya dikirim ke rumah. Sebegitu inginnya, perempuan ini mengharapkan aku untuk berpisah dengan suami pura-puraku itu. “Ka, tolong dong. Aku sudah bosan di rumah terus. Aku ingin pergi keluar.” Sekali lagi, aku memohon untuk Chika membiarkan aku pergi dari tempat ini. “Kamu mau kemana? Aku anterin,” jawabnya tanpa melihat ke arah aku. “Kamu kenapa sih, ka. Kalau terus terusan aku menghindar dari Andrew, ini bukanlah jalan yang benar ka. Bagaimana pun, aku harus berbicara dengan Andrew,” kataku dengan tegas. “Trus, kalau dia melakukan hal seperti waktu itu lagi gimana?” Ternyata, kejadian itu masih sangat berbekas di benak Chika. Padahal, aku sendiri yang mengalaminya sudah bisa menerima kenyataan. Bahkan, aku sangat ingin mendengar langsung dari mulut Andrew langsung. Aku tidak mau terus hidup dalam rasa penasaran seperti ini. “Aku jamin, dia tidak akan melakukan hal itu lagi,” kataku dengan sangat yakin. Walau pun, di hati ini aku masih ragu dengan perkataanku itu. Tetapi, aku berusaha untuk tidak menunjukkan ekspresi itu. Aku ingin, Chika mengizinkan aku untuk bertemu dengan Andrew. *** Selama perjalanan, aku hanya melihat keluar jendela. Aku memperhatikan mobil dan kendaraan lain yang lalu lalang di luar sana. Pemandangan kota yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Namun, aku tidak merasakan senang atau kagum dengan pemandangan yang indah ini. Hatiku masih sangat gelisah. Aku masih terus kepikiran bagaimana cara untuk aku berbicara dengan Andrew nanti. “Nyonya enggak usah tegang seperti itu. Bos pasti sangat senang melihat nyonya di sini,” kata Farale yang memperhatikan aku dari balik cermin. “Hufff... aku seperti merasa baru bertemu dengan dia setelah bertahun tahun,” keluhku. “Hahaha... nyonya kangen banget sama bos ya?” Farale malah salah arti dari perkataanku itu. “Bu... bukan itu. Aku cuma....” Aku langsung salah tingkah dengan ucapan Farale itu. “Iya... iya saya tahu maksud nyonya,” katanya sambil menahan tawanya. Untung saja, Farale ada di sini. Jika aku pergi ke tempat ini seorang diri, maka apa jadinya diriku. Tempat ini adalah tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Aku benar benar buta saat memasuki kota yang megah ini. Bisa-bisa, aku tidak akan bisa kembali ke Indonesia. Dan aku pulang hanya tinggal nama saja. “Mmmm... apa Andrew tahu aku datang ke sini?” Aku pun menyinggung nama yang dari tadi mengganggu pikiranku. “Saya tidak kasih tahu Bos tentang kedatangan Nyonya ke sini.” Entahlah, jawaban Farale itu sebenarnya bisa membuat aku tenang atau tidak. “Hufff... sekarang dia bagaimana bentuknya ya?” Aku malah memikirkan hal yang aneh. “Hah?! Ya enggak jauh beda. Kita baru berpisah beberapa bulan.” Farale terkejut dengan yang aku katakan. “Iya sih.” Aku masih belum bisa mengontrol diriku ini. “Saya paham... paham. Emang kata orang, kalau lagi kangen pikiran pasti jadi kacau,” goda Farale. “Si... siapa yang kangen.” Aku langsung membantahnya. Padahal, aku sendiri tidak mengerti dengan diri ini. Aku memang merasa galau, tapi aku tidak tahu apa penyebab perasaan ini. Bahkan, rasa takut akan kejadian terakhir terulang lagi pun sudah menghilang dari benak ini. Aku hanya merasa kebingungan harus bagaimana bersikap dengannya nanti. Ditambah lagi, kami sudah lama tidak bertemu. Entah apa yang akan terjadi di antara kami. “Sabar ya, Nyonya. Sebentar lagi, kita sampai kok,” kata Farale. Aku tidak mempedulikan laki-laki yang dari tadi berusaha untuk menggoda diriku. Bukan dalam arti lain. Lelaki ini memang hanya benar benar ingin menggoda diriku agar aku semakin salah tingkah dengan diri sendiri. Dia sangat mengenal hubungan aku dengan Andrew. Di mana, kami saling mencintai namun masih saling membatasi satu dengan lainnya. Aku kembali melihat jalanan kota London ini. Tentu saja, aku tidak mengetahui tepatnya aku sedang berada di mana. Semuanya, Farale yang menunjukkan arahnya. Aku hanya duduk manis dan membiarkan Farale membawaku ke mana pun dia mau. Farale yang sedang asyik berbicara dengan supir itu, tidak mempedulikan diriku yang duduk di belakang ini. Setelah puas dia menggoda diriku, laki-laki itu kembali fokus terhadap jalan yang menghubungkan dengan tempat yang akan kami tuju. Dari cara dia melihat tempat ini, sepertinya Farale sangat mengenal wilayah kami berada sekarang. Sampai dia menunjukkan ke arah sebuah tempat yang sudah terlihat dari tempat kami berada. Supir pun mengikuti instruksi yang Farale katakan. Kami masuk ke sebuah tempat yang sangat megah dan luas. Daerah yang sepertinya hanya orang orang kaya saja yang bisa berada di tempat ini. Wilayah ini pun sedikit menjauh dari keramaian kota. Halamannya yang luas, membuat kebisingan jalan raya tidak terasa di dalam sini. “Kita sudah sampai nyonya,” kata Farale melihat ke tempat aku berada. Dia pun turun terlebih dahulu, dan membukakan pintu untuk diriku. Aku memperhatikan setiap interior bangunan yang sangat mewah ini. Aku tidak menyangka akan berada di tempat seperti ini lagi. Banyak sekali tempat yang bisa aku kunjungi semenjak aku kenal dengan suami gadunganku itu. “Ayo, Nyonya.” Farale yang sudah melangkah lebih dahulu, menegur diriku yang masih berdiri di tempat aku turun tadi. Aku bukan hanya kagum dengan tempat ini. Namun, tiba-tiba aku merasa sangat pusing memikirkan detik detik bertemu dengan laki-laki itu. Seorang lelaki yang memiliki status sebagai suami sementara itu. Aku pun memberanikan diri melangkahkan kaki ini. Aku mengikuti jejak Farale yang lebih dulu meninggalkan aku menuju meja resepsionis. Aku juga melihat orang yang Farale ajak berbicara menelepon seseorang. Aku langsung beranggapan, Andrew pasti ada di kamarnya. Karena dari tempat aku berdiri, aku tidak bisa mendengar pembicaraan Farale dengan perempuan bule yang tinggi itu. Aku hanya bisa berdiri di tengah tengah ruangan yang luas ini. Aku menunggu Farale dengan segala urusannya itu. Aku masih berusaha untuk menenangkan hati ini. Aku pun melihat ke seluruh ruangan yang indah nan sangat kental dengan nuansa negeri ini. Meski aku sangat mengagumi setiap sudut bangunan ini, namun aku tidak bisa menikmati dengan hati yang sangat bahagia. Rasa gelisah masih tetap menggerogoti tubuh ini. Rasa yang aneh karena sudah lama tidak melihat lelaki yang pernah mengisi lubuk hatiku terdalam. “Ayo, Nyonya. Kita ke kamar Bos.” Farale langsung mengajakku untuk pergi ke ruangan di mana ada Andrew di sana. Kami pun pergi menuju lift dan menunggunya untuk terbuka. Aku tidak bertanya di lantai berapa dia tinggal. Aku masih berusaha menenangkan hati ini. Jantungku semakin tidak karuan saat masuk ke dalam kotak bergerak ini. Aku tidak bisa mendengar apa yang Farale katakan kepadaku. Pikiranku benar benar sangat kosong. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk mengontrol diri ini. “Nyonya... nyonya....” Aku masih belum sadar Farale memanggil diriku saat pintu lift ini sudah terbuka kembali. “Ajeng....” Akhirnya, dia pun memanggilku dengan nama depanku. “Hah?!” Aku baru menoleh ke arahnya. Dan melihat dia sudah menahan pintu ini, agar tidak tertutup kembali. “Ayo... kita sudah sampai,” ajak Farale. “I... iya.” Aku masih sangat tegang. Banyak yang melintas di benakku ini. Itu pula yang membuat aku semakin berat untuk melihat laki-laki yang sebelumnya sangat ingin aku temui. Namun tiba-tiba saja, kaki ini terasa sangat berat untuk melangkah. Aku juga merasakan karpet indah yang menghiasi lantai ini bagaikan duri tajam yang menahan kakiku ini. Aku tidak mengerti dengan diriku ini. Saat jauh di Indonesia, aku sangat memaksa untuk datang ke tempat ini. Namun setelah sampai di sini, tiba-tiba rasa ragu untuk bertemu dengannya menjadi lebih berat. Apakah Andrew mau menemui aku atau tidak? Apakah yang akan terjadi, jika aku tiba-tiba muncul di depan dirinya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD