BAB 3

1617 Words
Sejak aku turun dari mobil yang disewa oleh Farale ini, tubuhku ini sudah merasa sangat dingin. Bukan karena cuaca di sini yang sedang beriklim dingin. Melainkan, karena perasaan hati ini yang membuat aku merasakan dingin sekali. Ketenangan yang sejak tadi sudah aku jaga, kini hilang entah kemana. Berkali-kali, aku menarik napas panjang agar sesak di dadaku ini terasa lebih lega. Namun tetap saja, kegelisahan ini masih belum bisa hilang dari hatiku. Orang yang sudah beberapa bulan, kini akhirnya ada di depanku. Padahal, ingin rasanya aku menghabiskan masa kontrak nikah kami yang sudah berjalan selama satu tahun ini dengan tenang. Bahkan, aku sudah merasa tenang jika aku tidak harus bertemu dengan dirinya di rumah itu. Berkali-kali Chika terus melarangku untuk kembali ke rumah yang mewah itu. Dia terus menahan diriku untuk tetap tinggal di rumahnya itu. Namun, aku tidak mau orang-orang semakin salah paham dengan keadaan ini. Mama Anggi saja sudah sangat khawatir saat mendapati aku dan Andrew masuk ke rumah sakit. Meski, berita yang diketahui oleh mama Anggi tidaklah lengkap. Mama Anggi yang saat kejadian berada di luar negeri, tentu tidak langsung mengetahui apa yang sedang terjadi kepada kami berdua. Setelah dirasa urusan mama Anggi mulai longgar, barulah Zaki memberitahukan bahwa aku dan Andrew masuk ke rumah sakit. Dan untungnya, saat mama Anggi tahu aku sudah mulai sadar dari tidur panjangku itu. Aku pun juga sengaja meminta semua orang tidak mengatakan hal itu kepada siapa pun. Tertama kepada mama Anggi. Aku tidak mau, mama Anggi semakin memisahkan diriku dengan Andrew. Walau, di satu sisi, aku memang berharap jauh dari Andrew untuk beberapa saat. Apalagi Zaki, dia sangat menginginkan Andrew menjauh dari diriku. Dia juga berharap aku melakukan hal yang sama. Dia terus-terusan meminta aku untuk jauh dari Andrew. Untuk sementara, aku memang mengikuti kemauannya itu. Karena, aku memang butuh sejenak menjauh dari lelaki itu. Namun, alasan aku menerima perintah Zaki itu. Karen aku ingin dia juga menutup mulutnya dari mama anggi. Aku tahu persis, mama Anggi pasti langsung mencari kebenarannya dari mulut Zaki. Karenanya, orang yang pertama kali aku suruh diam adalah dirinya. Karena itu, kami pun saling bertukar kesepakatan. “Kamu enggak papa sayang? Kenapa kamu masih enggak mau cerita sama mama.” Berkali-kali, mama Anggi mencoba merayu diriku untuk mau mengatakan yang sebenarnya. “Ajeng enggak papa, ma. Ajeng hanya sedikit sesak napas,” jawabku. Itu sudah jawaban yang paling jujur yang aku katakan. Karena memang benar, cekikan Andrew di leherku ini memang benar-benar membuat aku sulit untuk bernapas. Bahkan, tenaganya yang sangat kuat sangat sulit aku kendalikan. Malam itu, Andrew terlihat tidak seperti dirinya sendiri. Baik tenaga atau pun sorotan matanya, itu sama sekali tidak terlihat seperti dirinya. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Namun, aku selalu pendam rasa penasaran itu. “Mungkin, Ajeng hamil kali, Jeng. Makanya, dia seperti ini,” kata teman mama anggi yang ikut datang menjenguk diriku. “Uhuk... uhuk... uhuk....” Chika yang sedang meneguk minumannya, seketika langsung tersedak. Seolah, air itu seperti keluar lagi dari hidungnya. Spontan, semua orang yang ada di ruangan ini pun langsung melihat ke arah Chika. Namun, tidak satu pun dari mereka yang sadar akan penyebab sebenarnya. Antara lucu dan kasihan, membuat aku hanya bisa terdiam sambil menahan senyuman. Aku yang tidak bisa berkata apa-apa dengan kondisi yang dialami oleh Chika, hanya bisa mengatakan ‘pelan-pelan, Ka. Minumnya’. Setelah Chika mendengarku, dia langsung melotot ke arah diriku. Namun, tidak ada yang bisa dia lakukan di depan tamunya mama anggi. Dan hanya ikut terdiam menyimak pembicaraan mereka. “Emangnya, orang hamil akan merasa sesak napas ya?” tanya mama Anggi kepada temannya yang memberikan pendapat itu. “Dalam beberapa kasus, ada Jeng. Ada di mana si ibu akan mengalami sesak napas karena si bayi,” jelasnya. “Tapi, Jeng, Itu kan kalau bayinya sudah besar. Ini, perutnya Mbak Ajeng kan masih sangat kecil,” jawab temannya yang lain. “Ya jelas kecil. Orang enggak hamil,” gumam Chika pelan. Bahkan, saking pelannya hanya aku yang dapat mendengarnya. “Ya, itu kan pendapat saya aja. Siapa tahu, kan. Kalo Mbak Ajeng ini lagi hamil,” katanya tetap kekeh dengan penilaiannya yang salah. “Kenapa mak-mak rempong ini datang ke rumah sakit sih.” Chika mulai risih dengan teman-teman mama anggi yang datang bersama dengannya. “Sssttt... kamu enggak boleh gitu. Bagaimana pun, mereka baru turun pesawat langsung ke sini loh,” kataku. Suaraku ini sengaja aku pelankan, agar mereka tidak mendengar yang kami katakan ini. Walau tidak dengan suara pelan pun, aku yakin mereka tetap tidak akan mendengarkan aku dan Chika. Mereka terlalu berisik hanya untuk sekedar mengobrol. Bahkan, mereka tidak memandang kini sedang ada di sebuah rumah sakit. Untungnya, aku berada di ruangan yang tersendiri. Tidak bergabung dengan pasien lain. Lagi pula, apa kata dunia. Jika istri seorang CEO dirawat di rumah sakit tetapi tidak di ruangan VVIP. “Andrew mana, Jeng? Kok, enggak nemenin istrinya di sini?” tiba-tiba, salah satu dari teman mama anggi pun bertanya tentang hal itu. Aku langsung melihat ke arah Chika. Dia semakin geram dengan sikap dan pertanya para perempuan ini. Bagaimana tidak. Chika dan Zaki sudah dengan susah payah mengusir Andrew untuk jauh dari diriku. Jangankan untuk bertemu, sekedar masuk ke ruangan ini saja selalu mereka halangi. Mungkin, masih sangat berbekas ingatan itu. Mereka saja masih belum bisa menghilangkan semua kejadian malam itu. Lalu, bagaimana dengan diriku yang merasakan rasa sakitnya itu. Dan, bagaimana juga keadaan Andrew. Apa yang sebenarnya ingin dia katakan setelah bertemu dengan diriku. “Jeng... sayang... kok, enggak jawab.” Aku baru tersadar, jika dari tadi Mama Anggi melemparkan pertanyaan temannya itu kepada diriku. “Mmmm... itu, Ma... Andrew....” tentu, aku kesulitan menemukan jawaban yang tepat. “Andrew sedang dinas keluar, Ma.” Tiba-tiba, Zaki masuk dan membantu aku untuk menjawab pertanyain ini. Sebenarnya, aku pun ingin mengatakan hal yang sama. Namun, aku ragu melakukannya. Bagaimana jika mama anggi langsung mengecek kebenaran tentang keberadaan Andrew. Dan ternyata, dia tidak sedang berada di luar negeri. Lalu, mama anggi akan menanyakan kembali alasan dari kebohonganku itu. Aku sudah banyak mengalami masalah dengan segala kebohongan yang telah aku dan Andrew lakukan. Semua itu bukanlah menyelesaikan sebuah masalah. Tetapi dengan setiap kebohongan yang kita lakukan, maka akan membuat masalah lain yang seharusnya itu tidak perlu ada. “Andrew dinas keluar? Kenapa? Padahal, Ajeng kan lagi seperti ini.” Mama Anggi cukup terkejut dengan jawaban Zaki itu. “Ya, apa boleh buat Ma. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Andrew untuk pergi ke sana,” lanjut Zaki. “Tapi kan ada Farale?” Mama masih tidak habis pikir dengan keputusan Andrew yang dia ambil saat ini. “Katanya, masalah di sana sangat pelik. Sehingga, harus dia sendiri yang pergi.” Zaki mengatakannya dengan sangat yakin. Seolah, Andrew memang pergi ke sana. “Dasar anak ini. Aku harus....” Mama anggi sudah siap-siap menghubungi ponselnya Andrew. “Tunggu, Ma. Jangan.” Namun, Zaki buru-buru menahan tangan mama anggi. Agar, dia tidak langsung menghubungi anak kesayangannya itu. “Kenapa?” tanya mama anggi bingung. Jika dilihat dari sikap Zaki itu, pasti semua yang dikatakan itu bohong. Sehingga, Zaki takut jika mama anggi langsung menanyakan hal itu kepada orang yang bersangkutan. Jika aku yang ada di posisinya, maka aku tidak akan mudah untuk menahan mama anggi seperti itu. Tetapi, kalau Zaki. Itu tidak jadi masalah buatnya. “Mama jangan hubungi Andrew dulu,” kata Zaki lagi. “Kenapa?” Mama Anggi bertanya ulang. “Pasti sekarang, Andrew masih ada di pesawat. Handphone-nya pasti sedang tidak diaktif sama dia,” kata Zaki dengan sangat yakinnya. “Memangnya, kapan dia pergi?” Mama anggi masih sangat penasaran dengan kebenaran anaknya itu. “Tadi, pagi. Sepertinya, berbarengan waktu mama turun dari pesawat. Dia juga pergi,” jawab Zaki. “Apa?” Mama Anggi semakin terkejut mendengar jawaban Zaki itu. “Gimana sih, Andrew ini ya. Padahal, istrinya kan lagi hamil. Malah ditinggal sendirian.” Para ibu-ibu ini mulai lagi membahas hal yang tidak mungkin itu. Dan mereka pun kembali berisik seperti tadi lagi. Berbeda dengan mama Anggi dan juga Zaki. Perempuan yang sangat peduli dengan diriku ini, malah kecewa dengan sikap anaknya. Meski, statusku hanya mantu di mata mama Anggi. Tetapi, beliau selalu menganggapku seorang anak. Sedangkan, Zaki. Tatapan matanya itu terlihat sangat tegang. Entah, dia terkejut saat mendengar aku hamil. Ataukah, tentang masalah kepergian Andrew keluar negeri itu. Laki-laki ini hanya menatapku dengan pandangan lurus dan tajam. Aku semakin curiga, apakah semua yang Zaki katakan itu memang benar? Apa Andrew memang pergi keluar negeri? Apa semua yang Zaki katakan itu, sebenarnya bukan hanya kebohongan belaka? Tapi buat apa? Kenapa? Dan kenapa dia harus pergi tanpa pamit dengan diriku dulu. Apa yang sebenarnya terjadi pada Andrew. Laki-laki itu memang mempunyai segudang misteri. “Nyonya... Nyonya.... Nyonya Ajeng....” panggil seseorang yang menyadarkan aku dari lamunanku itu. “Mmmm....” Aku pun hanya menjawabnya dengan gumaman. “Nyonya lagi mikirin apa?” tanya Farale yang sejak tadi setia berada di sampingku. “Eng... enggak. Aku hanya gugup saja,” jawabku singkat. “Ketemu suami aja, kok gugup,” goda Farale. “Iya. Suami yang lari dan bersembunyi berbulan-bulan lamanya. Tentu saja, itu membuat aku sangat gugup,” kataku tanpa melihat ke arah lelaki itu. Farale pun terdiam. Dia tidak lagi terdengar menjawab pertanyaanku itu. Aku sangat yakin, sebenarnya dia tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Andrew. Suami kontrakku itu. Tetapi, aku memilih untuk tidak bertanya langsung kepada asisten kepercayaannya itu. Aku ingin mendengar langsung dari mulut orang yang membuat aku seperti ini. Dan itu pun tinggal beberapa langkah lagi. Aku dan laki-laki itu, kini sudah berada di negera yang sama. Di hotel yang sama. Bahkan, sudah ada di lantai yang sama. Aku harap, aku bisa tetap tenang saat bertemu dengan lelaku itu nanti. Semoga saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD