Aku masih terdiam berdiri di depan pintu hitam ini. Mata ini terus mengamati angka yang tertempel di depan kamar ini. Berulang kali, aku membaca angka enam kosong sembilan itu. Aku mencoba mengingatnya. Aku sempat berpikir, ini bukan hanya untuk pertama dan terakhir aku berada di tempat ini. Tetapi, aku merasa akan kembali lagi ke kamar ini. Walau, sebenarnya aku pun tidak menginginkannya.
“Ajeng... Nyonya Ajeng....” Farale memanggil diriku yang masih mematung di depan sini.
“I... iya,” jawabku gugup.
Entah sudah berapa kali, Farale memanggil namaku. Dalam pikiran kalut dan gugup, aku harus melangkah ke dalam ruangan yang sangat enggan aku masuki. Sewaktu aku dan dia tidak terdapat masalah seperti sekarang saja, aku sangat enggan masuk ke sebuah ruangan di mana ada lelaki itu di dalamnya. Namun kini, aku malah melakukan hal yang selalu dilarang oleh orang di sekitarku.
Andai saja, aku tidak berbohong kepada Zaki dan Chika. Mungkin, aku tidak akan ada di tempat ini. Sendiri di rumah besar dan hanya bertemankan dengan para asisten rumah tangga, tentu saja membuat aku tidak nyaman. Apalagi, untuk tinggal di rumah Chika dalam waktu yang lebih lama lagi. Tentu, aku tidak mau melakukannya.
Walau, sebenarnya Chika terus memaksa diriku untuk tinggal di sampingnya. Namun, aku tidak mau hanya menjadi beban sahabatku itu. Dia juga memiliki masalah kehidupan yang harus diurus. Sampai kapan, aku harus hidup dalam lindungan dia.
Begitu pun dengan Zaki. Dia sudah sangat membantu diriku dalam segala hal. Sampai, dia pun merelakan sisa istirahatnya untuk menggantikan semua tugasku selama di Kampus. Itu bukanlah hal yang sulit bagi dirinya. Setelah dia memberikan surat cutiku selama dua tahun, Zaki pun berniat menggantikan semua tugas diriku itu. Padahal aku tahu, dia sudah sangat sibuk dengan urusan bisnisnya dan serta urusan lainnya. Tetapi, Zaki tetap ingin menyempatkan diri untuk mengganti diriku.
Sampai kapan aku harus terus terdiam seperti ini?
Sampai kapan mereka akan membiarkan aku bebas seperti dulu?
Namun setelah Zaki yakin, Andrew tidak akan kembali ke tanah air dalam waktu yang cukup lama. Chika dan dia pun membolehkan aku untuk kembali ke rumah besar itu. Walau, tinggal di sana pun tidak jauh berbeda dengan yang aku lakukan saat bersama Chika. Kesunyian yang hampa selalu menyelimuti hati ini. Itu pula yang membuat aku sering melamun. Pikiran yang tanpa ujung dan tujuan, itulah yang aku alami di sisa hidup ini.
Hingga, aku pun memutuskan untuk menghubungi Farale. Salah satu asisten Andrew yang sengaja dia tinggalkan di Indonesia. Ini cukup ganjil menurutku. Seingat ku, ke mana pun Andrew pergi, Farale pasti ada di sana. Tetapi baru kali, Andrew sengaja meninggalkan Farale ada di sini.
Sesekali, aku suka melihat Farale datang ke rumah besar ini. Padahal dia tahu, jika Andrew sedang tidak ada di rumah. Meski begitu, dia selalu menghindari diriku. Saat dia sadar, aku sedang memperhatikan dirinya. Farale pasti akan langsung membuang muka. Bahkan, telepon pertama yang aku coba lakukan pun langsung ditolak olehnya. Farale sepertinya, sangat tidak ingin bertemu dan juga berbicara denganku.
Di dalam keputusasaan itu, aku pun mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Farale.
“Aku akan pergi jauh dari siapa pun, jika kamu atau pun Andrew terus mendiamkan aku seperti ini. Mungkin, ini akan menjadi pesan yang pertama dan terakhir. Selamat tinggal.”
Begitulah, bunyi pesan yang terdengar sedikit mengancam itu. Tapi, apa boleh buat. Aku harus menemukan semua jawaban dari kegelisahan ku ini. Semua orang tidak ada yang mau menjelaskan apa yang sedang terjadi pada diri Andrew. Seolah, semua orang memang menginginkan aku dan Andrew berpisah begitu saja.
Mereka menganggap dengan berjalannya waktu, maka aku akan terbiasa hidup tanpa Andrew. Benih perasaan itu mungkin akan hilang dengan beriringnya waktu perpisahan kami. Tetapi, semua pendapat itu salah.
Sebuah masalah yang tidak bisa hilang dari benak dan hati kita, tidak akan bisa dengan mudah menghilang dengan beriringnya waktu. Semua masalah haruslah kita cari jalan keluarnya, sampai titik di mana sudah tidak ada lagi jalan untuk menyelesaikannya.
Tetapi, semua yang terjadi pada diriku belum sampai tarafan mencari akar dari masalah yang ada. Beberapa bulan ini, aku hanya menghabiskan waktu dengan berdiam diri tanpa mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku tidak bisa seperti ini. Jika aku dan Andrew harus berpisah, aku ingin kami berpisah dengan cara yang damai.
Aku tidak mau berpisah dengan meninggalkan seorang musuh di dalam hidupku. Tanpa dicari pun, orang yang iri dan benci kepada diri kita pastilah ada saja. Bahkan, itu orang yang tidak kita kenal sama sekali. Karena itu, orang yang sangat kita kenal janganlah sampai mempunyai rasa seperti itu. Kami harus menemukan jalan keluar dari semua ini.
“Ajeng... eh, bukan... Nyonya. Mau sampai kapan kita berdiri di sini?” Farale terlihat tidak sabar dengan sikapku.
Sampai detik ini pun, aku masih berdiam diri tanpa mengetuk pintu kamar ini. Farale pun juga sama. Dia yang merasa sudah melakukan sebuah kesalahan dengan membawaku ke tempat ini, tentu tidak memiliki keberanian untuk membukakan pintu untuk diriku.
Banyak sekali kebohongan yang sudah Farale lakukan kepada diriku. Untuk membawa aku ke tempat ini, banyak sekali rintangan yang harus dilalui. Selain aku terus memaksa untuk bertemu denga Andrew. Aku juga memaksa Farale untuk mengatakan bahwa kamu akan membawa diriku ini jalan-jalan keluar negeri. Dengan alasan hanya Farale saja yang tahu tempat keberadaan bos besarnya itu. Dengan itu pula, Farale meyakinkan Zaki bahwa tidak akan membawa diriku ke tempat Andrew berada.
Walau, kenyataannya sangatlah bertolak belakang. Namun jika aku tidak melakukan hal ini. Sampai kapan pun, aku tidak akan bisa bertemu dengan Andrew lagi. Farale pun sempat mengatakan, bahwa bosnya itu tidak mau bertemu dengan diriku. Namun dengan segala bujuk rayu, akhirnya dia pun mau menunjukkan aku tempat Andrew ini. Aku juga mengatakan, bahwa ini adalah untuk terakhir kalinya aku mengganggu kehidupan Andrew. Aku hanya ingin menghilangkan rasa penasaran.
“Tok... tok... tok....” Akhir, Farale pun melakukan hal yang dari tadi sangat berat itu.
Seketika, aku pun langsung melihat ke arah laki-laki itu.
“Kita sudah sampai di sini. Berarti, kita harus siap menerima konsekuensi apa pun,” kata Farale dengan senyum kecutnya.
“Tok... tok... tok...” laki-laki ini mengulangi kembali, apa yang dia lakukan tadi. Karena, tidak ada seorang pun yang membukakan pintu buat kami.
“Mmmm... sepertinya, dia memang tidak ada di kamar,” gumamku. Kecewa dan tenang bercampur jadi satu di hati ini.
“Mmmm... sebenarnya, aku punya kunci cadangan dari orang hotel tadi. Apa... sebaiknya, anda istirahat di dalam saja dulu,” kata Farale sambil menyerahkan sebuah kunci berbentuk kartu.
“Tapi, apa lebih baik aku istirahat di kamar lain saja,” kataku.
Aku sungguh ragu menerima kartu itu. Belum juga aku pegang, kartu itu sudah sangat terasa sangat berat dan panas. Aku sungguh enggan menerima kartu kamar Andrew itu.
“Mmmm... tapi, jika aku memesan kamar lain di hotel ini, pasti Bos akan langsung tahu kalau kita di sini. Itu sama saja menusuk anda dan juga saya. Dan kita pasti tidak akan mendapatkan jawaban yang ingin anda cari itu,” kata Andrew ragu.
Aku rasa, yang dikatakan Andrew memang ada benarnya. Kedatangan kami berdua di tempat ini memang sebuah rencana yang tidak diketahui oleh Andrew. Akan menjadi kacau, jika rencana ini ketahuan olehnya begitu saja. Bahkan, bisa saja dia kabur ke belahan dunia lainnya. Dan kali ini, dia pasti akan bersembunyi di tempat yang tidak akan ditemui olehku dan juga oleh Farale.
Aku pun memutuskan untuk menerima kunci panas itu. Dengan tatapan kosong, aku kembali melihat benda tersebut. Aku masih terus berpikir, bagaimana caranya aku saat bertemu dengan laki-laki itu. Bagaimana pun, lelaki itu adalah orang yang hampir saja membunuh diriku. Namun di sisi lain, dia juga yang sudah berhasil mengisi hati ini. Dan kini, dia juga yang membuatnya semakin hampa dari sebelumnya.
Bagaimana ini?
Apa akan baik-baik saja, jika aku bertemu dengannya?